fbpx
Connect with us

Finance

Begini Cara Orang Jepang Mengatur Keuangan Bulanan

Published

on

Uang Rupiah
Ilustrasi cara mengatur keuangan bulanan | Foto: Ist.

Lampung.co – Cara mengatur keuangan bulanan memang tidak mudah, tapi harus dimulai. Jika keuangan bermasalah, maka akan berpengaruh pada kehidupan masa depan.

Sebagian besar penghasilan bulanan dikeluarkan untuk biaya sewa, tagihan, makanan, dan lain-lain. Tapi tanpa disadari, terkadang banyak mengeluarkan uang ekstra untuk hal-hal yang tak perlu.

Untuk mengatasi hal itu, tidak ada salahnya mencontoh cara orang-orang Jepang mengatur keuangan bulanan dengan membuat kakeibo atau jurnal penganggaran.

Bagi orang Jepang, kakeibo membantu mengawasi pengeluaran bulanan. Dikutip CNN Indonesia dari Ladders, orang Jepang percaya bahwa kerapian dalam keuangan sama pentingnya dengan kerapian rumah.

Kakeibo ditemukan pada 1904 silam oleh seorang jurnalis perempuan Jepang pertama, Hani Motoko. Dia dilahirkan dari keluarga samurai sebagai Matsuoka Motoko.

Fumiko Chiba, penulis buku Kakeibo: The Art of Saving Money menulis bahwa jurnal penganggaran ini menjadi salah satu alat ‘pembebasan’ bagi kaum hawa karena perempuan memegang kendali keuangan.

Jurnal ini berpusat pada sebuah jurnal yang membantu Anda mengelola pengeluaran. Ide utamanya adalah melacak berapa banyak penghasilan dan pengeluaran Anda dalam sebulan.

Dengan mencatat tujuan dan pengeluaran harian dalam jurnal, pengeluaran akan terkontrol penuh. Para ahli bahkan mengklaim bahwa kakeibo bisa memotong pengeluaran hingga 25 persen.

“Ketika Anda menggunakan kakeibo, Anda akan belajar bahwa menabung adalah tentang membelanjakan uang dengan baik,” tulis Chiba dalam bukunya tersebut.

Dalam Kakeibo, setiap awal bulan, pikirkan apa saja kebutuhkan dalm satu bulan, seberapa banyak uang yang ingin ditabung, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai hal tersebut.

Siklus bulanan kakeibo bergantung pada empat pertanyaan berikut:

1. Berapa banyak uang yang saya miliki?
Pertanyaan nomor pertama merujuk pada penghasilan bulanan Anda. Hal ini sangat penting untuk menerapkan cara mengatur keuangan bulanan ala orang Jepang

2. Berapa banyak yang ingin saya simpan?
Jika Anda ingin menabung setiap bulan, jangan tetapkan jumlah yang terlalu tinggi.

3. Berapa yang saya belanjakan?
Buat daftar kategori pengeluaran. Kakeibo membagi beban keuangan menjadi empat bidang utama pengeluaran, mulai dari yang utama hingga yang tak terduga.

Orang Jepang umumnya membagi empat bidang utama dengan kelangsungan hidup (kebutuhan utama), budaya (hiburan), opsional (hal yang tak penting), dan ekstra (biaya tak terduga).

4. Bagaimana saya bisa meningkatkan jumlah uang yang ditabung?
Untuk poin ini, perhatikan kembali catatan nomor tiga. Pada bagian mana uang banyak dihabiskan. Analisis setiap kategori dan tinjau bagian mana yang bisa Anda potong agar lebih hemat.

Satu hal yang perlu dicatat, bedakan antara ‘kebutuhan’ dan ‘keinginan’ jika Anda ingin menggunakan metode kakeibo. Ini merupakan cara tercepat untuk mengidentifikasi area pengeluaran.

 58,838 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Finance

Cara Mempersiapkan Biaya Pendidikan Anak yang Tepat

Agar pendidikan anak di masa depan terjamin, sepantasnya orangtua mempersiapkan dan merencanakan pendidikan anak sedini mungkin, sehingga masa depan anak-anak bisa terjamin.

 11,997 kali dilihat,  166 kali dilihat hari ini

Published

on

Biaya Pendidikan Anak
Ilustrasi Inflasi Biaya Pendidikan Anak | Foto: Dok. Lifepal

Lampung.co – Salah satu hal yang perlu dipersiapkan oleh orangtua adalah biaya pendidikan anak mulai dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi. Sebab, inflasi biaya pendidikan anak saat ini rata-rata naik 15% hingga 20% per tahunnya.

Seperti diketahui, bulan Juli biasanya menjadi musim untuk pembayaran biaya pendidikan. Kondisi tersebut diyakini memberikan dampak terhadap peningkatan inflasi pada bulan Juli.

Meski pemerintah telah memberikan jaminan pendidikan gratis untuk pendidikan tingkat sekolah negeri hingga sekolah menengah atas. Sementara untuk sekolah swasta, orangtua masih tetap harus menyiapkan dana pribadi.

Karena itu, biaya pendidikan harus disiapkan sejak dini. Pasalnya, masih banyak orangtua yang terlambat atau menunda persiapan pendidikan anak-anak mereka di tengah inflasi biaya pendidikan yang tinggi.

Agar pendidikan anak di masa depan terjamin, sepantasnya orangtua mempersiapkan dan merencanakan pendidikan anak sedini mungkin, sehingga masa depan anak-anak bisa terjamin.

Oleh karena itu, Co-Founder sekaligus CMO dari Lifepal.co.id, Benny Fajarai mengungkapkan beberapa hal yang harus dilakukan untuk menyiapkan biaya pendidikan anak berikut ini:

Menyiapkan Tabungan untuk Biaya Pendidikan Anak

Hal pertama yang bisa dilakukan untuk menyiapkan tabungan pendidikan anak adalah dengan tabungan khusus berupa tabungan rencana pendidikan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Tabungan berjangka waktu ini ditentukan oleh Anda sendiri dengan jumlah bunga tertentu.

Menawarkan keuntungan, tabungan ini juga memiliki fasilitas berupa asuransi kesehatan dan asuransi jiwa. Dengan begitu, saat Anda mengalami kebangkrutan, maka tabungan yang dimiliki tetap aman meski dikenakan potongan.

Memanfaatkan Investasi untuk Tujuan Pendidikan

Langkah selanjutnya untuk mempersiapkan biaya pendidikan anak adalah dengan memilih instrumen investasi. Namun, dalam memilih produk investasi ini disesuaikan dengan jangka waktu yang dimiliki.

Selain itu, penting juga untuk mengingat prinsip investasi, yaitu high risk high return – low risk low return. Karena itu, Anda disarankan untuk tetap melakukan diversifikasi ke reksadana seperti reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang yang memiliki risiko lebih rendah.

Dengan begitu, alokasi dana pendidikan anak jangka panjang sangat cocok untuk persiapan masuk ke universitas bila saat ini anak Anda masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Berikut ini adalah skema pemanfaat dana investasi untuk biaya pendidikan anak:

Anda yang masih memiliki waktu di atas 5 tahun untuk mempersiapkan dana pendidikan anak, maka dapat menyusun portofolio dengan porsi reksadana saham yang lebih banyak. Dengan potensi imbal hasil yang relatif tinggi, reksadana saham juga memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi.

Lain halnya untuk Anda yang masih memiliki waktu persiapan selama 3 – 5 tahun, maka dapat memanfaatkan reksadana pendapatan tetap, reksadana saham, dan reksadana pasar uang, atau reksadana campuran. Dengan catatan, komposisi terbesar portofolio investasi diisi oleh reksadana pendapatan tetap karena pertimbangan potensi imbal hasilnya lebih menarik.

Sedangkan buat Anda yang masih memiliki waktu sekitar 1 – 3 tahun untuk menyiapkan dana pendidikan anak, maka dapat menyusun portofolio investasi yang sebagian besar isinya merupakan instrumen reksadana pasar uang dengan sedikit porsi di reksadana saham.

Reksadana pasar uang memiliki potensi imbal hasil yang lebih menarik di bandingkan tabungan/deposito dengan tingkat risiko yang relatif rendah, likuid dan bebas biaya transaksi.

Sementara itu, alokasi reksadana saham akan berfungsi sebagai booster untuk mempercepat tercapainya tujuan keuangan melalui potensi imbal hasil yang jauh lebih menarik dan tentunya diiringi dengan tingkat risiko yang lebih tinggi.

Memberikan Proteksi Berupa Asuransi Pendidikan

Menyiapkan tabungan pendidikan anak selain di tabungan khusus dapat juga dengan asuransi pendidikan. Berbeda dengan tabungan, asuransi pendidikan memiliki batasan waktu untuk mencairkan uangnya.

Uang tersebut cair jika anak Anda ingin masuk SD, SMP, SMA, dan kuliah. Meski bisa mendapatkan keuntungan yang cukup besar jika memakai asuransi pendidikan, penting untuk diingat bahwa Anda akan dikenakan penalti (denda) jika ingin mencairkan dana pendidikan sebelum waktunya.

Dalam asuransi pendidikan anak ini biasanya juga akan dilengkapi produk asuransi jiwa. Namun, jika tidak, maka Anda pun harus membeli sendiri produk proteksi jiwa.

Pasalnya, risiko meninggal dunia di usia produktif masih tetap ada, begitu pun dengan risiko cacat total hingga kita tak lagi bisa mencari nafkah. Pastikan asuransi jiwa tersebut memiliki uang pertanggungan (UP) yang cukup untuk menanggung biaya hidup serta biaya pendidikan.

Untuk menghitung uang pertanggungan, maka Anda dapat menggunakan metode pendekatan pengeluaran. Dengan metode ini, UP yang akan didapat ahli waris akan sesuai dengan kebutuhan di masa depan yang sudah disesuaikan dengan inflasi.

Sebagai penutup, Benny berharap tips di atas dapat menjadi panduan yang dapat dilakukan untuk menyiapkan biaya pendidikan anak. (*)

 11,998 kali dilihat,  167 kali dilihat hari ini

Continue Reading

Finance

Subsidi Gas LPG Dibatasi, Terapkan Cara Mengatur Keuangan Keluarga Ini

Meski membeli barang kebutuhan sehari-hari dengan harga subsidi dari pemerintah menguntungkan, jangan lupa untuk tetap mengatur keuangan rumah tangga dengan tepat.

 16,574 kali dilihat,  165 kali dilihat hari ini

Published

on

Cara Mengatur Keuangan Keluarga
Ilustrasi cara mengatur keuangan keluarga | Foto: Ist.

Lampung.co – Pemerintah berencana mengubah skema penyaluran elpiji bersubsidi atau LPG tiga kilogram kepada masyarakat berdasarkan verifikasi data pribadi atau KTP.

Dalam rangka pendataan konsumen, pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah melakukan uji coba penggunaan sistem merchant apps lite di subpenyalur satu kecamatan di Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Batam, Semarang, dan Mataram.

Konsumen menyebutkan NIK sebelum melakukan pembelian LPG bersubsidi di wilayah-wilayah tersebut. Konsumen yang telah tercatat dalam data P3KE dapat langsung bertransaksi, sementara konsumen yang belum tercatat dapat mengisi data pada MAP Lite dengan bantuan pangkalan.

Pemerintah tentu memiliki alasan dan pertimbangan yang matang sebelum mengubah skema penyaluran subsidinya. Meski begitu, alokasi subsidi harus efektif dan tepat sasaran, sehingga manfaatnya dapat benar-benar dirasakan masyarakat yang membutuhkan.

Di sisi lain, kita sebagai masyarakat harus bijak memanfaatkannya juga. Meski membeli barang kebutuhan sehari-hari dengan harga subsidi dari pemerintah menguntungkan, jangan lupa untuk tetap mengatur keuangan rumah tangga dengan tepat.

Oleh karena itu, Co-Founder sekaligus CMO dari Lifepal.co.id, Benny Fajarai mengungkapkan beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengatur keuangan keluarga yang sehat.

1. Buat persentase pengeluaran

Sebelum penghasilan atau gaji bulanan diterima, terlebih dahulu buat daftar pengeluaran sebulan, terpenting adalah pembayaran kewajiban yang harus dilakukan. Dengan membuat list pengeluaran, Anda akan memiliki panduan mana yang harus diutamakan dalam anggaran keuangan bulan ini.

Di samping seluruh kewajiban yang harus dibayarkan serta rencana-rencana masa depan yang harus disiapkan. Anda bisa mengatur penghasilan dengan membagi-bagi secara persentase.

Hal itu bermanfaat untuk memastikan setiap porsi tidak berlebihan atau mengurangi pos pengeluaran lain. Misalnya: 50% untuk biaya hidup, 20% untuk cicilan, 10% untuk dana darurat, 10% untuk asuransi, 5% untuk investasi, dan 5% untuk gaya hidup.

2. Bayar kewajiban di depan begitu pun tabungan

Setelah pendapatan masuk ke rekening, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membayar seluruh kewajiban mulai dari cicilan rumah, kendaraan, listrik, tagihan internet, air, kartu kredit, pinjaman dan pembayaran lain.

Setelah semua kewajiban-kewajiban itu dibayarkan, Anda harus menempatkan uang di tabungan, menyisihkan pengeluaran penting sebulan.

3. Pisahkan dana darurat, tabungan dan investasi

Dana darurat, tabungan dan investasi adalah tiga hal yang berbeda. Dana darurat hanya dipakai untuk hal-hal yang sifatnya tidak terduga dan tidak bisa tercover dalam tabungan.

Sementara investasi merupakan langkah yang Anda lakukan untuk menumbuhkan aset yang dimiliki dengan menginvestasikannya ke dalam instrumen investasi. Jadi, pisahkanlah pos keuangan untuk dana darurat, tabungan, dan investasi.

Selain itu, jika Anda sudah berinvestasi, maka selalu gunakan uang dingin, yaitu uang yang tidak digunakan dalam waktu dekat dan bukan ditujukan untuk kepentingan penting atau berasal dari pinjaman. Dengan begitu, tidak akan khawatir dipakai seandainya ada hal darurat terjadi.

4. Atur pemakaian kartu kredit atau pay later

Bila Anda atau pasangan memiliki kartu kredit atau fasilitas pay later, maka harus mengetahui betul pemakaiannya. Kapan sebaiknya fasilitas tersebut digunakan, harus ingat bahwa kartu kredit atau pay later bukanlah tambahan penghasilan, melainkan sebuah pinjaman yang harus dilunasi begitu digunakan.

Karena itu, harus segera membayar secara rutin setiap kali menggunakan kartu kredit atau fasilitas pay later tersebut setiap bulannya.

Sebagai penutup, Benny berharap tips di atas dapat menjadi panduan yang dapat dilakukan untuk mengatur keuangan keluarga yang sehat.

 16,575 kali dilihat,  166 kali dilihat hari ini

Continue Reading

Finance

Tahun 2023 Telah Tiba, Ini Tips Mengelola Keuangan Bagi Gen Z

Menjadi Financially Fit di usia muda bukannya tidak mungkin. Hal yang dibutuhkan adalah kebiasaan untuk mulai berdisiplin dalam mengelola keuangan

 1,514 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

Published

on

Uang Rupiah
Uang Rupiah | Foto: Ist.

Lampung.co – Hingga kini, masih banyak dari kita yang berpikir bahwa pengelolaan keuangan harus berasal dari orang yang memiliki pendapatan besar. Padahal pengelolaan keuangan adalah hal yang harus kita sadari sejak diri loh, tidak terkecuali bagi Gen Z.

Generasi Z, yang lahir dari tahun 1996 hingga 2012, sudah menjadi sosok yang memasuki usia produktif di tahun baru ini. Kita yang masuk dalam generasi ini sudah menghadapi berbagai tantangan baik pandemi COVID-19 hingga resesi global yang masih menghantui.

Walaupun demikian, untuk menjadi Financially Fit di usia muda bukannya tidak mungkin. Hal yang dibutuhkan adalah kebiasaan untuk mulai berdisiplin dalam mengelola keuangan. Berikut adalah langkah awal yang dapat kita lakukan:

Pisahkan Alokasi Menabung di Hari Pertama Mendapatkan Pendapatan

Sebagai generasi Z, kita juga harus mulai mencoba membuat anggaran keuangan bulanan. Anggaran ini berisikan apa saja rencana pengeluaran per bulan kita yang sudah pasti akan keluar. Selain itu, kita juga bisa menuliskan pengeluaran yang akan digunakan untuk memenuhi keinginanmu. Namun, kita pun harus membiasakan diri untuk menabung di hari pertama kita mendapatkan pendapatan. Kebiasaan ini bisa dimulai dengan menabung 20% dari pendapatan per bulan.

Jangan FOMO Pada Investasi Return Besar

Sebagai generasi yang sudah melek dengan teknologi, tidak jarang beberapa dari kita sudah memiliki investasi, baik itu saham maupun bitcoin. Namun, banyak sekali dari mereka yang sudah berinvestasi tetapi belum memiliki pengaturan keuangan yang tepat.

Terkadang kita lebih tergiur dengan return yang besar tanpa memperhatikan risiko dari investasi yang kita miliki. Maka dari itu, ada baiknya Gen Z mulai memahami tentang profile risk, agar dapat secara tepat memilih instrumen yang sesuai dengan kebutuhan kamu.

Memiliki Savings Account

Sebagai generasi Z, kegiatan menabung di rekening bisa dianggap sebuah kegiatan yang tidak kekinian. Padahal memiliki tabungan di rekening atau tempat lainnya yang cepat dicairkan merupakan hal penting.

Menabung di rekening sebenarnya memberikan sebuah rasa aman. Misalnya ketika kita membutuhkan uang tunai secara cepat, kita tidak akan kebingungan mencari pinjaman atau bahkan harus mencairkan investasi kita. Usahakan kamu memiliki tabungan di rekening dengan minimal tabungan kamu adalah sebesar 6 kali dari pengeluaran bulanan.

 1,515 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini

Continue Reading

Banyak Dibaca