fbpx
Connect with us

Nasional

Top-Up Uang Elektronik di Gerbang Tol, Jasa Marga Tolak Saran Kementerian PUPR

Published

on

Top-Up Uang Elektronik di Gerbang Tol

Lampung.co – Bank Indonesia dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah menyepakati untuk memperluas kerja sama dalam meningkatkan elektronifikasi di jalan tol.

Kesepakatan ini tercantum dalam Kesepakatan Bersama antara BI dan Kementerian PUPR perihal Kerja Sama dan Koordinasi dalam rangka Pelaksanaan Tugas BI dan Kementerian PUPR yang ditandatangani oleh Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo dan Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, pada 31 Mei 2017 lalu.

Kesepakatan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada April 2016 silam, yakni agar sepenuhnya diterapkan sistem pembayaran non-tunai. Demikian ujar Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra, Kamis (28/9) seperti dikutip dari republika.co.id.

Ia menuturkan, pembayaran di jalan tol akan dilakukan secara nontunai sepenuhnya dengan menggunakan uang elektronik (elektronifikasi pembayaran tol). Dengan mekanisme itu, diharapkan akan mempercepat proses pembayaran di jalan tol, sehingga masyarakat bisa melakukan perjalanan dengan lebih cepat dan nyaman.

Bank Indonesia selaku otoritas sistem pembayaran terus berkoordinasi bersama pengelola jalan tol di Semarang, dalam hal ini PT Jasa Marga dan PT Trans Marga Jateng (TMJ), serta perbankan, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, serta Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Tengah.

Perwujudan elektronifikasi pembayaran tol di Jawa Tengah akan dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap I dimulai pada 30 September 2017 untuk gerbang tol Gayamsari dan gerbang tol Muktiharjo.

“Tahap II dimulai pada 31 Oktober 2017 untuk gerbang tol Manyaran, Tembalang, dan ruas Banyumanik-Salatiga,” papar Dwisaputra.

Sistem pembayaran elektronik di jalan tol ini, sambungnya, akan menerapkan layanan yang terhubung dengan aplikasi maupun sistem pengelola jalan tol dan perbankan (interkoneksi) serta layanan uang elektronik multibank (interoperabilitas).

Untuk memudahkan masyarakat memperoleh uang elektronik, terangnya, dilakukan penjualan kartu uang elektronik di gardu tol dan SPBU dan penambahan lokasi pengisian ulang (top up) uang elektronik.

Masyarakat diimbau agar mempersiapkan uang elektronik dan mengecek saldo sebelum mengadakan perjalanan melalui jalan tol untuk mencegah timbulnya kemacetan di gerbang tol.

Top up dan pengecekan saldo uang elektronik bisa dilakukan via ATM, mobile banking, internet banking, merchant, dan toko ritel.

Jika masyarakat mengalami gangguan atas uang elektronik yang digunakan bisa menghubungi bank yang mengeluarkan uang elektronik tersebut. Begitu papar Dwisaputra.

BI dan Kementerian PUPR, katanya, pun terus berusaha untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan sistem pembayaran elektronik yang ada di jalan tol. Di luar target implementasi 100 persen non tunai di 31 Oktober 2017.

Sementara itu, PT Jasa Marga menolak usulan adanya tempat khusus untuk pengisian ulang uang elektronik di gerbang tol. Sebab hal tersebut justru dinilai akan menciptakan masalah baru.

“Kami tidak ingin ada top up (di gerbang tol) karena malah akan menciptakan antrean baru,” kata Direktur Utama Jasa Marga Desi Arryani dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Jumat (6/10/2017) seperti dikutip dari kompas.com.

Jasa Marga, ungkap Desi, menginginkan para pengguna jalan tol melakukan top up di luar jalan tol agar tidak menganggu pengguna jalan lainnya. Caranya tentu dengan memanfaatkan cara yang telah ada selama ini.

Misalnya via mobile banking dan via anjungan tunai mandiri (ATM). Selain itu juga dapat memanfatkan tempat pengisian uang elektronik di gerai-gerai modern yang ada. (Erwin/kompas.com/republika.co.id)

638 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188

Berita

Mirip di UIN Lampung: Prank Ulang Tahun Berakhir Tragis, 2 Remaja Tewas Tenggelam

Published

on

Prank Maut
Prank Maut di di Underpass Kulur, Kecamatan Temon, Kulon Progo | Foto: Ist.

Lampung.co – Kegiatan prank (gurauan) kembali memakan korban. Peristiwa prank maut yang berlokasi di Underpass Kulur, Kecamatan Temon, Kulon Progo menyebabkan 2 (dua) korban jiwa. Kejadian naas ini serupa yang terjadi di Embung UIN Raden Intan Lampung.

Dua orang remaja tewas tenggelam di Underpass Kulur Kulon Progo, usai salah seorang di antaranya mendapat prank ulang tahun. Saat itu ada tujuh orang remaja sedang duduk-duduk di dinding underpass.

Rian Haryanto (15) yang saat itu sedang berulang tahun didorong oleh teman-temannya ke underpass yang sedang tergenang air. Rian akhirnya tercebur ke dalam genangan yang ternyata kedalaman airnya lebih dari tiga meter.

Melihat Rian yang tidak bisa berenang dua orang temannya yakni Ramli (15) dan Tegar (16) akhirnya menceburkan diri untuk menolong Rian. Sedangkan remaja lainnya yang masih ada di atas underpass meminta pertolongan warga.

Warga akhirnya berhasil menolong Ramli dalam kondisi pingsan. Sedangkan Tegar dan Rian sudah meninggal dunia. Polisi telah menyelidiki kasus ini. Kapolsek Temon Kompol Hery Setyo Budi mengungkap polisi sudah memeriksa sejumlah saksi.

“Sengaja diceburkan, untuk surprise, dia kan ulang tahun,” kata Hery kepada wartawan, Santu (22/2/2020) malam.

Salah seorang kerabat Rian, Riyanto, mengatakan keluarga korban sudah menyiapkan pesta kecil di rumahnya di Sogan, Wates. Yakni dengan menyiapkan nasi tumpeng dan ikan bakar.

Rencananya makanan ini akan dihidangkan dalam perayaan ulang tahun Rian dengan mengundang teman-temannya. “Itu sudah disiapkan, tetapi Rian tidak berkenan dan malah pergi dengan teman-temannya,” jelas Riyanto kepada wartawan, Sabtu (22/2).

Diwawancara terpisah, Ulu-Ulu Kalurahan Kulur (Sie Kesejahteraan Desa Kulur), Kapanewon (Kecamatan) Temon, Sutardi mengatakan kasus tewasnya dua pelajar ini merupakan kejadian kedua di underpass Kulur.

Peristiwa pertama terjadi pada tahun lalu yang menewaskan seorang warga sekitar. Sutardi mengatakan, Underpass Kulur setiap musim hujan selalu tergenang air. Bahkan kedalaman bisa lebih dari tiga meter.

Menurutnya sudah ada mesin pompa air di Underpass Kulur. Namun kapasitas mesin pompa tersebut, kata Sutardi, tidak mencukupi. “Begitu masuk musim hujan, underpass ini akan langsung tergenang,” ujarnya.

Berita ini pertama kali terbit di Berita Media (portal berita sindikasi Lampung.co) pada Senin (24/2/2020).

38,961 kali dilihat, 1,921 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Berita

Tujuh Siswa SMPN 1 Turi Meninggal Akibat Kecelakaan Air, Ini Petunjuk Keamanan Susur Sungai

Published

on

Sungai Sempor Sleman
Sungai Sempor Sleman tempat siswa pramuka SMPN 1 Turi melakukan kegiatan susur sungai | Foto: Ist.

Lampung.co – Kegiatan susur sungai oleh siswa-siswa pramuka SMPN 1 Turi Kabupaten Sleman, Yogyakarta di Sungai Sempor pada Jumat (21/2/2020) kemarin diduga belum mendapatkan izin dari sekolah.

Selain itu juga diduga banyak Safety Procedure yang dilanggar dalam kegiatan ekstrem yang disebut sebagai pembentukan karakter itu. Akibatnya, hingga berita ini diturunkan, tujuh siswa dilaporkan meninggal dan tiga belum ditemukan.

Kutua Umum Pengurus Besar (PB) Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI), Amalia Yunita sangat menyesali insiden naas tersebut. “Saya merasa prihatin,” kata dia saat dihubungi Lampung.co, Sabtu (22/2/2020) pagi.

Pada yang sama, Sekjen Global Rescue Network (GRN) itu juga memaparkan beberapa petunjuk praktis keamanan susur sungai. Pertama, kata dia, pelajari sungai dan potensi bahayanya sebelum disusuri.

Kedua, lanjutnya, gunakan perlengkapan standar selama menyusuri sungai. Meskipun tinggi muka air (TMA) kecil, perlengkapan wajib selalu digunakan untuk mengantisipasi naiknya debit air.

“Ketiga, pantau air di hulu sungai selama melakukan kegiatan dan gunakan alat komunikasi yang selalu tersambung dengan pemantau air di hulu selama berkegiatan,” ujarnya.

Yang terakhir, Yuni menyebut, susun rencana penanganan jika terjadi kedaruratan termasuk merencakanan jalur evakuasi hingga fasilitas medis terdekat sesuai dengan tingkat kedaruratan. (doy)

14,424 kali dilihat, 203 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Berita

Mengintip Kondisi Terkini Warga Terdampak Banjir Lebak

Published

on

Korban Banjir Lebak Banten
Korban Banjir Lebak Banten | Foto: Ist.

Lampung.co – Bencana banjir bandang yang menerjang wilayah Kabupaten Lebak, Banten tepatnya di Kecamatan Sajira masih menyisakan duka bagi warga. Kejadian yang terjadi satu bulan lalu membuat kehidupan warga berubah. Sebagian dari mereka ada yang menumpang di rumah keluarga dan ada juga yang bertahan di bawah tenda pengungsian. Salah satunya ada di Kampung Seupang, Desa Pajagan, Sajira.

Warga yang bertahan di sana hanya mengandalkan bantuan dari dermawan, salah satunya untuk pemenuhan kebutuhan pangan. Warga di Kampung Seupang misalnya. Warga yang umumnya petani dan memiliki usaha di rumah, kini harus menganggur. Sawah dan modal untuk mereka bekerja terbawa arus banjir. Sekarang, mereka mengandalkan bantuan untuk melanjutkan kehidupan.

Salah satunya adalah Amir. Sejak banjir menghancurkan perkampungan tempat tinggalnya, ia tak dapat bekerja. Lahan persawahan yang digarapnya terendam lumpur bercampur pasir setinggi sekitar 50-100 sentimeter. “Ya sekarang enggak kerja, ya paling nunggu bantuan saja,” kata dia, Sabtu (15/2/2020).

Kondisi seperti ini telah dirasakan Amir dan pengungsi lainnya sejak 1 Januari 2020 lalu. Ketika itu banjir bandang melanda Kampung Seupang yang mengakibatkan sekira 43 rumah, satu sekolah, dan satu masjid hancur. Sebanyak 295 warganya harus mengungsi di kebun bambu yang tak jauh dari lokasi terdampak. Mereka bertahan dengan menggantungkan pada bantuan.

Sabtu kemarin, Aksi Cepat Tanggap (ACT) datang ke Kampung Seupang untuk mendistribusikan paket makanan siap santap dari Humanity Food Truck. Distribusi menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda karena medan yang harus dilalui ke Kampung Seupang tak dapat dijangkau truk berdapur dari ACT ini. Sedangkan proses masak dilakukan di Humanity Food Truck yang diparkir tak jauh dari Alun-Alun Sajira.

Luki, salah satu anak yang mengungsi dari Kampung Seupang mengungkapkan, betapa lezatnya hidangan dari Humanity Food Truck. Lauknya pun beragam. “Enak ada ayamnya, mie, sama sambel. Ada nugget juga,” ungkapnya.

Koordinator Humanity Food Truck Ryan Andriana mengatakan, aksi truk ini akan berlangsung selama delapan hari di wilayah terdampak bencana banjir bandang Lebak. Tiap harinya seribu porsi akan dihidangkan. “Setiap hari juga kami akan distribusikan makanan siap santap untuk penuhi kebutuhan pangan warga,” jelas Rian. (*)

15,356 kali dilihat, 168 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Banyak Dibaca