fbpx
Connect with us

Nasional

Ini Kata Persatuan Jaksa Terkait Pembentukan Densus Tipikor

Published

on

Persatuan Jaksa

Lampung.co – Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) tidak merasa keberatan terkait dibentuknya Datasemen Khusus Tindak Pidana Korupsi (Densus Tipikor) Polri. Namun, PJI mengharapkan DensusTipikor Polri bekerja tidak sampai pada tahap penuntutan.

Salah satu anggota Persatuan Jaksa Indonesia, Reda Manthovani menuturkan, apabila Densus Tipikor Polri bekerja hingga pada tahap penuntutan maka bakal ada aturan yang dilanggar. Di antaranya adalah Undang Undang (UU) Kejaksaan dan Kitab Undang Undang Acara Pidana (KUHAP).

“Kalau sebatas penyidikan seperti yang berlaku seperti Densus 88, tidak masalah tapi kalau ikut juga melakukan penuntutan, tidak bisa,” kata Reda, dalam diskusi DensusTipikor Polri di Jakarta, Ahad (22/10) sebagaimana dikutip dari republika.co.id.

Lalu kenapa KPK bisa bekerja sampai penuntutan? Reda menambahkan, karena kerja KPK berdasarkan pada UU KPK. Di samping itu, UU KPK menjabarkan tugas KPK sebagai trigger mechanism. Sementara, Densus Tipikor Polri tidak ada UU nya. “Dan tidak bisa kalau DensusTipikor Polri ini hanya bekerja berdasarkan Kepres,” tuturnya.

Peraturan Presiden (Perpres) atau Kepres, kata Reda, tidak dapat mengatur Densus Tipikor Polri yang tugasnya hingga penuntutan. Hal yang serupa disampaikan Anggota PJI, R. Narendra Jatna. Menurut dia kalau Densus Tipikor Polri hanya sampai pada tahap penyidikan maka tidak usah dibuat Densus Tipikor.

Dia menyarankan, dibentuk tim lintas instansi seperti dahulu pernah ada Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK). Di samping itu, Narendra juga memandang usulan mata anggaran Densus Tipikor Polri yang lumayan besar senilai Rp 2,6 triliun dianggap teramat besar bila dibandingkan mata anggaran Kejaksaan. Anggaran kejaksaan senilai Rp 4,6 triliun di mana Kejaksaan bertugas melakukan penyidikan dan penuntutan aneka kasus termasuk kasus korupsi.

“Anggaran kejaksaan total Rp 4,6 triliun semua. Sedangkan hanya untuk Densus Tipikor Rp 2,6 triliun. Kalau mau dibandingkan harusnya anggaran Kejaksaan juga disamakan, sebab tahapan kinerjanya lebih lengkap, penyidikan, penuntutan hingga eksekusi,” jelasnya.

Tokoh Akademisi Hukum Acara Pidana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Junaedi menganggap, jika Polri berkeras tetap membentuk Densus Tipikor , maka mesti ada UU yang diubah. “Tapi tetap ada aturan UU yang harus disesuaikan, tidak bisa kemudian membentuk lembaga seperti KPK, di mana ada penyidikan dan penuntutan di satu lembaga,” katanya. (Erwin/republika.co.id)

127 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188

Berita

Cerita Santri Pesantren Entrepreneur Jajakan Kerupuk Lele

Published

on

Pesantren Ash Shalahuddin

Lampung.co – Hampir 45 kilometer jaraknya dari kota Bandung, tepatnya di Desa Sindang Kerta, Cililin, Kabupaten Bandung Barat, berdiri terdapat sebuah Pesantren entrepreneur. Namanya Pesantren Ash Shalahuddin.

Pesantren yang sudah berdiri sejak awal kemerdekaan republik Indonesia, yakni pada tahun 1956 ini mengusung pendidikan agama Islam serta kewirausahaan bagi para santri dan santriwatinya.

Pimpinan pesantren Ustaz Asep menuturkan, para santri diajarkan memegang prinsip Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa kemiskinan dekat dengan kekufuran. Salah satu yang dapat dilakukan ialah dengan berniaga.

“Santri di sini diajarkan untuk berjualan. Salah satu produknya ialah makanan dari olahan ikan lele, mulai dari kerupuk, abon, hingga stik lele dengan harga 2-20 ribu rupiah,” kata dia dikutip dari ACTNews, Selasa (5/11/2019)

Adi Saputra merupakan salah satu santri yang juga ikut belajar kewirausahaan dengan menjajakan produk olahan pesantren ke warga sekitar. Adi biasa menjajakan kerupuk lele dengan harga Rp 2 ribu per kemasan.

Pendapatannya pun bisa mencapai Rp 80-120 ribu sekali berkeliling. Namun, kadang ia juga tak mendapatkan pembeli sama sekali. “Kalau enggak laku ya sedih, tapi gapapa juga, sambil belajar,” ungkap santri yatim itu.

Pesantren Ash Shalahuddin dihuni oleh sebanyak 57 santri dari kalangan keluarga perekonomian prasejahtera dan yatim. Para santri dibimbing sembilan tenaga pengajar di pesantren ini secara gratis.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk pangan, para santri berjualan produk olahan lele. Cara ini juga menjadi salah satu materi belajar, mengingat lembaga ini memiliki lebel pesantren entrepreneur.

Untuk mendukung kebutuhan pangan para santri, lembaga kemanusiaan aksi cepat tanggap (ACT) memberikan satu ton beras untuk Pesantren Ash Shalahuddin pada Kamis (31/10/2019) lalu.

Kepala Cabang ACT Jabar Renno Mahmoeddin mengatakan, beras ini merupakan kelanjutan dari program Beras untuk Santri Indonesia (Berisi) yang diluncurkan pada Hari Santri Nasional 22 Oktober 2019.

Dia berharap, dengan adanya beras ini dapat membantu kebutuhan pangan santri. “Semangat belajar para santri ini perlu dijaga, salah satu cara yang ACT lakukan dengan program Berisi,” ucap Renno. (*)

29,382 kali dilihat, 155 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Berita

Ini Tiga Program ACT untuk Santri, Satu Sudah Berjalan

Published

on

Ahyudin

Lampung.co – Organisasi nirlaba Aksi Cepat Tanggap (ACT) menegaskan tidak hanya menjadi relawan bencana alam. Melalui Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), ACT juga ingin ikut membantu membenahi berbagai persoalan bangsa.

Ketua Dewan Pembina ACT Ahyudin mengatakan bahwa MRI-ACT memiliki tiga peranan utama, diantaranya penggerak karakter kerelawanan bangsa, mendorong kedermawanan, serta pelopor aksi kemanusiaan.

Dia menjelaskan, pihaknya tak hanya mendorong gerakan kerelawanan saat terjadi bencana alam atau musibah saja, akan tetapi, turut serta berupaya membenahi berbagai masalah, termasuk kemiskinan.

“MRI merupakan organisasi sayap dari ACT, kami ingin menyampaikan tekad kami sebagai sebuah ormas kerelawanan nasional, untuk lebih berkontribusi lebih untuk bangsa kita,” kata Ahyudin, Minggu (27/10/2019).

Salah satu langkah yang telah dilakukan oleh ACT, lanjutnya, adalah dengan menjalankan Program Beras untuk Santri Indonesia yang mulai dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional beberapa waktu lalu.

“Kami telah memulai Program Beras untuk Santri Indonesia, dengan agenda 1.000 ton beras setiap bulan untuk 1.000 santri,” ujarnya dalam kuliah Visi Kerelawanan di Kota Malang, Jawa Timur itu.

Sejak dimulainya program Beras untuk Santri Indonesia tersebut, ada beberapa wilayah yang menjadi target penyaluran beras untuk para santri itu. Diantaranya di Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

“Penyaluran seperti di wilayah Sumatra yang pesantrennya terpapar bencana asap, diantaranya di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, termasuk Aceh. Kalimantan kami juga sudah bergerak,” jelas Ahyudin.

Setelah program beras santri, kedua, ACT berencana akan membuka program lumbung pangan wakaf. Dengan program ini, Pesantren diharapkan bisa mandiri dalam memeroleh pangan.

Terakhir, ACT juga menargetkan bisa menciptakan program air bersih dalam kemasan di pesantren. Program ini ditunjukkan agar dapat menciptakan pesantren dengan wibawa kuat.

“Berkarakter dalam membangun bangsa. Dan semoga semua pihak bisa ikut terinspirasi untuk pesantren,” tandasnya. (*)

10,513 kali dilihat, 118 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Berita

Pulau Pura Nusa Tenggara Timur Butuh SDM Untuk Berdakwah

Published

on

Dai Tepian Negeri

Lampung.co – Salah satu program Global Zakat lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) adalah Dai Tepian Negeri, yakni memberangkatkan para dai ke sejumlah pelosok Indonesia untuk berdakwah.

Pada periode ini, Global Zakat bekerja sama dengan Mahad Aly An Nuaimy memberangkatkan 10 dai ke beberapa daerah pelosok republik. Diantaranya ke NTT, Kepulauan Mentawai, Maluku, dan Sulawesi.

Salah satu diantara 10 dai tersebut bernama Ade Nursyamsi yang telah hampir 90 hari mengabdikan dirinya bersama Global Zakat-ACT di Pulau Pura Kabupaten Kepulauan Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Satu bulan setengah bertugas, Ade memegang amanah untuk mengajar siswa kelas IV, V, dan VI di MI Daarussalam Timuabang. Bukan hanya para siswa, Ade juga melakukan mentoring secara berkelompok para guru.

“Saya mengajar mata pelajaran mata pelajaran Alquran, hadis, bahasa Arab, sejarah kebudayaan Islam. Total 54 siswa yang saya ajar,” cerita Ade, Sabtu (26/10/2019) dikutip dari ACTNews.

Ade juga mengajar di TPA Al-Idzah Timuabang. Sekitar 40 Anak-anak di Kampung Timuabang Desa Maru, Kecamatan Pura, menjadi muridnya belajar fikih, tajwid, tauhid, bahasa Arab, dan cara membaca Alquran.

“Anak-anak di kampung ini mempunyai semangat untuk belajar Alquran yang tinggi,” ungkap dai asal Majalengka itu.

Selain mengajar dan berdakwah, Ade juga membantu masyarakat berkegiatan, seperti dalam hal kerja bakti bersih desa atau membangun fasilitas desa. Belum lama ini, masyarakat Timuabang membangun masjid.

“Kerja bakti setiap hari Ahad bersama masyarakat membangun Masjid Darussalaam untuk mengisi liburan adalah salah satu misi saya sebagai Da’i. Ini berkaitan juga dengan bersosialisasi,” ujarnya.

Sebagaimana kita ketahui lanjutnya, dakwah tidak hanya di mimbar saja akan tetapi di manapun kita bisa berdakwah. Ade juga menyampaikan, ia terus berusaha menjaga semangatnya untuk berdakwah.

“Di Pulau Pura ini, kata dia, masih perlu banyak bantuan SDM dan materi untuk berdakwah. Kami sadar, kami masih banyak kekurangan. Untuk itu kami mohon dukungan dermawan semua,” tandasnya. (*)

13,005 kali dilihat, 110 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Banyak Dibaca