Menu

Tuntut Penyelesaian Kasus Penganiayaan, Perawat Se-Lampung Demo

  Dibaca : 775 kali
Tuntut Penyelesaian Kasus Penganiayaan, Perawat Se-Lampung Demo
(Foto: Ruslan/Lampung.co)

Lampung.co – Tepat sebulan setelah peristiwa dugaan penganiayaan yang terjadi di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) di Bandar Lampung, para perawat yang tergabung dalam Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) melakukan aksi damai, Kamis (26/4/2018).

Aksi yang digelar di Lapangan Korpri, Komplek Kantor Gubernur Lampung sekira pukul 09.30 WIB itu dihadiri ratusan perawat se-Lampung. Mereka menuntut pihak kepolisian mengusut tuntas insiden penganiayaan yang telah dilaporkan ke Polresta Bandar Lampung pada 28 Maret 2018 itu.

“Kami sudah berkorban untuk merawat pasien, tapi kenapa balasannya seperti ini,” tukas salah seorang orator dari atas bak mobil pick up.

Setelah berorasi, beberapa perwakilan massa diterima Ketua DPRD Lampung yang juga Ketua PPNI Lampung, Dedi Afrizal.

Diketahui, peristiwa tersebut berawal ketika pada Selasa (27/3/2018), pukul 12.00 WIB, Yansori mengantar istrinya, Hayati, hendak berobat ke Instalasai Gawat Darurat (IGD) rumah sakit milik pemerintah tersebut.

Saat itu, kata Yansori, pasien ditanya surat rujukan oleh perawat yang menjaga di kasir IGD. Pasien pun menjawab tidak ada rujukan. Namun pihak perawat rumah sakit ngotot meminta rujukan dari puskesmas.

Yansori pun sudah memohon agar istrinya ditangani. Namun perawat tetap mengabaikannya.

Merasa kecewa, Yansori membentak perawat. Namun perawat rumah sakit juga membalas membentak dirinya. Akibatnya, sambung dia, terjadilah keributan.

Menurut Yansori, saat itu semua perawat mengeroyoknya. Bahkan bajunya ditarik dan dicengkeram oleh perawat.

Melihat ayahnya dikeroyok, anak Yansori bernama Peprima (16) yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA menghampiri untuk melerai.

“Anak saya yang wanita sempat kena pukulan karena dia melerai saya. Bahkan sekarang dia lagi divisum di Rumah Sakit Bumi Waras. Sedangkan istri saya berobat ke Rumah Sakit Advent,” kata Yansori di Mapolresta.

Yansori pun menyesalkan sikap para perawat RSUDAM yang dinilainya tidak sopan dalam melayani pasien.

“Tidak perlu mereka mengusir kami. Memangnya rumah sakit itu dibangun buat siapa kalau bukan untuk masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, Ferry, perawat RSUDAM yang juga mengaku dikeroyok empat orang keluarga pasien membuat laporan di Mapolresta Bandar Lampung.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandar Lampung Komisaris Harto Agung Cahyono mengatakan, pihaknya telah menerima dua laporan terkait insiden penganiayaan dan pengeroyokan di Rumah Sakit Abdul Moeloek.

“Laporan pertama disampaikan perawat RSUDAM dengan tuduhan pasal pengeroyokan. Sementara laporan kedua dibuat oleh Yansori Zaini, keluarga pasien, yang melaporkan kasus penganiayaan terhadap dirinya,” ujar dia.

Harto mengatakan, setelah menerima laporan tersebut pihaknya langsung bergerak. Penyidik melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan bukti dan meminta keterangan saksi-saksi. Bahkan, polisi telah menyiapkan jeratan hukum untuk pihak yang bersalah.

“Untuk Pasal 170 KUHP tentang penggeroyokan ancaman hukumannya 5,5 tahun penjara. Lalu Pasal 351 KUHP soal penganiayaan dengan hukuman maksimal 5 tahun penjara,” terang Harto. (*/rus)

Iklan Baris
Jasa pembuatan website untuk lembaga atau bisnis. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Banner Ads

- Iklan Layanan Masyarakat -
-Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H-


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional