Menu

Kementan RI: Kualitas Baik, Tren Ekspor Produk Pertanian Lampung Meningkat

  Dibaca : 329 kali
Kementan RI: Kualitas Baik, Tren Ekspor Produk Pertanian Lampung Meningkat
Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Banun Harpini (Foto: Istimewa)

Lampung.co –┬áKepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Banun Harpini, mengatakan, seiring dengan kualitas komoditas sangat baik, tren ekspor produk pertanian di Provinsi Lampung terus meningkat.

“Selain itu, layanan karantina untuk menjamin keamanan dan kesehatan produk pertanian agar dapat diterima negara tujuan ekspor terus meningkat, khususnya di Karantina Lampung,” ujar dia, dalam keterangan pers yang diterima di Bandar Lampung, Rabu (25/4/2018).

Banun menyebutkan, dari tahun ke tahun, ekspor baik produk segar tumbuhan dan hewan menunjukkan angka peningkatannya.

“Untuk produk hewan berupa Bat Guano, atau kotoran kelelawar sangat diminati Cina dan Amerika Serikat dengan jumlah ekspor meningkat dari 18 ton apda tahun 2015 dan menjadi masing- masing 36 ton pada tahun 2016 dan 2017,” jelasnya, seperti dilansir Jurnas.

Sementara itu, untuk tumbuhan, terdapat 68 jenis produk pertanian dengan komoditas Palm Kernel Meal merupakan komoditas ekspor terbesar, dan disusul kopi biji, tetes tebu, RBD palm stearin, nanas irisan, dan karet lempengan.

Palm kernel meal, nenas sirup, kelapa bulat, dan buah pisang. Adapun tujuan negara ekspornya hampir keseluruh penjuru dunia, atau tepatnya ke 78 negara. Mulai dari Amerika Serikat, Selandia Baru, Uzbekistan, hingga negara-negara di Timur Tengah.

Hal ini sejalan dengan data yang dilansir BPS tentang data ekspor pertanian naik 20,01 persen. Namun, share-nya masih sangat kecil, hanya 1,81 persen, karena masih lebih besar industri olahan.

“Ekspor pertanian yang cukup besar sarang burung walet, kopi, jagung, dan tanaman obat,” kata Banun.

Dijelaskan, jajarannya terus meningkatkan kerja sama dengan negara-negara tujuan ekspor khususnya dalam harmonisasi peraturan perkarantinaan.

“Sebagai tools trade, peraturan SPS (sanitary and phytosantary) menjadi tools perdagangan yang strategis dalam era non-traffif barries, kebjiakan tanpa tarif,” jelas Banun.

Indonesia dapat turut ambil bagian dalam kancah perdagangan produk pertanian global sepanjang mematuhi aturan perkarantinaan di negara tujuan ekspor.

Sementara itu, untuk pendamping kepada pelaku ekspor produk pertanian, Badan Karantina Pertanian melakukan terobosan berupa layanan karantina elektronik, layanan inline inspection, dan fasilitasi ekspor produk pertanian.

Di lain pihak, dilaporkan terjadinya peningkatan kepatuhan masyarakat terhadap aturan perkarantinaan, yakni melaporkan hewan dan tumbuhan yang dilalulintaskan kepada petugas Karantina Pertanian di pintu masuk dan keluar antararea atau provinsi.

“Dari data pengawasan dan penindakan (wasdak) Karantina Lampung angka penangkapan daging celeng di wilayah kerja Bakauheni pada tahun 2015 mencapai 38 ton, pada tahun 2016 sebesar 20 ton, dan pada tahun 2017 di angka 14 ton,” ujar Banun.

Dia mengharapkan kerja sama dengan instansi terkait dan masyarakat dapat terus ditingkatkan agar produk pertanian terjaga keamanan dan kesehatannya sehingga memasok pangan sehat baik untuk Indonesia maupun dunia. (*/rus)

Iklan Baris
Jasa pembuatan website untuk lembaga atau bisnis. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Banner Ads

- Iklan Layanan Masyarakat -
-Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H-


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional