fbpx
Connect with us

Kolom

[Kolom] Tewasnya (Sumpah) Pemuda?

Published

on

Muhammad Daud Zulkarnain

Lampung.co – Pernah terpikir bagaimana kabar dan menderitanya Bung Karno di liang lahat menyaksikan bangsa yang ditinggalinya ini terkatung-katung mencari kemerdekaan yang sudah lama disiapkannya dalam fantasi kepala.

Betapa malu hati ia dikucilkan oleh dirinya sendiri, dan bisa jadi ingin sekali beliau mati lagi dengan cara yang berbeda, bunuh diri untuk bagaimanapun caranya berhenti mengingat ulang mahar yang ia beri agar bangsa ini memiliki hak menentukan dirinya sendiri.

Pengorbanan itu sudah sekedar omong kosong dianggap memang sudah mestinya terjadi, sekalipun menolak dalam pikiran. Mimpi yang akan tetap di luar realitas, berguling terbelakangi dengan laju Negeri Kepulauan India ini tanpa kepastian arah yang jelas dalam mengartikan dirinya sebagai sebuah Negara.

Negara sebagai bentuk entitas tidak nyata namun mengaku ada, sudahlah hal yang mesti menjadi penanggungjawab terhadap kebaikan, kebahagiaan, kebebasan, keadilan, kesejehteraan, keamanan, kepuasan, serta terciptanya karakter bermoral luhur bagi seluruh orang yang memberikan tanah dan alam warisannya untuk diefektifkan.

Namun, itu sebatas retorika yang digunakan kemudian berulang-ulang bagi mereka yang berhasrat menggenggam Negara. Tanpa benar menghadirkan itu.

Dalam upaya mengeluarkan dirinya dari garis batas kebohongan yang menjubahi kekuasaan ini, kebanyakan bangsa mengadu kepada kaum intelektual yang posisinya berada di tengah timbangan masyarakat.

Melalui seni berekspresi, sesuatu yang menyimpang tidak sesuai jalan tujuan diminta kembali memutar setir agar bisa melanjutkan perjalanan yang ingin dilakukan semua orang. Namun tidak semua kaum intelektual bersudi untuk melakukan pembebasan kejahatan Negara itu dengan sarana yang kompak, masalahnya mereka memilih caranya masing-masing.

Jalan yang baginya benar dan baik untuk membawa penderitaan itu runtuh digantikan kehidupan yang dinamis progresif. Maka secara diakronik, masyarakat melihat kalau orang-orang muda, pelajar khususnya, sebagai pihak yang memungkinkan untuk diharap mampu berdiri di atas kepentingan mereka karena berposisi sebagai bakal orang-orang intelektual.

Lebih lagi kaum muda merupakan orang-orang yang secara biologis memiliki tingkatan hormon yang baik dimana berarti penuh dengan daya semangat tinggi untuk membantu masyarakat yang secara pengetahuan tidak merata.

Golongan muda dengan gairah meledak-ledak yang dalam sejarahnya dapat menciptakan kepungan massa untuk menekan kokohnya kebijakan publik memang nyata bisa memenangkan pertarungan.

Lantas apa revolusi benar bisa menelurkan kehidupan ideal dan meninggalkan lingkungan memalukan. Sikap naïf kaum muda yang rela terorganisir ini jelas-jelas banyak menghasilkan kehidupan nyaman, tapi sayangnya dalam kasus Negeri ini menjadi impotensi.

Namun lebih jauh daripada itu, esensi dari sebuah pemberontakan terhadap kehidupan mapan dimana segalanya seakan absolut, tanpa mungkin digantikan menjadi penting karena mendasari kebutuhan masyarakat terutama rakyat kecil. Kebanyakan yang merasa keinginan untuk hidup bebas harus diafirmasi.

Maka sebuah perjuangan kaum intelektual yang ditawarkan para muda bisa tidak selalu dalam bentuk gerakan massa, seorang individu bisa melakukannya dalam banyak ekspresi, sastra atau musik, tontonan atau prestasi.

Pengulangan pembaharuan ilmu pengetahuan pada dasarnya bisa menjadi perlawanan terhadap imprealisme yang seenak jidat menghendaki akal piciknya. Imprealisme sudah seakan dilupakan dan mati, walau kenyataan yang hadir ia bagaikan penyakit keabadian yang mustahil dilerai di dalam peradaban dunia.

Indonesia sendiri, Negeri yang sudah terbiasa dengan cengkeram totalitas imprealisme sejak ratusan tahun berlalu, menganggap itu adalah bagian dari kehidupan.

Perasan semacam itu sayangnya tidak relevan bagi masyarakat mayoritas, rakyat-rakyat menengah bawah yang sekalipun tidak mengenal pemahaman imprealisme, namun merasakan kebebasan dan kebahagiaan yang dimilikinya begitu penuh dengan aturan yang tidak parnah dimengerti.

Begitu kuatnya, imprealisme telah menjelma sebagai objek positif yang karena menghadirkan kebebasan memperoleh informasi dari berbagai tempat di dunia dan teknologi membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik dan mudah.

Saksikan saja, isu-isu sosial dan politik dunia yang dapat dibaca dan lihat sampai ke liang kubur seseorang, pengenalan budaya luar yang sekalipun tidak nyambung dengan nilai bangsa, serta kelaziman penggunaan jaringan internet yang sudah dianggap perlu dalam mengisi sendi kehidupan.

Hal ini tidak saja menimbulkan perasaan gelisah karena dibenturkannya dengan berbagai macam persoalan informasi, namun juga membuat ruang privat seakan aneh untuk dimiliki, lebih lagi fenomena pemujaan berlebih akan kebudayaan asing telah menciptakan realitas palsu bagi masyarakat.

Perkembangan teknologi dan juga aktivitas media membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan mudah pada dasarnya adalah sebuah bentuk ilusi dari imprealisme. Agar dominasi penguasaan tetap tangguh tanpa khawatir timbulnya pemberontakan radikal sebagaimana di masa lalu.

Kita semua merasakan betul-betul bagaimana banyak hal ini telah dianggap mendatangkan keuntungan dalam dunia baru, dimana korupsi, perampasan lahan bakal pembangunan, tingginya harga konsumsi, meleburnya budaya luar dengan lokal.

Hingga pencitraan suatu hal tanpa fungsi yang esensial, manipulasi safari atau benda dari hasil fantasi, dan serangkaian bentuk laku yang karena ada terus menerus maka dianggap sebagai sebuah kebiasaan yang kadang kala memberi untung.

Seperti diciptakannya tempat wisata bergaya dunia fiksi yang hanya ada dalam imajinasi seorang bocah, dengan dinasaurus, pahlawan super, dan adrenalin-adrenalin irasional lainnya yang dinilai sebagai arena penting dalam menuntaskan perasaan menghibur diri dan orang terdekat.

Dimana yang dalam pemahaman Jean Baudrillard, kita hidup dalam sistem simulacra, sebuah konsep hidup yang tersimulasi dan menggantungkan tanda-tanda sebagai yang sesungguhnya dalam realitas.

Dalam suasana yang mungkin bagi sebagian orang saja, merasa sangat penting karena terucapkannya janji dan panji, yang sudah nyaris satu abad dibuncahkan, akan merasa sebagai kaum muda mereka memiliki beban yang berat dalam menyampaikan perasaan penindasan masyarakat banyak.

Apalagi untuk pembebasan yang dianggap sebuah kekonyolan hanya karena imprealisme tidak lagi dalam bentuk tradisional. Kaum muda yang dipanggil cendekia, tidak lagi memiliki hasrat untuk menciptakan sesuatu yang berguna dan manfaat karena mengaku dunia telah baik-baik saja dengan sistem yang harus didukung.

Tidak adanya pemberontakan terorganisir ataupun secara individu yang melahirkan intensitas tekanan besar adalah karena hegemoni imprealisme yang mengilusi lewat tangan-tangan liciknya semacam teknologi dan media.

Hal itu mengacaukan para intelektual dewasa, membuat mereka kesulitan dalam menciptakan ekspresi yang berguna dan bermanfaat. Namun kelompok yang lebih diterpa dampak yang menjijikan ini adalah para intelektuil muda.

Kita semua hanyut di dalam sistem imprealisme itu, kita hidup di dalam tanda-tanda dan takut terhadap simbol yang diciptakan pihak penguasa, dan kita merasa terlalu malu sampai memilih hidup dalam dunia alternatif tanpa peduli terhadap penderitaan masyarakat dalam dunia realita.

Padahal, Soekarno telah meminta sepuluh saja anak muda, untuk membawa sampai bangsa ini kepada area kemerdekaan yang sesungguhnya. Sepuluh berarti sekelompok gerakan, namun juga berarti beberapa individu yang berjuang menciptakan sesuatu yang membebaskan khalayak dari kehidupan yang pahit dan bias.

Sayangnya, kaum muda hari ini memilih dungu dalam keadaan terombang-ambing, bukan lagi menyiapkan dirinya untuk menjadi umat intelektual dengan bergairah menemukan kebenaran.

Denpasar, 28 Oktober 2018
Oleh: Muhammad Daud Zulkarnain
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

364 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kolom

[Kolom] Sektor Pariwisata di Lampung Bisa Jadi Tulang Punggung Perekonomian

Published

on

Sektor Pariwisata di Lampung

Salah satu sektor penting di provinsi Lampung yang potensinya bila dikembangkan, dikelola secara baik dan maksimal, sehingga mampu meningkatkan pendapatan daerah serta kesejahteraan masyarakat adalah sektor pariwisata.

Selain potensi alam yang indah dan beraneka beragam, provinsi Lampung juga memiliki banyak keunggulan pada wisata kuliner yang mampu memanjakan lidah, serta tentunya wisata sejarah, budaya yang penuh nilai kerifan dan edukasi.

Provinsi ini memiliki garis pantai sepanjang 1.105 km. Terdapat dua teluk di provinsi Lampung yaitu Teluk Semaka dan Teluk Lampung dengan sekitar 132 pulau yang berhadapan langsung dengan ALKI (Alur Lintas Kapal Internasional) Selat Sunda.

Letak geografis yang memang merupakan pintu gerbang Sumatera, tentu semakin memperkuat, bahwa provinsi ini memiliki keunggulan akses dibandingkan dengan provinsi lain yang ada di pulau Sumatera.

Peluang yang diulas diatas tentu saja menjadi tantangan tersendiri. Tapi kita harus optimis bahwa tidak ada yang tidak mungkin bila kita mau berusaha. Kurang lebih satu tahun yang lalu, ada gagasan yang sempat kami diskusikan dengan beberapa penggerak pariwisata lokal.

Dari diskusi tersebut kami mencoba menyimpulkan bahwa ketika sektor pariwisata di Lampung ingin maju dan menjadi salah satu ujung tombak dalam hal peningkatan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat, maka ada tiga unsur utama yang harus menjadi penopang dan disinergikan.

Tiga unsur utama itu adalah penggerak pariwisata, pemangku kebijakan serta investor. Ujung tombak dari ide ini ada di penggerak pariwisata. Merekalah yang dari awal melakukan mapping potensi pariwisata di 15 kabupaten yang ada di provinsi Lampung.

Siapa saja yang bisa dilibatkan menjadi tim penggerak pariwisata? Banyak, bisa para anak muda alumni – alumni perguruan tinggi yang mau pulang dan mengembangkan kampung halamannya, para komunitas dan netizen yang konsen dalam dunia promosi wisata lokal, serta tentunya para akademisi yang punya dedikasi tinggi guna kemajuan pariwisata Lampung.

Setelah potensi pariwisata di Lampung ter-mapping dengan baik, selanjutnya tentu kita membutuhkan support kongkrit dari para pemangku kebijakan, mulai dari unit terkecil, lingkup RT, desa, daerah hingga provinsi maupun pusat.

Dukungan pemangku kebijakan untuk menjadikan sektor pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi, tentu harus dibuktikan dengan terbitnya kebijakan-kebijakan yang mensupport, mempermudah sekaligus menjadi payung hukum bagi pengembangan pariwisata.

Bisa dari sisi kebijakan perbaikan infrastruktur, kemudahaan akses perizinan, promosi, pada pola-pola pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang konsen di dunia pariwisata.

Terakhir, setelah potensinya terpetakan, para penggerak pariwisatanya terus melakukan inovasi, pemerintah setempat dari lokal hingga pusat terus bekerja serta memberikan akses perlindungan dan dukungan. Maka tentu para investor baik lokal mapun internasional akan ngantri berdatangan dan berinvestasi di sektor ini.

Oleh: M Imron Rosadi,
Sekretaris DPW Partai Gelora Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

3,021 kali dilihat, 430 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Kolom

[Kolom] Wajah Baru RTH Kalpataru Kemiling dan Tantangan Kedepannya

Published

on

RTH Kalpataru Kemiling

Pekan ini perbincangan di beberapa group WA (WAG) komunitas dan warga Kemiling, ramai membicarakan tentang kondisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalpataru yang makin nyaman, asri dan ramah anak.

Foto-foto aktivitas warga dan anak-anak yang bermain di areal RTH juga banyak di share ke group, terlihat sekali rona bahagia dari para pengunjung ketika berada di areal tersebut.

Aktivitas sore hari pun di kalpataru beberapa hari terakhir ini terlihat sangat ramai. Tentu karena banyak warga yang ingin menyaksikan secara langsung kondisi RTH yang katanya makin keren dan oke.

Terlihat juga lima hari ini pihak Kecamatan Kemiling, Dinas Perempuan & Perlindungan Anak, dibantu dengan Dinas Kebersihan dan beberapa pendamping masyarakat serta beberapa komunitas bergotong royong membersihkan sekaligus mempercantik lokasi tersebut.

Dari informasi yang dihimpun, baik itu dari obrolan masyarakat pengguna kalpataru maupun dari kiriman beberapa anggota di WAG komunitas, terkait dengan renovasi RTH, rupanya pekan ini sedang diadakan penilaian lomba Ruang Publik yang Ramah Anak. Jadi wajar RTH Kalpataru diperbaiki.

Tapi apapun yang melatarbelakanginya, saya melihatnya dari sisi positifnya saja. Yang terpenting sekarang RTH Kalpataru makin bersihn nyaman untuk bermain anak. Pagi tadi, Kamis (17/10/2019), sambil jogging saya sempat melihat lihat dan mengambil beberapa gambar. Ada beberapa hal yang menarik dan menurut saya ini patut diapresiasi.

Pertama, ada plang larangan parkir di halaman depan RTH serta kendaraan roda dua tidak boleh masuk di dalam areal RTH. Menurut saya ini adalah terobosan yang baik. Karena dengan begitu, areal RTH akan terlihat lebih lapang dan tentunya tidak terlihat semerawut.

Jadi, bila pengunjung yang membawa kendaraan baik roda dua dan empat, bisa memarkirkan kendaraannya di halaman Subsektor Kemiling. Lebih sehat, untuk menuju aeal RTH kita harus berjalan kaki dulu.

Kedua, ada spanduk yang dibentangkan di dalam RTH. Konten tulisannya ada tiga; Tidak boleh merokok, NO Wifi, dan tidak ada PKL yang berjualan di dalam RTH. Wah himbauan ini benar-benar keren. Bila ini berjalan, maka RTH akan benar-benar menjadi ruang publik yang ramah anak, karena asap rokok “haram” masuk, no internet dan tidak boleh jajan sembarangan.

Saya melihat ada tiga hal, yang menjadi dampak positif dari himbauan tersebut; Udara makin sehat, karena tidak ada asap rokok. Anak-anak juga akan maksimal bermain dan berinteraksi, karena di sana telah banyak disiapkan berbagai spot permainan.

Dan yang tak kalah pentingnya, para orang tua yang menemani anaknya bermain pun tidak akan asyik dengan gadget nya masing-masing, mereka akan bersosialisasi dengan para orang tua lainnya.

Lalu terkait dengan tidak bolehnya pedagang kaki lima (PKL) masuk areal RTH, ini lebih pada optimalisasi areal-areal lain, sehingga semua titik di kalpataru bisa teroptimalisasi dengan baik.

Sekali lagi, apresiasi untuk Pemerintah Kota, dalam hal ini di motori oleh Dinas Perempuan & Perlindungan Anak, Dinas Kebersihan serta Kecamatan Kemiling yang telah ber ikhtiar memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Khususnya dalam mengupayakan Ruang Terbuka Hijau yang nyaman, aman dan ramah lingkungan.

Tantangan kedepan tentu ada pada perawatan dan penjagaan areal RTH. Amat disayangkan, bila apa yang sudah baik ini tidak dibuatkan konsep pengelolaan yang lebih bai lagi. Ada baiknya, dalam waktu dekat ini pihak Kecamatan mengajak seluruh elemen pengguna dan pencinta kalpataru untuk duduk dan rembug bersama karena ada beberapa warga ada yang melontarkan usulan.

Saya lihat ada beberapa pihak yang bisa dirangkul oleh pak Camat. Ada Komunitas Jalan Sehat Kalpataru, Komunitas Pecinta Kalpataru, klub – klub Sepak Bola dan Volly, Karate, Tekwondo, Sanggar Senam, Klub Sepeda serta tentunya para Pedagang dan warga terdekat RTH.

Harapannya pihak Kecamatan atau gabungan komunitas bisa membuat forum rembug dua pekanan atau bulanan. Targetnya tentu untuk membangun keakraban serta mencari titik temu plus membuat program bersama untuk merawat kalpataru, khususnya dalam hal menjaga fasilitas umum (Fasum) dan kebersihannya.

Cakeep juga bila kedepan di Kalpataru kita punya hari “bersih bersama”. Contoh seserhana, setiap jumat sore sebelum semua memulai aktivitas (baik itu jogging, latihan bola, volly, karate, berdagang, dan lain sebagainya).

Kita luangkan waktu 30 menit saja (dri jam 15.30 – 16.00) untuk operasi semut, bersama-sama membersihkan areal lapangan dan RTH. Dan ini melibatkan seluruh elemen yang setiap hari menggunakan lapangan Kalpataru.

Tidak kalah penting juga pihak Pemerintah Kota melalui Kecamatan bisa menugaskan dua atau orang petugas Pol PP setiap malam, yaa piket nya di atur dengan pihak terkait. Karena sayang, Fasum yg sudah ada khususnya di RTH, klo tidak ada yg menjaga.

Kedepan bisa dirusak oleh pihak-pihak yang belum mau sadar. Nanti teknisnya pihak Pol PP bisa bekerja sama dengan pamong terdekat dan anggota komunitas yang ada. Semoga dengan adanya RTH yang ramah anak, mampu meminimalisir aktivitas negatif yang marak terjadi di kalpataru ketika malam hari.

Oleh: M Imron Rosadi,
Ketua Komunitas Pencinta Kalpataru
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

7,885 kali dilihat, 127 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Kolom

[Kolom] Pemkot Perlu Terobosan Untuk Berdayakan Pedagang di Jalur Wisata

Published

on

Jalan Raden Imba Kusuma

Hampir tiap pagi saya melewati Jalan Raden Imba Kusuma kota Bandar Lampung. Bila masuk waktu pagi dan sore hari, bisa dikatakan jalur ini makin padat dilewati banyak kendaraan roda dua dan empat.

Salah satu alasanya karena memang jalan ini adalah jalur alternatif menuju beberapa sekolah, kantor pemerintahan serta tempat bekerja yang ada di wilayah Tanjung Karang dan Teluk Betung.

Setiap akhir pekan jalur ini pun termasuk padat dan sering didatangi para wisatawan lokal maupun domestik, karena banyak terdapat beberapa destinasi wisata. Dari mulai Puncak Mas, Lembah Hijau, Bukit Mas, Hutan Pinus, serta wisata santap durian dan beberapa tempat kuliner laiannya.

Selain itu, bila para pelancong ingin menuju bumi kedaton serta wisata pantai yang ada di pesisir lempasing sampai padang cermin, jalur ini merupakan pilihan rute yang banyak diminati. Alasanya bisa jadi karena memang suasananya lebih sejuk dan banyak spot wisata lain yang bisa dikunjungi.

Bahkan dua tahun belakangan, karena Jalan Raden Imba Kusuma juga sudah dibangun perumahan elit Citraland Group. Di pintu gerbang komplek ini karena memang tempatnya lumayan luas, bersih dan asri, sering dijadikan spot berkumpul, beristirahat plus selfie / welfie asyiik.

Pokoknya, benar – benar jalur pinggiran kota yang top dah. Oo yaa hampir lupa, saat ini Jalan Raden Imba Kusuma juga sudah resmi beroperasi satu pom bensin yang lumayan luas dan startegis.

Namun ada sedikit masukan nih, khususnya untuk pihak terkait, dalam hal ini tentunya pemerintah kota Bandar Lampung. Ini tentang penataan serta pengadaan lahan untuk para pedagang yang sudah bertahun-tahun berjualan, bahkan tinggal di sekitar jalur ini.

Bila kita lihat, beberapa lapak bangunan yang ada, posisinya butuh ditata lebih baik lagi. Karena saat ramai pengunjung/pembeli, selain sedikit mengganggu kelancaran lalu lintas, tentu secara estetika juga kurang pas dilihat.

Tulisan ini bukan ingin bermaksud menyalahkan para pedagang lho… Tapi lebih lebih kepada meminta perhatian pemerintah kota untuk lebih peduli kepada masyarakatnya serta melihat ini sebagai masalah serius yang harus segera dicarikan solusi.

Saya melihat di sekitaran jalur ini banyak terdapat lahan yang sudah puluhan tahun kosong dan tidak tergarap. Usul nih kepada pemerintah, khususnya dinas terkait untuk melakukan beberapa terobosan.

Bisa dimulai dengan melakukan mapping dan pendataan terkait dengan kepemilikan lahan kosong yang ada di pingir jalan tersebut, kemudian ajak pemilik lahan untuk kerjasama membangun rest area serta sentra kuliner yang unik dan menarik di jalur itu.

Cakep juga bila di wilayah ini dijadikan rest area dan wisata minum kopi khas Lampung. Di tempat tersebut kita kenalkan seluruh jenis kopi yang ada di tanah Lampung ini. Jangan lupa, dan ini yang paling utama, libatkan serta berdayakan para pedagang yang selama ini telah menghidupkan wilayah tersebut.

Karena memang dalam kurun 10 tahun belakangan, Jalan Raden Imba Kusuma terlihat lebih ramai, dalam tanda kutip aman dilewati setelah banyak pedagang buah yang berjualan di sepanjang jalan.

Saya fikir, bila komunikasi yang dilakukan pemerintah kota baik, dan pengelolaan rest area tersebut mengedepankan aspek – aspek pemberdayaan dan keterbukaan. Tentu para pedagang yang selama ini ada, akan dengan ikhlas mensukseskannya.

Akhirnya tulisan ini, hanya sedikit unek-unek yang terlintas terpikirkan setelah pagi tadi melewati jalan ini. Semoga bisa menjadi bahan bagi pemerintah kota, khususnya para calon Walikota untuk menawarkan program terobosan dalam memajukan pariwisata serta tentunya meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

Oleh: M Imron Rosadi,
Penggerak GARBI Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

8,000 kali dilihat, 105 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Banyak Dibaca