fbpx
Connect with us

Kolom

[Kolom] Tewasnya (Sumpah) Pemuda?

Published

on

Muhammad Daud Zulkarnain

Lampung.co – Pernah terpikir bagaimana kabar dan menderitanya Bung Karno di liang lahat menyaksikan bangsa yang ditinggalinya ini terkatung-katung mencari kemerdekaan yang sudah lama disiapkannya dalam fantasi kepala.

Betapa malu hati ia dikucilkan oleh dirinya sendiri, dan bisa jadi ingin sekali beliau mati lagi dengan cara yang berbeda, bunuh diri untuk bagaimanapun caranya berhenti mengingat ulang mahar yang ia beri agar bangsa ini memiliki hak menentukan dirinya sendiri.

Pengorbanan itu sudah sekedar omong kosong dianggap memang sudah mestinya terjadi, sekalipun menolak dalam pikiran. Mimpi yang akan tetap di luar realitas, berguling terbelakangi dengan laju Negeri Kepulauan India ini tanpa kepastian arah yang jelas dalam mengartikan dirinya sebagai sebuah Negara.

Negara sebagai bentuk entitas tidak nyata namun mengaku ada, sudahlah hal yang mesti menjadi penanggungjawab terhadap kebaikan, kebahagiaan, kebebasan, keadilan, kesejehteraan, keamanan, kepuasan, serta terciptanya karakter bermoral luhur bagi seluruh orang yang memberikan tanah dan alam warisannya untuk diefektifkan.

Namun, itu sebatas retorika yang digunakan kemudian berulang-ulang bagi mereka yang berhasrat menggenggam Negara. Tanpa benar menghadirkan itu.

Dalam upaya mengeluarkan dirinya dari garis batas kebohongan yang menjubahi kekuasaan ini, kebanyakan bangsa mengadu kepada kaum intelektual yang posisinya berada di tengah timbangan masyarakat.

Melalui seni berekspresi, sesuatu yang menyimpang tidak sesuai jalan tujuan diminta kembali memutar setir agar bisa melanjutkan perjalanan yang ingin dilakukan semua orang. Namun tidak semua kaum intelektual bersudi untuk melakukan pembebasan kejahatan Negara itu dengan sarana yang kompak, masalahnya mereka memilih caranya masing-masing.

Jalan yang baginya benar dan baik untuk membawa penderitaan itu runtuh digantikan kehidupan yang dinamis progresif. Maka secara diakronik, masyarakat melihat kalau orang-orang muda, pelajar khususnya, sebagai pihak yang memungkinkan untuk diharap mampu berdiri di atas kepentingan mereka karena berposisi sebagai bakal orang-orang intelektual.

Lebih lagi kaum muda merupakan orang-orang yang secara biologis memiliki tingkatan hormon yang baik dimana berarti penuh dengan daya semangat tinggi untuk membantu masyarakat yang secara pengetahuan tidak merata.

Golongan muda dengan gairah meledak-ledak yang dalam sejarahnya dapat menciptakan kepungan massa untuk menekan kokohnya kebijakan publik memang nyata bisa memenangkan pertarungan.

Lantas apa revolusi benar bisa menelurkan kehidupan ideal dan meninggalkan lingkungan memalukan. Sikap naïf kaum muda yang rela terorganisir ini jelas-jelas banyak menghasilkan kehidupan nyaman, tapi sayangnya dalam kasus Negeri ini menjadi impotensi.

Namun lebih jauh daripada itu, esensi dari sebuah pemberontakan terhadap kehidupan mapan dimana segalanya seakan absolut, tanpa mungkin digantikan menjadi penting karena mendasari kebutuhan masyarakat terutama rakyat kecil. Kebanyakan yang merasa keinginan untuk hidup bebas harus diafirmasi.

Maka sebuah perjuangan kaum intelektual yang ditawarkan para muda bisa tidak selalu dalam bentuk gerakan massa, seorang individu bisa melakukannya dalam banyak ekspresi, sastra atau musik, tontonan atau prestasi.

Pengulangan pembaharuan ilmu pengetahuan pada dasarnya bisa menjadi perlawanan terhadap imprealisme yang seenak jidat menghendaki akal piciknya. Imprealisme sudah seakan dilupakan dan mati, walau kenyataan yang hadir ia bagaikan penyakit keabadian yang mustahil dilerai di dalam peradaban dunia.

Indonesia sendiri, Negeri yang sudah terbiasa dengan cengkeram totalitas imprealisme sejak ratusan tahun berlalu, menganggap itu adalah bagian dari kehidupan.

Perasan semacam itu sayangnya tidak relevan bagi masyarakat mayoritas, rakyat-rakyat menengah bawah yang sekalipun tidak mengenal pemahaman imprealisme, namun merasakan kebebasan dan kebahagiaan yang dimilikinya begitu penuh dengan aturan yang tidak parnah dimengerti.

Begitu kuatnya, imprealisme telah menjelma sebagai objek positif yang karena menghadirkan kebebasan memperoleh informasi dari berbagai tempat di dunia dan teknologi membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik dan mudah.

Saksikan saja, isu-isu sosial dan politik dunia yang dapat dibaca dan lihat sampai ke liang kubur seseorang, pengenalan budaya luar yang sekalipun tidak nyambung dengan nilai bangsa, serta kelaziman penggunaan jaringan internet yang sudah dianggap perlu dalam mengisi sendi kehidupan.

Hal ini tidak saja menimbulkan perasaan gelisah karena dibenturkannya dengan berbagai macam persoalan informasi, namun juga membuat ruang privat seakan aneh untuk dimiliki, lebih lagi fenomena pemujaan berlebih akan kebudayaan asing telah menciptakan realitas palsu bagi masyarakat.

Perkembangan teknologi dan juga aktivitas media membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan mudah pada dasarnya adalah sebuah bentuk ilusi dari imprealisme. Agar dominasi penguasaan tetap tangguh tanpa khawatir timbulnya pemberontakan radikal sebagaimana di masa lalu.

Kita semua merasakan betul-betul bagaimana banyak hal ini telah dianggap mendatangkan keuntungan dalam dunia baru, dimana korupsi, perampasan lahan bakal pembangunan, tingginya harga konsumsi, meleburnya budaya luar dengan lokal.

Hingga pencitraan suatu hal tanpa fungsi yang esensial, manipulasi safari atau benda dari hasil fantasi, dan serangkaian bentuk laku yang karena ada terus menerus maka dianggap sebagai sebuah kebiasaan yang kadang kala memberi untung.

Seperti diciptakannya tempat wisata bergaya dunia fiksi yang hanya ada dalam imajinasi seorang bocah, dengan dinasaurus, pahlawan super, dan adrenalin-adrenalin irasional lainnya yang dinilai sebagai arena penting dalam menuntaskan perasaan menghibur diri dan orang terdekat.

Dimana yang dalam pemahaman Jean Baudrillard, kita hidup dalam sistem simulacra, sebuah konsep hidup yang tersimulasi dan menggantungkan tanda-tanda sebagai yang sesungguhnya dalam realitas.

Dalam suasana yang mungkin bagi sebagian orang saja, merasa sangat penting karena terucapkannya janji dan panji, yang sudah nyaris satu abad dibuncahkan, akan merasa sebagai kaum muda mereka memiliki beban yang berat dalam menyampaikan perasaan penindasan masyarakat banyak.

Apalagi untuk pembebasan yang dianggap sebuah kekonyolan hanya karena imprealisme tidak lagi dalam bentuk tradisional. Kaum muda yang dipanggil cendekia, tidak lagi memiliki hasrat untuk menciptakan sesuatu yang berguna dan manfaat karena mengaku dunia telah baik-baik saja dengan sistem yang harus didukung.

Tidak adanya pemberontakan terorganisir ataupun secara individu yang melahirkan intensitas tekanan besar adalah karena hegemoni imprealisme yang mengilusi lewat tangan-tangan liciknya semacam teknologi dan media.

Hal itu mengacaukan para intelektual dewasa, membuat mereka kesulitan dalam menciptakan ekspresi yang berguna dan bermanfaat. Namun kelompok yang lebih diterpa dampak yang menjijikan ini adalah para intelektuil muda.

Kita semua hanyut di dalam sistem imprealisme itu, kita hidup di dalam tanda-tanda dan takut terhadap simbol yang diciptakan pihak penguasa, dan kita merasa terlalu malu sampai memilih hidup dalam dunia alternatif tanpa peduli terhadap penderitaan masyarakat dalam dunia realita.

Padahal, Soekarno telah meminta sepuluh saja anak muda, untuk membawa sampai bangsa ini kepada area kemerdekaan yang sesungguhnya. Sepuluh berarti sekelompok gerakan, namun juga berarti beberapa individu yang berjuang menciptakan sesuatu yang membebaskan khalayak dari kehidupan yang pahit dan bias.

Sayangnya, kaum muda hari ini memilih dungu dalam keadaan terombang-ambing, bukan lagi menyiapkan dirinya untuk menjadi umat intelektual dengan bergairah menemukan kebenaran.

Denpasar, 28 Oktober 2018
Oleh: Muhammad Daud Zulkarnain
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kolom

[Kolom] Kenapa E-voting Penting Untuk Diterapkan pada Pemilu di Indonesia

Published

on

E-voting

Pemilihan umum (Pemilu) 17 April 2019 lalu merupakan momen yang sulit dilupakan, untuk pertama kalinya pemilu serentak dilaksanakan di Indonesia. Pemilu serentak dilaksanakan merujuk hasil keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan gugatan yang diajukan Akademisi Effendi Ghazali bersama Koalisi Masyarakat Sipil untuk Pemilu Serentak terhadap UU Nomor 42/2008 tentang Pilpres.

Masyarakat berduyun-duyun datang ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk mengunakan hak pilihnya. Mereka bebas menentukan calon pemimpin tanpa ada paksaan. Lima calon pemimpinnya yang akan mereka pilih mulai dari presiden, DPR, DPRD Tigkat Provinsi, DPRD Tingkat Kabupaten/ Kota, dan DPD.

Ternyata dalam proses Pemilu serentak tersebut menyisakan permasalahan dan perlu dievaluasi, terutama dari penyelenggaraan pemilu yang menelan ratusan korban jiwa. Lebih dari 400 anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) dari berbagai daerah meninggal dunia akibat kelelahan.

Penulis menyaksikan langsung bagaimana petugas KPPS bekerja di luar batas waktu normal bekerja. Banyak pihak menyayangkan hal ini terjadi dan menuntut masalah ini harus segera diatasi. Maka tidaklah jika salah banyak pihak yang beranggapan bahwa Proses Pemilu 2019 di Indonesia dinilai yang paling banyak makan korban di dunia.

Selanjutnya, muncul gagasan penerapan e-voting untuk Pemilu di masa mendatang sekaligus solusi cepat, akurat dan efesktif ketimbang menunggu penghitungan suara manual secara berjenjang mulai dari tingkat KPPS hingga akhir rekapitulasi KPU. Mengingat sistem tersebut banyak menguras waktu, tenaga dan terbukti banyak menelan korban jiwa.

Pemerintah sebenarnya sudah mulai menggunakan teknologi guna membantu penyelenggaraa Pemilu. Hal itu bisa kita lihat dalam proses pendaftaran pemilih menjadi daftar berbasis data yang sudah terkomputerisasi, sehingga bisa diakses siapapun. Di lain pihak, teknologi e-recapitulation atau Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) juga sudah digunakan oleh KPU pada Pemilu 2014, Pilkada 2015, dan Pilkada 2017.

Era tahun 1890-an, sistem E-voting ini sudah dipakai dengan menggunakan alat khusus berupa mesin bertuas yang berfungsi untuk menentukan pilihan suaranya. Dalam mesin tersebut si pemilik suara tidak bisa memberikan suaranya lebih dari satu. Sebuah tuas besar akan dijadikan alat untuk menyimpan data pilihan, sehingga mesin bisa digunakan oleh pemilik suara berikutnya.

Pada tahun 2000 lalu, sistem ini dipakai juga pada pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS). Mesin punch-card digunakan oleh pemilik suara dengan cara menyelipkan selembar kertas pada buku berisi daftar kandidat yang akan dipilih. Kemudian, kertas tersebut akan dibuatkan lobang sesuai dengan jumlah kolom kandidat yang akan dipilih.

Bisa dikatakan bahwa fungsi Mesin ini juga serupa dengan alat pengoreksi jawaban sehingga proses pengoreksian dapat diselasaikan dengan cepat dan hasilnya akurat.

Senada dengan hal di atas, Direktur Pusat Teknologi, Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Michael Andreas Purwoadi menilai, jika dibandingkan dengan sistem pemilu konvensional yang selama ini digunakan, teknologi e-voting ini sangat tepat untuk dijadikan pilihan dalam pelaksanaan proses penghitungan hasil suara di masing-masing TPS dalam Pemilu di seluruh wilayah Indonesia.

Menurut Andreas, setidaknya ada beberapa alasan yang menjadi acuan. Pertama, KPU tidak perlu mencetak kertas surat suara, jika E-Voting diterapkan. Kedua, pemilih dapat dengan mudah menyalur kan hak pilih mereka. Cukup hanya dengan menyentuh tanda gambar di panel pilihan surat suara.

Ketiga Andreas menilai jika dengan e-voting ini maka proses penghitungan suara akan menjadi lebih cepat dan akurat. Karena pada saat pemungutan suara selesai, proses rekapitulasi tersebut langsung ditutup, dan hasil akhir pemilihan pun bisa langsung diperoleh secara akurat.

Menilik permasalahan Pemilu tahun ini, penulis berharap agar proses penghitungan suara manual secara berjenjang tidak lagi dijadikan rujukan resmi dalam penetapan lima calon pemimpin. Paling tidak, diterapkan terlebih dahulu dalam proses rekapitulasi hasil suara persiden dan wakil persiden Indonesia mendatang.

Penulis melihat ini sebagai sebuah upaya dalam rangka mempermudah aktifitas peyelenggara Pemilu karena beberapa negara sudah menerapkan hal tersebut. Tentunya ada yang sudah berhasil dan ada pula yang masih tahap pengembangan.

Perkembangan teknologi tidak bisa dibendung, zaman sudah berubah, sudah saatnya indonesia bergerak maju menggapai sistem penghitungan pemilu yang efektif, cepat dan akurat. Atau kita akan semakin tertinggal dari pesatnya laju era digital yang terus berkembang.

Oleh: Za’imna,
Ketua PAC GP Ansor Kemiling, Bandar Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Kolom

[Kolom] KPU Perlukan Aksesibilitas Tinggi

Published

on

Edwin Febrian

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan pilihan terbaik bagi Negara Indonesia yang memiliki ragam agama, bahasa, dan budaya. Tertuang dalam UU No 7/2017 Pasal 1, dalam pelaksanaannya, Pemilu sebagai sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Presiden dan Wakil Presiden, serta DPRD yang dilakukan sesuai azas Pemilu yakni, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Pemilu 2019 menjadi sejarah baru bagi bangsa Indonesia. Dimana, dalam menyelenggarakan Pemilu secara serentak : Pemilihan DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden, dan DPRD Provinsi dan Kab/Kota kali pertama dalam sejarah pesta demokrasi lima tahunan di Indonesia. Penyelenggara Pemilu telah sukses dan perlu diapresiasi oleh segenap elemen masyarakat, meski terus perlu ada pembenahan-pembenahan.

Untuk menyelenggarakan Pemilu dibutuhkan penyelenggara yang menyiapkan semua tahapannya. Dalam UU No 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum yang sudah disederhanakan dalam UU No 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, lembaga penyelenggara Pemilu yaitu, KPU (Komisi Pemilihan Umum), Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu), dan DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara pemilu).

KPU yaitu lembaga penyelenggara Pemilu yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri yang bertugas melaksanakan Pemilu. Bawaslu yaitu lembaga penyelenggara Pemilu yang bertugas mengawasi penyelenggara Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan, DKPP adalah lembaga yang bertugas menangani pelanggaran kode etik Penyelenggara Pemilu dan merupakan satu kesatuan fungsi penyelenggara Pemilu dan bersifat tetap.

Penyelenggara Pemilu, terutama KPU, pada Pemilu 2019 menjadi pihak yang paling banyak mendapatkan isu-isu negatif, terutama di media sosial. Lembaga KPU seperti dilansir dari detikNews, hasil big data yang dilakukan oleh Laborotarium Big Data Analytics Polgov UGM selama rentang waktu 12-22 April 2019 berdasarkan data yang diambil dari jumlah dan sebaran percakapan di Twitter, ditemukan bahwa dari 13.030 percakapan, lebih dari 50 % menyerang KPU dengan tuduhan tidak netral atau berpihak kepada salah satu calon.

Semangat Pemilu 2019 sebagai tonggak konsolidasi demokrasi, justru menorehkan banyak catatan kritis bukan saja terkait penyelenggara Pemilu serentak, tapi persoalan integritas Pemilu itu sendiri. Selain persoalan integritas, penting kiranya memilih Komisioner KPU yang memiliki aksesibilitas tinggi demi memudahkan penyelengara Pemilu dalam penyelenggaraannya.

Aksesibilitas (keteraksesan atau ketercapaian) dalam definisi Wikipedia merupakan derajat kemudahan dicapai oleh orang, terhadap suatu objek, pelayanan atau lingkungan.

Bagi Lampung, menggelar Pemilu secara berbarengan bukan pertama kalinya di 2019 ini. Lampung pernah menggelar Pemilu secara berbarengan pertama kali pada 2014 lalu, tepatnya pada tanggal 9 April 2014. Ketika itu, Lampung menyelenggarakan Pemilu secara berbarengan antara Pilgub dengan Pileg.

Tentunya, Pemilu yang berbarengan ini menjadi cikal bakal miniatur atau contoh Pemilu serentak pada tahun 2019 ini. Yang pada saat itu, Pemilu 2019 serentak sudah diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Ketika kita mengulas balik penyelenggaraan Pemilu berbarengan pada 2014 lalu, sepertinya masyarakat Lampung khususnya, dan umumnya Indonesia selalu disuguhkan drama penuh intrik antara penyelenggara Pemilu dengan stakeholder (pemangku kepentingan) dalam tiap tahapan penyelenggaraannya.

Gubernur Lampung, Syachroedin ZP ketika itu dikabarkan tidak setuju dengan digelarnya Pilgub dan Pileg secara berbarengan. Syachroedin ZP sempat menolak bertemu dengan seluruh Komisioner KPU Lampung guna membahas penundaan jadwal pemungutan suara Pilgub. Syachroedin ZP beralasan kisruh Pilgub Lampung sudah ditangani pusat antara Mendagri dan KPU.

Pelaksanaan Pilgub ini sempat mengalami penundaan beberapa kali. Sang penguasa yang akan habis masa jabatannya pada 2 Juni 2014, dan akan juga digelar Pileg pada April 2014. Agar tidak meganggu Pileg 2014, maka sedianya Pilgub dimajukan 2013. Namun, karena APBD Lampung untuk Pilgub belum tersedia, maka sulit untuk diselenggarakan pada 2013.

Psychological War (perang urat saraf) antara Penyelenggara Pemilu dengan Gubernur Lampung pun tiap hari tersaji di pemberitaan media-media lokal maupun nasional. Awalnya Pilgub Lampung akan diselenggarakan pada 28 Oktober 2013, kemudian ditunda menjadi 2 Desember 2013. Ketidakpastian jadwal Pilgub Lampung ini pun membuat salah satu pasangan calon dari jalur independen, Amalsyah – Gunadi mundur dari pencalonan.

Pilgub Lampung akhirnya diikuti oleh empat paslon, keempatnya, Herman HN – Zainuddin Hasan, Berlian Tihang – Mukhlis Basri, Ridho Ficardo – Bahktiar Basri, dan M Alzier Dianis Thabranie – Lukman Hakim. Lagi – lagi Pilgub Lampung ditunda. Akhirnya, Pemerintahan Pusat melakukan pertemuan tertutup dengan Pemprov Lampung dan disepakati Pilgub Lampung akan digelar pada 27 Februari 2014. Lagi-lagi, rencana Pilgub Lampung 27 Februari 2014 kembali ditunda, dan disepakati pada 9 April 2014 berbarengan dengan Pileg. Pilgub Lampung dimenangkan paslon Ridho Ficardo- Bahktiar dengan perolehan suara 1.816.533 dengan persentase perolehan suara 44,96 %. Pasangan ini diusung Demokrat dan PKS.

Menyelenggarakan Pemilu secara berbarengan tentu tidak semudah membalikan telapak tangan, jika komisioner tidak memiliki integritas, profesionalisme, soliditas, dan kuat dalam tekanan. Figur komisioner yang memiliki aksesibilitas tinggi juga menjadi salah satu kunci suksesi pesta rakyat dalam menjalankan tiap tahapannya.

Pentingnya, memiliki figur aksesibilitas tinggi tidak lepas karena KPU akan bersentuhan langsung dengan stakeholder dan berbagai elemen masyarakat. Pemerintah, sebagai pihak yang memiliki kewenangan pengelolaan keuangan, sarana/ prasarana, dan birokrasinya tentu diperlukan dukungan agar tahapan berjalan dengan optimal.

Begitu juga dengan menjaga hubungan antar sesama penyelenggara Pemilu, Bawaslu. Di perlukan kordinasi intens guna mencegah tiap indikasi pelanggaran Pemilu yang dilakukan oleh peserta dan lembaga Pemilu itu sendiri. Komunikasi dengan peserta Pemilu diperlukan juga figur yang memiliki aksesibilitas tinggi, agar saling menjaga marwah demokrasi untuk tidak melakukan pelanggaran oleh kader atau calonnya.

Selain itu, harus ada aksesbilitas tinggi ke Media dan LSM agar publikasi, sosialisasi, dan informasi Pemilu dapat terdistribusi dengan baik ke masyarakat. KPU juga akan mendapat banyak sumber informasi. Dan masih banyak lainnya, keuntungan memiliki figur komisioner aksesibilitas tinggi. KPU dan KPU Lampung sudah melakukan itu, dan berharap komisioner yang memiliki aksesibiltas tinggi juga dapat ditularkan ke KPU Kab/Kota.

Oleh: Edwin Febrian, S.IP,
Jurnalis dan Kader Muhammadiyah Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Kolom

Yang Tak Banyak Orang Tahu, Tentang Hubungan Soekarno dan Hatta

Published

on

Soekarno Hatta
Video oleh Kompas TV

Lampung.coTak banyak yang tahu kapan sebenarnya Mohammad Hatta bertemu Soekarno pertama kali. Mereka diperkenalkan bukan dalam sebuah sekolah/institusi atau ketemu di jalan. Mereka bertemu secara maya melalui argumentasi perang kata dalam berbagai tulisan.

Sebelum pertemuan secara fisik, dua anak bangsa yang kala itu terpisah jarak belasan ribu kilometer saling memperhatikan, memberikan dukungan, mengagumi, dan mengkritisi langkah masing-masing.

Keduanya memang terlihat seiring, tapi jika diperhatikan, Bung Hatta dan Bung Karno justru dipertemukan oleh perbedaan. Meskipun berbeda watak dan pembawaan, ekspresi mereka sama: anti penindasan.

Menurut pengakuan Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi (2011), ia berjumpa pertama kali dengan Sukarno di sebuah hotel di Bandung. Haji Usman, salah satu kerabat jauh Hatta, adalah orang yang mengajaknya menemui Sukarno.

Bersama Haji Usman, Hatta ke rumah Sukarno langsung di Astanaanyar, Bandung. Namun saat itu Bung Karno tak di rumah. Lalu Hatta meninggalkan pesan dan kembali ke hotel menunggu kedatangan Sukarno yang tiba bersama Maskun malam harinya.

Sejak itu, keduanya seperti dipertautkan alam, berjuang bersama membela Tanah Air. Beberapa kali mereka harus menikmati pembuangan oleh pemerintah jajahan, kadang bersama namun lebih banyak ditempatkan di tempat yang berbeda.

Sejak suatu malam di bulan Maret 1942 itu, lahirlah dwitunggal, janji persatuan di atas perbedaan yang mengantarkan bangsa ini meraih kemerdekaan.

“Bung dan aku pernah terlibat dalam perselisihan yang dalam,” kata Sukarno kepada Hatta yang termaktub dalam buku Cindy Adams otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (1965), dapat menggambarkan persatuan mereka.

“Meski di satu waktu kita pernah tidak saling menyukai, sekarang kita menghadapi satu tugas yang jauh lebih besar daripada tugas yang pernah kita lakukan masing-masing. Berbagai perbedaan menyangkut masalah partai atau strategi tak perlu ada lagi. Sekarang kita satu. Bersatu di dalam perjuangan bersama.”

“Setuju,” kata Hatta dikutip dari tirto.id.

Keduanya kemudian berjabat tangan.

“Ini,” kata Sukarno, “merupakan simbol kita sebagai Dwitunggal. Kita berikrar dengan sungguh-sungguh untuk bekerja berdampingan, tak akan pernah dipisahkan sampai negeri kita merdeka sepenuhnya.”

Puncak kerjasama keduanya terpatri abadi pada teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun lagi-lagi, sejatinya kedua tokoh besar bangsa Indonesia ini dipertemukan oleh perbedaan.

Terdapat banyak silang pendirian. Salah satu yang terpokok adalah keinginan Sukarno untuk meruntuhkan demokrasi parlementer, menggantinya dengan sebuah sistem yang disebut demokrasi terpimpin.

Perbedaan pandangan antara keduanya dalam menyikapi berbagai persoalan terus terbawa hingga memimpin Republik Indonesia. Puncak perbedaan itu terjadi pada 1956 ketika Bung Hatta akhirnya mengundurkan diri sebagai wakil presiden.

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Banyak Dibaca