Connect with us

Kolom

[Kolom] Pemilu Dan Demokrasi Kita: Catatan Dibalik Usainya Pesta

Published

on

Yusni Ilham

Bagi sejumlah negara yang menyatakan diri sebagai negara demokrasi, pemilu memang dianggap sebagai lambang sekaligus tolak ukur utama dari sebuah sistem demokrasi. Artinya pelaksanaan dan dan hasil pemilu merupakan refleksi dari suasana keterbukaan dan aplikasi dari nilai dasar demokrasi, pemilu juga dianggap sebagai refresentasi dari keterwakilan aspirasi rakyat yang berhubungan erat dengan legitimasi pemerintahan.

Pemilu pada hakekatnya merupakan pengakuan dan perwujudan dari hak hak politik rakyat dan sekaligus pendelegasian hak hak tersebut oleh rakyat kepada wakilnya untuk menjalankan pemerintahan, sejalan dengan ini Arbi Sanit menyimpulkan bahwa pemilu pada dasarnya memiliki empat fungsi utama yakni 1) pembentukan legitimasi penguasa dan pemerintahan 2) pembentukan perwakilan politik rakyat 3) sirkulasi elit penguasa, dan 4) pendidikana politik.

Pemilu dan demokrasi dalam beberapa hari ini kembali menjadi diskursus yang merambah ke seluruh dasar bumi Republik ini, terus menerus di ulik dari berbagai sisi oleh hampir semua klangan.. Terlebih ladi setelah usainya pelaksanaaan pemungutan suara pemilukada serentak tahap tiga tanggal 27 juni 2018 lalu.

Pemilu dan demokrasi sesungguhnya sebuah diksi variabel bernegara yang tidak hanya mengandung visi normatif dan sosilogis namun pada dasarnya memuat khitta filosofis untuk membangun peradaban negeri ini dengan nilai dan kerja kerja kemanusiaan. Sebab sejatinya filsafat politik dan demokrasi yang kita anut adalah demokrasi yang di pimpin oleh hikmah dan kebijaksanaan. Menafikan hal ini maka bangunan politik kita dalam berbagai tampilannya termasuk tampilannya di panggung pemilukada hanyalah berpotensi menjelma manjadi bara api yang siap melahap sisem demokrasi negeri ini yang telah kita biayai dengan mahal.

Lalu pertanyaan yang mungkin perlu kita ajukan dalam konteks kini adalah apakah panggung pemilukada 27 juni 2018 lalu telah politik dan demokrasi kita telah di pimpin oleh hikmah dan kebijaksanaa?

Perhelatan pemilukada serentak tahap ketiga untuk daerah yang memasuki AMJ tahun 2018 dan 2019 sudah usai di laksanakan. lebih dari setengah penduduk negeri bereuforia menentukan kepala daerah pilihannya. Sebagai warga negara yang optimis kita dapat katakan pemilhan berjalan dengan relatif baik. situasi setelah pemungutan suara yang relatif aman serta hasil pemilihan di sebagian daerah yang menunjukkan pemilih kian memperhitungkan kapabilitas dan rekam jejak kandidat dibandingkan dengan hal lain.

Fenomena ini pertanda baik dalam transisi kematangan demokrasi nasional. Sebab iklim demokrasi dalam pemilihan kepala daerah secara langsung adalah miniatur demokrasi di tingkat nasional sebagimana keyakinan Brian C Smith (1998:85) ketika memberi perhatian proses demokratisasi di tingkat lokal. Sebab memang salah satu syarat pokok demokrasi adalah adanya sistem pemilihan umum (pemilu) yang jujur dan adil (free and fair election). Karena itu tersemai harapan akan ada pergerakan cepat ke arah kualitas dan menguatnya vitalitas demokrasi dalam skema dan portofolio demokrasi lokal, dimana Pemilih kita semakin cerdas, menggunakan akal sehat, dan semakin otonom. Tak lagi berkelindan dengan isu mobilisasi patron, dinasti politik, dan bentuk-bentuk kecurangan lainnya.

Meski demikian harus di akui bahwa hikmah dan kebijaksanaan belum sepenuhnya kuat membingkai jalan politik dan demokrasi kita, berbagai fakta masih membentur Pilkada 2018, masih terdapat daerah yang mengalami penundaan pemungutan suara dan terdapat 80 TPS yang direkomendasikan bawaslu untuk melaksanakan PSU. Pilkada langsung kali ini memang masih menyisakan sederet kekurangan yang harus dikritisi. akurasi data pemilih masih menimbulkan kekisruhan, keterlambatan dan kekurangan logistik di beberapa daerah mewarnai pilkada langsung.

Masih adanya perilaku politik intimidasi, secara samar masih terdengar riak politik uang di sejumlah daerah, dan berbagai praktik curang lainnya yang akan mempengaruhi hasil pemilu serta pengawasan dan penegakan hukum hukum pemilu yang masih belum maksimal serta sejumlah fenomena mengejutkan lahir dari proses dan hasil pemungutan suara Pilkada 2018. Deretan fakta demikian menjelaskan pada kita bahwa pemilukada 2018 yang baru saja usai belum berjalan di atas dasar hikma dan kebijaksanaan. Politik dan demokrasi yang di pimpin oleh hikmah dan kebijaksanakan di situlah pemilu yang jurdil, di situlah elit politik dan partai politik yang moderen dan profesional, disitu pula rakyat sebagai pemilih yang cerdas berada serta dalam Politik dan demokrasi yang di pimpin oleh hikmah dan kebijaksanakan di situlah terdapatnya penyelenggara pemilu yang profesional dan berintegritas.

The world’s a stage and all the men and women merely players they have their entrances…. dunia ini panggung sandiwara, semua pria dan wanita cumalah pemeran: mereka masing masing memiliki pintu keluar dan pintu masuk sendiri sendiri…

Demikian dalam sebuah Catatan Kaki Jodhi Yudono mengadaptasi kata kata William Shakespeare yang bisa kita di gunakan mewakili kata yang tidak terucap berhadapan dengan fenomena demokrasi kotak kosong yang mengejutkan lahir dari proses dan hasil pemungutan suara Pilkada 2018.

Kemenangan kotak kosong di Makassar kiranya harus di maknai sebagai kekalahan demokrasi dan tamparan bagi penegakkan hukum pemilu yang setengah hati, mungkin saja buah dari ambisi politik berlebih para parpol dan penegakkan hukum yang terlarut dalam lakon dan skenario politik. Sebagai kekalahan demokrasi sekaligus kekalahan partai politik, Fenomena kemenangan kotak kosong memperlihatkan bahwa pemilih yang mempunyai kesadaran politik untuk melakukan perlawanan adalah lawan paling tangguh bagi oligarki Parpol dalam politik elektoral.

Kemenangan kotak kosong adalah bukti dari peringatan F.C. Safigny yang menyatakan bahwa hukum adalah cerminan masyarakat, hukum merupakan kristalisasi semangat masyarakat, undang undang akan berhenti menjadi hukum ketika melawan semangat masyarakat. Karenanya kotak kosong telah mengembalikan daulat rakyat atas pilihan putusan hukum yang dianggap benar dan adil.

Penguatan kewenangan Bawaslu dalam UU nomor 7 tahun 2017 ternyata belum cukup, sebab apalah artinya kewenangan itu apabila tidak mendapatkan ruang peran yang merdeka bagi intitusi bawaslu. Dalam problem seperti ini patut kita renungkan penggalan kalimat Prof. Taverne yang pernah mengatakan “geef me goede rechter, goede rechter commissarissen, goede officieren van justitie en goede politie abtenaren, en ik zal met een slecht wetboek van strafprosesrecht het goede beruken” (Berikan kepadaku jaksa dan hakim yang baik, maka dengan hukum yang buruk pun saya dapat membuat putusan yang baik”.

MASIH ADA WAKTU
Tidak ada yang terlambat, Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Dari pemilu ke pemilu kita harus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Semua pihak harus bekerja memastikan perjalanan politik dan demokrasi ini tidak ditelanjangi dengan keserahan dan ketidakjujuran dari berbagai pihak berkepentingan jika kita masih sepakat untuk merawat wajah negeri ini. Semua pihak, penyelenggara, penegak hukum, elit politik dan parpol, hendaklah memiliki semangat kebangsaan yang sama untuk menjunjung tinggi kualitas demokrasi.

Demokrasi janganlah direduksi menjadi sekedar transaksi atau seni memanipulasi dan menghalalkan segala cara untuk memuluskan kepentingan pribadi dan kelompok. Sungguh tidak mustahil negeri dan daerah kita akan membusuk bila kita masih tetap berselera tingi dengan politik busuk ataupun semangat politik purba yang saling memangsa yang lemah atau kalah. Kemenangan kotak kosong yang mewarnai pemilukada 2018 kiranya menjadi cambuk bagi semua pihak secara keseluruhan untuk menjadikan momentum ini membangun semangat perbaikan pada semua pihak sesuai perannya masing masing khusunya pembenahan di tubuh partai politik dan institusi penegak hukum.

Akhirnya, pesta sudah usai, kita masih percaya pesan konstitusi bahwa rakyatlah pemilik kedaulatan itu dibawah naungan ideologi Pancasila. Bagi yang diberi kesempatan memegang mandat rakyat janganlah menggila dengan kemenangannya, menjadi mafia anggaran, suap, korupsi, kolusi menjadi modus untuk mengembalikan modal politik. Yang belum diberikan kesempatan oleh rakyat menjadilah “aktor” demokrasi yang ksatria. Inilah demokrasi kita, inilah daerah kita. Inilah Indonesia kita.

 

Oleh: Yusni Ilham, S.Sos.I

232 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188

Tim Redaksi media online Lampung.co menerbitkan berita-berita khusus, termasuk berita advertorial.

Kolom

[Kolom] Sektor Pariwisata di Lampung Bisa Jadi Tulang Punggung Perekonomian

Published

on

Sektor Pariwisata di Lampung

Salah satu sektor penting di provinsi Lampung yang potensinya bila dikembangkan, dikelola secara baik dan maksimal, sehingga mampu meningkatkan pendapatan daerah serta kesejahteraan masyarakat adalah sektor pariwisata.

Selain potensi alam yang indah dan beraneka beragam, provinsi Lampung juga memiliki banyak keunggulan pada wisata kuliner yang mampu memanjakan lidah, serta tentunya wisata sejarah, budaya yang penuh nilai kerifan dan edukasi.

Provinsi ini memiliki garis pantai sepanjang 1.105 km. Terdapat dua teluk di provinsi Lampung yaitu Teluk Semaka dan Teluk Lampung dengan sekitar 132 pulau yang berhadapan langsung dengan ALKI (Alur Lintas Kapal Internasional) Selat Sunda.

Letak geografis yang memang merupakan pintu gerbang Sumatera, tentu semakin memperkuat, bahwa provinsi ini memiliki keunggulan akses dibandingkan dengan provinsi lain yang ada di pulau Sumatera.

Peluang yang diulas diatas tentu saja menjadi tantangan tersendiri. Tapi kita harus optimis bahwa tidak ada yang tidak mungkin bila kita mau berusaha. Kurang lebih satu tahun yang lalu, ada gagasan yang sempat kami diskusikan dengan beberapa penggerak pariwisata lokal.

Dari diskusi tersebut kami mencoba menyimpulkan bahwa ketika sektor pariwisata di Lampung ingin maju dan menjadi salah satu ujung tombak dalam hal peningkatan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat, maka ada tiga unsur utama yang harus menjadi penopang dan disinergikan.

Tiga unsur utama itu adalah penggerak pariwisata, pemangku kebijakan serta investor. Ujung tombak dari ide ini ada di penggerak pariwisata. Merekalah yang dari awal melakukan mapping potensi pariwisata di 15 kabupaten yang ada di provinsi Lampung.

Siapa saja yang bisa dilibatkan menjadi tim penggerak pariwisata? Banyak, bisa para anak muda alumni – alumni perguruan tinggi yang mau pulang dan mengembangkan kampung halamannya, para komunitas dan netizen yang konsen dalam dunia promosi wisata lokal, serta tentunya para akademisi yang punya dedikasi tinggi guna kemajuan pariwisata Lampung.

Setelah potensi pariwisata di Lampung ter-mapping dengan baik, selanjutnya tentu kita membutuhkan support kongkrit dari para pemangku kebijakan, mulai dari unit terkecil, lingkup RT, desa, daerah hingga provinsi maupun pusat.

Dukungan pemangku kebijakan untuk menjadikan sektor pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi, tentu harus dibuktikan dengan terbitnya kebijakan-kebijakan yang mensupport, mempermudah sekaligus menjadi payung hukum bagi pengembangan pariwisata.

Bisa dari sisi kebijakan perbaikan infrastruktur, kemudahaan akses perizinan, promosi, pada pola-pola pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang konsen di dunia pariwisata.

Terakhir, setelah potensinya terpetakan, para penggerak pariwisatanya terus melakukan inovasi, pemerintah setempat dari lokal hingga pusat terus bekerja serta memberikan akses perlindungan dan dukungan. Maka tentu para investor baik lokal mapun internasional akan ngantri berdatangan dan berinvestasi di sektor ini.

Oleh: M Imron Rosadi,
Sekretaris DPW Partai Gelora Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

6,511 kali dilihat, 24 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Kolom

[Kolom] Wajah Baru RTH Kalpataru Kemiling dan Tantangan Kedepannya

Published

on

RTH Kalpataru Kemiling

Pekan ini perbincangan di beberapa group WA (WAG) komunitas dan warga Kemiling, ramai membicarakan tentang kondisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalpataru yang makin nyaman, asri dan ramah anak.

Foto-foto aktivitas warga dan anak-anak yang bermain di areal RTH juga banyak di share ke group, terlihat sekali rona bahagia dari para pengunjung ketika berada di areal tersebut.

Aktivitas sore hari pun di kalpataru beberapa hari terakhir ini terlihat sangat ramai. Tentu karena banyak warga yang ingin menyaksikan secara langsung kondisi RTH yang katanya makin keren dan oke.

Terlihat juga lima hari ini pihak Kecamatan Kemiling, Dinas Perempuan & Perlindungan Anak, dibantu dengan Dinas Kebersihan dan beberapa pendamping masyarakat serta beberapa komunitas bergotong royong membersihkan sekaligus mempercantik lokasi tersebut.

Dari informasi yang dihimpun, baik itu dari obrolan masyarakat pengguna kalpataru maupun dari kiriman beberapa anggota di WAG komunitas, terkait dengan renovasi RTH, rupanya pekan ini sedang diadakan penilaian lomba Ruang Publik yang Ramah Anak. Jadi wajar RTH Kalpataru diperbaiki.

Tapi apapun yang melatarbelakanginya, saya melihatnya dari sisi positifnya saja. Yang terpenting sekarang RTH Kalpataru makin bersihn nyaman untuk bermain anak. Pagi tadi, Kamis (17/10/2019), sambil jogging saya sempat melihat lihat dan mengambil beberapa gambar. Ada beberapa hal yang menarik dan menurut saya ini patut diapresiasi.

Pertama, ada plang larangan parkir di halaman depan RTH serta kendaraan roda dua tidak boleh masuk di dalam areal RTH. Menurut saya ini adalah terobosan yang baik. Karena dengan begitu, areal RTH akan terlihat lebih lapang dan tentunya tidak terlihat semerawut.

Jadi, bila pengunjung yang membawa kendaraan baik roda dua dan empat, bisa memarkirkan kendaraannya di halaman Subsektor Kemiling. Lebih sehat, untuk menuju aeal RTH kita harus berjalan kaki dulu.

Kedua, ada spanduk yang dibentangkan di dalam RTH. Konten tulisannya ada tiga; Tidak boleh merokok, NO Wifi, dan tidak ada PKL yang berjualan di dalam RTH. Wah himbauan ini benar-benar keren. Bila ini berjalan, maka RTH akan benar-benar menjadi ruang publik yang ramah anak, karena asap rokok “haram” masuk, no internet dan tidak boleh jajan sembarangan.

Saya melihat ada tiga hal, yang menjadi dampak positif dari himbauan tersebut; Udara makin sehat, karena tidak ada asap rokok. Anak-anak juga akan maksimal bermain dan berinteraksi, karena di sana telah banyak disiapkan berbagai spot permainan.

Dan yang tak kalah pentingnya, para orang tua yang menemani anaknya bermain pun tidak akan asyik dengan gadget nya masing-masing, mereka akan bersosialisasi dengan para orang tua lainnya.

Lalu terkait dengan tidak bolehnya pedagang kaki lima (PKL) masuk areal RTH, ini lebih pada optimalisasi areal-areal lain, sehingga semua titik di kalpataru bisa teroptimalisasi dengan baik.

Sekali lagi, apresiasi untuk Pemerintah Kota, dalam hal ini di motori oleh Dinas Perempuan & Perlindungan Anak, Dinas Kebersihan serta Kecamatan Kemiling yang telah ber ikhtiar memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Khususnya dalam mengupayakan Ruang Terbuka Hijau yang nyaman, aman dan ramah lingkungan.

Tantangan kedepan tentu ada pada perawatan dan penjagaan areal RTH. Amat disayangkan, bila apa yang sudah baik ini tidak dibuatkan konsep pengelolaan yang lebih bai lagi. Ada baiknya, dalam waktu dekat ini pihak Kecamatan mengajak seluruh elemen pengguna dan pencinta kalpataru untuk duduk dan rembug bersama karena ada beberapa warga ada yang melontarkan usulan.

Saya lihat ada beberapa pihak yang bisa dirangkul oleh pak Camat. Ada Komunitas Jalan Sehat Kalpataru, Komunitas Pecinta Kalpataru, klub – klub Sepak Bola dan Volly, Karate, Tekwondo, Sanggar Senam, Klub Sepeda serta tentunya para Pedagang dan warga terdekat RTH.

Harapannya pihak Kecamatan atau gabungan komunitas bisa membuat forum rembug dua pekanan atau bulanan. Targetnya tentu untuk membangun keakraban serta mencari titik temu plus membuat program bersama untuk merawat kalpataru, khususnya dalam hal menjaga fasilitas umum (Fasum) dan kebersihannya.

Cakeep juga bila kedepan di Kalpataru kita punya hari “bersih bersama”. Contoh seserhana, setiap jumat sore sebelum semua memulai aktivitas (baik itu jogging, latihan bola, volly, karate, berdagang, dan lain sebagainya).

Kita luangkan waktu 30 menit saja (dri jam 15.30 – 16.00) untuk operasi semut, bersama-sama membersihkan areal lapangan dan RTH. Dan ini melibatkan seluruh elemen yang setiap hari menggunakan lapangan Kalpataru.

Tidak kalah penting juga pihak Pemerintah Kota melalui Kecamatan bisa menugaskan dua atau orang petugas Pol PP setiap malam, yaa piket nya di atur dengan pihak terkait. Karena sayang, Fasum yg sudah ada khususnya di RTH, klo tidak ada yg menjaga.

Kedepan bisa dirusak oleh pihak-pihak yang belum mau sadar. Nanti teknisnya pihak Pol PP bisa bekerja sama dengan pamong terdekat dan anggota komunitas yang ada. Semoga dengan adanya RTH yang ramah anak, mampu meminimalisir aktivitas negatif yang marak terjadi di kalpataru ketika malam hari.

Oleh: M Imron Rosadi,
Ketua Komunitas Pencinta Kalpataru
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

10,982 kali dilihat, 21 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Kolom

[Kolom] Pemkot Perlu Terobosan Untuk Berdayakan Pedagang di Jalur Wisata

Published

on

Jalan Raden Imba Kusuma

Hampir tiap pagi saya melewati Jalan Raden Imba Kusuma kota Bandar Lampung. Bila masuk waktu pagi dan sore hari, bisa dikatakan jalur ini makin padat dilewati banyak kendaraan roda dua dan empat.

Salah satu alasanya karena memang jalan ini adalah jalur alternatif menuju beberapa sekolah, kantor pemerintahan serta tempat bekerja yang ada di wilayah Tanjung Karang dan Teluk Betung.

Setiap akhir pekan jalur ini pun termasuk padat dan sering didatangi para wisatawan lokal maupun domestik, karena banyak terdapat beberapa destinasi wisata. Dari mulai Puncak Mas, Lembah Hijau, Bukit Mas, Hutan Pinus, serta wisata santap durian dan beberapa tempat kuliner laiannya.

Selain itu, bila para pelancong ingin menuju bumi kedaton serta wisata pantai yang ada di pesisir lempasing sampai padang cermin, jalur ini merupakan pilihan rute yang banyak diminati. Alasanya bisa jadi karena memang suasananya lebih sejuk dan banyak spot wisata lain yang bisa dikunjungi.

Bahkan dua tahun belakangan, karena Jalan Raden Imba Kusuma juga sudah dibangun perumahan elit Citraland Group. Di pintu gerbang komplek ini karena memang tempatnya lumayan luas, bersih dan asri, sering dijadikan spot berkumpul, beristirahat plus selfie / welfie asyiik.

Pokoknya, benar – benar jalur pinggiran kota yang top dah. Oo yaa hampir lupa, saat ini Jalan Raden Imba Kusuma juga sudah resmi beroperasi satu pom bensin yang lumayan luas dan startegis.

Namun ada sedikit masukan nih, khususnya untuk pihak terkait, dalam hal ini tentunya pemerintah kota Bandar Lampung. Ini tentang penataan serta pengadaan lahan untuk para pedagang yang sudah bertahun-tahun berjualan, bahkan tinggal di sekitar jalur ini.

Bila kita lihat, beberapa lapak bangunan yang ada, posisinya butuh ditata lebih baik lagi. Karena saat ramai pengunjung/pembeli, selain sedikit mengganggu kelancaran lalu lintas, tentu secara estetika juga kurang pas dilihat.

Tulisan ini bukan ingin bermaksud menyalahkan para pedagang lho… Tapi lebih lebih kepada meminta perhatian pemerintah kota untuk lebih peduli kepada masyarakatnya serta melihat ini sebagai masalah serius yang harus segera dicarikan solusi.

Saya melihat di sekitaran jalur ini banyak terdapat lahan yang sudah puluhan tahun kosong dan tidak tergarap. Usul nih kepada pemerintah, khususnya dinas terkait untuk melakukan beberapa terobosan.

Bisa dimulai dengan melakukan mapping dan pendataan terkait dengan kepemilikan lahan kosong yang ada di pingir jalan tersebut, kemudian ajak pemilik lahan untuk kerjasama membangun rest area serta sentra kuliner yang unik dan menarik di jalur itu.

Cakep juga bila di wilayah ini dijadikan rest area dan wisata minum kopi khas Lampung. Di tempat tersebut kita kenalkan seluruh jenis kopi yang ada di tanah Lampung ini. Jangan lupa, dan ini yang paling utama, libatkan serta berdayakan para pedagang yang selama ini telah menghidupkan wilayah tersebut.

Karena memang dalam kurun 10 tahun belakangan, Jalan Raden Imba Kusuma terlihat lebih ramai, dalam tanda kutip aman dilewati setelah banyak pedagang buah yang berjualan di sepanjang jalan.

Saya fikir, bila komunikasi yang dilakukan pemerintah kota baik, dan pengelolaan rest area tersebut mengedepankan aspek – aspek pemberdayaan dan keterbukaan. Tentu para pedagang yang selama ini ada, akan dengan ikhlas mensukseskannya.

Akhirnya tulisan ini, hanya sedikit unek-unek yang terlintas terpikirkan setelah pagi tadi melewati jalan ini. Semoga bisa menjadi bahan bagi pemerintah kota, khususnya para calon Walikota untuk menawarkan program terobosan dalam memajukan pariwisata serta tentunya meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

Oleh: M Imron Rosadi,
Penggerak GARBI Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

10,179 kali dilihat, 17 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Banyak Dibaca