Menu

[Ngupi Pagi] Kartu Kuning, Asmat dan Pilgub Lampung

  Dibaca : 540 kali
[Ngupi Pagi] Kartu Kuning, Asmat dan Pilgub Lampung

Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatu….
Selamat pagi salam sejahtera….
Shalom….
Om swasti astu….
Tabik pun….

Nyo kabar, Yai? Pripun kabare, Mas? Semoga sehat sukses selalu beserta keluarga terkasih ya.

Mata sepet pukul 02.30 WIB, walau lelah tapi saya lanjutkan menulis guna memenuhi janji ke sahabat saya Pemred Lampung.co Yoga Pratama untuk mulai mengisi edisi perdana kolom “Ngupi Pagi.”

Saat tulisan ini sampai ke sidang pembaca terhormat, pikiran saya terus tergelitik akan berbagai topik hangat yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial dan ratusan grup WhatsApp (WAG) yang saya ikuti.

Soal kartu kuning yang dilayangkan Ketua BEM UI Zaadit Taqwa untuk Presiden Jokowi sedang hits. Meme (gambar bertuliskan pesan) dan pemberitaan marak berseliweran, dengan berbagai pro-kontranya. Buat saya ini hal menarik, karena di era digital cyber saat ini, tindakan kreatif yang terlihat sepele ternyata mampu membangkitkan gairah perjuangan kaum aktivis pergerakan dan barisan intelektual mahasiswa yang sepertinya mulai terlelap penat sejak beberapa tahun terakhir ini.

Tiap zaman ada gaya dan metodenya masing-masing. Saat saya masih mahasiswa di Unila era 1990-an dulu, polanya aktivis mahasiswa adalah melakukan demonstrasi mimbar bebas hingga rally jalan kaki (longmarch) sambil bentang spanduk dan poster plus orasi pakai toa, saat ada kebijakan pemerintah yang dirasa tak sesuai dengan akal sehat mahasiswa dan harus dikritisi.

Kerapkali kami ditangkapi dan diinterogasi 1×24 jam bila aparat membubarkan aksi atas nama Undang-undang dan stabilitas. Dan kerapkali pula, tindakan-tindakan represif tersebut malah membuat militansi bertambah serta kami semakin mencintai Indonesia dan Merah Putih.

Saya tak tahu, apakah fenomena kartu kuning BEM UI ini akan berlanjut hingga menjadi gerakan massa mahasiswa yang membesar dengan tuntutan demokratik yang kian maju, atau malah hanya berlanjut ke aksi-aksi teatrikal kartu lainnya dan rakyat hanya menjadi penonton setia perkelahian elite seperti biasanya.

Kini, rakyat kian sulit penghidupannya, kondisi ekonomi terpuruk dan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok melambung tinggi tak sebanding dengan stagnasi pendapatan. Kehadiran gerakan mahasiswa seakan menjadi oase pelepas dahaga. Rakyat percaya dengan mahasiswa sejak dulu, yang seperti koboi di film Hollywood, senantiasa hadir menumpas bandit-bandit pelaku kejahatan penindas yang lemah. Semoga.

Soal Asmat, jujur saya miris membaca pernyataan dari berbagai elite dan tokoh nasional. Saat sudah ratusan anak meninggal karena busung lapar, kita masih saja sibuk dengan perdebatan tak penting tak bermutu tak berguna bagi rakyat yang menderita nun jauh di sana.

Solusinya praktis, jangan hal mudah dibikin sulit, apalagi yang sulit dibuat rumit. Cukup Presiden Jokowi ajak Mensos, Menkes dan para menteri terkait ke Papua. Bawa bantuan pangan, kesehatan dan lain sebagainya. Bangun Puskesmas, Pos Gizi dan layanan publik yang dibutuhkan di sana, agar saudara-saudari kita di Papua merasa memiliki negeri ini dan akan terus setia dengan tumpah darah NKRI tercinta. Bagi yang mau bersolidaritas untuk Asmat, jangan ada hambatan dari siapapun, apalagi sampai diusir-usir seperti wartawan BBC beberapa hari lalu. Stop berdebat, ayo gotong royong dan kerja yang benar. That’s all.

Pilgub Lampung 2018, apa menariknya? Tak ada hal baru dibanding tahun 2014 lalu. Yang membedakan hanyalah perang opini antar tim sukses yang kian terbuka dan kencang, akibat perkembangan media sosial dan teknologi informasi yang menggapai hingga pelosok pedesaan.

Kandidat yang muncul buat saya tak terlalu menjanjikan. Tak ada figur muda kekinian yang memiliki rekam jejak panjang dalam pembelaan hak-hak rakyat. Banyak tokoh potensial Lampung tak bisa muncul bertarung, akibat kokohnya tembok oligarki kepartaian, di tengah hembusan rumours uang mahar dan segudang prasyarat lainnya. Sedih.

Dalam hati saya cuma bisa berharap, KPUD dan Bawaslu Lampung mampu menjadi regulator yang adil dan bijaksana. Jangan biarkan politik uang merajalela, penyalahgunaan wewenang dan anggaran daerah menggila, serta tegaslah akan setiap pelanggaran dan pidana yang terjadi. Biarlah rakyat memilih pemimpinnya dengan bebas dan demokratis, bukan karena intimidasi dan suap yang akan membuat Sai Bumi Ruwa Jurai hancur karena salah memilih pemimpin.

Itu dulu, sekarang sudah pukul 03.30 WIB. Saya pamit undur diri untuk rehat sejenak dan shalat Subuh, sebelum nanti siang hendak bergegas ke Bandar Lampung.

Selamat ngupi pagi. Salam hangat dari pelosok pedesaan Way Jepara Lampung Timur. Tabik!

Ricky Tamba, S.E.

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
- Advertisement -


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional