Menu

[Kolom] Hari Air Sedunia 2019: Ironis, Negara Tropis Krisis Air Bersih

  Dibaca : 255 kali
[Kolom] Hari Air Sedunia 2019: Ironis, Negara Tropis Krisis Air Bersih
Drainase pembangunan, Way Dadi Sukarame Bandar Lampung salah satu potret kondisi pencemaran air | Foto: Ist.

Sadarkah kita bahwa sebagian besar kebutuhan dan aktivitas kita selalu melibatkan air? Bahkah kandungan air dalam tubuh manusia adalah sekitar 60–70 persen dari berat tubuh. Itu sebabnya fungsi air untuk kehidupan manusia sangat penting.

Apa yang terjadi jika air bersih sudah tidak ada lagi? Hanya ada kekeringan atau air yang terkontaminasi limbah! Bahkan banyak orang yang mengalami kekurangan air! Sungguh setiap tetes nya Begitu bermakna!

Sejarah Hari Air Sedunia
Air merupakan kunci kehidupan, maka tidak mengherankan jika ada satu hari khusus yang didedikasikan untuk mengapresiasi betapa pentingnya keberadaan air bersih. Hari ini, tepatnya tanggal 22 Maret 2019 adalah Hari Air Sedunia atau World Water Day.

Hari ini adalah pengingat bahwa kita harus mensyukuri salah satu anugerah Tuhan yang tidak ternilai harganya yaitu air bersih yang aman untuk diminum, mandi, mencuci, dan keperluan lainnya.

Inisiatif akan munculnya peringatan Hari Air Sedunia ini dimulai dari Sidang Umum PBB ke-47 yang berlangsung pada tanggal 22 Desember 1992 di Brazil.

Pada saat itu, keluarlah Resolusi Nomor 147/1993 yang menetapkan peringatan Hari Air se-Dunia setiap tanggal 22 Maret dan mulai diperingati pertama kali pada tahun 1994.

Salah satu agenda besar PBB adalah memastikan setiap orang di seluruh dunia untuk mendapatkan akses terhadap air bersih. Hari ini adalah hari pengingat akan pentingnya kesadaran akan krisis air secara global.

Masalah Air Global
Di belahan bumi yang lain, seperti di India dan negara-negara kawasan Afrika, masih banyak saudara-saudara kita yang kesulitan mendapatkan akses terhadap air bersih. Bahkan 1.8 juta orang di seluruh dunia terpaksa harus mengkonsumsi air yang terkontaminasi oleh limbah.

Sebagaimana yang laporkan Los Angeles Times, di Somalia, Sudan, Nigeria, dan Yaman, 27 juta orang tidak mendapatkan akses air bersih. Selain itu juga 12% orang di dunia kurang pasokan air minum.

Bahkan data yang diterbitkan oleh World Water Council menyatakan bahwa kematian yang diakibatkan oleh air mencapai 3.5 juta jiwa, lebih tinggi dari kematian yang disebabkan oleh kecelakaan mobil dan AIDS.

Di Afrika, 319 juta orang yang mewakili 32% penduduk kawasan gurun, tidak memiliki persediaan air yang aman untuk diminum. WaterAid (2016) menyebutkan lebih dari 40 persen penduduk di 16 negara tidak memiliki akses terhadap fasilitas air, bahkan sumur sekalipun.

Masyarakat yang terpinggirkan ini, harus mengumpulkan air dari kolam dan sungai serta menghabiskan sebagian besar pendapatan harian mereka untuk membeli air bersih.

Majalah The Independent memperkirakan, satu dari lima bayi meninggal dalam bulan pertama kehidupan mereka karena sepsis atau infeksi. Masalah kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah dengan air bersih dan pola hidup higienis.

World Water Day atau Hari Air Sedunia merupakan perayaan tahunan dan sekaligus menarik perhatian masyarakat global mengenai pentingnya air bagi kehidupan dan penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan.

Pemahaman serta perhatian khusus yang kurang dari masyarakat global pada pentingnya keberadaan air bersih adalah salah satu alasan dibalik World Water Day. Peringatan ini memberikan kesempatan kepada kita untuk mengetahui isu-isu dan informasi yang berhubungan dengan air.

Sehingga menginspirasi masyarakat dunia untuk melakukan aksi-aksi untuk membuat perbaikan dalam pengelolaan sumber daya air dalam kehidupan kita sehari-hari. Serta meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya air bagi kehidupan

Krisis Air Bersih Melanda Indonesia
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber air. Namun yang terjadi, justru Indonesia kekurangan air bersih. Pengelolaan sumber daya air yang tidak professional menyebabkan terjadinya kondisi tersebut.

Indonesia ternyata juga masuk daftar negara dengan penduduk terbanyak yang tidak bisa mengakses air bersih. WaterAid (2016) menyebutkan negara kita berada di peringkat ke-6 dari 10 negara krisis air bersih .

Ada sekitar 32 juta orang di Indonesia hidup tanpa air bersih.Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa hingga tahun 2015, baru 70.97 persen rumah tangga yang memiliki sumber air minum layak.

Negara Indonesia terlihat masih kurang dalam memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi bagi masyarakatnya. Di lihat dari peta bumi dan geografinya, Indonesia seharusnya tidak terlalu khawatir terhadap krisis air karena hampir sebagian besar wilayah Indonesia merupakan perairan.

Namun pada kenyataannya dari tahun ke tahun Indonesia mengalami krisis air bersih. Potensi ketersediaan air bersih semakin hari cenderung berkurang akibat rusaknya daerah tangkapan air dan pencemaran lingkungan yang diperkirakan sebesar 15–35 persen per kapita per tahun..

Apalagi hampir semua daerah perkotaan merupakan daerah landai yang bukan merupakan daerah tangkapan air. Tentu saja kebutuhan air tanahnya sangat tergantung daerah terdekatnya yang bertopografi tinggi.

Perilaku lain yang juga menyebabkan terjadinya kelangkaan air bersih, adalah pengambilan air tanah yg tidak proporsional, baik untuk industri maupun pertanian.

Di kawasan hulu tidak ada penambahan air yang meresap, di bagian tengah terjadi pengambilan berlebih, sehingga di kawasan pantai air tanah akan tercemar air laut karena intrusi air laut.

Di saat beberapa kota besar mengalami kebanjiran akibat curah hujan yang tinggi, permasalahan krisis air bersih dan kelangkaan air masih melanda. Hal ini disebabkan surplus air yang kerap mengakibatkan banjir sehingga sumber air tidak dapat termanfaatkan.

Kekeringan dan krisis air bersih terjadi di beberapa daerah meski telah memasuki musim penghujan. Krisis air bersih membuat sebagian besar penduduk Indonesia musti mengkonsumsi air yang seharusnya tidak layak minum.

United States Agency for International Development (USAID) dalam laporannya, menyebutkan, penelitian di berbagai kota di Indonesia menunjukkan hampir 100 persen sumber air minum tercemar oleh bakteri E Coli dan Coliform.

Solusi
Untuk mengatasi krisis air bersih dan upaya penyelamatan lingkungan, termasuk di antaranya penyelamatan sumber-sumber air, harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Upaya penyelamatan lingkungan demi mengatasi krisis air bersih dapat dilakukan melalui:

  • Menggalakkan gerakan hemat air.
  • Menggalakkan gerakan menanam pohon seperti one man one tree (selama hidupnya sebatang pohon mampu menghasilkan 250 galon air).
  • Konservasi lahan, pelestarian hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS).
  • Pembangunan tempat penampungan air hujan seperti situ, embung, dan waduk sehingga airnya bisa dimanfaatkan saat musim kemarau.
  • Mencegah seminimal mungkin air hujan terbuang ke laut dengan membuat sumur resapan air atau lubang resapan biopori.
  • Mengurangi pencemaran air, baik oleh limbah rumah tangga, industri, pertanian maupun pertambangan.
  • Tata guna lahan di daerah tangkapan air di perbukitan dan pegunungan terdekat dengan perkotaan ini harus dijaga secara terus menerus, sehingga tingkat suplai air tanahnya tidak terganggu. Karena jika tidak dilakukan penataan, daerah tangkapan air akan gundul, sehingga daerah perkotaan yang di dataran rendah akan makin kesulitan memperoleh air.
  • Pengembangan teknologi untuk mengolah air asin (laut) menjadi air tawar.

Semoga Hari Air Sedunia (World Water Day) dapat memberi inspirasi positif bagi semua orang. Dimana kita semua memang perlu menyadari betapa pentingnya manfaat air bagi kehidupan, dan harus dapat mempergunakan air secara bijaksana.

Mengingat masalah ketersediaan air bersih saat ini tentu juga sudah menjadi masalah di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Masalah-masalah ini termasuk pencemaran air oleh limbah, air tanah yang makin terserap, dan banjir.

Apalagi ketersediaan air juga berpengaruh pada ketersediaan pangan disamping pada banyak hal lainnya. Dan semua masalah ini tentu harus dikembalikan pada manusia itu sendiri, bagaimana ia memperlakukan Bumi dan seluruh alam, yang tentu saja semuanya berpengaruh juga pada air.

Kita harus memanfaatkan dan mengelola sumberdaya air yang ada disekitar kita sebijaksana dan searif mungkin, dan hindarilah air dari segala pencemaran. Karena faktanya konsumsi air bersih justru naik secara eksponensial.

Mari kita sosialisasikan kesadaran akan pentingnya air bagi kehidupan manusia misalnya melalui poster, t-shirt serta aksi-aksi positif lainnya. Selamat Hari Air Sedunia 2019.

Oleh: Regi Santia Ambarwati
Pengurus UKM Mahasiswa Raden Intan Pencinta Alam (Maharipal) UIN Raden Intan Lampung.
Iklan Baris
Jasa pembuatan website untuk lembaga atau bisnis. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Banner Ads

- Iklan Layanan Masyarakat -
-Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H-


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional