fbpx
Connect with us

Kolom

[Kolom] Fly Over, Sampah, dan Kata ‘Bego’ (Kritik dan Apresiasi)

Published

on

M Imron Rosadi

Lampung.co – Dalam kurun waktu dua pekan kebelakang, jagad sosmed Bandar Lampung sedang diruihkan dengan dua berita yang cukup memantik banyak orang untuk memberikan respon, ada yang bernada kritik tajam, ada pula yang memberikan pembelaan berupa kalimat-kalimat apresiasi.

Berita Pertama tentang kemacetan kendaraan bus dan truck di fly over Kemiling – Pramuka.

Beberapa pekan yang lalu banyak kendaraan besar sejenis bus dan truck yang terjebak macet di atas fly over pramuka. Ini dikarenakan banyak pengemudi tidak mengetahui bahwa ada portal tulisan tinggi kendaraan maksimal 2.8 M di ujung fly over yang ada di sisi jalan pramuka.

Sebagaian orang awam menilai kejadian ini adalah bentuk kelalaian pemerintah daerah, dalam hal ini mungkin diwakili oleh dinas perhubungan kota Bandar Lampung atau dinas terkait.

Sosialisasi dan informasi yang kurang, menyebabkan kemacetan diatas fly over beberapa hari yang lalu terjadi.

Dinas Perhubungan atau dinas terkait, harusnya memasang portal di dua sisi secara bersamaan.

Memang ada papan informasi disisi jalan teuku cik ditiro. Namun karena penempatan nya kurang pas, ditambah lagi papan informasi ukurannya terlalu kecil, ini yang mungkin menyebabkan pengemudi tidak melihatnya, sehingga menimbulkan kemacetan akibat mobil terjebak diatas. Bisa masuk tapi tidak bisa keluar.

Kemudian, tata lalu lintas di sekitaran fly over pramuka terlihat semerawut dan membingungkan. Dinas Perhubungan harusnya sadar bahwa tidak semua pengguna jalan dan fly over ini adalah orang Bandar Lampung, sehingga kadangkala beberapa pengendara yang mungkin juga pendatang dari daerah lain kebingungan ketika melintas di sekitaran fly over.

Masukannya adalah, coba dikaji dan diatur kembali, efektivitas rekayasa lalu lintas yang saat ini sudah ada. Terlebih lagi di putaran di di simpang kemiling dan ujung fly over di sisi jalan pramuka.

Bilapun rekayasa sudah dinilai pas, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, baiknya sosialisasi dan media informasi yang dipasang di jalan-jalan sekitar fly over harus jelas, enak dilihat serta mudah dibaca oleh pengendara.

Tentu, kami pun memberikan apresiasi atas upaya Pemerintah Kota Bandar Lampung meminimalisir kemacetan dengan membangun beberapa fly over di kota Bandar Lampung.

Namun kritik kami adalah tentang belum komprehensif nya perencanaan kota. Sehingga yang ada kota ini terlihat bertumbuh dalam penambahan jumlah infrastruktur, namun masih terlihat semerawut dalam pengelolaannya.

Berita Kedua, tentang penilaian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang memberikan predikat kota terkotor nomer dua untuk Bandar Lampung.

Mengutip duajurai.co – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut Bandar Lampung sebagai kota terkotor untuk kategori kota besar. Bandar Lampung mendapat nilai paling rendah pada saat penilaian program Adipura periode 2017-2018.

Adipura merupakan merupakan program nasional yang dilaksanakan setiap tahun. Tujuannya, mendorong kepemimpinan pemerintah kabupaten/kota, masyarakat, dan dunia usaha dalam mewujudkan kota yang berkelanjutan (suistanable city).

Kemudian, menyelaraskan pertumbuhan ekonomi, fungsi sosial dan fungsi ekologis dalam pembangunan. Selain itu, menerapkan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance).

Yang sangat menarik dari berita ini adalah respon Walikota Bandar Lampung. Mengutip kembali dari duajurai.co – WaliKota Bandar Lampung Herman HN angkat bicara terkait penilaian program Adipura.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut Bandar Lampung merupakan kota terkotor karena mendapat nilai terendah.

“Kotor apanya? Kalau (melihat dari) TPA Bakung ya enggak bisa dibilang terkotor dong. Itu kan penghinaan bagi rakyat Bandar Lampung. Bego saja yang menilainya,” kata Herman di kompleks Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung, Selasa, 15/1/2019.

Menurut Walikota Bandar Lampung penilaian dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Bandar Lampung tak kalah bersih dibandingkan dengan kota-kota penerima Adipura. Bahkan, dia siap bersaing dengan daerah yang meraih penghargaan tertinggi

Saya melihat respon Walikota Bandar Lampung amat wajar, meskipun terlihat emosional namun itu adalah bentuk kemarahan Herman HN atas ketidak objektivan tim penilai

Namun kritik kami adalah, tetang ungkapan yang kurang pantas diucapkan oleh seorang Pemimpin, yaitu kalimat ‘Bego saja yang menilainya’.

Menurut kami, Walikota Bandar Lampung terlalu sembrono ketika melontarkan kata ‘bego’ tersebut. Kata yang tidak elok diucapkan, terlebih lagi dalam proses memberikan tauladan kepada masyarakat. Khususnya generasi muda dan anak-anak.

Seperti kami jelaskan diatas, meskipun ungkapan tersebut sebagai bentuk kekecewaan atas ketidakobjektivan tim penilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Namun hemat saya, Walikota Bandar Lampung bisa meluapkan kekecewaannya dengan memilih kalimat yang lebih elegan.

Contoh;
“Coba sampaikan kepada kami standar penilaian yang digunakan”
” Ya harusnya pihak KLHK, lebih konprehensif dalam melakukan penilaian”
Dan tentunya masih banyak pilihan kalimat yang lain.

Kembali ketema diatas, satu sisi kami amat mengapresiasi atas segala ikhtiar Pemerintah Kota Bandar Lampung, yang dokomandani oleh Bapak Herman HN.

Delapan tahun dipimpin oleh beliau, banyak perubahan yang terjadi, khususnya dalam pembangunan infrastruktur, kebijakan pendidikan dan kesehatan.

Namun, sebagai masyarakat tentu selain memberikan apresiasi, kamipun berkewajiban memberikan kritik dan masukan, ketika ada hal-hal yang kurang pas dalam penerapan kebijakan, ungkapan yang tidak mendidik, dan lain sebagainya.

Janganlah kritik dan masukan dari masyarakat dan pengamat direspon dengan kalimat maupun ungkapan yang tidak elok didegar dan dilihat. Tugas Pemimpin selain mensejahterakan masyarakatnya, ia juga punya tanggung jawab untuk menjaga serta mencerdaskan kehidupan berdemokrasi di daerah yang dipimpinnya.

Jadikan kritik dari masyarakat, penilaian dari pengamat dan pemerintah pusat sebagai suplemen dan asupan gizi yang mampu membuat Pemerintah kota Bandar Lampung menjadi lebih keras dalam bekerja, bijak dalam bersikap serta tulus dalam melayani hajat hidup masyarkat.

Bilapun penilaian dari pusat tentang predikat kota terkotor atau apapun itu, dirasa melanggar aturan dan prosedur penilaian yang ada. Toh Pemerintah Kota bisa memakai jalur struktural untuk melaporkannya ke Pemerintah Pusat, atau bila dirasa ini ekstrim dan masuk BAB pencemaran nama baik kota Bandar Lampung, hal-hal tersebut bisa dilaporkan, diproses lewat jalur hukum yang ada.

Kritik dan apresiasi adalah buah dari alam demokrasi. Mari kita semua nikmati dengan hati yang lapang dan semangat berkontribusi.

Kemiling, 23 Januari 2019
M. Imron Rosadi

468 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis.

Kolom

[Kolom] Sektor Pariwisata di Lampung Bisa Jadi Tulang Punggung Perekonomian

Published

on

Sektor Pariwisata di Lampung

Salah satu sektor penting di provinsi Lampung yang potensinya bila dikembangkan, dikelola secara baik dan maksimal, sehingga mampu meningkatkan pendapatan daerah serta kesejahteraan masyarakat adalah sektor pariwisata.

Selain potensi alam yang indah dan beraneka beragam, provinsi Lampung juga memiliki banyak keunggulan pada wisata kuliner yang mampu memanjakan lidah, serta tentunya wisata sejarah, budaya yang penuh nilai kerifan dan edukasi.

Provinsi ini memiliki garis pantai sepanjang 1.105 km. Terdapat dua teluk di provinsi Lampung yaitu Teluk Semaka dan Teluk Lampung dengan sekitar 132 pulau yang berhadapan langsung dengan ALKI (Alur Lintas Kapal Internasional) Selat Sunda.

Letak geografis yang memang merupakan pintu gerbang Sumatera, tentu semakin memperkuat, bahwa provinsi ini memiliki keunggulan akses dibandingkan dengan provinsi lain yang ada di pulau Sumatera.

Peluang yang diulas diatas tentu saja menjadi tantangan tersendiri. Tapi kita harus optimis bahwa tidak ada yang tidak mungkin bila kita mau berusaha. Kurang lebih satu tahun yang lalu, ada gagasan yang sempat kami diskusikan dengan beberapa penggerak pariwisata lokal.

Dari diskusi tersebut kami mencoba menyimpulkan bahwa ketika sektor pariwisata di Lampung ingin maju dan menjadi salah satu ujung tombak dalam hal peningkatan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat, maka ada tiga unsur utama yang harus menjadi penopang dan disinergikan.

Tiga unsur utama itu adalah penggerak pariwisata, pemangku kebijakan serta investor. Ujung tombak dari ide ini ada di penggerak pariwisata. Merekalah yang dari awal melakukan mapping potensi pariwisata di 15 kabupaten yang ada di provinsi Lampung.

Siapa saja yang bisa dilibatkan menjadi tim penggerak pariwisata? Banyak, bisa para anak muda alumni – alumni perguruan tinggi yang mau pulang dan mengembangkan kampung halamannya, para komunitas dan netizen yang konsen dalam dunia promosi wisata lokal, serta tentunya para akademisi yang punya dedikasi tinggi guna kemajuan pariwisata Lampung.

Setelah potensi pariwisata di Lampung ter-mapping dengan baik, selanjutnya tentu kita membutuhkan support kongkrit dari para pemangku kebijakan, mulai dari unit terkecil, lingkup RT, desa, daerah hingga provinsi maupun pusat.

Dukungan pemangku kebijakan untuk menjadikan sektor pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi, tentu harus dibuktikan dengan terbitnya kebijakan-kebijakan yang mensupport, mempermudah sekaligus menjadi payung hukum bagi pengembangan pariwisata.

Bisa dari sisi kebijakan perbaikan infrastruktur, kemudahaan akses perizinan, promosi, pada pola-pola pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang konsen di dunia pariwisata.

Terakhir, setelah potensinya terpetakan, para penggerak pariwisatanya terus melakukan inovasi, pemerintah setempat dari lokal hingga pusat terus bekerja serta memberikan akses perlindungan dan dukungan. Maka tentu para investor baik lokal mapun internasional akan ngantri berdatangan dan berinvestasi di sektor ini.

Oleh: M Imron Rosadi,
Sekretaris DPW Partai Gelora Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

3,039 kali dilihat, 448 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Kolom

[Kolom] Wajah Baru RTH Kalpataru Kemiling dan Tantangan Kedepannya

Published

on

RTH Kalpataru Kemiling

Pekan ini perbincangan di beberapa group WA (WAG) komunitas dan warga Kemiling, ramai membicarakan tentang kondisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalpataru yang makin nyaman, asri dan ramah anak.

Foto-foto aktivitas warga dan anak-anak yang bermain di areal RTH juga banyak di share ke group, terlihat sekali rona bahagia dari para pengunjung ketika berada di areal tersebut.

Aktivitas sore hari pun di kalpataru beberapa hari terakhir ini terlihat sangat ramai. Tentu karena banyak warga yang ingin menyaksikan secara langsung kondisi RTH yang katanya makin keren dan oke.

Terlihat juga lima hari ini pihak Kecamatan Kemiling, Dinas Perempuan & Perlindungan Anak, dibantu dengan Dinas Kebersihan dan beberapa pendamping masyarakat serta beberapa komunitas bergotong royong membersihkan sekaligus mempercantik lokasi tersebut.

Dari informasi yang dihimpun, baik itu dari obrolan masyarakat pengguna kalpataru maupun dari kiriman beberapa anggota di WAG komunitas, terkait dengan renovasi RTH, rupanya pekan ini sedang diadakan penilaian lomba Ruang Publik yang Ramah Anak. Jadi wajar RTH Kalpataru diperbaiki.

Tapi apapun yang melatarbelakanginya, saya melihatnya dari sisi positifnya saja. Yang terpenting sekarang RTH Kalpataru makin bersihn nyaman untuk bermain anak. Pagi tadi, Kamis (17/10/2019), sambil jogging saya sempat melihat lihat dan mengambil beberapa gambar. Ada beberapa hal yang menarik dan menurut saya ini patut diapresiasi.

Pertama, ada plang larangan parkir di halaman depan RTH serta kendaraan roda dua tidak boleh masuk di dalam areal RTH. Menurut saya ini adalah terobosan yang baik. Karena dengan begitu, areal RTH akan terlihat lebih lapang dan tentunya tidak terlihat semerawut.

Jadi, bila pengunjung yang membawa kendaraan baik roda dua dan empat, bisa memarkirkan kendaraannya di halaman Subsektor Kemiling. Lebih sehat, untuk menuju aeal RTH kita harus berjalan kaki dulu.

Kedua, ada spanduk yang dibentangkan di dalam RTH. Konten tulisannya ada tiga; Tidak boleh merokok, NO Wifi, dan tidak ada PKL yang berjualan di dalam RTH. Wah himbauan ini benar-benar keren. Bila ini berjalan, maka RTH akan benar-benar menjadi ruang publik yang ramah anak, karena asap rokok “haram” masuk, no internet dan tidak boleh jajan sembarangan.

Saya melihat ada tiga hal, yang menjadi dampak positif dari himbauan tersebut; Udara makin sehat, karena tidak ada asap rokok. Anak-anak juga akan maksimal bermain dan berinteraksi, karena di sana telah banyak disiapkan berbagai spot permainan.

Dan yang tak kalah pentingnya, para orang tua yang menemani anaknya bermain pun tidak akan asyik dengan gadget nya masing-masing, mereka akan bersosialisasi dengan para orang tua lainnya.

Lalu terkait dengan tidak bolehnya pedagang kaki lima (PKL) masuk areal RTH, ini lebih pada optimalisasi areal-areal lain, sehingga semua titik di kalpataru bisa teroptimalisasi dengan baik.

Sekali lagi, apresiasi untuk Pemerintah Kota, dalam hal ini di motori oleh Dinas Perempuan & Perlindungan Anak, Dinas Kebersihan serta Kecamatan Kemiling yang telah ber ikhtiar memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Khususnya dalam mengupayakan Ruang Terbuka Hijau yang nyaman, aman dan ramah lingkungan.

Tantangan kedepan tentu ada pada perawatan dan penjagaan areal RTH. Amat disayangkan, bila apa yang sudah baik ini tidak dibuatkan konsep pengelolaan yang lebih bai lagi. Ada baiknya, dalam waktu dekat ini pihak Kecamatan mengajak seluruh elemen pengguna dan pencinta kalpataru untuk duduk dan rembug bersama karena ada beberapa warga ada yang melontarkan usulan.

Saya lihat ada beberapa pihak yang bisa dirangkul oleh pak Camat. Ada Komunitas Jalan Sehat Kalpataru, Komunitas Pecinta Kalpataru, klub – klub Sepak Bola dan Volly, Karate, Tekwondo, Sanggar Senam, Klub Sepeda serta tentunya para Pedagang dan warga terdekat RTH.

Harapannya pihak Kecamatan atau gabungan komunitas bisa membuat forum rembug dua pekanan atau bulanan. Targetnya tentu untuk membangun keakraban serta mencari titik temu plus membuat program bersama untuk merawat kalpataru, khususnya dalam hal menjaga fasilitas umum (Fasum) dan kebersihannya.

Cakeep juga bila kedepan di Kalpataru kita punya hari “bersih bersama”. Contoh seserhana, setiap jumat sore sebelum semua memulai aktivitas (baik itu jogging, latihan bola, volly, karate, berdagang, dan lain sebagainya).

Kita luangkan waktu 30 menit saja (dri jam 15.30 – 16.00) untuk operasi semut, bersama-sama membersihkan areal lapangan dan RTH. Dan ini melibatkan seluruh elemen yang setiap hari menggunakan lapangan Kalpataru.

Tidak kalah penting juga pihak Pemerintah Kota melalui Kecamatan bisa menugaskan dua atau orang petugas Pol PP setiap malam, yaa piket nya di atur dengan pihak terkait. Karena sayang, Fasum yg sudah ada khususnya di RTH, klo tidak ada yg menjaga.

Kedepan bisa dirusak oleh pihak-pihak yang belum mau sadar. Nanti teknisnya pihak Pol PP bisa bekerja sama dengan pamong terdekat dan anggota komunitas yang ada. Semoga dengan adanya RTH yang ramah anak, mampu meminimalisir aktivitas negatif yang marak terjadi di kalpataru ketika malam hari.

Oleh: M Imron Rosadi,
Ketua Komunitas Pencinta Kalpataru
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

7,891 kali dilihat, 133 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Kolom

[Kolom] Pemkot Perlu Terobosan Untuk Berdayakan Pedagang di Jalur Wisata

Published

on

Jalan Raden Imba Kusuma

Hampir tiap pagi saya melewati Jalan Raden Imba Kusuma kota Bandar Lampung. Bila masuk waktu pagi dan sore hari, bisa dikatakan jalur ini makin padat dilewati banyak kendaraan roda dua dan empat.

Salah satu alasanya karena memang jalan ini adalah jalur alternatif menuju beberapa sekolah, kantor pemerintahan serta tempat bekerja yang ada di wilayah Tanjung Karang dan Teluk Betung.

Setiap akhir pekan jalur ini pun termasuk padat dan sering didatangi para wisatawan lokal maupun domestik, karena banyak terdapat beberapa destinasi wisata. Dari mulai Puncak Mas, Lembah Hijau, Bukit Mas, Hutan Pinus, serta wisata santap durian dan beberapa tempat kuliner laiannya.

Selain itu, bila para pelancong ingin menuju bumi kedaton serta wisata pantai yang ada di pesisir lempasing sampai padang cermin, jalur ini merupakan pilihan rute yang banyak diminati. Alasanya bisa jadi karena memang suasananya lebih sejuk dan banyak spot wisata lain yang bisa dikunjungi.

Bahkan dua tahun belakangan, karena Jalan Raden Imba Kusuma juga sudah dibangun perumahan elit Citraland Group. Di pintu gerbang komplek ini karena memang tempatnya lumayan luas, bersih dan asri, sering dijadikan spot berkumpul, beristirahat plus selfie / welfie asyiik.

Pokoknya, benar – benar jalur pinggiran kota yang top dah. Oo yaa hampir lupa, saat ini Jalan Raden Imba Kusuma juga sudah resmi beroperasi satu pom bensin yang lumayan luas dan startegis.

Namun ada sedikit masukan nih, khususnya untuk pihak terkait, dalam hal ini tentunya pemerintah kota Bandar Lampung. Ini tentang penataan serta pengadaan lahan untuk para pedagang yang sudah bertahun-tahun berjualan, bahkan tinggal di sekitar jalur ini.

Bila kita lihat, beberapa lapak bangunan yang ada, posisinya butuh ditata lebih baik lagi. Karena saat ramai pengunjung/pembeli, selain sedikit mengganggu kelancaran lalu lintas, tentu secara estetika juga kurang pas dilihat.

Tulisan ini bukan ingin bermaksud menyalahkan para pedagang lho… Tapi lebih lebih kepada meminta perhatian pemerintah kota untuk lebih peduli kepada masyarakatnya serta melihat ini sebagai masalah serius yang harus segera dicarikan solusi.

Saya melihat di sekitaran jalur ini banyak terdapat lahan yang sudah puluhan tahun kosong dan tidak tergarap. Usul nih kepada pemerintah, khususnya dinas terkait untuk melakukan beberapa terobosan.

Bisa dimulai dengan melakukan mapping dan pendataan terkait dengan kepemilikan lahan kosong yang ada di pingir jalan tersebut, kemudian ajak pemilik lahan untuk kerjasama membangun rest area serta sentra kuliner yang unik dan menarik di jalur itu.

Cakep juga bila di wilayah ini dijadikan rest area dan wisata minum kopi khas Lampung. Di tempat tersebut kita kenalkan seluruh jenis kopi yang ada di tanah Lampung ini. Jangan lupa, dan ini yang paling utama, libatkan serta berdayakan para pedagang yang selama ini telah menghidupkan wilayah tersebut.

Karena memang dalam kurun 10 tahun belakangan, Jalan Raden Imba Kusuma terlihat lebih ramai, dalam tanda kutip aman dilewati setelah banyak pedagang buah yang berjualan di sepanjang jalan.

Saya fikir, bila komunikasi yang dilakukan pemerintah kota baik, dan pengelolaan rest area tersebut mengedepankan aspek – aspek pemberdayaan dan keterbukaan. Tentu para pedagang yang selama ini ada, akan dengan ikhlas mensukseskannya.

Akhirnya tulisan ini, hanya sedikit unek-unek yang terlintas terpikirkan setelah pagi tadi melewati jalan ini. Semoga bisa menjadi bahan bagi pemerintah kota, khususnya para calon Walikota untuk menawarkan program terobosan dalam memajukan pariwisata serta tentunya meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

Oleh: M Imron Rosadi,
Penggerak GARBI Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

8,006 kali dilihat, 111 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Banyak Dibaca