fbpx
Connect with us

Kolom

[Kolom] #AyokeLampung, #AyokeSumberAgung

Published

on

Penangkaran Rusa

Lampung.co – Batu lapis, kebun buah, pemacar TVRI, pondok pesantren dan mobil gunung. Inilah beberapa label yang melekat dari kampung Sumber Agung 20 tahun yang lalu.

Namun kini ketika kita berkunjung ke kampung yang kini telah menjadi kelurahan Sumber Agung, kita akan menemukan Taman Rusa, Pasar Seribu Batu, Taman Kupu – Kupu, wisata kuliner durian dan berikutnya Teropong Bintang (yang kabarnya terbaik se Asia tenggara)

Kelurahan Sumber Agung kini telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata di propinsi Lampung, khususnya kota Bandar Lampung.

Daerah yang 20 hingga 30 tahun yang lalu menjadi tempat kami membeli pisang dan buah lainnya, untuk kemudian kami jual kembali dipasir gintung dan smep, kini telah beranjak maju dan berkembang.

Namun beberapa keunikan yang tidak berubah dari tempat ini. Kelurahan Sumber Agung tetap menjadi salah satu daerah yang tetap menjaga nilai-nilai budaya warisan leluhur.

Tetap menjadi salah satu tempat pencetak santri-santri kebanggaan masyarakat kota Bandar Lampung, serta tentunya daerah ini secara geogragis memiliki keunggulan berupa anugrah alam yang indah dan udara yang tetap sejuk dan segar

Dari sisi budaya dan kultur masyarakat, ada dua hal yang menarik dari tempat ini.

Pertama, Masyarakatnya masih ORI. Ori disini karena hampir 90% atau mungkin lebih, warga yang tinggal di kelurahan ini adalah warga yang 30an tahun lalu kami temui. Bahkan uniknya, rata-rata masyarakat Sumber Agung menikah dengan sesama warga satu Kelurahan.

Bilapun ada sebagian yang menikah dengan orang yang berasal dari kelurahan ataupun daerah lain, setelah menikahpun mereka tetap tinggal, berdomisili di kelurahan Sumber Agung.

Jadi dari generasi kami lahir, menjadi anak-anak sampai kami memiliki anak. Mayoritas anak-anak Sumber Agung adalah asli atau ORI, lahir dari rahim orang tua yang dulupun lahir di Sumber Agung.

Kedua, dan ini yang membuat kami takjub, sampai hari ini, budaya arisan Nikah atau tabungan nikah masih dilestarikan oleh para pemuda pemudi disini.

Jadi setiap pemuda/pemudi yang menjadi anggota arisan (tabungan menikah) ketika dia akan menikah, mendapatkan dana yang terkumpul dari seluruh anggota antara 15 hingga 17 juta rupiah.

Benar-benar budaya gotong royong / berbagi beban yang patut di contoh oleh masyarakat, khususnya pemuda/pemudi di daerah lain.

#AyokeSumberAgung adalah bagian dari program #AyokeLampung. Ini adalah ajakan sekaligus tageline yang menjadi doa dan harapan.

Beberapa bulan yang lalu, kami sempat berbincang dengan kelompok pemuda yang tergabung dalam organisasi United Sumber Agung (USA) serta beberapa tokoh masyarakat di kelurahan Sumber Agung.

Perbincangan dan diskusi kami fokus pada wacana dan rencana optimalisasi pengelolaan kampung wisata, pemberdayaan pemuda serta peningkatan kesejahteraan mayarakat.

Respon dan antusiasme dari peserta diskusi amat positif, dan proses menuju kesana sedang dirancang serta dibuat usulan drafnya. Tentu layaknya sebuah gerakan pemberdayaan.

Kita menginginkan ide dan gagasannya banyak muncul dari masyarakat Sumber Agung sendiri, sehingga semua pihak yang terlibat, khusunya masyarakat sekitar, akan dengan sukarela dan penuh kegembiraan dalam berjuang merealisasikannya.

Kami hanya ingin memberikan sedikit masukan, terkait dengan wacana dan rencana tersebut.

Pertama, Masyarakat Sumber Agung dan Pemerintah kota Bandar Lampung harus berani Pasang target yang besar. Ayo jadikan Sumber Agung menjadi destinasi / kampung wisata alam, wisata edukasi dan budaya terbaik di propinsi Lampung.

Ini sangat memungkinkan tercapai, karena faktor pendukung berupa aspek sumber daya alam, kemudahan jalur lalu lintas (Sumber Agung kedepan direncanakan menjadi jalur ringroad kota Bandar Lampung), serta yang tidak kalah penting juga, dan ini menjadi penambah optimisme.

Saat ini Kelurahan Sumber Agung banyak mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah maupun pusat, hingga CSR-CSR dari beberapa perusahaan Nasional pun menjadikan Sumber Agung menjadi Kelurahan binaan mereka.

Bantuannya ada yang berupa pembangunan infrastruktur, bantuan modal untuk peningkatan ekonomi kreatif, dan lain sebagainya.

Kedua, Optimalisasi sinergi dan kolaborasi dengan para penggiat pariwisata dan sosial media baik di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.

Menurut beberapa sumber, tahun 2021 teropong bintang akan selesai dibangun dan diresmikan. Ini tentu akan menjadikan Sumber Agung semakin banyak dikunjungi oleh banyak pelancong dan peneliti.

Karena meskipun secara geografis letak gedung teropong bintang berada di kabupaten Pesawaran, namun pintu gerbang menuju ke lokasi tersebut berada di pinggir jalan utama Sumber Agung.

Teropong Bintang dibangun berdasarkan MoU antara ITB, ITERA dan Pemda Provinsi Lampung. Meurut Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, Teropong Bintang di Lampung nantinya akan mengalahkan Observatorium Bosscha yang ada di Lembang, Bandung. Sebab peralatan yang bakal digunakan sudah modern dan lebih canggih.

Dibangunnya Teropong Bintang Lampung sebagai objek wisata adalah salah satu langkah guna memikat wisatawan asing untuk berkunjung ke Bumi Ruwa Jurai. Selain itu, menjadi sarana edukasi serta wawasan bagi para pelajar maupun masyarakat Lampung pada umumnya.

Bahkan negara-negara lain sudah menyambut baik dengan adanya rencana pembangunan wisata Teropong Bintang ini. Sebab di satu sisi sifatnya ilmu pengetahuan sebagai sarana pendidikan, juga edukasi bagi para pelajar maupun umum.

Tentu segala peluang dan potensi ini harus digarap bersama. Untuk itu, kedepan dalam upaya menjadikan Sumber Agung menjadi destinasi wisata terbaik, masyarakat Sumber Agung harus bekerjasama dengan semua elemen yang berkepentingan dan sejalan dengan misi ini.

Dan tentunya melibatkan para penggiat pariwisata untuk membantu mengkonsep dan bekerja sama dalam mempromosikan Sumber Agung kepada masyarakat dunia, khususnya Indonesia menjadi sebuah keharusan.

Terlebih lagi, di era digital dan sosial media yang semakin bergeliat, tentu saja berkolaborasi dengan pihak-pihak yang konsen di dunia inipun harus segera dimulai dan dioptimalkan.

Akhirnya, kita tentu semua berharap semua pihak yang sejalan dengan ide dan gagasan ini untuk saling bahu membahu. Yang kami ceritakan diatas adalah sisi positif dari Sumber Agung, baik dari sisi wilayah dan kultur masyarakatnya.

Pastinya tidak ada gading yang tak retak, ada kelebihan, ada juga kekurangan. Namun biarlah segala kelebihan yang dimiliki Sumber Agung, menjadi modal dasar untuk terus bergerak meningkatkan prestasi dan tidak pernah puas dengan apa yang telah dicapai saat ini.

Adapun kekurangan yang dimiliki harapannya mampu menjadi pemicu untuk terus memperbaiki diri. Membuktikan kepada masyarakat Indonesia dan Dunia, bahwa Sumber Agung layak untuk diperjuangkan dan tentunya dikunjungi berkali – kali.

Keep spirit

Kemiling, 24 Januari 2019
M. Imron Rosadi

881 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis.

Kolom

[Kolom] Sektor Pariwisata di Lampung Bisa Jadi Tulang Punggung Perekonomian

Published

on

Sektor Pariwisata di Lampung

Salah satu sektor penting di provinsi Lampung yang potensinya bila dikembangkan, dikelola secara baik dan maksimal, sehingga mampu meningkatkan pendapatan daerah serta kesejahteraan masyarakat adalah sektor pariwisata.

Selain potensi alam yang indah dan beraneka beragam, provinsi Lampung juga memiliki banyak keunggulan pada wisata kuliner yang mampu memanjakan lidah, serta tentunya wisata sejarah, budaya yang penuh nilai kerifan dan edukasi.

Provinsi ini memiliki garis pantai sepanjang 1.105 km. Terdapat dua teluk di provinsi Lampung yaitu Teluk Semaka dan Teluk Lampung dengan sekitar 132 pulau yang berhadapan langsung dengan ALKI (Alur Lintas Kapal Internasional) Selat Sunda.

Letak geografis yang memang merupakan pintu gerbang Sumatera, tentu semakin memperkuat, bahwa provinsi ini memiliki keunggulan akses dibandingkan dengan provinsi lain yang ada di pulau Sumatera.

Peluang yang diulas diatas tentu saja menjadi tantangan tersendiri. Tapi kita harus optimis bahwa tidak ada yang tidak mungkin bila kita mau berusaha. Kurang lebih satu tahun yang lalu, ada gagasan yang sempat kami diskusikan dengan beberapa penggerak pariwisata lokal.

Dari diskusi tersebut kami mencoba menyimpulkan bahwa ketika sektor pariwisata di Lampung ingin maju dan menjadi salah satu ujung tombak dalam hal peningkatan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat, maka ada tiga unsur utama yang harus menjadi penopang dan disinergikan.

Tiga unsur utama itu adalah penggerak pariwisata, pemangku kebijakan serta investor. Ujung tombak dari ide ini ada di penggerak pariwisata. Merekalah yang dari awal melakukan mapping potensi pariwisata di 15 kabupaten yang ada di provinsi Lampung.

Siapa saja yang bisa dilibatkan menjadi tim penggerak pariwisata? Banyak, bisa para anak muda alumni – alumni perguruan tinggi yang mau pulang dan mengembangkan kampung halamannya, para komunitas dan netizen yang konsen dalam dunia promosi wisata lokal, serta tentunya para akademisi yang punya dedikasi tinggi guna kemajuan pariwisata Lampung.

Setelah potensi pariwisata di Lampung ter-mapping dengan baik, selanjutnya tentu kita membutuhkan support kongkrit dari para pemangku kebijakan, mulai dari unit terkecil, lingkup RT, desa, daerah hingga provinsi maupun pusat.

Dukungan pemangku kebijakan untuk menjadikan sektor pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi, tentu harus dibuktikan dengan terbitnya kebijakan-kebijakan yang mensupport, mempermudah sekaligus menjadi payung hukum bagi pengembangan pariwisata.

Bisa dari sisi kebijakan perbaikan infrastruktur, kemudahaan akses perizinan, promosi, pada pola-pola pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang konsen di dunia pariwisata.

Terakhir, setelah potensinya terpetakan, para penggerak pariwisatanya terus melakukan inovasi, pemerintah setempat dari lokal hingga pusat terus bekerja serta memberikan akses perlindungan dan dukungan. Maka tentu para investor baik lokal mapun internasional akan ngantri berdatangan dan berinvestasi di sektor ini.

Oleh: M Imron Rosadi,
Sekretaris DPW Partai Gelora Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

3,022 kali dilihat, 431 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Kolom

[Kolom] Wajah Baru RTH Kalpataru Kemiling dan Tantangan Kedepannya

Published

on

RTH Kalpataru Kemiling

Pekan ini perbincangan di beberapa group WA (WAG) komunitas dan warga Kemiling, ramai membicarakan tentang kondisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalpataru yang makin nyaman, asri dan ramah anak.

Foto-foto aktivitas warga dan anak-anak yang bermain di areal RTH juga banyak di share ke group, terlihat sekali rona bahagia dari para pengunjung ketika berada di areal tersebut.

Aktivitas sore hari pun di kalpataru beberapa hari terakhir ini terlihat sangat ramai. Tentu karena banyak warga yang ingin menyaksikan secara langsung kondisi RTH yang katanya makin keren dan oke.

Terlihat juga lima hari ini pihak Kecamatan Kemiling, Dinas Perempuan & Perlindungan Anak, dibantu dengan Dinas Kebersihan dan beberapa pendamping masyarakat serta beberapa komunitas bergotong royong membersihkan sekaligus mempercantik lokasi tersebut.

Dari informasi yang dihimpun, baik itu dari obrolan masyarakat pengguna kalpataru maupun dari kiriman beberapa anggota di WAG komunitas, terkait dengan renovasi RTH, rupanya pekan ini sedang diadakan penilaian lomba Ruang Publik yang Ramah Anak. Jadi wajar RTH Kalpataru diperbaiki.

Tapi apapun yang melatarbelakanginya, saya melihatnya dari sisi positifnya saja. Yang terpenting sekarang RTH Kalpataru makin bersihn nyaman untuk bermain anak. Pagi tadi, Kamis (17/10/2019), sambil jogging saya sempat melihat lihat dan mengambil beberapa gambar. Ada beberapa hal yang menarik dan menurut saya ini patut diapresiasi.

Pertama, ada plang larangan parkir di halaman depan RTH serta kendaraan roda dua tidak boleh masuk di dalam areal RTH. Menurut saya ini adalah terobosan yang baik. Karena dengan begitu, areal RTH akan terlihat lebih lapang dan tentunya tidak terlihat semerawut.

Jadi, bila pengunjung yang membawa kendaraan baik roda dua dan empat, bisa memarkirkan kendaraannya di halaman Subsektor Kemiling. Lebih sehat, untuk menuju aeal RTH kita harus berjalan kaki dulu.

Kedua, ada spanduk yang dibentangkan di dalam RTH. Konten tulisannya ada tiga; Tidak boleh merokok, NO Wifi, dan tidak ada PKL yang berjualan di dalam RTH. Wah himbauan ini benar-benar keren. Bila ini berjalan, maka RTH akan benar-benar menjadi ruang publik yang ramah anak, karena asap rokok “haram” masuk, no internet dan tidak boleh jajan sembarangan.

Saya melihat ada tiga hal, yang menjadi dampak positif dari himbauan tersebut; Udara makin sehat, karena tidak ada asap rokok. Anak-anak juga akan maksimal bermain dan berinteraksi, karena di sana telah banyak disiapkan berbagai spot permainan.

Dan yang tak kalah pentingnya, para orang tua yang menemani anaknya bermain pun tidak akan asyik dengan gadget nya masing-masing, mereka akan bersosialisasi dengan para orang tua lainnya.

Lalu terkait dengan tidak bolehnya pedagang kaki lima (PKL) masuk areal RTH, ini lebih pada optimalisasi areal-areal lain, sehingga semua titik di kalpataru bisa teroptimalisasi dengan baik.

Sekali lagi, apresiasi untuk Pemerintah Kota, dalam hal ini di motori oleh Dinas Perempuan & Perlindungan Anak, Dinas Kebersihan serta Kecamatan Kemiling yang telah ber ikhtiar memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Khususnya dalam mengupayakan Ruang Terbuka Hijau yang nyaman, aman dan ramah lingkungan.

Tantangan kedepan tentu ada pada perawatan dan penjagaan areal RTH. Amat disayangkan, bila apa yang sudah baik ini tidak dibuatkan konsep pengelolaan yang lebih bai lagi. Ada baiknya, dalam waktu dekat ini pihak Kecamatan mengajak seluruh elemen pengguna dan pencinta kalpataru untuk duduk dan rembug bersama karena ada beberapa warga ada yang melontarkan usulan.

Saya lihat ada beberapa pihak yang bisa dirangkul oleh pak Camat. Ada Komunitas Jalan Sehat Kalpataru, Komunitas Pecinta Kalpataru, klub – klub Sepak Bola dan Volly, Karate, Tekwondo, Sanggar Senam, Klub Sepeda serta tentunya para Pedagang dan warga terdekat RTH.

Harapannya pihak Kecamatan atau gabungan komunitas bisa membuat forum rembug dua pekanan atau bulanan. Targetnya tentu untuk membangun keakraban serta mencari titik temu plus membuat program bersama untuk merawat kalpataru, khususnya dalam hal menjaga fasilitas umum (Fasum) dan kebersihannya.

Cakeep juga bila kedepan di Kalpataru kita punya hari “bersih bersama”. Contoh seserhana, setiap jumat sore sebelum semua memulai aktivitas (baik itu jogging, latihan bola, volly, karate, berdagang, dan lain sebagainya).

Kita luangkan waktu 30 menit saja (dri jam 15.30 – 16.00) untuk operasi semut, bersama-sama membersihkan areal lapangan dan RTH. Dan ini melibatkan seluruh elemen yang setiap hari menggunakan lapangan Kalpataru.

Tidak kalah penting juga pihak Pemerintah Kota melalui Kecamatan bisa menugaskan dua atau orang petugas Pol PP setiap malam, yaa piket nya di atur dengan pihak terkait. Karena sayang, Fasum yg sudah ada khususnya di RTH, klo tidak ada yg menjaga.

Kedepan bisa dirusak oleh pihak-pihak yang belum mau sadar. Nanti teknisnya pihak Pol PP bisa bekerja sama dengan pamong terdekat dan anggota komunitas yang ada. Semoga dengan adanya RTH yang ramah anak, mampu meminimalisir aktivitas negatif yang marak terjadi di kalpataru ketika malam hari.

Oleh: M Imron Rosadi,
Ketua Komunitas Pencinta Kalpataru
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

7,886 kali dilihat, 128 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Kolom

[Kolom] Pemkot Perlu Terobosan Untuk Berdayakan Pedagang di Jalur Wisata

Published

on

Jalan Raden Imba Kusuma

Hampir tiap pagi saya melewati Jalan Raden Imba Kusuma kota Bandar Lampung. Bila masuk waktu pagi dan sore hari, bisa dikatakan jalur ini makin padat dilewati banyak kendaraan roda dua dan empat.

Salah satu alasanya karena memang jalan ini adalah jalur alternatif menuju beberapa sekolah, kantor pemerintahan serta tempat bekerja yang ada di wilayah Tanjung Karang dan Teluk Betung.

Setiap akhir pekan jalur ini pun termasuk padat dan sering didatangi para wisatawan lokal maupun domestik, karena banyak terdapat beberapa destinasi wisata. Dari mulai Puncak Mas, Lembah Hijau, Bukit Mas, Hutan Pinus, serta wisata santap durian dan beberapa tempat kuliner laiannya.

Selain itu, bila para pelancong ingin menuju bumi kedaton serta wisata pantai yang ada di pesisir lempasing sampai padang cermin, jalur ini merupakan pilihan rute yang banyak diminati. Alasanya bisa jadi karena memang suasananya lebih sejuk dan banyak spot wisata lain yang bisa dikunjungi.

Bahkan dua tahun belakangan, karena Jalan Raden Imba Kusuma juga sudah dibangun perumahan elit Citraland Group. Di pintu gerbang komplek ini karena memang tempatnya lumayan luas, bersih dan asri, sering dijadikan spot berkumpul, beristirahat plus selfie / welfie asyiik.

Pokoknya, benar – benar jalur pinggiran kota yang top dah. Oo yaa hampir lupa, saat ini Jalan Raden Imba Kusuma juga sudah resmi beroperasi satu pom bensin yang lumayan luas dan startegis.

Namun ada sedikit masukan nih, khususnya untuk pihak terkait, dalam hal ini tentunya pemerintah kota Bandar Lampung. Ini tentang penataan serta pengadaan lahan untuk para pedagang yang sudah bertahun-tahun berjualan, bahkan tinggal di sekitar jalur ini.

Bila kita lihat, beberapa lapak bangunan yang ada, posisinya butuh ditata lebih baik lagi. Karena saat ramai pengunjung/pembeli, selain sedikit mengganggu kelancaran lalu lintas, tentu secara estetika juga kurang pas dilihat.

Tulisan ini bukan ingin bermaksud menyalahkan para pedagang lho… Tapi lebih lebih kepada meminta perhatian pemerintah kota untuk lebih peduli kepada masyarakatnya serta melihat ini sebagai masalah serius yang harus segera dicarikan solusi.

Saya melihat di sekitaran jalur ini banyak terdapat lahan yang sudah puluhan tahun kosong dan tidak tergarap. Usul nih kepada pemerintah, khususnya dinas terkait untuk melakukan beberapa terobosan.

Bisa dimulai dengan melakukan mapping dan pendataan terkait dengan kepemilikan lahan kosong yang ada di pingir jalan tersebut, kemudian ajak pemilik lahan untuk kerjasama membangun rest area serta sentra kuliner yang unik dan menarik di jalur itu.

Cakep juga bila di wilayah ini dijadikan rest area dan wisata minum kopi khas Lampung. Di tempat tersebut kita kenalkan seluruh jenis kopi yang ada di tanah Lampung ini. Jangan lupa, dan ini yang paling utama, libatkan serta berdayakan para pedagang yang selama ini telah menghidupkan wilayah tersebut.

Karena memang dalam kurun 10 tahun belakangan, Jalan Raden Imba Kusuma terlihat lebih ramai, dalam tanda kutip aman dilewati setelah banyak pedagang buah yang berjualan di sepanjang jalan.

Saya fikir, bila komunikasi yang dilakukan pemerintah kota baik, dan pengelolaan rest area tersebut mengedepankan aspek – aspek pemberdayaan dan keterbukaan. Tentu para pedagang yang selama ini ada, akan dengan ikhlas mensukseskannya.

Akhirnya tulisan ini, hanya sedikit unek-unek yang terlintas terpikirkan setelah pagi tadi melewati jalan ini. Semoga bisa menjadi bahan bagi pemerintah kota, khususnya para calon Walikota untuk menawarkan program terobosan dalam memajukan pariwisata serta tentunya meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

Oleh: M Imron Rosadi,
Penggerak GARBI Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

8,001 kali dilihat, 106 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Banyak Dibaca