fbpx
Connect with us

Kolom

[Kolom] Apresiasi, Kritik dan Doa 337 Tahun Kota Bandar Lampung

Published

on

Kota Bandar Lampung

Sebagai orang yang lahir, besar dan menetap di kota Bandar Lampung, tentu secara umum kami mengikuti segala proses perkembangan dan pertumbuhan di kota ini. Mulai dari sekolah dan ke pasar berjalan kaki, kemudian menggunakan fasilitas angkot, hingga sekarang dimanjakan dengan kemudahan akses transportasi via aplikasi, Alhamdulillah sudah kami alami.

Kota ini tumbuh sangat pesat, apalagi di sektor pembangunan. Jalan layang, pemukiman, cluster perumahan, ruko, mall, hotel, rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, hingga cafe dan restoran berjejer dari mulai pusat hingga pinggiran kota.

Kota Bandar Lampung kini telah berusia 337 tahun, hampir memasuki usia 3 setengah abad. Ini adalah usia yang sangat matang bagi sebuah daerah. Terlebih lagi Bandar Lampung adalah ibukota Provinsi, tentu kota ini selalu menjadi barometer bagi kota dan kabupaten lain yang ada di Provinsi Lampung.

Karena “positioning” kota Bandar Lampung sangat penting, maka kemajuan dan kesejahteraan kota ini tentu menjadi sorotan kita bersama. Kita tentu berharap kota Bandar Lampung kedepan menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia, kota modern yang maju, unggul namun tetap mewarisi dan menerapkan norma-norma budaya luhur dari para pendahulu kita.

Ada apresiasi, kritik dan doa yang kami berikan, sebagai kado untuk ulang tahun kota Bandar Lampung yang ke 337. Pertama sekali, kami memberikan apresiasi.

Apresiasi kepada Pemerintah kota dalam kurun waktu 10 tahun kebelakang hingga sekarang, atas segala pencapaian yang bisa dibilang cukup signifikan. Kami masih inggat pada tahu 2011, APBD Kota Bandar Lampung ada pada posisi 1,1 Triliyun, dan saat ini hampir 10 tahun dibawah kepemimpinan Herman HN, APBD kita sudah tembus diangka 2.6 Triliyun.

PAD kota Bandar Lampung juga naik amat signifikan, yang dulu ketika periode 2011 masih diangka 100an Miliyar, saat ini pada akhir tahun 2018 saja PAD Kota sudah tembus diangka 400 Miliyar. Dan direncanakan pada RAPBD 2019, PAD Kota Bandar Lampung ditergetkan mencapai angka 600an Miliyar. Ini tentu pencapaian yang sangat signifikan.

Untuk kemajuan pembangunan, diawal sudah kami singgung. 9 tahun ini, dari mulai 2011 – 2019, Bandar Lampung tumbuh amat pesat. Bila mendengar komentar dari para teman dan saudara yang mungkin hampir 5 – 6 tahun ini tidak pernah datang ke Bandar Lampung, meraka sangat kaget dengan pertumbuhan pembangunan di kota ini.

Dari sisi program sosial, kami pun memberikan apresiasi. Mulai dari bantuan pendidikan, kesehatan, insentif RT, kader Posyandu, guru ngaji, hingga support kegiatan keagamaan sangat terasa signifikan dirasakan oleh masyarakat.

Namun, tentu tidak ada gading yang tidak retak. Dan tentunya, kitapun tidak boleh cepat berpuas diri dengan segala pertumbuhan yang kota Bandar Lampung saat ini dapatkan. Ada apresiasi kebijakan dan hasil kerja, tentu adapula kritik kebijakan dan kritik program kerja. Kritik ini tentu diberikan dengan motivasi evaluasi dan perbaikan.

Ada dua kritik keras yang coba kami sampaikan sebagai kado HUT ke 337 kota Bandar Lampung. Pertama, pada sektor pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum, kami masih melihat kota ini bertumbuh tanpa ada konsep yang jelas.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka Bandar Lampung kedepan akan menjadi satu-satunya kota metropolitan yang ada di Provinsi Lampung. Ketika kita berbicara pertumbuhan, maka konsep pemerataan pembangunan dan kesejahteraan harus menjadi perhatian khusus. Disinilah prinsip keteraturan harus diterapkan.

Sebenarnya bila acaun yang digunakan sebagai payung hukum pertumbuhan pembangunan adalah Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Bandar Lampung, masalah keteraturan ini adalah hal yang mudah untuk diwujudkan.

Dalam RTRW ada bab tentang zonasi. Sehingga harusnya tidak akan berdiri itu mall – mall dan tempat hiburan di zona pendidikan. Kemudian hak 30 % Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai amanah Undang – Undang juga akan menjadi program dan prioritas utama.

Karena kota Metropolitan yang menafikan ketersediaan RTH 30% dari luas wilayah, berarti siap-siap kota tersebuat akan tumbuh menjadi kota yang panas serta memiliki kualitas udara yang buruk. Seperti yang kami singgung diawal, ketika kita berbicara kota metropolitan, yang ada dibenak kita tentu adalah sebuah perwujudan kota maju, modern dan sejahtera.

Maju, modern dan sejahtera mungkin bagi sebagian pihak secara sederhana bisa saja terwakili oleh pertumbuhan pembangunan gedung-gedung pencakar langit, dan lain sebagainya. Namun bagi kami, konsep Maju, modern dan sejahtera adalah sebuah konsep komprehensif dari keseimbangan antara pertumbuhan bangunan, peningkatan kualitas SDM, serta meningkat dan meratanya taraf kesejahteraan masyarakat.

Kita dulu mungkin sering mendengar ungkapan “yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin”, tentu kita tidak ingin hal ini terjadi. Kita ingin kesejahteraan dan kemajuan kota ini merata, dirasakan dan dinikmati oleh mayoritas masyarakatnya.

Kedua, kritik kami untuk kota ini adalah terkait dengan praktek-praktek keterlibatan para aparatur kota dari tingkat eselon 1, camat, lurah hingga penggerak masayarakat dari mulai kepala lingkungan, kader posyandu, ketua RT pada politik praktis di setiap momentum pemilu dan pilkada.

Tentu sudah menjadi rahasia umum di tingkat aparatur hingga masyarakat. Bahwa praktek- praktek para pihak yang kami sebut diatas dalam politik praktis disetiap momen Pemilu dan Pilkada di daerah manapun, khususnya di kabupaten/kota di Indonesia selalu ada dan berperan cukup signifikan.

Pada proses ini ada intimidasi struktural, tawaran iming -iming jabatan, serta reward-reward yang menjadi motivasi para aparatur dan penggerak masyarakat untuk terlibat dalam politik praktis. Dan semua itu dari mulai 2013 sampai sekarang, amat kita rasakan di Kota Bandar Lampung.

Apakah hal ini bisa hilang? Kami yakin akan teramat sulit. Jangankan Pemilu dan Pilkada, yang itu melibatkan seluruh masyarakat dari berbagai kalangan. Hari ini, pemilihan rektor yang notabenya adalah zona para intelektual, fenomena yang kami singgung diatas pun berlaku di beberapa perguruan tinggi yang ada di Indonesia.

Akhirnya, inilah sedikit uneg-uneg yang bisa kami berikan sebagai kado cinta HUT 337 Kota Bandar Lampung. Sebagai masyarakat, tentu kita ingin ikut memberikan kontribusi bagi kebaikan dan kemajuan kota ini.

Bismillah, mari tetap optimis, bahwa kota ini kedepan akan lebih baik, lebih maju, lebih modern dan sejahtera. Tapi tetap, se modern dan semaju apapun kota ini kedepan, jangan sampai norma-norma agama dan budaya luhur dari pendahulu kita semakin luntur.

Kita berdoa dan berikhtiar, semoga kota Bandar Lampung kedepan menjadi kota Metropolitan yang Maju, Sejahtera dan tetap Berbudaya.

Oleh: M Imron Rosadi,
Penggerak GARBI Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

 1,793 total views,  10 views today



Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis.

Kolom

[Kolom] Mengapa Harus Menulis?

Published

on

Etty Diallova
Penulis asal Lampung Timur, Etty Diallova | Foto: dok.

Menulis adalah kebutuhan dan sebagai terapi jiwa. Begitulah yang saya rasakan. Melalui tulisan kita bisa menuangkan ide-ide di dalam imajinasi yang kita miliki. Banyak orang yang menulis karena hobi dan mengekspresikan diri. Kemudian menekuni bidang tersebut dengan sungguh-sungguh, sehingga berbuah manis memberikan prestasi dan royalti.

“Karena pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar.”

Menulis membutuhkan motivasi kuat, sehingga selalu tertanam di dalam hati dan memompa semangat untuk terus berkarya. Karena tidak sedikit dari kita mengganggap menulis adalah suatu hal yang membosankan, sehingga enggan menjalaninya sebagai rutinitas secara konsisten. Akhirnya pupus sudah harapan untuk berkarya dan terus berkembang.

Menulis, Sarana Berkarya dan Berbagi Kebaikan. Menggoreskan aksara demi aksara sebagai pengukir sejarah dalam kehidupan di dunia. Untuk itu, terus berusaha menyajikan tulisan yang menebarkan kebaikan, tanpa dibubuhi ujaran kebencian yang bisa mengakibatkan keretakan atau terjadinya perdebatan. Karena sebuah karya, adalah cerminan dan jati diri dari siapa si empunya tulisan tersebut

Menulis Sebagai Terapi dan Mengasah Kreatifitas. Menulis juga sebagai terapi jiwa, sebagai sarana untuk penyembuhan. Dengan menulis kita dapat mengurangi beban-beban pikiran yang selama ini terpendam. Saya sendiri kerap menuangkan ke tulisan, saat saya rindu pada keluarga dan orang-orang tercinta di kampung halaman.

Dengan konsisten berkarya, imajinasi dan kreatifitas kita dalam berkarya akan semakin tajam. Ibarat sebuah mata pisau, jika setiap hari diasah, maka akan menjadi tajam dan berkilau. Menulis juga sebagai sarana berdakwah; setiap karya yang kita buat, akan selalu bermanfaat bagi orang lain, dan menjadikan amal jariah bagi penulisnya.

Kita dapat menyampai pesan baik secara tersirat dan tersurat, sehingga kita bisa mempengaruhi lewat tulisan tersebut. Untuk itu, penting untuk menulis dengan muatan positif, hindari pemberitaan HOAX, plagiarisme, dan ujaran kebencian.

“Menulis mengajarkan saya banyak arti kehidupan dan mengenalkan saya pada dunia luas”

Oleh: Etty Diallova,
Penulis asal Lampung Timur yang tinggal di Taipei, Taiwan.
*Artikel Lampung.co ini merupakan tulisan dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

 9,310 total views,  50 views today



Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Kolom

Apakah Larangan Cadar dan Celana Cingkrang Efektif Tangkal Radikalisme? Ini Kata Peneliti

Published

on

Larangan Cadar

Menteri Agama Indonesia yang baru dilantik, Fachrul Razi, baru-baru ini menghebohkan publik dengan melempar wacana larangan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) menggunakan cadar dan celana cingkrang di lingkungan instansi pemerintahan.

Alasan dia, ekspresi-ekspresi pakaian itu tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

Dia juga berpendapat bahwa kehadiran orang-orang yang memakai cadar dan celana cingkrang akan menimbulkan persepsi bahwa hanya mereka saja yang betul-betul bertakwa kepada Tuhan.

Banyak pihak mungkin mengira biang keladi pembentuk radikalisme adalah keyakinan agama ultra konservatif seperti Wahhabisme dan Salafi-Jihadisme, yang kerap diekspresikan melalui gaya busana tertentu seperti penggunaan cadar dan celana cingkrang.

Walau keyakinan agama ultra konservatif bisa berkontribusi pada radikalisme, agama sebetulnya bukan faktor pembentuk utama dari radikalisme.

Faktor yang memperkuat radikalisme lebih kompleks dari sekedar urusan agama. Oleh karena itu, melarang keyakinan atau ekspresi keagamaan tidak akan terlalu berguna dalam usaha menangkal radikalisme.

Menyeimbangkan identitas keagamaan orang yang terpapar radikalisme dengan identitas alternatif bisa menjadi pilihan yang lebih baik.

Tidak berhasil
Penelitian saya bersama kolega-kolega di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2019 dengan sampel narapidana teroris Indonesia telah menunjukkan bahwa usaha penangkalan radikalisme dengan mengubah keyakinan ideologis justru tidak efektif.

Ada beberapa alasan. Pertama, melarang keyakinan agama itu sangat sulit dilakukan. Program deradikalisasi yang berusaha mengganti ideologi agama menjadi ideologi lain yang lebih moderat tidaklah efektif.

Ini karena mereka dengan tingkat radikalisme tinggi merasa keyakinan mereka itu sudah yang paling benar. Dengan kata lain, mereka merasa tidak ada yang salah dengan diri mereka. Pihak pemerintah, kepolisian, atau pihak yang melakukan deradikalisasi itulah orang-orang yang sebetulnya tersesat.

Kedua, usaha mengubah atau melarang keyakinan agama justru bisa jadi bumerang. Orang-orang dengan tingkat radikalisme tinggi akan merasa terdiskriminasi karena mereka dilarang menganut keyakinan pribadinya. Sehingga, kebencian mereka terhadap pihak pemerintah dan institusi-institusi negara akan semakin menjadi-jadi.

Lebih daripada itu, usaha mengubah keyakinan pribadi itu sebetulnya bisa dianggap tidak etis bagi sebuah negara dengan sistem demokrasi. Apalagi kebebasan beragama dan berkeyakinan telah dijamin oleh negara lewat Undang Undang Dasar 1945.

Identitas alternatif
Jika kita tidak bisa menangkal radikalisme dengan mengubah keyakinan agama, adakah cara lain yang lebih efektif?

Sebuah riset di bidang psikologi sosial menunjukkan bahwa cara yang menjanjikan dan telah terbukti berhasil adalah menyeimbangkan identitas keagamaan dengan identitas alternatif seperti keluarga, karier, pendidikan, dan lain-lain. Riset tersebut dilakukan oleh pakar psikologi sosial David Webber dari Virginia Commonwealth University, AS, dan para koleganya di tahun 2017 dengan sampel para narapidana teroris gerakan separatis di Sri Lanka.

Umumnya, orang-orang dengan tingkat radikalisme tinggi rentan termakan propaganda ideologi karena mereka sedang kehilangan arah atau makna hidup.

Mereka merasa hidupnya hampa, merasa mengecewakan keluarga, kesepian, atau kehilangan tujuan dalam hidup. Kondisi ini rentan menjadi celah bagi kelompok-kelompok radikal untuk mengisi kekosongan itu.

Mereka diberikan makna hidup seperti potensi masuk surga atau memperjuangkan keadilan atas nama Tuhan. Dengan kata lain, ada kebutuhan psikologis yang tidak mereka dapat namun bisa diperoleh dari identitas kelompok agama radikal.

Untuk menangkal kondisi itu, yang harus dilakukan adalah menyeimbangkan makna hidup dari identitas agama dengan makna hidup dari identitas lain.

Sebagai ilustrasi, ada dua orang bernama si A dan si B. Baik si A maupun si B meyakini bahwa mereka harus memperjuangkan agamanya dengan berperang ke Suriah. Akan tetapi, si A memiliki keluarga yang ia harus nafkahi dan tidak bisa ia tinggalkan. Si A juga memiliki bisnis yang sedang berkembang pesat. Sementara itu si B tidak memiliki apa-apa selain keinginannya memperjuangkan agama. Dari ilustrasi ini, mana yang lebih mungkin pergi berjihad ke Suriah?

Jika Anda menjawab A, Anda sudah tepat. Ketika seseorang memiliki identitas alternatif (sebagai ayah, suami, pelaku bisnis), ia tidak akan melakukan tindakan-tindakan kekerasan atas nama agama walau ia memiliki keyakinan agama yang kuat sekalipun.

Identitas-identitas alternatif itu secara langsung “mengalahkan” identitas agama dengan memberikan kebermaknaan hidup lain selain membela agama.

Riset saya dan kolega menunjukkan bukti bahwa ketika identitas alternatif sudah muncul, maka pelaku terorisme tidak akan mendukung kekerasan atas nama agama. Ini terjadi walaupun ideologi radikal masih melekat di benak mereka.

Temuan itu kami peroleh dengan menganalisis profil-profil hasil wawancara terhadap 86 narapidana teroris yang telah menjalani program rehabilitasi pada 35 penjara di Indonesia. Ada lebih dari 200 narapidana teroris di Indonesia saat kami melakukan penelitian, dan saat ini ada lebih dari 600 narapidana teroris yang sudah bebas.

Dalam riset, kami menemukan bahwa dukungan terhadap jihad sebagai perang melemah ketika individu aktif berpartisipasi dalam program deradikalisasi. Ini terjadi karena ketika individu aktif berpartisipasi, mereka diberikan kesempatan mengembangkan identitas alternatif seperti keluarga dan bisnis.

Ketika identitas alternatif terbentuk, dukungan terhadap jihad sebagai perang juga melemah walaupun mereka masih memegang ideologi yang kuat.

Namun, perlu diingat bahwa terbentuknya identitas alternatif tidak bisa dilakukan hanya dengan pendekatan ekonomi semata. Mereka harus betul-betul merasakan kebermaknaan dari identitas yang diperoleh bantuan dan insentif ekonomi itu.

Artinya, uang bisa saja terpakai untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak memberikan sense of belonging (makna hidup). Ketimbang uang secara langsung, lebih baik memberikan kesempatan yang sifatnya berkelanjutan seperti kesempatan mengaplikasikan talenta atau keahlian. Dengan cara itu, mereka akan merasakan kebermaknaan hidup dari jasa atau bisnis yang mereka kembangkan.

Dapat kita simpulkan bahwa identitas agama ataupun ekspresi agama seperti pemakaian cadar atau celana cingkrang tidak serta merta membuat seseorang menjadi teroris atau ekstremis. Perlu ada kondisi psikologis, yaitu ketidakseimbangan identitas yang menjadikan agama sebagai satu-satunya makna hidup.

Bagi orang-orang yang memiliki banyak identitas bermakna dalam hidupnya, keyakinan mereka tidak akan berdampak pada kekerasan ataupun ekstremisme.

Para pembuat kebijakan perlu berhati-hati dalam menangani radikalisme. Melakukan pelarangan ekspresi atau keyakinan keagamaan tidak akan memiliki banyak manfaat bahkan bisa menjadi bumerang.

Elemen yang terpenting dalam penanganan radikalisme bukanlah soal identitas agama, tapi soal ada atau tidaknya identitas lain yang dimiliki orang-orang berideologi radikal ini.

Oleh: Joevarian Hudiyana,
Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik, Universitas Indonesia
*Artikel Lampung.co ini terbit pertama kali di The Conversation.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca.

 15,839 total views,  47 views today



Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Kolom

[Kolom] Sektor Pariwisata di Lampung Bisa Jadi Tulang Punggung Perekonomian

Published

on

Sektor Pariwisata di Lampung

Salah satu sektor penting di provinsi Lampung yang potensinya bila dikembangkan, dikelola secara baik dan maksimal, sehingga mampu meningkatkan pendapatan daerah serta kesejahteraan masyarakat adalah sektor pariwisata.

Selain potensi alam yang indah dan beraneka beragam, provinsi Lampung juga memiliki banyak keunggulan pada wisata kuliner yang mampu memanjakan lidah, serta tentunya wisata sejarah, budaya yang penuh nilai kerifan dan edukasi.

Provinsi ini memiliki garis pantai sepanjang 1.105 km. Terdapat dua teluk di provinsi Lampung yaitu Teluk Semaka dan Teluk Lampung dengan sekitar 132 pulau yang berhadapan langsung dengan ALKI (Alur Lintas Kapal Internasional) Selat Sunda.

Letak geografis yang memang merupakan pintu gerbang Sumatera, tentu semakin memperkuat, bahwa provinsi ini memiliki keunggulan akses dibandingkan dengan provinsi lain yang ada di pulau Sumatera.

Peluang yang diulas diatas tentu saja menjadi tantangan tersendiri. Tapi kita harus optimis bahwa tidak ada yang tidak mungkin bila kita mau berusaha. Kurang lebih satu tahun yang lalu, ada gagasan yang sempat kami diskusikan dengan beberapa penggerak pariwisata lokal.

Dari diskusi tersebut kami mencoba menyimpulkan bahwa ketika sektor pariwisata di Lampung ingin maju dan menjadi salah satu ujung tombak dalam hal peningkatan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat, maka ada tiga unsur utama yang harus menjadi penopang dan disinergikan.

Tiga unsur utama itu adalah penggerak pariwisata, pemangku kebijakan serta investor. Ujung tombak dari ide ini ada di penggerak pariwisata. Merekalah yang dari awal melakukan mapping potensi pariwisata di 15 kabupaten yang ada di provinsi Lampung.

Siapa saja yang bisa dilibatkan menjadi tim penggerak pariwisata? Banyak, bisa para anak muda alumni – alumni perguruan tinggi yang mau pulang dan mengembangkan kampung halamannya, para komunitas dan netizen yang konsen dalam dunia promosi wisata lokal, serta tentunya para akademisi yang punya dedikasi tinggi guna kemajuan pariwisata Lampung.

Setelah potensi pariwisata di Lampung ter-mapping dengan baik, selanjutnya tentu kita membutuhkan support kongkrit dari para pemangku kebijakan, mulai dari unit terkecil, lingkup RT, desa, daerah hingga provinsi maupun pusat.

Dukungan pemangku kebijakan untuk menjadikan sektor pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi, tentu harus dibuktikan dengan terbitnya kebijakan-kebijakan yang mensupport, mempermudah sekaligus menjadi payung hukum bagi pengembangan pariwisata.

Bisa dari sisi kebijakan perbaikan infrastruktur, kemudahaan akses perizinan, promosi, pada pola-pola pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang konsen di dunia pariwisata.

Terakhir, setelah potensinya terpetakan, para penggerak pariwisatanya terus melakukan inovasi, pemerintah setempat dari lokal hingga pusat terus bekerja serta memberikan akses perlindungan dan dukungan. Maka tentu para investor baik lokal mapun internasional akan ngantri berdatangan dan berinvestasi di sektor ini.

Oleh: M Imron Rosadi,
Sekretaris DPW Partai Gelora Lampung
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia atau melalui www.lampung.co/karya-pembaca

 22,104 total views,  47 views today



Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Banyak Dibaca