Lagi! Pasien Keluhkan Pelayanan RSUDAM Lampung

Tim Redaksi

Lampung.co – Rumah Sakit Daerah Abdoel Moeloek (RSUDAM) Lampung kembali menjadi sorotan dugaan penelantaran pasien. Kali ini dugaan menelantarkan bayi berusia 5 bulan bernama Muhammad Arshaka Arrasidi.

Atas hal tersebut, orang tua Arshaka – nama bayi tersebut, Muhammad Marwan Supriyadi mengeluhkan pelayanan RSUDAM yang buruk.

Marwan mengatakan, anaknya dirujuk di RSUDAM 11 Oktober.  Arshaka disebutnya menderita diare dan telah dirawat di RS Umum Bob. Bazar Kalianda. Saat di RSU Bob. Baza Kalianda, anaknya itu dirawat selama 5 hari 4 malam.

Dilanjutkannya, karena belum mengalami tanda-tanda sehat, Arshaka dirujuk ke RSUDAM agar mendapatkan pertolongan dengan fasilitas yang lebih lengkap untuk bisa segera ditangani lebih baik.

“Saat selama dirawat di rumah sakit Kalianda kondisi kesehatannya terus menurun yang dari awal masuk memiliki trombosit 77000 kemudian turun menjadi 53000 dan terakhir ketika dirujuk trombosit menyentuh angka 27000 padahal trombosit orang normal seharusnya 150.000,” khawatir Marwan.

Lalu, dijelaskannya, ia membawa anaknya ke RSUDAM dan tiba di rumah sakit pukul 18:30 (11/10/2017). Setibanya ambulance dirumah sakit tidak ada penjemputan pasien oleh perawat ketika turun dari ambulance. Lalu keluarga menunggu pelayanan dari dokter selama 2 jam, namun tidak ada pemeriksaan dokter. “Jadi hanya pemeriksaan perawat yang tidak sama sekali melakukan tindakan selain mendata pasien,” keluhnya.

Bahkan, dikatakan Marwan, pihak keluarga selalu mengkonfirmasi keberadaan dokter hampir setiap waktu. “Tetapi itu tadi, perawat yang sedang berjaga hanya mengucapkan tunggu saja ya pak,  nanti dokter nya dateng kok,” ujarnya menirukan apa yang disampaikan perawat.

Selain mengeluhkan penanganan, Marwan juga mengeluhkan adanya kamar anaknya yang tidak layak. “Kamar rumah sakit yang kumuh dan memiliki bayak pasien yang menderita penyakit yang berbeda beda. Yang saya tau ruang kamar biasanya akan di golongkan sesuai tipe penyakit. Namun ini justru tidak layak sama sekali, karena anak saya digabungkan dengan anak yang terkena DBD, tifus bahkan ada anak kembar yang lahir prematur. Itukan seharusnya ada kamar tersendiri agak anak tidak tertular virus dari pasien lain,” geramnya.

Bahkan tak hanya sampai disitu saja, Marwan juga mengungkapkan Dalam ruang inap pun tidak ada pelayanan dari dokter, bahkan perawat hanya menganjurkan Marwan untuk membeli obat yang diresepkan di apotik luar rumah sakit karena stok obat di RS tersebut tidak ada.

Tak percaya dengan apa yang disampaikan perawat tersebut, Marwan pun meminta tolong temannya untuk mengecek ke apotik di rumah sakit, sekedar memastikan apakah obat tersebut masih tersedia atau tidak.

Kecurigaan Marwan pun benar adanya, ketika temannya berupaya menayakan ulang ke rumah sakit, ternyata obat yang dibutuhkan ada.

“Jadi saya suruh teman saya. Saya minta dia tanyakan. Teman saya pun tanya, ada obat ini sus? Dan ditanya kembali oleh perawatnya, bapak pasien BPJS? Terus teman saya pastikan lagi, dengan mengatakan, saya akan bayar berapa saja bila ada obat itu di sini! Nah, dari situ baru, si suster mengakui  bahwa obat yang dimaksud memang masih ada stoknya dari RS,” ujarnya menjelaskan apa yang telah terjadi di rumah sakit versinya.

Merasa kecewa dan khawatir dengan kondisi anaknya, akhirnya, Marwan memutuskan untuk anaknya di rawat di RS lain. Setelah menanyakan administrasi dan tampak dari struk pembiayaan Rp200.800 tertuliskan tindakan yang sungguh membuat Marwan dan keluarga semakin tidak terima.

“Saya dan keluarga nggak terimalah. Di struk pembayaran tertera tindakan dokter, tindakan perawat ruangan dan obat yang jelas jelas itu tidak diberikan pihak RS kepada anak saya. Jelas-jelas anak saya tidak diberikan pelayanan. Bahkan, infus saja masih bawaan dari RS Kalianda, di mana tindakan yang tertera di struk dan saya keluar dari RS ini pun blm 1×24 jam,” ungkap mantan Ketua Organisasi PMII Cabang Lampung Selatan itu dengan kesal. (Debhy)

Tim Redaksi

Tim Redaksi media online Lampung.co menerbitkan berita-berita khusus, termasuk berita advertorial. Hubungi tim redaksi melalui email redaksi@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer