Mengapa Talqin Mayit Penting? Ini Hukum dan Haditsnya

Rodi Ediyansyah

Lampung dot co – Iqro | Sebelum membahas hukum talqin mayit dan mengapa itu penting, kita ulas dulu perkara yang bertalian dengan itu, yakni tentang tolong-menolong. Sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Meringankan beban orang lain bukan berarti kita rugi waktu dan rugi tenaga. Terutama apabila tidak ada imbalan berupa uang maupun ucapan terima kasih.

Pada zaman yang sudah apa-apa dihitung berdasarkan materi ini, kita masih punya pegangan penting ketika niat menolong orang lain kendur. Apa itu? Al-qur’an dan Al-Hadits. Warisan ini masih berlaku hingga dunia ini benar-benar berakhir.

“Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah Swt akan selalu menolongnya. Barang siapa yang melapangkan kesempitan orang lain, maka Allah akan melapangkan pula untuknya dari salah satu kesempitan pada hari Kiamat. Barang siapa yang menutupi (aib) saudaranya, Allah akan menutupi pula (aibnya) di hari Kiamat.”

Keutamaan menolong orang lain besar sekali. Tidak bisa dinilai dengan materi apa pun di dunia ini. Dengan menjaga akad saling tolong-menolong, berarti kita sudah mendapatkan satu tiket emas menuju kebahagiaan di dunia hingga hari setelah tiada lagi orang lain bisa menolong kita.

Tahukah Anda, apa salah satu kesulitan terbesar yang dialami oleh umat Rasulullah Saw? Sakaratul maut. Ketika seorang calon mayat menghadapi sakaratul maut, ia merasakan kehausan yang belum pernah dirasakan orang kehausan manapun di dunia. Ketika pada puncak-puncaknya rasa haus, syetan akan datang membawa segelas minuman segar dengan persyaratan yang bisa membawa calon mayat hidup sengsara selamanya.

Orang yang tidak menyadari kalau itu adalah syetan biasanya akan berkata, “Berikanlah aku air itu!” Syetan pun akan tersenyum dan meminta persyaratan, “Baiklah, namun katakanlah bahwa alam dan seisinya ini tiada memiliki Pencipta, dan tinggalkan agamamu, maka saya akan memberikan minuman ini kepada engkau.”

Apabila calon mayat melakukan persyaratan itu, batal sudah amalan yang ia miliki di dunia, terutama lagi jika kalimat itu yang menjadi kalimat terakhirnya sebelum mengembuskan napas. Pada saat-saat seperti itu, kita, sebagai orang yang masih hidup dan diberkahi sedikit kesulitan, seyogyanya menolong orang yang tengah menghadapi sakaratul maut. Di situlah pentingnya talqin mayit.

Talqin mayit hukumnya sunnah. Karena tujuan talqin memahamkan orang akan sesuatu dengan cara lisan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abi Sa’id Al-Khudri berkata, Rasulullah bersabda yang artinya:
“Talqinkanlah orang-orang matimu la ilaha illallah.” (HR. Muslim dan empat hadits dari sahabat Abi Hurairah dan Abi Sa’id)

Apakah itu talqin? Secara bahasa, talqin memiliki arti menuntun orang untuk mengikuti kata-kata yang diucapkan padanya. Pada posisi calon mayat yang sakaratul maut, menalqinkan dengan lafal laa ilaha illallah, akan menolongnya menggapai kematian yang khusnul khotimah. Kematian seperti inilah yang menjadi tujuan terbaik dari orang-orang yang hidup, lebih baik dari tujuan harta banyak, istri cantik, koleksi mobil, koleksi hotel, dan lainnya.

Talqin pada mayat tidak terhenti pada sakaratul maut. Kesulitan kedua setelah itu adalah ketika ia akan ditanya oleh malaikat Munkar Nakir setelah kuburan diratakan. Sejatinya, orang yang telah meninggal itu lebih peka pendengaran dan penglihatannya daripada orang yang masih hidup di dunia. Meskipun kita tidak mendengar suaranya, ia bisa sangat jelas apa yang kita katakan. Diriwayatkan, bahkan suara langkah pengiring jenazah masih terdengar oleh mayat dari kejauhan.

Dari Abu Umamah Al-Bahili, Rasulullah Saw bersabda: “Apabila di antara kalian ada yang meninggal dunia, dan setelah kuburannya diratakan, hendaknya ada di antara kalian yang bersedia berdiri di dekat posisi kepalanya seraya berkata: ‘Ya fulan bin fulanah’. Sesungguhnya ia mendengar namun tiada bisa menjawab. Katakanlah, ‘Ya fulan bin fulanah’ untuk kedua kali.

Maka ia pun akan menjawab: ‘Tunjukkanlah kami, semoga engkau memperoleh rahmat dari Allah Swt. Namun engkau tak mendengar jawaban itu. Katakanlah: ‘Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad Saw utusan Allah. Islam adalah agamaku. Dan Al-qur’an adalah pedomanku.’

Maka, malaikat Mungkar dan Nakir pun akan pergi karena terlambat dan salah satu dari mereka akan berkata pada yang lain: ‘Tiada lagi yang bisa kita tanyai untuk mayat ini. Untuk apa kita berada di sisi orang yang jawabannya sudah diajarkan’. Kemudian salah seorang sahabat pun bertanya: ‘Bagaimana seandainya nama ibu (si mayat) tidak diketahui?’ Rasulullah Saw menjawab: ‘Nisbatkan ia pada Hawa”. (HR. At-Tabrani).

Talqin pada calon mayit maupun pada mayat merupakan dispensasi keringan tersendiri yang berhak didapatkan olehnya. Namun, khusus untuk talqin ketika sakaratul maut, apabila si calon mayat sudah mengucap laa ilaha illallah, cukuplah Anda menalqinnya.

Tidak boleh berulang-ulang, sebab, hal itu akan mengganggu konsentrasi si calon mayat. Namun, apabila calon mayat mengatakan kalimat selain itu, talqinkan kembali dengan kalimat yang sama hingga ia mendapat akhir hidup yang khusnul khotimah.

Wallahu a’lam bish-shawab

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Tags

Related Post

Ads - Before Footer