Memahami Ayat Mutasyabihat Agar Terhindar dari Aliran Musyabbihah dan Mujassimah

Rodi Ediyansyah

Lampung dot co – Iqro | Pernahkah Anda mendengar aliran musyabbihah dan mujassimah? Kalau belum, mungkin Anda perlu menyimak ini. Aliran musyabbihah adalah aliran yang meyakini Tuhan itu memiliki bentuk serupa dengan makhluk-Nya. Misalnya menganggap Allah itu berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, Ia memiliki kaki, rambut, dan tubuh persis seperti manusia. Hal-hal seperti ini tentu tidak ada dan tidak sejalan dengan agama Islam.

Sementara aliran mujassimah adalah aliran yang memiliki paham bahwa Allah memiliki sifat yang menyerupai manusia. Semisal, Allah duduk di atas singgasana langit. Allah memiliki istana, kerajaan, rumah, dan sebagainya.

Kaum mujassim maupun musyabbih, biasanya lebih suka menafsirkan ayat maupun hadits berdasarkan nalar otaknya. Padahal ini sangat berbahaya untuk kesehatan iman mereka. Hal-hal seperti ini sering kita temui dalam kehidupan agama Nasrani dan Yahudi.

Tentu saja setiap agama memiliki cara masing-masing dalam beribadah. Dan seyogyanya, kita, sebagai umat Islam juga memiliki standar sendiri dalam beragama sesuai tuntunan Al-qur’an dan As-sunnah.

Keberadaan aliran mujassimah dan musyabbihah didasari oleh kecenderungan mereka terhadap ayat-ayat maupun hadits mutasyabbihah daripada ayat mukhkamat. Memangnya apa itu ayat mukhakamat dan ayat mutasyabbihah? Lebih jelasnya, silakan pelajari uraian berikut ini.

Ayat mukhkamat adalah ayat yang jelas. Tidak perlu tafsir yang serius, Anda sudah bisa langsung mengaplikasikan dalam kehidupan. Anda tidak perlu takut dianggap sesat dan sebagainya, sebab tiada ulama yang berselisih soal ayat mukhkamat.

Semua setuju kalau pengapliksian terhadap ayat mukhkamat hukumnya boleh dan halal. Seperti misalnya puasa dari terbit Fajar hingga Maghrib. Hukum itu telah ada dalam Al-qur’an dan jelas sekali, seperti jelasnya matahari di siang hari.

Sementara ayat mutasyabbihah merupakan ayat yang memiliki majas. Ayat maupun hadits jenis ini, tidak bisa diambil secara sembarangan karena memiliki pemaknaan yang di luar jangkauan otak manusia.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam sudah memperingatkan, bahwa siapa saja yang menafsirkan dan membagi-bagikan tafsiran ayat mutasyabbihah berdasarkan akal sendiri, sudah tentu ia merupakan bagian dari kesesatan. Artinya, Anda tidak perlu mengikuti penafsiran semacam ini.

Apabila Anda diberi pilihan: pilih menggunakan ayat mukhkamat atau ayat mutasyabbihah, saran terbaik adalah pilih ayat mukhkamat. Sebab, ayat yang sudah jelas tidak mengandung risiko sama sekali.

Salah satu ayat maupun hadits yang menyangkut mutasyabbihah adalah problematika kebenaran tentang keberadaan Allah itu ada di langit atau tidak. Polemik ini sudah dibahas secara berkepanjangan oleh para ulama dan ahli tafsir. Dan kesepakatan yang terbentuk tidak bisa serta-merta dijadikan pedoman, sebab, hanya Allah yang tahu.

Hadits yang sering muncul ketika terjadi pembahasan mengenai keberadaan Allah di langit atau tidak adalah ini: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bertanya pada seorang hamba sahaya yang perempuan.

‘Di manakah Allah?’ Perempuan itu menjawab, ‘Di langit.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bertanya kembali, ‘Siapa aku?’ Hamba sahaya itu menjawab, ‘Engkau utusan Allah’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pun berkata, ‘Merdekakanlah dia, sesungguhnya ia adalah seorang yang beriman’ (HR. Muslim).”

Hadits di atas tidak bisa ditelan begitu saja. Sebab akan menyangkut banyak hal, terutama soal keimanan seseorang. Untuk lebih memahami hadits itu, tentu Anda perlu menyimak dua pendapat dari ulama berikut ini:

Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi lebih cenderung mengutip pendapat dari Al-Qhadi ‘Iyadh berdasarkan ayat Al-quran dalam surat Al-Mulk ayat 16, “Apakah engkau merasa aman terhadap Allah yang berkuasa di langit, bahwa Ia akan menjungkir-balikkan bumi bersamamu?” Hal ini berarti hadits di atas tidak bisa diambil berdasarkan teks semata, tetapi sebaiknya dita’wilkan terlebih dahulu.

Imam As-Suyuti

Sementara Imam As-Suyuti menyerahkan makna hadits tersebut pada Allah Subhanahu Wata’ala sepenuhnya. Hal itu dikarenakan beliau tidak ingin terjerumus dalam pembahasan berlanjut dan ingin tetap menjaga kesucian Allah Subhanahu Wata’ala. Sama dengan ketika kita shalat menuju kiblat. Bukan berarti Allah berada di kiblat, tetapi karena sudah ketentuannya sudah begitu. Tidak bisa ditanyakan lagi kenapa dan kenapa. Nanti jatuhnya pada syubhat.

Begitu besarkah pengaruh syubhat terhadap kondisi agama Islam? Sangat besar. Bahkan apabila didiamkan bisa termasuk dosa besar yang bisa mengantarkan penafsirnya menuju neraka. Pengaruh syubhat membuat orang akan meragukan kedudukan Allah Subhanahu Wata’ala, dan pada akhirnya keimanan terhadap-Nya akan semakin menipis dan menipis. Itulah langkah-langkah syetan dalam mempengaruhi jiwa manusia.

Oleh karena itu, aliran musyabbihah dan mujassimah penting untuk diketahui dan disadari pergerakannya. Sebab, mereka menyusup tidak seperti jarum di antara benang-benang. Namun, lebih pada penyusupan terhadap sensor memori di otak kita.

Apabila otak telah dimasuki, seluruh anggota badan terkena dampaknya. Na’udzubillah. Sekali lagi, sebaiknya Anda memilih ayat maupun hadits mukhkamat daripada mutasyabbihah karena hal itu akan lebih memudahkan Anda dalam mengenal Islam sebaik-baiknya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Tags

Related Post

Ads - Before Footer