Hukum Memelihara Jenggot dalam Islam, Sunnah atau Wajib?

Rodi Ediyansyah

Lampung dot co – Iqro | Sebelum membahas hukum memelihara jenggot dalam islam, perlu diketahui bahwa jenggot adalah rumpun rambut yang terletak tepat di bawah dagu. Biasanya kemunculan jenggot ini ditandai ketika seseorang mulai tumbuh remaja-dewasa.

Tentu saja jenggot dengan brewok memiliki perbedaan yang mencolok yang tidak bisa disandarkan dalam hukum yang sama. Brewok bisa meliputi perpanjangan athi-athi, jenggot, dan juga penghubung antara jenggot dengan kumis. Sedangkan jenggot hanya ada di satu daerah.

Hukum Memelihara Jenggot dalam Islam

Beberapa ulama memiliki perbedaan pendapat terkait hukum memelihara jenggot. Ada yang melabeli hukum wajib, ada yang makruh, dan ada yang sunnah. Namun tiada satu pun yang melabeli dengan hukum haram.

Dan pendapat terkuat mengenai cukur jenggot telah diimani oleh Imam Al-Ghazali, Syaikhul Islam, dan Ibnu Hajar dalam At-Tuhfah Ar-Ramly, Al-Khatib, bahwa hukumnya makruh. Meninggalkannya mendapat pahala, sementara ketika melakukannya tiada berdosa.

Adapun pendapat memelihara jenggot yang kerapkali mendatangkan polemik berasal dari Syekh Ali Jum’ah. Beliau adalah mufti dari Mesir. Beliau memiliki pedoman tersendiri terkait memelihara jenggot dan berkiblat pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi:

“Ubahlah uban. Jangan engkau samakan diri dengan orang-orang Yahudi.”

Beliau menganggap hukum mengubah uban itu wajib, sebab menyamakan diri dengan kaum Yahudi akan menyebabkan penyerupaan yang tentu tidak dianjurkan dalam agama Islam. Dalam hadits tersebut terdapat penekanan alias perintah.

Namun, karena kehadiran uban sebagaimana adanya dianggap lumrah, mengubahnya hanya jadi anjuran, tidak lagi bersifat wajib sebagaimana mestinya. Hal itu beliau samakan dengan hukum memelihara jenggot.

Awalnya, pada masa Salaf, seluruh penduduk bumi, entah kafir maupun muslim semua memanjangkan jenggot. Semuanya memanjangkan jenggot tanpa memandang status maupun agama, tanpa terkecuali. Oleh sebab itu, banyak para ulama yang berpendapat bahwa memelihara jenggot hukumnya sunnah, dan mencukurnya tiada berdosa.

Namun, tradisi pun berubah. Sekarang lebih banyak orang yang mencukur jenggot daripada memeliharanya. Bahkan banyak iklan alat cukur jenggot bertebaran di media televisi. Adalah tepat, ketika kita mengikuti amalan dari madzhab Syafi’i karena perubahan kebiasaan secara global. Hukum mencukur jenggot menjadi makruh, sementara hukum memelihara jenggot tetap sunnah.

Melihat perubahan hukum tersebut bisa kita tengarai bahwa hukum memelihara maupun mencukur jenggot bisa berubah seiring perubahan secara global. Tentu saja tiada yang bisa memaksakan perubahan itu terjadi. Misalkan nanti, atau suatu saat nanti tiba-tiba semua orang di seluruh dunia kembali lagi memanjangkan jenggot, kemungkinan berubahkan hukum tentang jenggot bisa terjadi.

Keutamaan Memelihara Jenggot

Namun, di antara hal itu, tentu memelihara jenggot memiliki keutamaan tersendiri. Tidak hanya untuk gaya-gayaan ikut artis, atlet olahraga, dan semacamnya. Keutamaan ini bisa langsung Anda rasakan sendiri. Apa saja? Silakan simak berikut ini.

Bisa Menambah Kewibaan

Coba lihat perbedaan antara orang yang memelihara jenggot dengan orang yang mencukur jenggot sampai habis. Ketika Anda memelihara jenggot, kewibaan Anda akan bertambah, ataupun akan muncul kalau sebelumnya belum terlihat. Tumbuhnya jenggot menandai kalau Anda telah tumbuh menjadi pribadi yang dewasa. Dengan merawatnya, berarti Anda tengah belajar bagaimana tampil sebagai pria dewasa.

Mendapatkan Pahala

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: “Makruh hukumnyan mencukur, memotong dan membakar jenggot.”Al-Qhadi ‘Iyadh berasal dari madzhab Maliki. Siapakah Imam Maliki? Beliau adalah Imam besar bahkan sekaligus sebagai guru dari Imam Syafi’i dan pendapat tersebut pun diimani beliau. Ketika Anda memutuskan untuk tidak mencukur, memotong, maupun membakar jenggot, secara otomatis Anda mendapat pahala yang merupakan tiket utama menuju surga yang penuh berkah.

Terhindar dari Tasyabbuh

Tasyabbuh, secara umum memiliki makna menyerupai. Namun dalam konteks islami, tasyabbuh berarti sikap seorang muslim yang menyerupai orang non-muslim atau kafir. Apa dampaknya jika Anda berbuat hal demikian dan bukan lagi golongan dari umat Islam? Tentu bisa ditebak dampaknya. Adapun hadits yang berkenaan dengan tasyabbuh bisa Anda simak uraiannya berikut ini.

“Aku diutus ke hadapan waktu dengan membawa serta pedang, sehingga hanya Allah yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya, dan rizki saya telah diletakkan di bawah bayang tombak ini. Kehinaan maupun kenistaan akan menimpa siapa pun yang menyelisihi perintah saya; barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia masuk golongan kaum tersebut.” (HR. Imam Ahmad)

Penutup

Sebenarnya tidak sulit memelihara jenggot di zaman sekarang. Apalagi ketika hampir seluruh orang kini menggenggam internet. Anjuran semacam itu mudah sekali ditemukan dan banyak motivasi di dalamnya. Tinggal Anda mau atau tidak. Mungkin ini adalah hal kecil bagi Anda. Namun, berapa kali kita melihat kalau kebanyakan hal besar tercipta karena terkumpulnya hal-hal kecil secara terus-menerus?

Wallahu a’lam bish-shawab

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Tags

Related Post

Ads - Before Footer