Hukum Duduk di Atas Kubur bagi Orang Muslim

Rodi Ediyansyah

Lampung dot co – Iqro | Sebelum membahas hukum duduk di atas kubur bagi orang muslim, kita mulai dengan bicara soal aturan. Hal ini penting karena pada dasarnya sebuah hukum berangkat dari adanya aturan itu sendiri. “Aturan dibuat untuk dilanggar.” Entah siapa yang pertama mulai menerbitkan kalimat ini.

Terdengar enak, bagai lelucon, ringan saja, tetapi potensi membuat orang jauh dari kebenaran itu cukup signifikan. Pada kenyataannya, sekarang ini, lebih banyak orang pecinta freedom yang meninggikan derajat ke-freedom-annya sampai-sampai tidak peduli lagi apakah perbuatannya akan menimbulkan kerusakan dan dosa atau tidak.

Tidak Ada Kebebasan Mutlak

Semua yang berada di bumi ini tidak ada yang memiliki kebebasan absolut. Bahkan orang yang mengklaim ia telah mendapatkan kebebasan, pada akhirnya ia masih terikat oleh aturan-aturan yang dibuatnya sendiri. Seandainya bumi tidak berputar pada porosnya, tidak mungkin ada 24 jam.

Seandainya bumi tidak mengelilingi matahari, tentu tidak mungkin ada bilangan tahun. Setiap planet yang mengelilingi matahari memiliki lintasan sendiri-sendiri. Entah apa jadinya jika masing-masing planet dan benda-benda di langit melanggar lintasannya. Mungkin alam raya akan kacau balau.

Di sinilah sebuah aturan penting disimak, dipelajari, dan direnungkan. Kita hidup di dunia diatur oleh ketetapan hukum Allah SWT dalam ayat-ayat Al-qur’an dan teladan Rasulullah SAW dalam As-sunnah. Bumi bukan milik kita. Bahkan kita sendiri bukan milik kita, melainkan kepunyaan Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apabila aturan itu tidak diindahkan lagi, mungkin Allah SWT tidak akan lagi peduli pada kita. Kenikmatan bumi akan diambil kembali.

Soal Kematian

Apakah Anda tahu apa yang paling dekat dengan manusia? Ya, betul, yang paling dekat dengan kita adalah kematian, dan yang paling jauh dari kita adalah masa lalu. Sementara Alam Kubur adalah tempat perantara kita (transit) setelah mati sebelum memasuki gerbang kehidupan baru di Padang Mahsyar.

Banyak yang lalai akan hal ini. Dibandingkan dengan kehidupan, kematian jauh lebih suci. Di sana tidak ada lagi kepalsuan.

Hukum Duduk di Atas Kubur

Tapi masih banyak orang yang dengan entengnya duduk di atas kuburan milik saudaranya sendiri, menginjak kuburan saudaranya sendiri, maupun membuat bangunan megah di atas kuburan. Padahal ketiga-tiganya adalah hal yang dilarang keras oleh Rasulullah SAW. Untuk lebih jelasnya, coba Anda simak uraian hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda: “Andai seseorang duduk di atas bara api hingga (api itu) membakar pakaian sampai kulitnya, itu lebih baik baginya daripada duduk di atas kubur.” (HR. Muslim)

Setiap ayat Al-qur’an turun, biasanya disebabkan oleh peristiwa tertentu. Begitu pula sabda Nabi Muhammad SAW. Kalau pada hari itu tidak ada orang yang duduk di atas kuburan, tentu hadits Rasulullah SAW di atas tidak mungkin ada.

Bagi sebagian ulama berpendapat, bahwa duduk di atas kuburan hukumnya haram, karena seseorang yang melakukannya berarti ia telah menghinakan saudaranya sendiri. Terutama kuburan dari seorang muslim. Untuk kuburan orang non-muslim atau kafir, tentu berbeda lagi hukumnya.

Hadits di atas memiliki makna yang jelas dan hampir tidak ada indikasi multitafsir sama sekali. Namun, sebagian dari ulama lain berpendapat, bahwa yang dimaksud duduk di atas kubur itu bermakna duduk sambil buang hajat sehingga duduk biasa di atas kubur hukumnya menjadi boleh.

Pendapat terkuat tentu dilarangnya kita duduk di atas kubur. Sebab, hampir tidak mungkin orang yang sehat akalnya akan mengencingi kuburan maupun buang hajat dengan cara lain di tempat tersebut.

Kubur bagi orang muslim merupakan rumah pribadinya sebelum ia menghadapi yaumul ba’ats atau hari ketika orang-orang yang telah meninggal dunia dibangkitkan. Saat itu ia telah sepenuhnya meninggalkan rumah keduanya setelah rumah di dunia menuju rumah abadinya setelah yaumul jaza atau hari pembalasan atas amal-amalnya ketika hidup di dunia. Pada hari terakhir itu, tiada satu amalan setitik debu yang luput dari balasan Allah SWT.

Hadits lain tentang hukum duduk di atas kubur yakni Rasulullah SAW juga pernah bersabda: “Janganlah kalian menduduki kuburan dan jangan pula shalat dengan menghadap kubur.”(HR. Muslim).

Apakah Anda masih berpikir kalau kalimat, “aturan dibuat untuk dilanggar”, sebagai kalimat yang indah dan layak diikuti? Padahal dampaknya bisa berkelanjutan apabila Anda nekat melakukannya.

Terlebih lagi sudah ada dua hadits dari Rasulullah SAW yang memperingatkan dengan keras untuk orang yang suka duduk di atas kuburan. Tentu saja, hal ini tidak berlaku untuk orang yang belum tahu ilmunya. Sebab, Allah SWT hanya menghitung amalan manusia di bumi berdasarkan ilmu yang dimiliki.

Wallahu a’lam bish-shawab

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Tags

Related Post

Ads - Before Footer