Pengertian, Macam-macam dan Contoh Hadits Dhaif yang Boleh Diamalkan

Rodi Ediyansyah

Lampung dot co – Iqro | Secara bahasa, dhaif artinya lemah. Jadi, hadits dhaif merupakan hadits yang lemah disebabkan karena riwayat sanadnya tidak sambung-menyambung maupun terdapat cacat pada perawinya. Jenis hadits ini sebenarnya sudah berulang-ulang kali diserukan, tetapi kiai maupun dai mempergunakan terus-menerus.

Hal itu tentu baik adanya, tetapi dengan syarat: tidak boleh mengesampingkan, bahkan meniadakan keberadaan hadits shahih maupun hasan. Sebab, dua hadits ini jauh lebih baik diamalkan daripada yang hadits dhaif.

Sebagai perumpamaan, apakah Anda lebih suka tinggal di dalam rumah yang dinding-dindingnya sudah keropos? Lantainya rusak? Atap-atapnya sudah rapuh dan Anda tidak bisa menjamin esok hari bakal roboh atau tidak. Saat itu, bukan hanya Anda yang terkena dampaknya. Dengan mempertahankan rumah Anda dalam keadaan begitu, berarti Anda membiarkan anak dan istri Anda turut terancam keselamatannya.

Akan lebih baik ketika Anda tinggal di rumah yang tiang-tiangnya kokoh, atap dan dinding dijamin kuat dan tidak bocor, juga peralatan sekaligus perlengkapan rumah tangga tersedia lengkap tanpa kurang suatu apa pun. Dalam kondisi seperti ini, Anda dan keluarga tidak hanya dijamin keamanannya saat itu, tetapi juga dampak keamanan dan kenyamanannya bisa berlangsung dalam waktu yang lama.

Macam-macam Hadits Dhaif

Adapun hadits bisa dikatakan dhaif, paling banyak adalah karena terdapat cacat pada perawinya. Hal itu bisa menyebabkan banyak hal yang tentu tidak enak didengar maupun diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja?

Hadits Maudhu’

Hadits maudhu’ merupakan hadits yang dibuat seseorang dan tidak punya dasar sama sekali sehingga bisa menimbulkan kontroversial. Hadits ini tentu tidak bisa dijadikan pedoman sehari-hari. Sebab utamanya adalah karena dulunya berasal dari mulut pendusta yang kemudian dinisbatkan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam demi kepentingan tertentu. Salah satu pendusta yang terkenal adalah Ziyad ibnu Maimun.

Hadits Matruk

Kalau hadits maudhu’ merupakan hadits dari seorang pendusta, maka hadits matruk berasal dari seseorang yang disangka suka berdusta. Dianggap sebagai pendusta, tentu tidak akan jadi bagian dari sejarah karena hal itu hanya akan menambah keragu-raguan, terutama untuk kita yang hidup jauh dari mereka. Salah satu perawi yang masuk golongan ini adalah Juwaibir ibnu Sa’id.

Hadits Munkar

Hadits munkar berasal dari seorang perawi yang dhaif atau menyalahi orang kepercayaan. Tidak hanya pada sebatas sanad (sandaran), tetapi juga pada matan (kekokohan dan kedudukan).

Hadits Mubham

Hadits ini tidak layak diikui sebab tidak menyebutkan nama orang dalam sanad-nya, entah itu laki-laki ataupun perempuan. Orang yang tidak jelas asal-usulnya saja sulit diterima masyarakat, apalagi masuk, tentu lebih tidak bisa.

Contoh Hadits Dhaif yang Boleh Diamalkan

Adapun amalan dengan hadits dhaif tentu tidak tertutup begitu saja. Namun semuanya perlu pertimbangan yang berarti. Tidak boleh sembarangan dalam mengamalkannya. Memangnya apa saja ketentuan agar boleh mengamalkan hadits dhaif? Menurut Imam As-Suyuti ada 5 poin penting.

Tidak Menyangkut Aqidah

Misal persifatan pada Allah Subhanau Wata’ala. Sebab, apabila hadits lemah dijadikan sandaran untuk memvonis seseorang bersalah atau tidak hanya karena membahas sifat-sifat Allah, bukan hanya pendapatnya yang jadi lemah, tetapi juga kualitasnya. Dan apabila pendapat itu dituruti, tentu akan merugikan banyak orang, terutama soal keterjaganya kualitas iman.

Bukan Hukum Halal dan Haram

Lemahnya hadits untuk menentukan makanan ini haram dan makanan itu halal tidak bisa dijadikan patokan. Sebab, makanan yang telah memasuki mulut dan perut, dampaknya juga akan mempengaruhi seluruh tubuh. Jika tubuh sudah terpengaruh, keadaan jiwa seseorang pun akan terpengaruh. Tentu ini bukan kabar baik, sementara yang kita inginkan hanyalah hidup secara berkualitas.

Tidak Terlalu Lemah

Lemah saja tidak dianjurkan, apalagi terlalu lemah. Hal seperti ini terjadi karena perawinya dituduh dusta, pendusta, dan terlalu banyak kekeliruan dalam periwayatan hadits. Hadits yang terlalu lemah seperti ini sangat kompleks dan lebih dari 90% untuk tidak diikuti karena berpotensi bisa menyesatkan pengamalnya.

Bernaung di Bawah Hadits Shahih

Hadits shahih adalah hadits yang sudah dijamin kebenarannya juga kadar manfaatnya. Tentu hadits ini yang paling diutamakan daripada hadits yang lain. Tetapi, kalau Anda ingin juga mengamalkan hadits dhaif, tentu alangkah baiknya pilih hadits yang bernaung di bawah hadits shahih agar terhindar dari kemungkinan buruk.

Tidak dalam Bentuk Kehati-hatian

Pedoman itu bersifat mutlak. Ragu sedikit saja, kualitas imannya dipertanyakan. Maka dari itu, apabila ada sebuah hadits yang bertujuan untuk berhati-hati terhadap sesuatu, lebih baik dikesampingkan. Jauh lebih baik mengamalkan hadits yang membuat keyakinan kita terhadap Allah dan Rasulullah meningkat tajam. Tapi apabila Anda menemukan hadits dhaif dengan kriteria di atas tidak mengapa.

Salah satu hadits dhaif yang terkenal beredar di masyarakat antara lain; “Beramallah engkau untuk dunia seakan hidup selamanya dan beramallah untuk akhirat seakan esok engkau mati.” Ini bukan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam. Hadits ini dicap dhaif karena perawinya terputus antara rawi dari sahabat dengan Abdullah bin Amr.

Penutup

Jauhnya keberadaan kita dengan kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam membuat banyak orang taklid buta pada hadits yang sebenarnya dhaif. Namun hal itu tentu semuanya begitu. Sebab, keabsahan hadits dari shahih hingga dhaif akan selalu terang-benderang selama banyak yang merawatnya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Related Post

Ads - Before Footer