fbpx
Connect with us

Iqro

Dampak Kesaksian Orang yang Masih Hidup terhadap Jenazah

Anjuran untuk melakukan perbaikan dan kebaikan selalu disuarakan dari mimbar ke mimbar, dari mulut ke mulut, dan dari sikap ke sikap.

Published

on

Jenazah
Ilustrasi Jenazah | Foto: Ist.

Lampung dot co – Iqro | Mungkin Anda sudah terlalu sering mendengar pepatah, “Harimau mati meninggalkan belang, kambing mati meninggalkan tanduk, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan nama.” Setiap makhluk hidup meninggalkan hal-hal penting yang menjadi identitasnya semasa hidup. Dibanding tubuh, nama manusia akan jauh lebih dikenang oleh orang-orang yang masih hidup.

Oleh karena itu, anjuran untuk melakukan perbaikan dan kebaikan selalu disuarakan dari mimbar ke mimbar, dari mulut ke mulut, dan dari sikap ke sikap. Manusia memang tempatnya salah dan lupa, ketika tiada lagi yang mengingatkan, hanya bayang-bayang hitam maupun ajakan untuk berbuat buruklah yang selalu menyinggahi hatinya. Seruan kebaikan bisa diumpamakan sebagai nyala obor di tengah gulitanya malam.

Pada hari ini, apa saja yang Anda persiapkan untuk mati? Lebih perhatian mana, mempersiapkan diri untuk menjadi orang kaya, atau menjadi calon jenazah yang layak mendapatkan kehidupan terbaik di akhirat? Biasanya orang akan memilih yang pertama, sebab, wajah surga terlalu bias daripada koin di genggaman tangan.

Hal ini bukan mustahil. Dari hari ke hari kita bisa melihat orang-orang berlomba meninggikan gedung dan memperindah dinding bangunan agar mendapat pujian dari sesama. Padahal pujian seperti itu tidak berharga dan tidak bisa menolongnya sedikit pun untuk kehidupannya kelak di akhirat. Kebanyakan acuh terhadap bangunan yang ada dalam jiwa mereka sendiri.

Kalau boleh kita jujur, biasanya penilaian seseorang terhadap sesama yang masih hidup tidak sepenuhnya benar. Benar dalam arti apa yang diucapkan di lidah tidak sejalan dengan gerak hati. Namun sebaliknya, misal, ketika Anda memuji seseorang yang sudah meninggal, biasanya potensi Anda berkata jujur lebih besar. Hal ini tidak bisa dirumuskan atau direncanakan. Semua telah berjalan secara alami.

Namun, apakah Anda sudah tahu, kalau kesaksian orang yang masih hidup terhadap jenazah memiliki dampak yang besar? Mungkin sebagian orang sudah tahu. Tapi tidak menjamin sebagian lagi mengetahui. Untuk lebih lengkapnya, silakan Anda menyimak hadits berikut ini.

Rasulullah SAW bersabda: “Tiadalah empat orang muslim yang bersaksi kalau seorang jenazah itu baik, maka Allah pun memasukkannya ke dalam surga.” Kami (sahabat) berkata: “Bagaimanakah seandainya hanya 3 orang saksi?” Nabi Saw menjawab: “Meskipun hanya tiga.” Kami (sahabat) kembali berkata: “Seandainya hanya dua?” Beliau menjawab kembali: “Walaupun hanya dua.” Kemudian kami tak lagi bertanya seandainya hanya satu saksi. (HR. Imam Bukhari).

Hadits di atas membuktikan betapa dahsyatnya dampak dari hasil pekerjaan manusia di bumi. Bukan hanya amalan yang bisa membuatnya bisa memasuki jannah-Nya. Seluruh perbuatannya semasa hidup akan disaksikan oleh orang-orang di sekelilingnya. Dan kesaksian mereka akan menentukan apakah jenazah tersebut layak menggapai surga atau justru tercebur ke dalam lautan api neraka.

Sekali lagi, ini tidak bisa dirumuskan maupun dibuat-buat. Semua telah berjalan secara alami, jika kesaksian orang terhadap manusia yang telah meninggal biasanya mengandung lebih banyak nilai kejujuran daripada hal-hal yang bersifat intimidasi, intervensi, maupun hal-hal bersifat menjatuhkan. Mau menjatuhkan apa, sementara orang tersebut lebih dari jatuh, melainkan terkubur di dalam bumi?

Mungkin Anda akan bertanya satu hal terkait hadits di atas. Mengapa para sahabat tidak bertanya seandainya orang yang bersaksi hanya berjumlah satu? Jawaban yang paling sederhana tentu saja karena manusia adalah makhluk sosial. Tidak mungkin ia hidup hanya ditemani oleh satu orang. Kalaupun ada, tentu kesaksiannya tidak bisa dijadikan pegangan. Dalam pernikahan pun, saksi yang hadir minimal dua orang agar pernikahan bisa dianggap sah dalam agama.

Bahkan perihal menuntut ilmu, Anda pun tidak bisa langsung membuat fatwa begitu saja kalau hanya berguru pada satu ustadz. Perlu lebih dari satu guru agar ilmu yang Anda dalami memiliki referensi yang terjamin dan bisa meyakinkan banyak orang. Begitu pun perihal kesaksian orang yang masih hidup terhadap jenazah.

Namun, ada hal yang patut Anda hindari ketika memberikan kesaksian terhadap jenazah. Semua yang Anda sampaikan sebaiknya murni berdasarkan nurani Anda. Bukan dibuat-buat, sebab nanti jatuhnya pada kesaksian palsu. Dampak dari kesaksian palsu ini berat. Apakah ada hadits yang mendasarinya? Ada.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah suatu kali ditanya perihal dosa-dosa besar.” Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Mempersekutukan Allah Swt, membunuh jiwa, dan kesaksian palsu.”

Kesaksian palsu bahkan melebihi dosanya orang yang berzina. Na’udzubillah. Oleh karena itu, Anda hati-hati dalam memberikan kesaksian terhadap orang yang sudah tiada. Sebab, hal itu bisa berdampak untuk Anda, maupun untuk ia yang telah tiada. Tanamlah dan sebarlah benih-benih kebaikan sebanyak mungkin di hamparan bumi yang kering dan hitam ini, agar kita bisa menuai kebaikan pula setelah meninggalkan bumi yang semakin tua ini.

Wallahu a’lam bish-shawab

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Doa

Lima Versi Bacaan Doa Iftitah: Arab, Latin dan Artinya

Doa Iftitah memiliki beberapa versi, namun hal itu tidak mengubah makna dasar doa tersebut yakni menumbuhkan kesadaran akan kebesaran dan keagungan Tuhan.

Published

on

Sholat Subuh
Ilustrasi Sholat | Foto: Ist.

Lampung dot co – Iqro | Doa Iftitah adalah salah satu doa penting dalam ibadah shalat dalam agama Islam. Doa ini merupakan ibadah sunnah yang diamalkan dalam sholat setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca ta’awudz dalam setiap sholat fardhu ataupun sholat sunnah kecuali sholat jenazah dan Idul Fitri, atau Idul Adha.

Doa Iftitah memiliki beberapa versi, namun hal itu tidak mengubah makna dasar doa tersebut yakni menumbuhkan kesadaran akan kebesaran dan keagungan Tuhan.

Doa Iftitah Versi 1

Arab

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا. اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Latin

“Allaahu akbar kabiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa’ashiilaa. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha haniifan musliman wa maa anaa minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.”

Artinya

“Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang. Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan atau dalam keadaan tunduk, dan aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan yang demikian itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah termasuk orang-orang muslim.”

Doa Iftitah Pendek Versi 2

Terdapat juga doa iftitah pendek. Berdasarkan hadist riwayat Abu Daud, Rasulullah pernah mengamalkan doa iftitah ini.

Arab

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ

Latin

“Allahu akbar kabiiro, allahu akbar kabiiro, allahu akbar kabiiro, walhamdulillahi katsiiro, walhamdulillahi katsiiro, walhamdulillahi katsiiro, wa subhanallahi bukrotaw washilaa, wa subhanallahi bukrotaw washilaa, wa subhanallahi bukrotaw washilla a’udzu billahi minasy syaithooni min nafkhihi, wa naftshihi, wa hamzih.”

Artinya

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Aku berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan, dan godaan setan.

Versi 3

Rasulullah SAW juga membaca doa iftitah pendek lainnya seperti hadist riwayat Bukhari, dan Muslim.

Arab

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Latin

“Allahumma baa’id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii minal khathaayaa kamaa yunaqqatsawbul abyadlu minaddanasi. Allahummaghsil khathaayaaya bil maai watstsalji walbaradi.”

Artinya

Ya Allah, jauhkan lah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkan lah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cuci lah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.

Versi 4

Doa iftitah ini dibaca ketika Rasulullah SAW melakukan sholat malam. Hal tersebut berdasarkan hadist riwayat Muslim.

Arab

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Latin

“Allahumma robba jibroo-iila wa mii-ka-iila wa isroofiila, faathiros samaawati wal ardhi ‘aliimal ghoibi wasy syahaadah anta tahkumu bayna ibaadika fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun, ihdinii limakhtulifa fiihi minal haqqi bi-idznik, innaka tahdi man tasyaa-u ilaa shirootim mustaqiim.”

Artinya

Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkan lah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.

Versi 5

Arab

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

Latin

“Subhaanakallahumma wa bi hamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaha ghairuk.”

Artinya

Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.

Makna Doa Iftitah

Makna doa Iftitah mencerminkan kesadaran akan kebesaran dan keagungan Tuhan. Doa ini mengajarkan untuk membuka setiap ibadah sholat dengan penuh kesadaran akan kehadiran Allah serta keinginan untuk memperoleh rahmat-Nya. Doa Iftitah menjadi sarana untuk mengokohkan komitmen kita dalam mendekatkan diri kepada-Nya, membuka hati untuk menerima petunjuk-Nya, dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap langkah kehidupan.

Pentup

Doa Iftitah adalah wujud dari kepatuhan dan penghambaan kepada Sang Pencipta. Dengan membaca doa ini, umat Muslim diingatkan akan pentingnya menjalin hubungan yang erat dengan Allah dan merasakan kedekatan spiritual yang mendalam.

Wallahu a’lam bish-shawab

Continue Reading

Iqro

Hukum Membaca Al-Qur’an di Kuburan Menurut 4 Imam Mazhab

Pertanyaan berikutnya, apakah hukum membaca Al-qur’an di sisi kubur itu boleh dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita kembalikan lagi ke asalnya. Tentu saja kembali pada Al-qur’an dan Al-hadits.

Published

on

Hukum Membaca Al-Qur'an di Kuburan
Ilustrasi Membaca Al-Qur'an di Kuburan | Foto: Ist.

Lampung dot co – Iqro | Pemakaman bahagia ialah pemakaman yang sering dikunjungi. Orang yang sudah meninggal dunia, ia juga meninggalkan apa-apa yang ia miliki di dunia. Merasa kesepian, sendirian, tiada teman, tiada orang untuk diajak mengobrol. Yang tersisa di dunia hanyalah buah amal dan keluarga. Alangkah beruntung ketika seseorang yang meninggal dunia, ia masih memiliki keluarga yang rajin mengunjungi rumah barunya.

Alangkah tidak beruntung, ketika ia meninggal dunia, keluarga malah ribut soal harta warisan. Kondisi makam tak terawat dan daun-daun yang berguguran ke permukaan makamnya tiada yang membersihkan. Kondisi makam yang serupa ini tak terhitung lagi jumlahnya. Kehujanan pun tiada peduli. Seolah-olah ia tidak ada dan tidak pernah terlahir ke dunia.

Tentang Ziarah Kubur Musiman

Paling tidak, kita pernah atau kerap melihat kegiatan ziarah musiman. Apa itu ziarah musiman? Tak bukan dan tak lain adalah ziarah yang dilakukan setahun sekali, misalkan pada waktu menjelang masuk bulan Ramadhan. Kebiasaan ini belum luntur di beberapa daerah. Anak-ayah pergi ke kuburan. Mereka membaca Al-qur’an, bershalawat, dan juga membersihkan area sekitar.

Bukankah itu pemandangan yang indah? Meskipun hanya setahun sekali, penghuni kubur tentu akan senang karena beban azab mereka diringankan oleh keluarga sendiri. Mungkin mereka saat itu sedang dipalu, dicacah, disembelih, ditusuk, dirayapi ular ganas yang beracun, dan beragam siksaan yang tersedia. Namun, berkat doa dan bacaan Al-qur’an dari anak dan cucu, ia bisa bernapas lega karena untuk sementara siksaan itu terhenti.

Kalau saja ia bisa bicara, tentu yang diucapkan pertama kali adalah ungkapan terima kasih. Membaca Al-qu’an dan berdoa termasuk kegiatan yang ringan di lidah, tapi berat di niat. Siapa yang bisa melewati hal ini, tentu ia termasuk manusia-manusia pilihan. Sebab, lebih banyak orang yang bicara harta dan dunia daripada kematian dan akhirat. Sementara doa dan membaca Al-qur’an tidak bisa dikomersilkan.

Hukum Membaca Al-Qur’an di Kuburan

Pertanyaan berikutnya, apakah hukum membaca Al-qur’an di sisi kubur itu boleh dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita kembalikan lagi ke asalnya. Tentu saja kembali pada Al-qur’an dan Al-hadits. Sebab, dua warisan terindah dari Rasulullah Saw hanya dua pegangan itu.

Dari Abdullah ibnu Umar, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda: ‘Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka janganlah kalian menahannya, segerakan ia ke kuburnya, bacakan di sisi kubur dengan Al-Fatihah dan di sisi kedua kakinya dengan akhir surat Al-Baqarah”. (HR. At-tabrani)

Seorang mayat yang jasadnya ditahan-tahan di rumah, hal itu akan menyulitkan proses penyatuan kembali ke tanah. Apabila mayat itu meninggal dunia akibat penyakit yang bisa menular, tentu akan berdampak buruk terhadap lingkungan. Lagi pula hal itu jelas berseberangan dengan perintah Rasulullah Swa. Kita diciptakan dari tanah, dan ketika meninggal, akan kembali pula ke tanah. Semakin cepat semakin baik.

Pendapat 4 Imam Mazhab

Imam Syafi’i dan para ulama lainnya yang ber-madzhab Syafi’i berpendapat bahwa membaca sebagaian dari Al-qur’an di sisi kubur itu sangat dianjurkan. Misal, seperti di hadits di atas: surat Al-Fatihah dan akhir surat Al-Baqarah. Namun, apabila ada di antara peziarah yang mampu mengkhatamkan Al-qur’an secara keseluruhan pada saat itu juga, maka hal itu lebih utama.

Para ahli fikih telah berpendapat tentang hukum membaca Al-qur’an di sisi kubur. Menurut madzhab Syafi’i dan Imam Muhammad bin Al-Hasan hukumnya dianjurkan, disebabkan sifat keberkahan yang dimiliki Al-qur’an itu sendiri. Menurut Imam Ahmad bin Hambal hukumnya boleh. Sementara menurut Imam Maliki dan Imam Hanafi hukumnya makruh.

Pendapat para ulama

Dari banyaknya pendapat ulama yang membolehkan bacaan Al-qur’an di sisi kubur menjadi sinyal bagus untuk kita agar bisa meringankan beban azab yang dipikul oleh para penghuni kubur, misal kakek kita. Tapi, lebih banyak mana, orang yang berziarah atau yang tidak peduli dengan kegiatan ziarah?

Wallahu a’lam bish-shawab

Continue Reading

Iqro

Menghadiahkan Bacaan Al Qur’an untuk Mayit, Apakah Pahalanya Sampai?

Dalam perkembangannya, terjadi gesekan yang cukup populer di tubuh umat Islam terkait sampai atau tidaknya pahala akibat membacakan Al-qur’an pada orang yang sudah meninggal dunia.

Published

on

Membaca Al Qur'an untuk Mayit
Ilustrasi Membaca Al Qur'an | Foto: Ist.

Lampung dot co – Iqro | Dalam masyarakat kita, mengirim bacaan Al-qur’an untuk orang yang sudah meninggal itu sudah lumrah adanya. Hal yang sering dilakukan antara lain mengirim surat Al-Fatihah yang dalam intro-nya dikhususkan untuk arwah si fulan dan si fulan. Utamanya adalah ketika datang malam Jum’at.

Namun, dalam perkembangannya, terjadi gesekan yang cukup populer di tubuh umat Islam terkait sampai atau tidaknya pahala akibat membacakan Al-qur’an pada orang yang sudah meninggal dunia.

Apakah pahala dari membacakan ayat-ayat Al-qur’an untuk si arwah atau mayit itu benar-benar sampai dengan niatan dikhususkan? Atau apakah pahala itu tetap hanya untuk pembacanya saja? Ikhtilaf pada poin ini sebaiknya dikembalikan pada yang lebih tahu.

Kita tidak bisa memutuskan sesuatu begitu saja berdasarkan penafsiran sendiri. Apa pendapat para ‘alim-ulama terkait hal ini? Simak uraian di bawah ini. Semoga bisa menjadi rujukan yang baik untuk Anda.

Pendapat Imam Ibnu Taimiyah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa dengan membacakan Al’quran untuk orang yang sudah meninggal dunia pahalanya akan tetap sampai. Hal ini menjadi sejalan dengan doa, istighfar, dan shalat jenazah yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang sudah meninggal).

Beliau memiliki cenderung terhadap hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim berikut. Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang meninggal dunia, sedangkan ia masih memiliki kewajiban berpuasa, maka walinya melaksanakan puasa untuknya.”

Hadits tersebut diragukan oleh ayat Al-qur’an dalam surat An-Najm ayat 39: “Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain dari apa yang telah diusahakannya.” Memang benar bahwa setiap usaha manusia hanya mendapat pahala dari apa yang diusahakannya.

Namun, dalam kacamata lain, kita sudah sering melihat doa seseorang untuk orang lain yang telah meninggal. Apakah yang menerima manfaat hanya si pelantun? Bahkan hal ini juga semakin diteguhkan dalam ayat Al-qur’an.

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka (kaum Muhajirin dan kaum Anshar) pun berdoa: ‘Ya Allah, berilah ampun pada kami dan saudara-saudara kami yang lebih dahulu beriman dari kami, dan janganlah Kau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al Hasyr: 10)

Menurut Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Terkait hal ini, ulama besar, Imam Ibu Qayyim Al-Jauziyah memiliki pendapat yang sama dengan Imam Ibnu Taimiyah. Beliau berpendapat bahwa membacakan Al-qur’an untuk orang yang sudah meninggal dunia dengan sukarela, maka pahalanya akan sampai sebagaimana pahala puasa dan haji yang ditunaikan untuk menetapi nazar dan hutang si mayat.

Pemikiran Syakh Ibnu Utsaimin

Beliau berpendapat, ada yang lebih afdal daripada membacakan Al-qur’an untuk orang yang sudah meninggal. Apa itu? Dengan doa. Semua ulama tiada ikhtilaf soal ini. Sebab, telah terangkum dengan jelas dalam hadits berikut.

Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, ampunilah orang-orang yang masih hidup dan orang-orang yang sudah meninggal dunia di antara kami.” (HR. At-Tirmidzi).

Kesimpulan

Berdasarkan tiga pendapat di atas, membacakan Al-qur’an untuk si mayat tetap akan bermanfaat terhadapnya. Namun dengan dasar sukarela tanpa upah sama sekali. Dengan kata lain, pembacaan Al-qur’an itu tidak ada unsur bayar-membayar atau sewa-menyewa jasa orang pintar agar membacakan Al-qur’an untuk si arwah.

Hal ini sudah termasuk dalam menjual agama demi dunia. Dan ini bukan perkara baik untuk diteladani, meskipun sudah lumrah adanya. Namun, hal tersebut pun juga bisa menjadi ikhtilaf di antara kalangan masyarakat.

Sebab, masih ada orang yang sampai sekarang belum bisa membaca Al-qur’an, sementara ia ingin menghadiahkan pahala dari ayat Al-qur’an untuk orang yang sudah meninggal seperti kemauannya.

Dalam problematika ini, sangat dianjurkan untuk bertolak pada pendapat Syaikh Ibnu Utsaimin, yakni berdoa lebih baik. Adakah manusia di bumi ini yang tidak bisa memanjatkan doa pada Allah Swt? Rasanya tidak ada.

Penutup

Demikian uraian singkat mengenai tiga pendapat para ulama yang menyoal sampai-tidaknya pahala membacakan ayat-ayat Al-qur’an untuk orang yang telah meninggal. Namun lebih jauh disampaikan, bahwa perselisihan antar umat Islam akan selalu ada hingga hari Kiamat.

Manakah yang lebih baik, apakah perbedaan pendapat dengan cara menonjolkan urat, ataukah dengan cara-cara santun sebagaimana teladan Rasulullah Saw? Tentu saja pilihan kedua lebih baik.

Wallahu a’lam bish-shawab

Continue Reading

Banyak Dibaca