Ancaman Azab Tukang Gosip dalam Islam, Ini Haditsnya

Rodi Ediyansyah

Lampung dot co – Iqro | Sebelum jauh membahas azab tukang gosip, sebelumnya bicara dulu soal godaan mulut dan kemaluan. Hal itu penting karena kedua organ tubuh inilah yang sering menjadi sumber masalah dalam kehidupan kita. Di sisi lain, keduanya juga bisa menjadi ladang amal, misal mulut digunakan untuk berzikir. Apa zikir yang ringan di lidah dan berat pahalanya di timbangan?

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda: “Ada dua kalimat yang ringan ketika diucapkan tapi berat dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh Allah Swt. Dua kalimat itu, yakni ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil’azhimi.” Tidak hanya itu, apabila Anda mengucapkan sehari 100 kali, berarti Anda telah menanam 100 pohon kurma di calon surga yang akan Anda tempati.

Godaan mulut dan kemaluan

Namun, hampir tiada orang yang masih hidup bisa selamat dari godaan mulut dan kemaluan. Dua organ tubuh ini memiliki kontribusi penting dalam kehidupan sehari-hari andai digunakan dalam porsi yang tepat. Apabila porsinya berlebihan, kemungkinan untuk mengatakan kalimat dusta dan melakukan perbuatan buruk dengan kemaluan bisa jauh lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Tentu saja dampaknya lebih besar lagi.

Pernahkah Anda menyaksikan bahwa satu keputusan akibat perkataan baik maupun buruk bisa berdampak puluhan tahun? Mulut merupakan tempatnya manusia untuk berkomunikasi. Sementara kemaluan, tempatnya manusia bereproduksi agar tercipta keturunan-keturunan.

Mulut dan kemaluan yang diberdayakan dengan baik tentu akan melahirkan kalimat dan keturunan yang berkualitas. Sebaliknya, apabila mulut dan kemaluan dipergunakan di jalan keburukan, hanya akan melahirkan keburukan-keburukan lain yang bisa berdampak hingga puluhan tahun. Tidak hanya puluhan tahun, bahkan keburukan dari mulut dan kemaluan orang penting dalam suatu negeri bisa dicatat dalam lembar sejarah.

Tidak perlu jauh-jauh bicara tentang orang penting, orang di sekeliling saja sudah bisa jadi contoh. Banyak di antara kita pasti pernah membicarakan keburukan orang lain, entah itu dalam porsi kecil maupun besar. Gosip demi gosip bisa ditemukan hampir di semua tempat. Asalkan ada mulut, di situlah gosip kemungkinan bisa beredar. Banyak alasan mengapa mereka tetap bergosip meskipun sudah tahu kalau membicarakan keburukan aib orang lain itu dilarang dalam agama.

Apabila kita membicarakan keburukan orang lain, kita pasti akan jatuh diantara dua jurang. Andai apa yang kita bicarakan benar adanya, kita sudah jatuh pada ghibah. Sementara apa yang kita bicarakan ternyata tidak benar, kita sudah jatuh ke dalam fitnah. Mana di antara dua hal itu yang lebih baik? Tidak ada, yang ada mendapat ancaman azab tukang gosip. Yang lebih baik adalah diam. Apabila mampu, cegahlah orang lain ketika gosip tengah berlangsung.

Hadits tentang azab tukang gosip

Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata: “Ketika Rasulullah Saw melewati dua kubur, beliau bersabda: ‘Kedua penghuni kubur ini tengah diazab. Mereka diazab bukan sebab dosa besar. Salah satunya diazab karena buang air kecil dan satunya lagi diazab karena berjalan membawa ucapan orang lain (gosip).”

Setelah itu, Rasulullah mengambil satu pelepah kurma yang masih basah, kemudian membaginya jadi dua bagian. Beliau kemudian menampakkan kedua bagian itu pada dua makam. Para sahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah Saw, mengapa engkau melakukan hal ini?” Rasulullah Saw menanggapi: “Mudah-mudahan azab kedua penghuni kubur ini diringankan selama pelepah kurma ini masih basah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Setiap sabda Rasulullah Saw adalah kenyataan yang tak bisa dibantah oleh siapa pun. Hadits di atas membuktikan bahwa gosip bisa menjadi penyebab azab kubur yang serius dan berulang-ulang. Kalau dosa gosip ringan, tentu Rasulullah tidak akan berkata, “Mudah-mudahan azab kedua penghuni kubur ini diringankan”.

Penyebab gosip bisa menjadi dosa yang besar

Ketika mulut sudah membicarakan keburukan orang lain, hampir tidak mungkin seseorang bisa menahannya untuk membicarakan keburukan orang lebih banyak lagi. Berturut-turut. Sambung-menyambung. Perkara gosip ini bisa menimpa siapa saja. Bahkan seorang kiai pun bisa terjerat oleh dosa akibat tidak bisa menjaga mulut ini. Apalagi orang biasa? Bahkan ada yang menggosip karena ia kehabisan bahan bicara demi membuat suasana tidak dingin dan kaku.

Solusi agar terhindar dari azab tukang gosip

Apa yang harus dilakukan untuk mengurangi azab tukang gosip ketika kita sudah telanjur membicarakan keburukan orang lain? Ada dua cara untuk menebus kesalahan tersebut. Pertama, dengan meminta maaf pada pihak yang dirugikan. Dan kedua, perbanyak membicarakan kebaikan orang yang sama (dengan porsi lebih banyak). Dengan dua hal itu, selain bisa mengurangi beban dosa, meniadakan dosa, bisa juga membangun silaturahmi dan sikap saling keterbukaan antar-sesama.

Namun, kebanyakan masih merasa malu untuk meminta maaf dan merasa enggan membicarakan kebaikan orang lain. Oleh karena itu, syetan tidak pernah melewatkan kesempatan yang terbuka lebar itu. Bukan syetan yang membukanya, melainkan calon korbannya sendiri. Sampai ada pepatah, “Syetan tidak pernah salah.” Percuma menyalahkan syetan, sebab memang begitulah tugasnya. Sementara tugas kita adalah membentengi diri dari jalan lebar tempat keluar-masuk bisikan setan.

Wallahu a’lam bish-shawab

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Tags

Related Post

Ads - Before Footer