Menu

Pupuk Indonesia Stop Produksi Urea Jika Harga Gas Masih Tinggi

  Dibaca : 410 kali
Pupuk Indonesia Stop Produksi Urea Jika Harga Gas Masih Tinggi

Lampung.co – PT Pupuk Indonesia (Persero) menyebutkan pihaknya tidak akan memproduksi pupuk urea lagi, apabila harga gas untuk industri nantinya masih sangat tinggi. Saat ini, harga gas yang telah ditetapkan sebesar USD6 per MMBTU dinilai masih terlalu mahal.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Aas Asikin Idat mengungkapkan, produksi utama Pupuk Indonesia sekarang ini untuk kepentingan dalam negeri khususnya pangan. Namun, apabila harga gas masih tinggi maka perseroan tidak akan memproduksinya kembali.

“Pupuk Indonesia utamanya untuk memproduksi pupuk kepentingan dalam negeri dan pangan. Kedepannya, kita tidak akan di pupuk lagi kalau kedepannya masih seperti ini. Jadi kita akan banting setir, termasuk turunannya di petrokemikal,” ujar dia di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (16/10/2017) sebagaimana dikutip dari sindonews.com.

Nantinya, perseroan akan menambah produksi pupuk nitogen, fosfor, dan kalium (NPK). Bahkan, rencananya perseroan bakal menambah kapasitas pabrik NPK menjadi 1,4 juta ton sampai 2021 dan 3,4 juta ton pada masa yang akan datang.

“Urea yang ada, kami jadikan bahan baku untuk membuat NPK. Kami akan memperbesar NPK dan dalam waktu dekat akan program penambahan pabrik untuk NPK itu 1,4 juta sampai 3,4 juta ton untuk pupuknya,” tutur dia.

Di samping itu, perseroan juga bakal mengembangkan pabrik pupuk NPK di Lhokseumawe, Aceh. Ditambah pula, perseroan juga mengemban tugas dari Kementerian BUMN untuk membuat pabrik metanol di daerah Bintuni, Papua Barat.

“Yang kami rencanakan itu pengembangan pabrik pupuk di Lhokseumawe akan dibangun pabrik NPK sekitar 1 juta ton. Di Pusri, di Kujang juga akan dibangun pabrik NPK, Kaltim juga akan dibangun pabrik NPK. Terus ada tugas dari Kementerian BUMN untuk di Bintuni membuat metanol,” kata dia.

“Pupuk Indonesia dalam keadaan babak belur. Ini kita lakukan efisiensi. Pertama, kami minta ke pemerintah agar harga gas turun. Ini juga Alhamdulillah tadinya USD8-USD9 per mmbtu sekarang sudah ditetapkan rata-rata USD6 per mmbtu. Tapi itu belum cukup karena pesaing kita sekira USD1-USD3 per mmbtu,” katanya di Press Room Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (16/10/2017). (Erwin/sindonews.com)

Iklan Baris
Wooww... Undangan Pernikahan Murah Hanya Rp. 950. Telp/WA: 0857-8976-8640

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Banner Ads

- Iklan Layanan Masyarakat -


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional