Menu

CEO Blanja.com Ingin Pelaku Bisnis di Media Sosial Terkena Pajak

  Dibaca : 153 kali
CEO Blanja.com Ingin Pelaku Bisnis di Media Sosial Terkena Pajak
Ilustrasi

Lampung.co – CEO Blanja.com yang juga Ketua Umum Indonesia E-Commerce Association (iDEA), Aulia Ersyah Marinto menginginkan regulasi pajak yang akan menyasar pebisnis e-commerce dengan kategori marketplace nantinya diharapkan diberlakukan pula ke pebisnis di media sosial (medsos).

Sebab, jika hanya diterapkan di platform situs e-commerce saja, dikhawatirkan, marketplace itu justru mati karena para pebisnis online pindah ke media sosial yang saat ini juga banyak diminati.

“Aturannya harus menjangkau semua media, jangan hanya bahasanya marketplace saja. Dia (pajak) harus diberlakukan untuk e-commerce platform, marketplace dan media lain. Media lain itu social media,” ujar dia saat ditemui di sela acara diskusi di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (4/10/2017) sebagaimana dikutip dari detik.com.

Selain itu, hal ini perlu dilakukan lantaran para pelaku usaha di media sosial juga akan semakin bertambah, seiring dengan bertambahnya platform di masa akan datang.

“Jangan hari ini cuma berpikir Instagram dan Facebook. Kira-kira kalau muncul lagi 3 tahun lagi yang baru bagaimana. Pemiliknya saja pemerintah enggak kenal, kalau pemilik marketplace pemerintah kan kenal,” ujar Aulia.

Dia mengakui, bakal sulit melacak kewajiban pajak dari pebisnis yang melakukan bisnisnya di media sosial. Namun hal ini menurutnya perlu didiskusikan lebih jauh. Sebab selama ini pemerintah belum menjelaskan secara detail, bagaimana mekanisme dan substansi e-commerce yang akan dikenakan pajak.

“Kita masih berpikir sama-sama dengan berbagai stakeholder, bagaimana caranya menarik pajak untuk medsos. Tentunya pemerintah lebih tahu. Jadi banyak hal yang harus didiskusikan. Jadi bukan soal kita keberatan,” papar dia.

Aulia sendiri tak begitu mempermasalahkan soal tarif yang akan dikenakan. Dia percaya, pengenaan tarifnya nanti akan adil sebagaimana yang sudah dilakukan pada wajib pajak lainnya. Namun sasaran lokasi pelacakan wajib pajaknya juga mesti ditentukan, tidak hanya pada platform situs e-commerce.

“Tarif pajak memang belum dibicarakan. Kita tahunya dari media bilangnya enggak sampai 10%. Tapi bukan soal tarifnya ini, tapi soal itu diberlakukan di marketplace, sementara tidak dikatakan di social media,” pungkasnya.

Sebelumnya Dirjen Pajak, Ken Dwijugiasteadi menuturkan, pajak e-commerce akan dikenakan pada toko online yang ada pada marketplace semisal Tokopedia dan Lazada. Namun belum disebutkan hingga saat ini apakah pelaku bisnis di media sosial juga akan terkena. (Erwin/detik.com)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Sekilas

Portal berita Lampung terbaru hari ini

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional