fbpx
Connect with us

Adat Budaya

Tentang Suku Tumi dan Kerajaan Sekala Brak

Published

on

Peninggalan Kerajaan Sekala Brak

Lampung.co – Di lereng gunung tertinggi di Lampung itu hidup sebuah suku purba yang bernama suku Tumi. Suku tersebut dimungkinkan berasal dari India beberapa millennium sebelum masehi.

Ahmad Safei, Saibatin Kepaksian Buay Belunguh, Paksi Pak Sekala Brak, mengatakan nama suku Tumi berasal dari asal nama Tamil, sebuah suku bangsa yang masih ada hingga sekarang di India.

Pendiri Kerajaan Sekala Brak
Nama dan penyebutan Kejaraan Sekala Brak memiliki beberapa versi. Ada yang menyebutnya dengan istilah Sakala Bhra, Sekala Beghak, Segara Brak, hingga Skala Brak.

Namun, semuanya merujuk sebuah unit masyarakat yang didirikan Suku Tumi pada abad ke-3 Masehi yang berpusat di lereng Gunung Pesagi, dekat Danau Ranau, Lampung Barat.

Pendiri kerajaan ini menurut William Marsden (2008) dalam bukunya Sejarah Sumatra, seorang Raja bernama Buay Tumi.

Sebelum mendirikan pemerintahan yang lebih tertata dalam konsep kerajaan, Buay Tumi adalah pemimpin orang-orang Suku Tumi yang dipercaya sebagai suku asli Lampung.

Menurut versi lain, hasil musyawarah Kepaksian Sekala Brak pada tahun 2001 mengakui La Laula sebagai Raja pertama kerajaan ini sejak awal abad masehi, bukan Buay Tumi.

La Laula bukanlah penduduk asli. Ia bersama pengikutnya tiba di Sekala Brak dari Hindia Belakang (sekitar Vietnam dan Kamboja) pada awal abad Masehi dengan menggunakan kapal kano.

Meskipun demikian, Kepaksian Sekala Brak membenarkan eksistensi suku Tumi yang telah ada sebelum kedatangan La Laula yang mendirikan Kejaraan Sekala Brak.

La Laula tiba di sebuah negeri yang di penuhi pohon sekala di mana, di sana telah berdiam suatu entitas masyarakat yang bernama Suku Tumi.

Suku Tumi merasa terdesak dengan kehadiran La Laula yang lambat laun berhasil menarik pengikut dari kalangan masyarakat lokal.

Setelah melalui pertempuran yang cukup lama, La Laula dan pengikutnya berhasil menaklukkan Suku Tumi serta mendudukkan dirinya sebagai Raja pertama Kerajaan Sekala Brak.

Kepercayaan
Sejarah Daerah Lampung, Depdikbud (1997) menyebut masyarakat Suku Tumi masih menganut kepercayaan animisme/dinamisme sebelum kedatangan agama Hindu dari India sejak abad ke-1 Masehi.

Itu artinya, kerajaan Sekala Brak sejak didirikan merupakan kerajaan yang menganut agama Hindu meskipun masih ada yang memeluk ajaran Buddha serta kepercayaan lokal sebelumnya.

Belasa Kepampang
R. Sudradjat, dkk., (1991) dalam buku Sistem Pemajemukan Bahasa Lampung Dialek Abung, mengatakan terdapat sebuah pohon bernama Belasa Kepampang yang sangat disucikan oleh suku Tumi di Sekala Brak.

Pohon ini memiliki dua cabang, yaitu cabang nangka dan cabang sebukau. Keduanya mengandung getah dengan fungsi yang berbeda meskipun berasal dari pohon yang sama.

Jika terkena getah cabang sebukau, orang bisa terkena penyakit kulit dan berbahaya apabila dibiarkan begitu saja. Namun, ternyata ada obatnya, yakni getah dari cabang nangka.

Adanya dua cabang dengan dua getah yang bertolak belakang dalam satu pohon inilah yang membuat Belasa Kepampang dikeramatkan oleh suku Tumi.

Teguh Prasetyo (2005) dalam Masa Lalu di Lampung Barat juga menyebutkan bahwa kepercayaan ini tak hanya diyakini penduduk Kerajaan Sekala Brak saja.

Melainkan diyakini juga oleh masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Way Komering, Way Semangka, Way Sekampung, Way Seputih, Way Tulangbawang, Way Umpu, Way Rarem, dan Way Besai.

Peninggalan
Keberadaan kerajaan yang dirintis Suku Tumi itu dibuktikan dengan ditemukannya sejumlah peninggalan, seperti batu-batu, tapak bekas kaki, altar upacara, hingga tempat untuk eksekusi mati.

Louis-Charles Damais (1995) dalam Epigrafi dan Sejarah Nusantara menyimpulkan, prasasti tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Sekala Brak pada era Suku Tumi.

Akhir Eksistensi
Kerajaan Sekala Brak bertahan sangat lama hingga pada abad ke-16 M berhasil ditaklukan empat pangeran dari Paguruyung yang ingin melebarkan kekuasaan.

Konsep kerajaan Hindu yang terakhir dipimpin seorang ratu bernama Umpu Sekekhummong atau Ratu Sekerumong ini digantikan pemerintahan Islam yang disebut dengan istilah Kepaksian. (*)

12,842 kali dilihat, 94 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adat Budaya

Pakaian Adat Lampung Tampil di Acara Surabaya Vaganza

Published

on

Pakaian Adat Lampung

Lampung.co – Himpunan Mahasiswa Lampung Surabaya (Himalaya) kembali wakili Provinsi Lampung dalam acara Surabaya Vaganza, rangkaian acara hari jadi Kota Surabaya Ke-726, Minggu (24/3/2019).

Acara dalam bentuk pawai budaya tersebut dimulai dari garis start Monumen Bambu Runcing dan finish di Jalan Raya Darmo tepatnya di depan SMAK Santa Maria.

Kepala Bidang (Kabid) Seni Budaya Himalaya Fadhil Ramadhani mengatakan, pihaknya sudah dua kali mewakili Provinsi Lampung dalam acara peringatan jadi Kota Surabaya tahun ini.

Dia berujar, minggu lalu Himalaya mewakili provinsi Lampung dalam acara Rujak Uleg dan hari ini menampilkan pakaian adat Lampung dalam festival budaya dalam acara Surabaya Vaganza.

“Kami menampilkan pakaian tradisional khas Lampung dalam acara ini,” kata Fadhil dalam keterangan tertulis kepada Lampung.co, Minggu (24/3/2019).

Ketua Umum Himalaya menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah Kota Surabaya yang selalu melibatkan Himalaya dalam perhelatan akbar Kota ini.

“Kami bangga dapat mewakili Lampung untuk ikut eksis dalam acara yang dihadiri Walikota Surabaya ini,” ujar Candra dalam keterangan yang sama.

Surabaya Vaganza adalah acara rutin setiap tahun yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam rangkaian hari jadi kota Pahlawan ini.

Tahun ini Surabaya Vaganza bertemakan Puspawarni yang menampilkan keragaman budaya Nusantara. (*)

11,464 kali dilihat, 83 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Adat Budaya

Uniknya Suku Lampung, Saibatin dan Pepadun serta ‘sub-suku’ Didalamnya

Published

on

Suku Lampung

Lampung.co – Provinsi Lampung memiliki keragaman akan budaya, mulai dari adat istiadat, bahasa dan lain-lain. Keragaman ini menjadi salah satu keunikan suku Lampung itu sendiri.

Secara umum, suku di Lampung terbagi menjadi dua, yakni Lampung Saibatin dan Lampung Pepadun. Oleh karenanya, Provinsi Lampung memiliki semboyan ‘Sai Bumi Ruwa Jurai’ yang berarti Satu Bumi Dua Jiwa.

Itulah semboyan yang disandang oleh provinsi paling ujung selatan di Pulau Sumatera tersebut. Semboyan itu juga bermakna identitas asli leluhur masyarakat Lampung,.

Meskipun sama-sama menjadi masyarakat asli, namun kedua suku ini memiliki perbedaan yang cukup mencolok, baik dalam bahasa maupun tata cara dan adat istiadat lainnya.

Suku Lampung Saibatin
Masyarakat Lampung Saibatin tinggal di sepanjang pesisir Lampung. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Saibatin adalah bahasa Lampung dengan dialek “A”.Pelafalan yang digunakan oleh masyarakat ini lebih jelas, hampir setara dengan pelafalan Bahasa Indonesia pada umumnya.

Untuk adat istiadat, masyarakat suku Saibatin cenderung lebih selektif. Hal ini tercermin dalam sistem kerajaan dan pemberian gelar adat pada masyarakat. Hanya masyarakat yang memiliki garis keturunan kerajaan atau bangsawan yang berhak untuk mendapatkan gelar adat dan menjadi Raja (baca: Khaja).

Hiasan yang digunakan oleh masyarakat suku Saibatin juga berbeda dengan yang dikenakan oleh masyarakat suku Pepadun. Mahkota perempuan (Siger) Lampung Saibatin memiliki tujuh lekuk dengan hiasan bunga pada bagian atas.

Ada juga Siger yang memiliki tali yang menjuntai menutupi wajah. Siger ini digunakan oleh masyarakat suku Saibatin-Melinting di Lampung Timur. Pada acara-acara adat dan pernikahan pun warna baju yang digunakan oleh masyarakat ini adalah warna merah.

Suku Lampung Pepadun
Berbeda dengan masyarakat suku Saibatin, masyarakat suku Lampung Pepadun tinggal di daerah tengah atau daratan.

Dialek bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Pepadun adalah Bahasa Lampung dengan dialek ‘O’. Pelafalan yang diucapkan oleh masyarakat ini adalah pelafalan dengan irama atau intonasi yang mengayun dan menekan.

Tak jarang pengguna bahasa dialek ‘O’ ini diidentikkan sebagai masyarakat yang kurang ramah karena cara berbicaranya. Namun, ada beberapa daerah masyarakat Lampung Pepadun yang juga menggunakan bahasa dialek “A” dalam bahasa percakapan sehari-hari.

Untuk adat istiadat dalam masyarakat suku Pepadun tidak serumit masyarakat suku Saibatin. Masyarakat dengan suku ini dapat mendapaatkan gelar adat meskipun hanya berasal dari kalangan masyarakat biasa.

Untuk mendapatkan gelar adat tersebut harus dilakaksanakan upacara adat Cakak Pepadun. Hal yang sama juga dilaksanakan untuk masyarakat di luar suku Pepadun yang akan menikah dengan masyarakat adat Lampung Pepadun.

Sebelum melangsungkan pernikahan antar suku ini terlebih dahulu dilaksanakan upacara Begawi atau meminta gelar adat.

Hiasan yang digunakan oleh masyarakat suku Pepadun juga berbeda. Siger yang digunakan oleh perempuan suku Pepadun berjumlah sembilan lekuk yang bermakna sembilan marga yang membentuk Abung Siwo Megou.

Baju yang dikenakan oleh masyarakat ini pada upacara adat atau pernikahan juga didominasi dengan warna putih.

Keunikan Suku Lampung
Akan tetapi, berbeda dengan suku-suku di Indonesia pada umumnya. Dari dua suku di Lampung tersebut, masih terbagi lagi menjadi beberapa wilayah adat. Antar wilayah adat itu juga, sedikit banyak terdapat perbedaan.

Untuk wilayah adat Lampung Saibatin diantaranya Paksi Pak Sekala Brak (Lampung Barat), Bandar Enom Semaka (Tanggamus), Bandar Lima Way Lima (Pesawaran).

Kemudian juga Melinting Tiyuh Pitu (Lampung Timur), Marga Lima Way Handak (Lampung Selatan), Enom Belas Marga Krui (Pesisir Barat).

Hingga diluar Provinsi Lampung diantaranya Pitu Kepuhyangan Komering (Provinsi Sumatera Selatan), Telu Marga Ranau (Provinsi Sumatera Selatan) Cikoneng Pak Pekon (Provinsi Banten).

Sementara Lampung Pepadun terbagi menjadi Abung Siwo Mego, Mego Pak Tulangbawang, Pubian Telu Suku, Way Kanan Buway Lima dan Sungkay Bunga Mayang.

Apabila ditelusuri lebih jauh, sedikit banyaknya memiliki perbedaan yang terdapat dalam masing-masing dua suku tersebut.

Dari segi bahasa misalnya. Meskipun sama-sama termasuk Lampung Saibatin, tapi ada beberapa perbedaan bahasa antara Masyarakat Marga Krui dengan Way Lima. Bahkan logatnya pun tidak persis sama.

Pun begitu dengan Abung, Tulangbawang, Pubian, Sungkay dan Way Kanan yang termasuk dalam Lampung Pepadun.

Atas keunikan suku Lampung tersebut, diyakini sebagai penyebab penggunaan bahasa Lampung tidak membudaya seperti di Jawa, terutama di daerah perkotaan provinsi Lampung.

Bahkan daerah yang banyak masyarakat transmigran seperti kota Metro, justru didominasi oleh bahasa Jawa. Tidak sedikit suku Lampung asli yang menggunakan bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari.

19,018 kali dilihat, 135 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Adat Budaya

Nama Pakaian Adat Lampung Saibatin dan Pepadun

Published

on

Pakaian Adat Lampung

Lampung.co – Pakaian adat menjadi salah satu identitas dan kebanggan bagi suatu daerah. Tak terkecuali juga pakaian adat Lampung yang dibanggakan oleh masyarakat Lampung khususnya suku Lampung. Ada dua macam pakaian adat di Lampung yang dikenal secara luas yakni Pakaian adat Saibatin dan Pepadun.

Msyarakat adat Lampung Sibatin atau yang juga disebut dengan Pesisir adalah mereka yang tinggal di daerah pesisir Lampung. Saibatin mendiami daerah pesisir Lampung yang membentang dari timur, selatan, hingga barat. Wilayah persebaran Suku Saibatin mencakup Lampung Timur, Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran, Tanggamus, dan Lampung Barat serta Pesisir Barat.

Sedangkan untuk masyarakat adat Lampung Pepadun mendiami daerah pedalaman atau daerah dataran tinggi Lampung. Berdasarkan sejarah perkembangannya, masyarakat Pepadun awalnya berkembang di daerah Abung, Way Kanan, dan Way Seputih (Pubian).

Untuk pakaian adat, ada perbeadaan antara pakaian adat Saibatain dan pakaian adat Pepadun. Perbedaan yang paling terlihat adalah pada warna pakaian. Pakaian adat Lampung Pepaduan didominasi warna putih, sedangkan untuk pakaian adat Lampung Saibatin didominasi oleh warna merah. Siger yang dikenakan oleh pengantin wanita Saibatin berbeda dengan pengantin wanita Pepadun, dengan lekukan tajam berjumlah tujuh buah juga menjadi salah satu pembeda yang mencolok.

Tujuh pucuk ini melambangkan tujuh adog, adalah suttan, raja jukuan/depati,radin, batin, minak, mas dan kimas. Selain itu, terdapat juga yang dinamakan awan gemisir (awan gemisikh) yang perkirakan digunakan sebagai bagian dari budaya arak-arakan adat, diantaranya seperti acara pernikahan. Itulah dua perbedaan yang paling mencolok, selaian itu kedua jenis pakaian ini terlihat serupa atau mirip.

Pakaian adat Lampung Saibatin dan Pepadun ini diginakan saat pernikahan. Mempelai pria menggunakan pakaian yang lebih simpel dibangingkan wanita. Berikut ini adalah pakaian adat yang digunakan saat pernikahan.

1. Pakaian Adat Lampung Pria

Berupa lengan panjang berwarna putih, celana panjang hitam. Sarung tumpal, sesapuran dan khika akhir. Pakaian ini dilengkapi dengan beragam aksesoris, pernik perhiasan. Setidaknya terdapat delapan perhiasan yang umumnya dikenakan oleh pengantin laki-laki diantaranya:

  • Kalung Papan Jajar: Berupa tiga lempengan siger kecil/perahu yang disusun dengan ukuran yang berbeda. Makna dari kalung ini yakni simbol kehidupan baru yang akan mereka jalani serta dilanjutkan secara turun temurun ke anak cucu mereka.
  • Kalung Buah Jukum: Berupa rangkaian miniatur buah jukum sebagai simbol do’a supaya mereka segera mendapat keturunan.
  • Selempeng Pinang: kalung panjang yang berupa gantungan menyerupai buah atau seperti bunga.
  • Ikat Pinggang: ikat pinggang ini dilengkapi dengan terapang (keris) yang merupakan senjata tradisonal khas Lampung.
  • Gelang Burung: gelang pipih dilengkapi dengan aksesoris berbentuk burung garuda terbang.
  • Gelang Kano: gelang ini dikenakan pada lengan kiri dan kanan di bawah gelang burung.
  • Gelang Bibit: yakni sebuah gelang yang dipakaikan di bawah gelang Kano. Gelang ini melambangkan do’a yang maknanya hampir sama atau bahkan sama dengan kalung buah jukum yaitu agar segera mendapat keturunan.

2. Pakaian Adat Lampung Wanita

Pakaian pengantin wanita tidak jauh berbeda dengan pakaian pengantin laki-laki. Sarung tapis, sesapuran hingga khikhat akhir juga terdapat dalam pakaian pengantin wanita. Namun yang membedakan adalah tambahan pakaian atau aksesoris yang menambah nilai eksotis pakaian wanita ini. Beberapa aksesoris yaitu selappai, katu tapi dewa sano dan bebe.

Selappai merupakan baju yang tidak memiliki lengan dan memiliki hiasan rumbai ringgit pada bagian tepi bawahnya. Bebe merupakan sulaman benang dari satin yang menyerupai bunga teratai yang mengambang. Sedangkan kati tapis dewa sano merupakan rumpai ringgit yang terbuat dari kain tapis jung jarat. Ada beberapa aksesoris tambahan yang digunakan oleh pengantin. Berikut adalah beberapa aksesoris yang digunakan oleh pengantin wanita.

  • Siger: siger atau dalam bahas Indonesia disebut mahkota yang terbuat dari emas. Siger merupakan mahkota khas yang sering digunakan oleh pengantin wanita.
  • Seraja bulan: mahkota kecil yang terlerak diatas siger.
  • Subang: perhiasan yang digantungkan di ujung daun telinga. Biasanya berbentuk buah kenari yang terbuat dari emas.
  • Perhiasan dada dan leher: perhiasan yang dikenakan di dada dan leher berupa kalung ringgit, kalung jukum dan kalung papanjajar.
  • Perhiasan pinggan dan lengan: perhiasan yang dikenakan dipinggang berupa selempang pinang yang digantungkan dari bahu ke punggan dan sebuah ikat pinggang dari kain beludru berwarna merah dengan hiasan kelopak bunga dari kuningan. Sedangkan perhiasan lengan berupa gelang kano, gelang burung, gelang duri dan gelang bibit yang memilik makna sama dengan aksesoris laki-laki.

Itulah informasi terkait nama pakaian adat Lampung Saibatin dan Pepadun, semoga bisa menjadi referensi anda.

15,843 kali dilihat, 119 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Banyak Dibaca