Mengenal Burung Bondol, Salah Satu Penghuni TNWK

Rodi Ediyansyah

Lampung dot co – Fauna | Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terletak di pulau Sumatera tepatnya di Provinsi Lampung Timur. Terdapat kawasan yang khas di TNWK, yaitu Pusat Latihan Gajah (PLG). Pada habitat tersebut ditemukan berbagai jenis burung salah satunya burung Bondol. Umumnya burung Bondol senang hidup pada habitat yang banyak terdapat jenis rerumputan berbiji seperti di ladang, kebun, persawahan, dan tempat terbuka lainnya.

Burung Bondol merupakan salah satu jenis burung yang kelimpahannya sangat banyak di alam, akan tetapi habitat alami burung ini terancam oleh pembangunan yang pesat di perkotaan dan alih fungsi lahan di pedesaan yang pada akhirnya menyebabkan persebaran burung ini menjadi tidak merata.

Burung Bondol di Pusat Latihan Gajah

Burung bondol memiliki ukuran tubuh yang kecil hingga sedang. Beberapa jenis memiliki warna bulu yang mencolok, seperti bondol peking yang memiliki bintik- bintik putih di atas tubuhnya. Namun, sebagian besar jenis bondol memiliki warna bulu yang cenderung lebih sederhana didominasi warna coklat, hitam, atau abu-abu.

Area padang rumput paling banyak ditemukan jenis burung Bondol Haji (Lonchura maja) dan Bondol Peking (Lonchura punctulata) karena identik sebagai pemakan biji dari rerumputan. Oleh karena itu, burung Bondol memiliki fungsi ekosistem sebagai penyeimbang dan berperan menyebarkan biji untuk membantu persebaran tumbuhan melalui kotoran yang dikeluarkan.

Di hutan-hutan, burung bondol membantu dalam proses regenerasi alamiah. Mereka membawa biji-biji dari tumbuhan hutan yang tumbang atau berada di tepi hutan dan menyebarkannya di bawah kanopi hutan. Hal itu, mendukung pertumbuhan dan pemulihan hutan setelah gangguan alam atau aktivitas manusia.

Persebaran burung Bondol di kawasan Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas mengalami dominansi, artinya persebaran jenis burung Bondol tersebut tidak stabil. Ketidakstabilan keanekaragaman dan kemerataan jenis burung tersebut mempengaruhi kompetisi dalam memenuhi kebutuhan hidup antar individu sejenis.

Nilai keanekaragaman dan kemerataan yang stabil dibutuhkan agar burung Bondol mampu memenuhi kebutuhan pakan alami, hal ini perlu adanya habitat yang masih terjaga dan jauh dari aktivitas manusia yang bersifat merusak lingkungan dan berdampak pada ketersediaan pakan alami.

Alih Fungsi Lahan

Pembangunan yang pesat akan berpengaruh pada satwa liar yang menjadikan daerah rural sebagai habitatnya, maka apabila habitatnya terganggu oleh pembangunan yang berjalan kemungkinan yang terjadi peluang jumlah jenis satwa liar yang ada akan terdampak. Pengalihan lahan pertanian menjadi kawasan pemukiman menyebabkan beberapa jenis burung yang menjadikan lahan pertanian sebagai habitatnya akan terdampak, salah satunya burung Bondol.

Setelah diteliti, ternyata pada habitat urban, suburban, dan rural memiliki indeks kelimpahan yang rendah terhadap Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) dengan persentase berturut-turut, yaitu 8%; 1%; 17%. Hal ini, kemungkinan disebabkan oleh terganggunya lahan pertanian yang dijadikan Bondol Jawa sebagai habitatnya untuk mencari makan pada daerah urban, suburban, dan rural.

Kondisi ini juga yang juga menjadi bukti nyata bahwa pembangunan pesat yang tidak terencana dapat mengganggu kelimpahan dan persebaran burung Bondol di kawasan tersebut. Meskipun persebaran burung Bondol sangat cepat dan berpotensi menjadi jenis invasif, karena daya adaptifnya yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Namun kelimpahannya di alam perlu diperhatikan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Selain itu untuk mencegah kehadirannya berubah menjadi hama bagi petani dikarenakan burung jenis ini pemakan biji-bijian yang menyerang tanaman padi untuk memakan biji atau bulir padi yang merusak lahan pertanian petani. Habitat alami burung Bondol yang terganggu akibat pembangunan menjadikan daerah persawahan warga sebagai sasaran untuk memenuhi kebutuhan pakan, sehingga konservasi terhadap habitat alami burung ini perlu mendapat perhatian agar kehadiran burung tersebut tidak menjadi hama.

Ketersediaan pakan di Habitat Urban, Suburban, dan Rural

Pakan untuk burung bondol bisa mencakup berbagai biji-bijian, buah-buahan serta serangga. Pemberian pakan burung bondol dapat berbeda-beda tergantung pada habitatnya, baik itu di wilayah urban (kota), suburban (pinggiran kota), atau rural (pedesaan). Pada habitat urban atau di daerah perkotaan, burung bondol masih dapat ditemukan di taman-taman kota atau halaman rumah yang memiliki vegetasi. Makanan yang tersedia diantaranya yaitu terdapat biji-bijian seperti beras merah, jagung, atau biji bunga matahari.

Lalu pada habitat suburban atau pada pinggiran kota, burung bondol sering berada di lingkungan perumahan yang lebih hijau. Burung bondol yang tinggal pada habitat suburban cenderung memakan makanan seperti serangga kecil, cacing, atau buah-buahan segar, sedangkan pada habitat rural atau pada habitat pedesaan, burung bondol dapat ditemukan di ladang, kebun, atau area terbuka lainnya, sehingga pakan yang dikonsumsi oleh burung bondol itu sendiri yaitu biji-bijian seperti millet atau gandum.

Ancaman Habitat dan Saran Konservasi

Secara ekologi, burung memiliki peran penting pada hutan atau daerah lain yang muncul secara buatan maupun alami. Beberapa peran burung bagi alam yang perlu mendapat perhatian, antara lain menjaga keseimbangan ekosistem dan fungsi hutan serta sebagai bioindikator baik atau buruknya suatu lingkungan.

Ancaman habitat berupa aktivitas eksploitasi yang dilakukan manusia terhadap habitat burung seperti, penebangan liar, alih fungsi lahan pertanian, dan kegiatan lain yang menyebabkan kerusakan dapat berpengaruh secara signifikan terhadap kelimpahan jenis burung tertentu. Pembangunan kota yang pesat perlu diimbangi oleh perencanaan yang bijak dan berkelanjutan untuk tetap menjaga dan melestarikan habitat alami burung Bondol di Kota Semarang, khususnya pada kawasan urban dan suburban.

Penelitian yang erat kaitannya dengan ekologi dan konservasi biotropika perlu dikaji secara mendalam untuk mampu memahami dampak dari perubahan lingkungan terhadap berbagai jenis burung Bondol dan perlu adanya suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga alam untuk kelestarian dan keseimbangan ekosistem bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

Oleh: Eli Septiani, Della Rohma Fitriana, Fitri Amelia Purmadi, Nurhadi Rahmadhan, Sulis Aprilia, Wiwit Asri Kusuma Wardani, Lusiana Manullang,
Mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera)
*Artikel Lampung.co ini merupakan kiriman dari pembaca. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis sesuai pasal sanggahan yang telah kami buat.
**Pembaca bisa mengirim tulisan via kontak yang tersedia

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Tags

Related Post

Ads - Before Footer