Dampak Penggunaan AC dan Kulkas, Bak ‘Bom Waktu Pemusnah Massal’

Rodi Ediyansyah

Lampung.co – Sebuah perjanjian internasional yang ditanda tangani pada 16 September 1987, Protokol Montreal membuktikan bahwa dunia dapat bersatu dalam menyikapi perubahan iklim.

Selang 30 tahun setelah perjanjian lingkungan paling sukses di dunia itu ditandatangani, ilmuwan iklim Sean Davis meneliti soal larangan penggunaan kaleng semprot aerosol yang mengandung klorofluorokarbon (CFC).

Hasilnya dia paparkan kepada peserta seminar di TEDxBoulder dan berbagai pelajaran yang dapat kita petik untuk mengatasi permasalahan masalah iklim saat ini.

Mungkin Anda masih asing dengan Protokol Montreal. tetapi Anda harus mengetahuinya karena ini adalah kisah sukses perjanjian isu lingkungan internasional yang langka.

Pada tahun 1970-an disepakati bahwa CFC, bahan kimia yang digunakan sebagai propelan dalam kaleng semprot aerosol merupakan masalah utama perusak lapisan ozon.

Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer yang menyaring lebih dari 90 persen radiasi UV berbahaya dari matahari ke bumi tempat kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.

Bahkan dari 10 persen sisanya itu saja, menyebabkan banyak masalah seperti katarak, kerusakan tanaman, kerusakan sistem kekebalan tubuh dan juga kanker kulit.

“Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa ancaman terhadap lapisan ozon adalah ancaman bagi keselamatan manusia,” kata Davis.

Namun ironisnya, keselamatan manusia juga yang menjadi alasan penemuan CFC. Awalnya, lemari es menggunakan bahan kimia beracun dan mudah terbakar seperti propana dan amonia.

Untuk keamanan, pada tahun 1928, Thomas Midgley mememukan CFC sebagai pengganti propana dan amonia sebagai bahan untuk pendingin.

Midgley terkenal menghirup CFC dan meniup lilin untuk membuktikannya tidak beracun dan tidak mudah terbakar. Kemudia penggunaan CFC berkembang untuk kebutuhan lain.

“Dan faktanya, sebagai seorang ilmuwan, saya mengatakan bahwa tidak mungkin Anda bisa lolos dengan lelucon seperti itu hari ini,” tegasnya.

Tidak sampai 40 tahun kemudian, pada 1970-an, para ilmuwan menyadari bahwa CFC merusak lapisan ozon dan mengancam kehidupan manusia.

Akhirnya, bebepa negara melarang penggunaan semprot aerosol yang menggunakan bahan yang menjadi bom waktu pembunuh massal itu sejak 1978.

Akan tetapi masalahnya tak sampai disitu, pendingin ruangan (AC) dan kulkas pun menggunakan Freon yang tak lain adalah CFC itu sendiri juga sangat berperan dalam masalah ini.

Yang menjadi pertanyaan penting hari ini adalah, berapa banyak manusia di bumi ini yang menggunakan air conditioner (AC) dan lemari es atau kulkas?

Setidaknya sejumlah itu pula manusia yang turut memasang bom waktu pemusnah massal dimasa yang akan datang.

Sadarkah kita bahwa segarnya sayuran yang disimpan dalam kulkas dan dinginnya ruangan yang menggunakan AC mewariskan ancaman bagi anak cucu kita.

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer