Menu

Dampak Gelombang Panas Laut Menjadi Ancaman Kehidupan

  Dibaca : 304 kali
Dampak Gelombang Panas Laut Menjadi Ancaman Kehidupan
Ilustrasi Terumbu Karang | Foto: Ist.

Lampung.co – Sebuah penelitian baru menyebutkan gelombang panas yang mematikan tidak hanya terjadi di daratan, tapi lautan juga terdapat gelombang panas laut.

Masalah gelombang panas, saat ini jauh lebih sering terjadi dari pada puluhan atau ratusan tahun yang lalu dan membahayakan kehidupan di lautan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change, mengamati dampak gelombang panas laut pada keanekaragaman kehidupan di lautan.

Para peneliti ini menemukan bahwa gelombang panas menghancurkan ekosistem laut mulai dari terumbu karang, hutan laut hingga hamparan rumput laut.

Gelombang panas laut seperti yang dimaksud disini adalah ketika suhu laut meningkat lebih tinggi dari biasanya selama lima hari berturut-turut atau.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa lautan telah menyerap lebih dari 90 persen panas yang terperangkap oleh gas rumah kaca berlebih sejak abad pertengahan.

Manusia telah menambahkan gas-gas ini ke atmosfer, sebagian besar dengan membakar bahan bakar fosil, seperti batu bara dan gas alam untuk energi.

Panas berlebih ini meningkat tidak hanya suhu dasar laut tetapi juga frekuensi dan durasi gelombang panas laut.

Pada studi sebelumnya oleh beberapa peneliti yang sama menemukan bahwa, dari 1925 hingga 2016, gelombang panas laut 34 persen lebih sering dan 17 persen lebih lama.

Secara keseluruhan, gelombang panas lautan telah meningkat sebesar 54 persen untuk seluruh dunia sejak tahun 1925 hingga tahun 2016.

Tahun-tahun yang paling parah adalah tahun-tahun El Nino. Suhu lautan yang lebih hangat adalah salah satu ciri dari pola El Nino.

Asisten profesor oseanografi fisik di Universitas Dalhousie, Kanada, Eric CJ Oliver menyebutkan gelombang panas laut regional dapat terjadi tanpa El Nino.

“Ada juga beberapa indikasi bahwa El Nino telah menjadi lebih ekstrim dengan perubahan iklim,” kata Eric dikutip dari The New York Times.

Ketua departemen ekologi, evolusi dan biologi kelautan University of California, Gretchen Hofmann mengatakan peningkatan gelombang panas lautan menjadi masalah bagi nelayan.

“Jika Anda melihat geografi, banyak populasi dunia tinggal di pantai,” kata Dr. Hofmann.

Bukan hanya nelayan tangkap, tetapi juga fasilitas tambak akan menghadapi tantangan ketika air laut berubah. Menurutnya, gelombang panas tidak baik untuk produksi tambak.

Tapi yang menjadi masalah utama adalah hilangnya spesies dasar lautan seperti terumbu karang, rumput laut dan hutan rumput laut.

Terumbu karang dan rumput laut ini sangat penting bagi kehidupan di laut karena menjadi tempat berlindung dari predator dan juga sebagai sumber makanan.

Ketika Terumbu karang dan rumput laut habis, maka seluruh ekosistem di lautan pun akan kehilangan tempat berlindung dan juga sebagai sumber makanan. Awal kepunahan.

Seorang ahli biologi di University of California, Robert Miller menyebutkan dalam beberapa kasus, ekosistem mungkin tidak dapat pulih akibat terjadinya gelombang panas.

“Jadi, dampak perubahan iklim mungkin terjadi jauh lebih cepat dari yang kita harapkan,” kata dia.

Iklan Baris
Jasa pembuatan website untuk lembaga atau bisnis. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Banner Ads

- Iklan Layanan Masyarakat -
-Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H-


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional