Menu

Begini Cara Hindari Pembodohan oleh Berita Hoaks

  Dibaca : 345 kali
Begini Cara Hindari Pembodohan oleh Berita Hoaks
Ilustrasi berita hoaks | Foto: Ist.

Lampung.co – Dewasa ini lalu lintas informasi sangat padat, baik melalui media massa maupun media sosial. Namun tak sedikit berita yang beredar diragukan kebenarannya, terutama di media sosial.

Dalam laporan hasil riset DailySocial, pada tahun 2018 mengungkap bahwa informasi hoax di media sosial paling banyak ditemukan di platform Facebook yakni sebesar 82,25 persen.

Namun, media massa juga sering kali mengeluarkan berita yang dianggap kurang akurat dan mebingungkan. Apa yang harus dilakukan seseorang ketika dibombardir dengan informasi yang seperti ini?

Salah satu contoh Suara.com pada Senin, 04 Maret 2019 lalu menulis berita dengan judul ‘Sandiaga Hapus Pajak Buku, Penulis Ngamuk dan Tak Mau Menulis Lagi’ ( sudah direvisi).

Meskipun kemudian direvisi dengan judul baru ‘Nirwan Arsuka: Jika Royalti Penulis 15 Persen yang Dihapus, Penulis Protes’, tapi masyarakat sudah membaca hal yang kontradiktif itu.

Belum lagi persoalan lain yang dianggap melemahkan marwah media massa itu sendiri, semisal ketidak berimbangan pemberitaan. Terutama berita yang berkaitan dengan politik dan syarat kepentingan.

Peneliti epidemiologi dan psikiatri di Universitas Oxford di Inggris dan Institut Karolinska di Swedia Emma Frans, dikutip dari ted.com mengatakan bahwa saat ini risiko kita untuk dibodohi sangat tinggi.

Menurutnya, faktor utama yang berperan dalam pembohongan publik ini adalah disinformasi menyebar dan viral di media sosial. Hal ini juga seringkali dilakukan oleh warganet dengan kesadaran.

“Selain itu ketika menyangkut pelaporan berita, kadang-kadang lebih penting bagi jurnalis untuk lebih cepat daripada akurat,” tambahnya

Itulah sebab itu, kata dia, penting untuk mengetahui cara mengevaluasi berita seperti yang dilakukan oleh ilmuwan. Menurutnya, para ilmuwan bekerja di dengan tanggung jawab pembuktian.

Frans menambahkan, mereka harus melakukan eksperimen dan mengumpulkan data dalam kondisi yang terkendali untuk sampai pada kesimpulan dan mempertahankan fakta, bukan emosi.

“Kita semua memiliki indikasi yang terkadang mengaburkan penilaian, tetapi pemikiran ilmiah memberi kita ruang untuk mengevaluasi informasi dengan cara yang rasional,” kata Frans.

Untuk itu, berikut enam tips membaca berita seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan agar tidak temakan hoaks;

1. Kembangkan Skeptisisme.
Ilmu pengetahuan bergerak maju dengan menantang kebijaksanaan yang diterima. Anda dapat melakukan hal yang sama. Ketika Anda mempelajari informasi baru melalui media sosial, pikirkan bahwa;

“Ini mungkin benar, tetapi juga mungkin salah. Skeptisisme sehat semacam ini tidak berarti Anda menganggap segala sesuatunya salah. tetapi bisa salah, juga bisa benar, atau kesimpulan lain,” kata Frans.

2. Cari Tahu Yang Mengeluarkan Informasi
Saat Anda menemukan informasi baru, cari konflik kepentingan. Apakah mereka mendapat untung dari apa yang mereka katakan? Atau apakah yang bersangkutan layak menjadi narasumber berita tersebut?

3. Hati-hati Dengan Efek Halo
Efek Halo adalah salah satu bias kognitif yang terjadi apabila kesan menyeluruh terhadap seseorang atau sesuatu didapat dari menggeneralisasi salah satu karakteristik orang tersebut.

Jika kita tidak menyukai seseorang, kita lebih cenderung tidak setuju dengan mereka; jika kita menyukainya, kita bias setuju. Hal ini tentu akan mempengaruhi objektivitas dalam menilai sebuah berita.

4. Lihatlah Buktinya
Ketika mengevaluasi sebuah berita, pikirkan rasionalisasi kesimpulan dari informasi yang termuat didalamnya.

Sebelum Anda membagikan sebuah berita yang mengejutkan atau membuat marah, lakukan pencarian di Google atau referensi lain. Mungkin Anda akan menemukan informasi yang lebih akurat.

5. Waspadai informasi Cherry Picking
Prof. Andy Bangkit Setiawan, Ph.D, Associate Professor for Cultural Studies di Nagoya University Jepang mengatakan, Cherry Picking adalah sebuah kesalahan logika.

Di mana, kata dia, seseorang membangun argumen hanya berdasar atas pendapat atau data yang menyokong apa yang diklaimnya saja, tanpa mempertimbangkan data yang membantah klaimnya tersebut.

Artinya, kata Frans, ketika Anda mencari informasi, Anda tidak boleh mengabaikan informasi yang bertentangan dengan pendapat apa pun yang mungkin Anda miliki sebelumnya.

6. Bedakan antara Korelasi dan Kausalitas
Dua hal meningkat secara bersamaan, ini tidak berarti bahwa mereka memiliki keterkaitan antara satu sama lain. Korelasi tidak sama dengan kausalitas.

Misalnya, jika terjadi peningkatan tindak kejahatan, pelaku kriminal tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Begitu juga dengan pemangku kebijakan, tidak serta merta dianggap satu-satunya yang bertanggung jawab.

“Tapi ambil pandangan yang lebih luas dan lihat faktor-faktor pendukung lainnya,” kata Frans.

Iklan Baris
Jasa pembuatan website untuk lembaga atau bisnis. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Banner Ads

- Iklan Layanan Masyarakat -
-Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H-


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional