fbpx
Connect with us

Adat Budaya

Baju Adat Lampung Modern Pepadun dan Saibatin

Published

on

Baju Adat Lampung Modern

Lampung.co – Agar tidak monoton dan sesuai perkembangan jaman, baju adat ini didesain dengan gaya modern yang sangat fashionable. Termasuk juga pada baju adat Lampung modern Pepadun dan Saibatin yang ada di Lampung.

Pada penggunaan jaman sekarang ini, baju adat Lampung yang modern lebih simpel dan elegan. Namun kendati demikian tidak merubah dan mengurangi aksesoris yang dipasang di beberapa bagian tubuh.

Jaman dahulu mungkin baju atau pakaian adat menjadi baju paling diunggulkan, namun seiring majunya jaman, penggunaannya tergeser. Untuk menjaga agar tidak hilang dan lestari, hendaknya memang digunakan. Misal digunakan saat acara-acara penting seperti pernikahan atau upacara adat.

Namun kadang baju adat terkesan ribet dan juga monoton yang membuat kita enggan untuk memamkainya. Padahal memakai baju adat adalah salah satu upaya untuk melestarikan budaya daerah. Untuk mengantisipasi keengganan mengenakan baju adat yang terkesan kuno dan monoton, diciptakanlah baju adat yang modern.

Baju adat Lampung modern yang dikenakan saat acara pernikahan oleh pengantin sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bentuk atau model lama. Beberapa perlengkapan pakaian adat ini masih sama dengan perlengkapan pakain jaman dulu.

Ada sedIkit perbedaan baju adat Lampung antara Pepadun dan Saibatin untuk pakaian adat. Perbedaan yang paling terlihat adalah pada warna pakaian. Baju adat Lampung Pepaduan didominasi warna putih, sedangkan untuk baju adat Lampung Saibatin didominasi oleh warna merah. Perbedaan ini juga telah ada sejak dulu. Kini Baju adat Lampung modern ini sudah memiliki ragam warna, tak hanya merah dan putih saja ada warna-warna lain yang kemudian menjadikan lebih menarik dan indah.

Untuk siger yang dikenakan oleh pengantin wanita Saibatin pun berbeda dengan pengantin wanita pepadun. Pengantin wanita Saibatin mengenakan siger dengan lekukan tajam berjumlah tujuh buah juga menjadi salah satu pembeda yang mencolok.

Tujuh pucuk ini melambangkan tujuh adog, adalah suttan, raja jukuan/depati, radin, batin, minak, mas dan kimas. Selain itu, terdapat juga yang dinamakan awan gemisir (awan gemisikh) yang perkirakan digunakan sebagai bagian dari budaya arak-arakan adat, diantaranya seperti acara pernikahan.

Sedangkan siger yang dikenakan oleh pengantin wanita Pepadun memiliki sembelian lekukan di bagian atasnya. Itulah dua perbedaan yang paling mencolok, selaian itu kedua jenis pakaian ini terlihat serupa atau mirip.

Untuk baju adat Lampung modern yang dikenakan pria lebih simpel dibanding baju adat wanita. Pakaian Adat Lampung Pria berupa lengan panjang berwarna putih, celana panjang hitam. Sarung tumpal, sesapuran dan khika akhir. Pakaian ini dilengkapi dengan beragam aksesoris, pernik perhiasan.

Beberapa aksesoris yang ditambahkan dibaju adat pria ini yakni gelang, ikat pinggang, kalung, senjata tradisional Lampung, selempang dan kopiah emas.

Sedangkan untuk baju adat Lampung modern pengantin wanita berupa sarung tapis, sesapuran hingga khikhat akhir juga terdapat dalam pakaian pengantin wanita. Namun yang membedakan adalah tambahan pakaian atau aksesoris yang menambah nilai eksotis pakaian wanita ini. Beberapa aksesoris yaitu selappai, katu tapi dewa sano dan bebe.

Selappai merupakan baju yang tidak memiliki lengan dan memiliki hiasan rumbai ringgit pada bagian tepi bawahnya. Bebe merupakan sulaman benang dari satin yang menyerupai bunga teratai yang mengambang. Sedangkan kati tapis dewa sano merupakan rumpai ringgit yang terbuat dari kain tapis jung jarat. Ada beberapa aksesoris tambahan yang digunakan oleh pengantin. Berikut adalah beberapa aksesoris yang digunakan oleh pengantin wanita.

Baju adat Lampung modern Pepadun dan Saibatin ini tidak merubah dan mengurangi apa yang sudah dikenakan sejak jaman dulu. Hanya desain yang memang lebih modern dan fashionable serta beragam warna yang bisa dipilih agar lebih elegan saat dikenakan.

Demikianlah informasi terkait baju adat Lampung modern Pepadun dan Saibatin. Semoga bisa menjadi referensi untuk anda.

3,264 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188

Wawan Setiawa merupakan salah satu penulis untuk media online Lampung.co yang mengulas destinasi wisata yang ada di seluruh provinsi Lampung.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adat Budaya

Pakaian Adat Lampung Tampil di Acara Surabaya Vaganza

Published

on

Pakaian Adat Lampung

Lampung.co – Himpunan Mahasiswa Lampung Surabaya (Himalaya) kembali wakili Provinsi Lampung dalam acara Surabaya Vaganza, rangkaian acara hari jadi Kota Surabaya Ke-726, Minggu (24/3/2019).

Acara dalam bentuk pawai budaya tersebut dimulai dari garis start Monumen Bambu Runcing dan finish di Jalan Raya Darmo tepatnya di depan SMAK Santa Maria.

Kepala Bidang (Kabid) Seni Budaya Himalaya Fadhil Ramadhani mengatakan, pihaknya sudah dua kali mewakili Provinsi Lampung dalam acara peringatan jadi Kota Surabaya tahun ini.

Dia berujar, minggu lalu Himalaya mewakili provinsi Lampung dalam acara Rujak Uleg dan hari ini menampilkan pakaian adat Lampung dalam festival budaya dalam acara Surabaya Vaganza.

“Kami menampilkan pakaian tradisional khas Lampung dalam acara ini,” kata Fadhil dalam keterangan tertulis kepada Lampung.co, Minggu (24/3/2019).

Ketua Umum Himalaya menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah Kota Surabaya yang selalu melibatkan Himalaya dalam perhelatan akbar Kota ini.

“Kami bangga dapat mewakili Lampung untuk ikut eksis dalam acara yang dihadiri Walikota Surabaya ini,” ujar Candra dalam keterangan yang sama.

Surabaya Vaganza adalah acara rutin setiap tahun yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam rangkaian hari jadi kota Pahlawan ini.

Tahun ini Surabaya Vaganza bertemakan Puspawarni yang menampilkan keragaman budaya Nusantara. (*)

18,197 kali dilihat, 80 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Adat Budaya

Tentang Suku Tumi dan Kerajaan Sekala Brak

Published

on

Peninggalan Kerajaan Sekala Brak

Lampung.co – Di lereng gunung tertinggi di Lampung itu hidup sebuah suku purba yang bernama suku Tumi. Suku tersebut dimungkinkan berasal dari India beberapa millennium sebelum masehi.

Ahmad Safei, Saibatin Kepaksian Buay Belunguh, Paksi Pak Sekala Brak, mengatakan nama suku Tumi berasal dari asal nama Tamil, sebuah suku bangsa yang masih ada hingga sekarang di India.

Pendiri Kerajaan Sekala Brak
Nama dan penyebutan Kejaraan Sekala Brak memiliki beberapa versi. Ada yang menyebutnya dengan istilah Sakala Bhra, Sekala Beghak, Segara Brak, hingga Skala Brak.

Namun, semuanya merujuk sebuah unit masyarakat yang didirikan Suku Tumi pada abad ke-3 Masehi yang berpusat di lereng Gunung Pesagi, dekat Danau Ranau, Lampung Barat.

Pendiri kerajaan ini menurut William Marsden (2008) dalam bukunya Sejarah Sumatra, seorang Raja bernama Buay Tumi.

Sebelum mendirikan pemerintahan yang lebih tertata dalam konsep kerajaan, Buay Tumi adalah pemimpin orang-orang Suku Tumi yang dipercaya sebagai suku asli Lampung.

Menurut versi lain, hasil musyawarah Kepaksian Sekala Brak pada tahun 2001 mengakui La Laula sebagai Raja pertama kerajaan ini sejak awal abad masehi, bukan Buay Tumi.

La Laula bukanlah penduduk asli. Ia bersama pengikutnya tiba di Sekala Brak dari Hindia Belakang (sekitar Vietnam dan Kamboja) pada awal abad Masehi dengan menggunakan kapal kano.

Meskipun demikian, Kepaksian Sekala Brak membenarkan eksistensi suku Tumi yang telah ada sebelum kedatangan La Laula yang mendirikan Kejaraan Sekala Brak.

La Laula tiba di sebuah negeri yang di penuhi pohon sekala di mana, di sana telah berdiam suatu entitas masyarakat yang bernama Suku Tumi.

Suku Tumi merasa terdesak dengan kehadiran La Laula yang lambat laun berhasil menarik pengikut dari kalangan masyarakat lokal.

Setelah melalui pertempuran yang cukup lama, La Laula dan pengikutnya berhasil menaklukkan Suku Tumi serta mendudukkan dirinya sebagai Raja pertama Kerajaan Sekala Brak.

Kepercayaan
Sejarah Daerah Lampung, Depdikbud (1997) menyebut masyarakat Suku Tumi masih menganut kepercayaan animisme/dinamisme sebelum kedatangan agama Hindu dari India sejak abad ke-1 Masehi.

Itu artinya, kerajaan Sekala Brak sejak didirikan merupakan kerajaan yang menganut agama Hindu meskipun masih ada yang memeluk ajaran Buddha serta kepercayaan lokal sebelumnya.

Belasa Kepampang
R. Sudradjat, dkk., (1991) dalam buku Sistem Pemajemukan Bahasa Lampung Dialek Abung, mengatakan terdapat sebuah pohon bernama Belasa Kepampang yang sangat disucikan oleh suku Tumi di Sekala Brak.

Pohon ini memiliki dua cabang, yaitu cabang nangka dan cabang sebukau. Keduanya mengandung getah dengan fungsi yang berbeda meskipun berasal dari pohon yang sama.

Jika terkena getah cabang sebukau, orang bisa terkena penyakit kulit dan berbahaya apabila dibiarkan begitu saja. Namun, ternyata ada obatnya, yakni getah dari cabang nangka.

Adanya dua cabang dengan dua getah yang bertolak belakang dalam satu pohon inilah yang membuat Belasa Kepampang dikeramatkan oleh suku Tumi.

Teguh Prasetyo (2005) dalam Masa Lalu di Lampung Barat juga menyebutkan bahwa kepercayaan ini tak hanya diyakini penduduk Kerajaan Sekala Brak saja.

Melainkan diyakini juga oleh masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Way Komering, Way Semangka, Way Sekampung, Way Seputih, Way Tulangbawang, Way Umpu, Way Rarem, dan Way Besai.

Peninggalan
Keberadaan kerajaan yang dirintis Suku Tumi itu dibuktikan dengan ditemukannya sejumlah peninggalan, seperti batu-batu, tapak bekas kaki, altar upacara, hingga tempat untuk eksekusi mati.

Louis-Charles Damais (1995) dalam Epigrafi dan Sejarah Nusantara menyimpulkan, prasasti tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Sekala Brak pada era Suku Tumi.

Akhir Eksistensi
Kerajaan Sekala Brak bertahan sangat lama hingga pada abad ke-16 M berhasil ditaklukan empat pangeran dari Paguruyung yang ingin melebarkan kekuasaan.

Konsep kerajaan Hindu yang terakhir dipimpin seorang ratu bernama Umpu Sekekhummong atau Ratu Sekerumong ini digantikan pemerintahan Islam yang disebut dengan istilah Kepaksian. (*)

20,538 kali dilihat, 103 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Adat Budaya

Uniknya Suku Lampung, Saibatin dan Pepadun serta ‘sub-suku’ Didalamnya

Published

on

Suku Lampung

Lampung.co – Provinsi Lampung memiliki keragaman akan budaya, mulai dari adat istiadat, bahasa dan lain-lain. Keragaman ini menjadi salah satu keunikan suku Lampung itu sendiri.

Secara umum, suku di Lampung terbagi menjadi dua, yakni Lampung Saibatin dan Lampung Pepadun. Oleh karenanya, Provinsi Lampung memiliki semboyan ‘Sai Bumi Ruwa Jurai’ yang berarti Satu Bumi Dua Jiwa.

Itulah semboyan yang disandang oleh provinsi paling ujung selatan di Pulau Sumatera tersebut. Semboyan itu juga bermakna identitas asli leluhur masyarakat Lampung,.

Meskipun sama-sama menjadi masyarakat asli, namun kedua suku ini memiliki perbedaan yang cukup mencolok, baik dalam bahasa maupun tata cara dan adat istiadat lainnya.

Suku Lampung Saibatin
Masyarakat Lampung Saibatin tinggal di sepanjang pesisir Lampung. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Saibatin adalah bahasa Lampung dengan dialek “A”.Pelafalan yang digunakan oleh masyarakat ini lebih jelas, hampir setara dengan pelafalan Bahasa Indonesia pada umumnya.

Untuk adat istiadat, masyarakat suku Saibatin cenderung lebih selektif. Hal ini tercermin dalam sistem kerajaan dan pemberian gelar adat pada masyarakat. Hanya masyarakat yang memiliki garis keturunan kerajaan atau bangsawan yang berhak untuk mendapatkan gelar adat dan menjadi Raja (baca: Khaja).

Hiasan yang digunakan oleh masyarakat suku Saibatin juga berbeda dengan yang dikenakan oleh masyarakat suku Pepadun. Mahkota perempuan (Siger) Lampung Saibatin memiliki tujuh lekuk dengan hiasan bunga pada bagian atas.

Ada juga Siger yang memiliki tali yang menjuntai menutupi wajah. Siger ini digunakan oleh masyarakat suku Saibatin-Melinting di Lampung Timur. Pada acara-acara adat dan pernikahan pun warna baju yang digunakan oleh masyarakat ini adalah warna merah.

Suku Lampung Pepadun
Berbeda dengan masyarakat suku Saibatin, masyarakat suku Lampung Pepadun tinggal di daerah tengah atau daratan.

Dialek bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Pepadun adalah Bahasa Lampung dengan dialek ‘O’. Pelafalan yang diucapkan oleh masyarakat ini adalah pelafalan dengan irama atau intonasi yang mengayun dan menekan.

Tak jarang pengguna bahasa dialek ‘O’ ini diidentikkan sebagai masyarakat yang kurang ramah karena cara berbicaranya. Namun, ada beberapa daerah masyarakat Lampung Pepadun yang juga menggunakan bahasa dialek “A” dalam bahasa percakapan sehari-hari.

Untuk adat istiadat dalam masyarakat suku Pepadun tidak serumit masyarakat suku Saibatin. Masyarakat dengan suku ini dapat mendapaatkan gelar adat meskipun hanya berasal dari kalangan masyarakat biasa.

Untuk mendapatkan gelar adat tersebut harus dilakaksanakan upacara adat Cakak Pepadun. Hal yang sama juga dilaksanakan untuk masyarakat di luar suku Pepadun yang akan menikah dengan masyarakat adat Lampung Pepadun.

Sebelum melangsungkan pernikahan antar suku ini terlebih dahulu dilaksanakan upacara Begawi atau meminta gelar adat.

Hiasan yang digunakan oleh masyarakat suku Pepadun juga berbeda. Siger yang digunakan oleh perempuan suku Pepadun berjumlah sembilan lekuk yang bermakna sembilan marga yang membentuk Abung Siwo Megou.

Baju yang dikenakan oleh masyarakat ini pada upacara adat atau pernikahan juga didominasi dengan warna putih.

Keunikan Suku Lampung
Akan tetapi, berbeda dengan suku-suku di Indonesia pada umumnya. Dari dua suku di Lampung tersebut, masih terbagi lagi menjadi beberapa wilayah adat. Antar wilayah adat itu juga, sedikit banyak terdapat perbedaan.

Untuk wilayah adat Lampung Saibatin diantaranya Paksi Pak Sekala Brak (Lampung Barat), Bandar Enom Semaka (Tanggamus), Bandar Lima Way Lima (Pesawaran).

Kemudian juga Melinting Tiyuh Pitu (Lampung Timur), Marga Lima Way Handak (Lampung Selatan), Enom Belas Marga Krui (Pesisir Barat).

Hingga diluar Provinsi Lampung diantaranya Pitu Kepuhyangan Komering (Provinsi Sumatera Selatan), Telu Marga Ranau (Provinsi Sumatera Selatan) Cikoneng Pak Pekon (Provinsi Banten).

Sementara Lampung Pepadun terbagi menjadi Abung Siwo Mego, Mego Pak Tulangbawang, Pubian Telu Suku, Way Kanan Buway Lima dan Sungkay Bunga Mayang.

Apabila ditelusuri lebih jauh, sedikit banyaknya memiliki perbedaan yang terdapat dalam masing-masing dua suku tersebut.

Dari segi bahasa misalnya. Meskipun sama-sama termasuk Lampung Saibatin, tapi ada beberapa perbedaan bahasa antara Masyarakat Marga Krui dengan Way Lima. Bahkan logatnya pun tidak persis sama.

Pun begitu dengan Abung, Tulangbawang, Pubian, Sungkay dan Way Kanan yang termasuk dalam Lampung Pepadun.

Atas keunikan suku Lampung tersebut, diyakini sebagai penyebab penggunaan bahasa Lampung tidak membudaya seperti di Jawa, terutama di daerah perkotaan provinsi Lampung.

Bahkan daerah yang banyak masyarakat transmigran seperti kota Metro, justru didominasi oleh bahasa Jawa. Tidak sedikit suku Lampung asli yang menggunakan bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari.

30,207 kali dilihat, 158 kali dilihat hari ini

Bantu Kami Meningkatkan Kualitas Informasi, Klik disini

Iklan Baris
Jasa pembuatan website profesional untuk lembaga, Company Profile, Landing Page Bisnis atau Personal Profile. Telp/WA: 0811-790-1188

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Continue Reading

Banyak Dibaca