Sumur Wakaf, Solusi Keterbatasan Air Petani Karang Anyar

Rodi Ediyansyah

Lampung.co – Melintasi jalan alternatif dari Kota Bandar Lampung menuju Kota Metro gegap gempita perputaran roda ekonomi, ragam suguhan pasar tradisional sejak fajar menyingsing hingga petang menyongsong.

Sampai persimpangan tugu Pasar Karang Anyar, tim Global Wakaf – ACT Lampung sudah melewati 3 pasar tepatnya pasar Way Kandis, Pasar Jati Mulyo dan Pasar Karang Anyar.

Hamparan hijaunya sawah disepanjang perjalanan menuju Desa Karanganyar membuat decak kagum akan potensi hasil pertanian. Namun setelah menelisik lebih dalam, terdapat jeritan hati petani setempat.

Salah satu petani Bapak Saptono (47 tahun) menceritakan keterbatasan yang dirasakan petani di dusun 2A dan 2B Desa Karanganyar Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan.

Ketua Kelompok Tani Mekar Sari tersebut mempunyai 25 anggota yang memiliki lahan didusun tersebut. Keterbatasan air menjadi kendala utama bercocok tanam.

Biasanya hanya mananam padi satu tahun sekali, itupun kalau turun hujan. Ketika hujan tak pernah turun, tidak bisa menanam palawija.

“Kami selaku kelompok tani berharap mendapatkan sumber air, selama ini belum ada pihak lain yang merespon,” ucapnya.

Menurutnya sumur menjadi satu-satunya cara mendapatkan sumber air, hal ini karena tak ada saluran irigasi menuju areal sawah.

“Disini memang sawah tadah hujan, kalau tak ada hujan tanaman akan cepat layu, bahkan petani enggan bercocok tanam,” jelasnya kembali.

Air Bersih ditengah Sawah

Gemericik air terdengar semakin jelas ketika tim Global Wakaf – ACT Lampung mendatangi bangunan biru ditengah areal persawahan.

Biasanya petani kesulitan untuk memberi air minum ternaknya. Untuk membajak sawah biasanya masih ada yang menggunakan bajak tradisional menggunakan tenaga sapi.

“Kami harus membawa air dari rumah untuk minum ternak, bisa kita lihat bongkahan tanah kering sekali,” jelas salah satu warga.

Hamparan tanaman jagung tepat dipinggir Sumur Wakaf terlihat semakin layu seiring terik matahari. Dari ujung persawahan tampak bangunan berwarna biru.

Letak bangunan itu kurang lebih 300 meter dari jalan utama. Bangunan terdiri dari perlengkapan listrik, pompa air, dua kran air dibagian depan dan 2 pipa menjulur ke pematang sawah.

Warga Karanganyar, Bapak Darijan, sangat senang dengan hadirnya Sumur Wakaf karena kelompok taninya telah mengirim permohonan ke beberapa pihak namun belum ada yang merespon.

“Selama ini kami banyak mengajukan tapi belum ada yang merespon, Alhamdulillah Oktober 2018 kemarin sumur ini terealisasi dan masyarakat dapat memanfaatkan airnya untuk pertanian dan minum ternak,” ungkapnya.

Keluhan mengenai kekurangan air untuk pertanian dapat sedikit terobati. Sebelumnya, petani hanya bisa menanam padi setahun sekali. Keterlambatan tanam sering terjadi karena tidak ada hujan.

Menurut Darijan warga yang berada di 6 RT bisa memanfaatkan air ini. Dirinya berharap ikatan saudara antar kelompok Mekar Sari dan Tunas Mandiri menjadi rukun dan erat dalam membina anggota kelompok dan selalu membersamai umat.

“Kalau tidak ada hujan kami menanam Palawija juga bingung, kalau Padi hanya sekali setahun, terimakasih kepada Pewakaf Dr. Ikrizal dan Global Wakaf – ACT” ucapnya ditengah pematang sawah.

Dijetahui, sumur Wakaf sudah diserah terimakan ke Masyarakat Karang Anyar pada Rabu (14/11/2018) lalu.

Dihadapan masyarakat, Kepala Cabang Global Wakaf – ACT Lampung Dian Eka Darma Wahyuni mengatakan Sumur tersebut merupakan jawaban dari terbatasnya air untuk bercocok tanam di Karang Anyar Lampung Selatan.

Hingga kini dirinya sangat memprioritaskan pembangunan Sumur Wakaf baik untuk MCK maupun pertanian. Hal ini karena swasembada pangan harus disupport oleh banyak pihak termasuk Global Wakaf.

Wakaf sebagai instrument untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat harus dijalankan secara profesional. Seperti pembangunan Sumur Wakaf.

Assesment diawal harus matang dan mendapatkan data real sehingga pembangunan tepat sasaran.

“Untuk Sumur Wakaf Karanganyar dirasa perlu segera terealisasi karena sangat terbatas airnya, Petani harus segera bercocok tanam, insyaallah ekonominya membaik,” tutupnya. (*)

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer