fbpx
Connect with us

Lampung Barat

Arinal-Nunik Mohon Doa Restu ke Warga Lampung Barat

Published

on

Arinal Nunik

Lampung.coArinal Djunaidi-Chusnunia Chalim memperkenalkan diri dihadapan ribuan warga Lampung Barat, di lapangan Sana Yuda, Fajar Bulan, Minggu (21/1/2018).

Arinal mengatakan, Lampung Barat adalah wilayah dengan 60 persen wilayah adalah konservasi. Untuk itu wilayah Lampung Barat cocok untuk wilayah konservasi. “Peningkatakan ekonomi, termasuk kopi Lampung Barat. Saya punya cara, dan berjanji agar kopi liwa, mendunia,” kata Arinal.

Yang tak kalah penting, bahwa holtikultura, semua tumbuhan sayuran bisa tumbuh hidup ditanam di Lampung Barat. “Tapi belum terkenal karena tata kelola yang belum baik. Jika ingin kaya, buah sayur bisa dikirim ke luar daerah,” kata Arinal

Arinal juga mohon dukungan dan doa restu, agar Lampung Barat tampil lebih baik dan maju. “Tenaga kerja akab lebih berfungsi dengan pemeberdayaan ekonomi rumah tangga. Orang tua wajib berperan untuk peningkatan pendidikan, terutama pendidikan agama. Jangan lupa pilih Arinal-Nunik,” katanya.

Arinal berjanji dengan Fukos ekonomi rakyat, penumbuhan tenaga kerja, demi ketahanan pangan. “Janji saya akan bangun mana yang tanggung jawab provinsi terutama jalan. Pendidikan dalam kualitas target pelajar bisa diterima di universitas negeri jaminan keamanan. Jangan ada lagi pencuri motor, ” katanya. (Rls)

 3,932 kali dilihat,  5 kali dilihat hari ini

Tim Redaksi media online Lampung.co menerbitkan berita-berita khusus, termasuk berita advertorial. Hubungi tim redaksi melalui email redaksi@lampung.co atau WhatsApp 0811-790-1188

Berita

Petani di Lampung Barat Ini Budidaya Buah Rotan, Ternyata Menjanjikan

Usia produktif tanaman rotan juga bisa mencapai usia 20 tahun. Dalam satu batang tanaman rotan diketahui dapat menghasilkan empat sampai lima kg jernang setiap panen. Sementara harga jernang untuk 1 kg berkisar Rp 17 ribu hingga Rp 50 ribu.

 22,051 kali dilihat,  14 kali dilihat hari ini

Published

on

Buah Rotan
Ilustrasi Buah Rotan | Foto: Ist.

Lampung.co – Masyarakat di Lampung Barat mulai melirik potensi komoditi buah rotan untuk dibudidayakan. Salah satu petani yang mulai membudidayakan buah rotan ini adalah Aan Yudiono.

Menurut warga Kecamatan Balik Bukit itu, buah yang akrab disebut jernang oleh masyarakat di Lampung Barat tersebut bisa digunakan untuk bahan baku obat-obatan, kosmetik, dan pewarna tekstil.

Potensi itu yang membuat jernang saat ini menjadi komoditi yang menjanjikan untuk para petani di Lampung Barat. “Itulah yang membuat saya tertarik karena potensi ekonominya bagus,” kata Aan, Minggu (30/10/2022).

Dia mengaku sudah memulai usaha budidaya jernang ini sejak tahun 2014 karena Saat itu permintaan akan komoditi jernang cukup tinggi. Namun karena Pandemi Covid-19 Aan vakum selama 3 tahun.

“Pasalnya, permintaan ekspore jernang distop. Sehingga permintaan jernang pun turun drastis,” ujarnya dikutip dari Tribun Lampung.

Pandemi usai, dirinya kembali mulai menekuni budidaya jernang. Dia menjelaskan, rotan banyak tumbuh alami di hutan. Kondisi sebagian wilayah Lampung Barat merupakan kawasan hutan, jadi masih mudah menemukan Jernang.

Aan menambahkan, masa tanam pohon rotan hanya memerlukan waktu sekitar empat tahunan agar jernang bisa dipanen. Setelah memasuki usia produktif, jernang bisa panen 2-3 kali dalam setiap tahunnya.

Usia produktif tanaman rotan juga bisa mencapai usia 20 tahun. Dalam satu batang tanaman rotan diketahui dapat menghasilkan empat sampai lima kg jernang setiap panen. Sementara harga jernang untuk 1 kg berkisar Rp 17 ribu hingga Rp 50 ribu.

“Saat ini harga jualnya sekira harga Rp 20 ribu–Rp 22 ribu per kg,” ungkap Aan.

Karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, dirinya ingin memperkenalkan budidaya jernang ini ke para petani di Lampung Barat. Dia juga siap untuk memberikan pendampingan kepada para petani yang tertarik dan ingin budidaya jernang.

Aan juga berharap kepada pemerintah kabupaten Lampung Barat agar dapat memberikan dukungan terhadap budidaya jernang. (*)

 22,052 kali dilihat,  15 kali dilihat hari ini

Continue Reading

Berita

Harga Sawi Anjlok dari Rp3.000/kg ke Rp200/kg, Petani di Lampung Barat Merugi

“Dari pembiayaan awal produksi kita aja udah enggak ketutup, pupuk mahal, obat-obatan juga,” ujar Edi

 9,449 kali dilihat,  13 kali dilihat hari ini

Published

on

Petani Sawi
Ilustrasi Petani Sawi | Foto: Ist.

Lampung.co – Harga jual sayur sawi di Lampung Barat mengalami penurunan drastis dari Rp 3.000/kg menjadi Rp 200/kg lantaran melimpahnya barang di pasaran. Hal itu membuat petani sayur sawi mengeluh.

Turunnya harga sayuran sawi di Lampung Barat sudah terjadi dari dua minggu terakhir. Salah seorang petani sayur sawi di Lampung Barat, Sofwan mengakui memang turunnya harga akibat melimpahnya barang di pasaran.

“Ya jadi murah karena sawi itu melimpah banget, banyak banget di pasar. Ya mungkin itu yang membuat harganya anjlok, jadinya petani pada ngeluh nih,” kata Sofwan seperti dikabarkan Tribun Lampung, Jumat (29/7/2022).

Anjloknya harga sayuran sawi tersebut tentu saja tidak sebanding dengan biaya perawatan dan biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani. “Dari pembiayaan awal produksi kita aja udah enggak ketutup, pupuk mahal, obat-obatan juga,” ujar Edi, salah satu Agen sayuran di Lampung Barat.

“Nah sedangkan harga-harga sayuran di pasaran sekarang mulai pada turun drastis semua. Enggak heran kalau petani sekarang udah mulai pada ngeluh,” imbuhnya.

Tentu kepada pihak berwenang, diharapkan ke depannya masalah seperti ini bisa cepat teratasi. Sehingga tidak ada lagi petani yang mengeluh karena merugi akibat harga jual tidak seimbang dengan biaya yang sudah dikeluarkan. (*)

 9,450 kali dilihat,  14 kali dilihat hari ini

Continue Reading

Berita

Presiden Gerakan Desa Emas Aries Muftie Hadiri Peluncuran GDE di Lampung Barat

Aries Muftie menyampaikan, dengan pelatihan dan pendidikan, warga desa bisa mengubah masa depan desa. Instrumen utamanya, ujar Aries, adalah Kampus Desa Emas.

 7,619 kali dilihat,  13 kali dilihat hari ini

Published

on

Abdul Hakim
Abdul Hakim menghadiri peluncuran Gerakan Desa Emas dan Kampus Desa Emas di Balai Pekon/Desa Trimulyo, Kecamatan Gedung Surian, Lampung Barat | Foto: Ist.

Lampung.co – Anggota Komite IV DPD RI daerah pemilihan Lampung Abdul Hakim menghadiri peluncuran Gerakan Desa Emas dan Kampus Desa Emas di Balai Pekon/Desa Trimulyo, Kecamatan Gedung Surian, Lampung Barat, Kamis, 6/1/2022.

Hadir dalam acara Presiden Gerakan Desa Emas Aries Muftie. Ia menyampaikan, dengan pelatihan dan pendidikan, warga desa bisa mengubah masa depan desa. Instrumen utamanya, ujar Aries, adalah Kampus Desa Emas.

Dengan kampus ini, warga diajak belajar dan mengerti dengan penerapan pembangunan desa. “Dengan demikian kita bisa mencapai desa emas 24 karat,” kata Aries.

Ia menambahkan, dalam menempuh belajar Kampus Desa Emas, para mahasiswa akan dididik dan mampu berpenghasilan setara dengan UMR pada semester III. Kampus nantinya akan membuat teaching factory yang disesuaikan dengan potensi desa.

Hadir pula dalam acara ini Asisten II Wasisno Sembiring, Kadis PDD Noviardi Kuswan, Kadis Koperindag Sugeng Raharjo, wakil dari Dinas Pertanian Rusdi, wakil dari Dinas Pariwisata Tri Umaryani, dan Camat Gedung Surian M. Agus Setiawan.

Juga hadir Pimpinan Unit BRI Sumberjaya Fajri, Kepada Desa/Pekon Trimulyo Buchori, Kepala Pekon Rigisjaya Sugeng, dan Kepala BUMDes Rigisjaya Rozikin.

Hakim mengatakan, Kampus Desa Emas adalah instrumen utama Gerakan Desa Emas atau GDE. GDE sendiri adalah ikhtiar untuk menjadikan desa menjadi daerah yang sarat dengan entrepreneur, mandiri, adil, dan sejahtera.

GDE membina karakter para patriot desa yang diikhtiarkan menjadi pelopor dan penggerak pembangunan di desa. Untuk menjadi patriot yang tangguh, dibutuhkan kurikulum yang terlembaga dalam Kampus Desa Emas. Para milenial bisa kuliah di Kampus Desa Emas.

Kampus ini, ujar Hakim, tidak membutuhkan gedung khusus,. Kuliah diadakan daring di balai desa atau tempat lain di tempat itu. Fokus utama pada pendidikan ekonomi, bisnis, dan industri kreatif lainnya.

Hakim mengatakan, pada semester III diharapkan mahasiswa sudah mampu menghasilkan pendapatan dari teaching factory yang ada di desa. Teaching factory disesuaikan dengan potensi ekonomi desa masing-masing. Misalnya pertanian, peternakan, pariwisata, dan kegiatan kreatif lainnya, termasuk kuliner.

Hakim ingin muaranya adalah semua desa atau kelurahan di Indonesia bisa menjadi desa atau kelurahan emas. Ia mengatakan, dalam konteks Indonesia, yang akan diwujudkan adalah desa atau kelurahan Pancasila. (*)

 7,620 kali dilihat,  14 kali dilihat hari ini

Continue Reading

Banyak Dibaca