Penanggulangan Karhutla Dengan Metode TMC di Riau Terus Berlanjut

Rodi Ediyansyah

Lampung.co – Operasi penanggulangan kebakaran hutan di Provinsi Riau melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hingga kini masih berlanjut.

Teknologi yang digunakan sejak 26 Februari 2019 ini bertujuan untuk menanggulangi bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Provinsi Riau.

Target TMC mengacu pada beberapa parameter seperti curah hujan, jumlah titik api, hingga tingkat kebasahan lahan.

Demikian disampaikan Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BB TMC-BPPT) Tri Handoko Seto di Jakarta, Jum’at (5/4/2019).

“Kegiatan TMC akan selesai jika kondisi beberapa parameter terkait Karhutla sudah dinilai dalam kondisi aman,” kata Tri Handoko kepada Lampung.co melalui surat elektronik.

Dia menerangkan, jumlah hotspot sudah berkurang secara signifikan, dan curah hujan terjadi secara merata di seluruh wilayah Provinsi Riau.

“Pada beberapa kegiatan sebelumnya, TMC biasanya berakhir pada waktu menjelang puncak musim hujan di wilayah target,” paparnya.

Kepala Bidang Pelayanan Teknologi BB-TMC, Sutrisno menjelaskan metode TMC untuk mengatasi Karhutla dengan melakukan penyemaian awan untuk memaksimalkan pembasahan lahan.

Melalui penyemaian awan yang dilakukan, lanjutnya, bahan semai yang disebar ke dalam awan akan mempercepat proses fisis awan sehingga dapat memaksimalkan potensi awan yang ada menjadi hujan.

“Hujan yang turun ke permukaan akan membasahi lahan di wilayah Provinsi Riau sehingga mampu membantu pemadaman titik api,” jelasnya dalam keterangan yang sama.

Sementara untuk mitigasi bencana asap akibat Karhutla, kata Sutrisno, pihaknya melakukan pembasahan lahan sehingga dapat menekan jumlah titik api.

Selain itu, dia menjelaskan, pembasahan lahan melalui hujan juga dapat mereduksi potensi penyebaran kebakaran yang telah terjadi, terutama pada lahan gambut.

“Kondisi lahan yang terjaga tingkat kebasahannya akan menekan potensi kemunculan titik api baru maupun penyebarannya,” tambah Sutrisno.

Diketahui Provinsi Riau merupakan wilayah yang secara historis rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla.

Sebaran titik api terpantau di sepanjang pesisir timur seperti Kab. Rokan Hilir, Bengkalis, Siak, Pelalawan, Indragiri Hilir, Kep. Meranti dan Kota Dumai.

Pantauan pada 24-27 Maret, jumlah titik api di atas 80 persen lebih banyak terdeteksi di Kab. Kepulauan Meranti, Kota Dumai dan Kab. Bengkalis. (*)

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer