Menu

Nasib Muslim Uighur, Dipaksa Makan Babi dan Minum Alkohol

  Dibaca : 188 kali
Nasib Muslim Uighur, Dipaksa Makan Babi dan Minum Alkohol
Aksi Cepat Tanggap (ACT) Lampung mengajak komunitas di Provinsi Lampung untuk membantu muslim Uighur di Xinjiang, China | Foto: Ist.

Lampung.co – Warga Muslim dipaksa makan daging babi setelah pihak berwenang China di wilayah barat laut Xinjiang mengirim daging babi ke rumah tangga Muslim selama liburan Tahun Baru Imlek.

Selain makan daging Babi, warga Muslim tersebut dipaksa minum alkohol dan menampilkan lambang budaya tradisional China.

Pemaksaan itu diungkap Radio Free Asia (RFA) dalam laporannya 6 Februari lalu yang dilansir dilansir sindonews.com, Sabtu (9/2/2019).

Warga Prefektur Otonomi Kazakh Ili di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang (XUAR) mengatakan kepada RFA bahwa para pejabat telah mengundang mereka untuk makan malam perayaan Tahun Baru Imlek.

Dalam laporan tersebut, disebutkan daging babi disajikan, kemudian mengancam akan mengirim mereka ke kamp “pendidikan ulang” jika mereka menolak untuk mengambil bagian.

Foto-foto yang dikirim ke RFA juga menunjukkan seorang pejabat dari kota Yli, Prefektur Otonomi Kazakh Ili, mengunjungi rumah-rumah Muslim dan mendistribusikan daging babi mentah.

Hal tersebut dilakukan alih-alih membantu mereka yang kurang mampu pada hari Senin atau pada malam Tahun Babi.

Seorang warga etnis Kazakh dari Altay’s Qinggil—dalam bahasa China; Qinghe—mengatakan kepada RFA bahwa upaya untuk membuat Muslim makan daging babi telah dimulai akhir tahun lalu.

“Orang Kazakh di Xinjiang tidak pernah (makan babi). Mulai tahun lalu, beberapa orang terpaksa makan daging babi,” kata warga, yang identitasnya dilindungi.

Seorang wanita Kazakh yang hanya memberikan nama pedek, Kesay, mengatakan bahwa Muslim biasanya tidak merayakan Festival Musim Semi -istilah lain untuk Tahun Baru Imlek-.

“Kazakh tidak merayakan Festival Musim Semi,” tegasnya.

“Festival utama kami adalah Idul Fitri dan Idul Adha. Festival Musim Semi adalah untuk orang China Han dan orang-orang yang percaya pada agama Buddha,” tambahnya

Kesay menambahkan, daging babi dan alkohol dilarang atau haram dalam ajaran Islam, dan perayaan festival China berakar pada agama rakyat politeistis, yang meliputi ikonografi Buddha.

Menurutnya, orang-orang Muslim yang menghormati festival-festival semacam itu berisiko melakukan dosa yang tak termaafkan karena menganut lebih dari satu Tuhan.

“Muslim seperti kita, Uighur, Hui, dan Kazakh, jangan lakukan itu. Tetapi orang-orang menempelkan bait puisi Tahun Baru di pintu rumah tangga Uighur dan Kazakh, dan memberi mereka daging babi,” sesalnya.

Dia menjelaskan, jika kita tidak memasang kuplet atau menggantung lentera, mereka mengatakan kita bermuka dua, dan mereka mengirim kita ke kamp pendidikan ulang.

“Bermuka dua” adalah sebutan yang digunakan oleh pejabat China untuk menargetkan orang Uyghur dan kelompok etnis minoritas lainnya yang memprotes atau menolak untuk bekerja sama.

Resikonya seperti yang terjadi baru-baru ini di wilayah itu, termasuk penahanan massal, sekolah massal anak-anak Uighur untuk berbicara bahasa Mandarin dan merangkul Partai Komunis.

Dilxat Raxit, juru bicara kelompok pengasingan Kongres Dunia Uighur, mengakui organisasinya juga telah menerima laporan serupa mengenai rumah tangga Uighur.

“Menurut informasi kami, pemerintah China meningkatkan kampanye untuk mengasimilasi Uighur ke dalam budaya Han China,” ujarnya. (*)

Iklan Baris
Wooww... Undangan Pernikahan Murah Hanya Rp. 950. Telp/WA: 0857-8976-8640

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Banner Ads

- Iklan Layanan Masyarakat -


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional