Menu

Menguak Lebih Dalam Pahlawan asal Lampung KH Ahmad Hanafiah

  Dibaca : 311 kali
Menguak Lebih Dalam Pahlawan asal Lampung KH Ahmad Hanafiah
Sesi poto bersama dengan keluarga besar KH Ahmad Hanafiah | Foto: M.Ichsan Zulkarnain/Lampung.co

Lampung.co – Senin (31/12/2018) nampaknya menjadi hari penting bagi kepahlawanan masyarakat provinsi Lampung, terutama kabupaten Lampung Timur.

Pasalnya pada hari itu UIN Raden Intan Lampung bersama Pemkab Lamtim mengadakan seminar nasional dan lauching buku biografi pahlawan asal Lampung Timur, KH. Ahmad Hanafiah.

Acara yang bersamaan dengan penanda tanganan nota kesepahaman (MoU) antara UIN Raden Intan dengan Pemkab Lampung Timur tersebut dihelat di Gedung Rektorat UIN Raden Intan Lampung.

Acara tersebut dihadiri oleh Rektor UIN, Prof. Moh. Mukri beserta jajaran civitas akademik, guru besar, jajaran Pemkab Lampung Timur, mahasiswa serta keluarga KH. Ahmad Hanafiah.

Seminar yang dimoderatori oleh dosen fakultas Syariah dan Hukum, Dr. Erina Pane itu menghadirkan tiga pembicara, diantaranya Saksi sejarah perjuangan KH. A. Hanafiah, KH. Arif Mahya.

Kemudian Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Intan Lampung sebagai Peneliti Sejarah KH. A Hanafiah, Prof. Wan jamaluddin serta Guru Besar Filsafat Sosial, Prof. Fauzi Nurdin.

Kesaksian saksi sejarah perjuangan KH. A. Hanafiah

“Beliau merupakan sosok yang heroik dan patriotis terhadap kemerdekaan Republik Indonesia. Juga seorang ulama dan pemikir,” ungkap KH. Arif Mahya.

Lelaki yang akrab disapa buya Mahya dikalangan kiai NU ini mengungkapkan, bahwa dirinya layak dianggap sebagai saksi sejarah kepahlawanan KH. A Hanafi. Sebab, menurutnya, dari beberapa saksi yang ia ketahui, hanya dirinya lah yang masih hidup.

Arif Mahya mengaku dirinya pernah mengajukan mendiang KH. Ahmad Hanafi sebagai pahlawan nasional pada era pemerintahan presiden SBY. Ia berharap, pahlawan dari Lamtim ini segera dinobatkan sebagai pahlawan Nasional.

“Ini menjadi kewajiban kita semua sebagai masyarakat Lampung dan pemkab Lampung Timur,” Imbuh buya Mahya.

Bukti Perjuangan KH. A Hanafiah

Guru Besar UIN Raden Intan sebagai Peneliti Sejarah KH. A Hanafiah Prof. Wan jamaluddin memaparkan banyak hal hasil penelitian yang telah dia lakukan.

Menurutnya, penelitian berawal dari perbincangan Prof. Fauzi Nurdin, pada saat itu Prof. Fauzi Nurdin menperlihatkan sebuah karya (tulisan) dari KH. A Hanafiah.

Sosok KH Ahmad Hanafiah telah menghasilkan karya-karya yang abadi hingga kini masih terjaga, yaitu kitab Al-Hujjah dan kitab tafsir Ad-Dohri.

“Berdasarkan tulisan tersebut, dapat saya katakan bahwa beliau bukan hanya seorang pemimpin perang, tetapi juga sebagai seorang akademis,” tutur Prof. Wan jamaluddin.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, kata dia, terungkap bahwa bahwa nama KH. A Hanafi disebutkan dalam buku sekitar perang kemerdekaan Indonesia karya Jenderal Besar A.H Nasution.

Dikutip dari buka karya Jenderal A.H Nasution; “Pelbagai usaha dilakukan untuk merebut kembali atau mengacaukan kota-kota yang terpenting terhadap agresi militer di Sumatera Selatan dan Lampung pada 1947. Antara lain dari jurusan Lampung terhadap Baturaja aksi rakyat dibawah pimpinan Ratu Penghulu, Patih Nawawi, dan Kiai Hanafiah dari sukadana, dan beberapa pemimpin rakyat yang lain, yang bertahan di Martapura. Kiai Hanafiah tertawan dan kemudian dibunuh oleh musuh“.

“Ini membuktikan bahwa beliau merupakan sosok pemimpin perang,” tutur Jamaluddin.

Koneksi dengan tokoh Islam di Indonesia

“Saya menemukan benang merah antara KH. A Hanafi dengan KH. Hasyim Asy’ari,” kata Jamaluddin dalam acara seminar tersebut.

KH. Asy’ari menjadi pemimpin Masyumi pada pembentukan tahun pertama nya dan KH. A hanafi menjadi pemimpin Masyumi di Sukadana.

“Saya menduga mereka memiliki guru yang sama, yaitu KH. Ahmad Shaleh Darat yang juga guru pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Tapi masih membutuhkan pembuktian lagi sebagai penguat,” jelas Jamaluddin.

Biografi KH. A Hanafiah

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Fauzi Nurdin menguraikan secara gamblang biografi KH. Ahmad Hanafiah. Prof. Fauzi Nurdin yang tak lain merupakan keturunan adik kandung KH. Ahmad Hanafiah itu sendiri.

KH. Ahmad Hanafiah Lahir di Sukadana, Lampung Timur pada tahun 1905 dan wafat pada 1947. Merupakan putra sulung dari KH. Muhammad Nur, seorang ulama, sekaligus pimpinan pondok pesantren Istishodiyah di Sukadana.

Ia belajar agama Islam dengan sang ayah sejak belia. Ini membuktikan bahwa darah ulama sudah melekat pada sosok KH. A Hanfiah sejak lahir. Riwayat akademis dan pengabdiannya, KH. A Hanfiah pernah mengabdi menjadi guru agama Islam pada 1920-1925.

Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Kelantan, Malaysia pada 1925-1930. Kemudian melanjutkan pendidikannya di tanah suci hingga 1936. Bukan hanya kuliah, di makkah ia juga pernah mengajar Agama Islam pada tahun 1934-1936.

===

Di akhir acara, Rektor UIN Raden Intan Lampung, Prof. Dr. Moh Mukri menyampaikan harapannya terkait budaya literasi para ulama di Indonesia agar diturut generasi milenial saat ini.

“KH. A Hanafiah merupakan sosok yang moderat. Orang yang moderat pasti cerdas, karena banyak bacaanya, banyak literasinya. Alangkah baiknya bila generasi milenial mencontoh budaya literasi para Ulama yang menjadi faktor besarnya peran ulama di tanah air,” harap rektor Mukri. (miz)

Iklan Baris
Wooww... Undangan Pernikahan Murah Hanya Rp. 950. Telp/WA: 0857-8976-8640

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
- Advertisement -


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional