Benarkah! Pulau Tegal Dijual?

Tim Redaksi

Lampung.co – Pulau Tegal berada di Desa Gebang, Kecamatan Teluk Pandan, Pesawaran, Lampung. Dihuni 30 Kepala Keluarga (KK). Rabu (18/10/2017) di rumah baca yang ada di Pulau Tegal sedang terjadi pembahasan. Yakni, bagaimana cara menjual Pulau Tegal?

Menjual Pulau Tegal ini diinisiasi para penggerak literasi yang ada di Lampung. “Menjual Pulau Tegal?” diharapkan mampu mengorbitkan salah satu bagian yang ada di Pulau Tegal sebagai wisata edukasi dan meningkatkan kemampuan UMKM warga sebagai mata pencarian tambahan.

“Ini bukan konotasi negatif. Tapi menghidupkan mata rantai. Masyarakat tidak dimanjakan donatur yang datang. Tapi bisa lebih mandiri dengan aktifitas perpustakaan yang dimiliki dengan didukung hidupnya UMKM,” katan salah satu perwakilan Gerakan Lampung Membaca Yoga Pratama.

Pemred Lampung.co ini juga mengatakan pendidikan di Pulau Tegal tidak akan bisa berjalan, jika kebutuhan ekonmi orang tua anak sangat memprihatinkan sehingga tetap memaksa anak untuk mencari uang tambahan dengan cara ikut bekerja ataupun menjadi buruh ditempat lain.

 “Salah satu caranya adalah dengan menjadikan salah satu lokasi yang ada rumah belajar dan rumah baca di Pulau Tegal sebagai destinasi wisata edukasi yang ada di Pulau Tegal. Kenapa tidak kita jual wisata edukasi? Toh bisa meningkatkan pendapatan masyarakatnya melalui UMKM yang bisa dilakukan masyarakat. Jadi masyarakat tidak dimanjakan. Tapi dengan kehadiran rumah baca dan para relawan untuk mengajar di Pulau Tegal bisa membantu perkeonomian warga lebih mandiri,” paparnya.

Kemandirian ekonomi masyarakat yang sudah memiliki rumah baca ini sudah dilakukan dibeberapa daerah dan berhasil. Maka hal yang tak mustahil di Pulau Tegal bisa melakukan hal yang sama.

“Potensi di Pulau Tegal ini kan besar. Sangat besar. Selain wisatanya, ada sumberdaya alam yang bisa digali sebagai sumberpendapatan baru bagi masyarakat. Memang tidak mudah merubah paradigma, tapi harus dimulai dengan niat stakeholder yang ada di sini untuk membuat masyarakat mandiri,” kata Yoga.

Lalu bagaimana selanjutnya ketika UMKM di Pulau Tegal berjalan? Disampaikannya, setelah itu pastinya pihak swasta atau donator tetap yang selama ini lebih banyak dinaungi oleh LAZDAI atau pihak lain bisa menampung barang yang dihasilkan warga Pulau Tegal untuk bisa dipasarkan di kota. Bahkan, promosi menjual wisata edukasi bisa dilakukan para promotor blogger dan penggiat media sosial di Provinsi Lampung.

“Inilah rantai ekonomi yang harus berjalan. Mengajak anak-anak untuk tetap sekolah dengan nilai tambah ekonomi keluarga berjalan. Jangan sampai hak pendidikan anak dirampas untuk mendapatkan uang untuk lebih memilih sang anak bekerja dari pada sekolah,” tandasnya.

Senada disampaikan Pustakawan Provinsi Lampung Nellawaty Ningsih. Menurutnya, “Menjual Pulau Tegal” yang disampaikan bukanlah konotasi negatif. “Jadi UMKM beriringan. Makanya, bisa jadi wisata edukasi. Karena disini juga ada kegiatan pendidikan yang berlangsung dan rumah baca. Selanjutnya bisa lebih mencari titik fokus apa yang bisa dikerjakan oleh warga sebagai meningkatkan nilai ekonomi keluarga dengan dibentuknya UMKM,” tukasnya.

Hal yang sama juga disuarakan Anggota DPRD Lampung, Ade Utami Ibnu. “Ini kan berbicara pendidikan. Pendidikan itu hak semua orang. Dan itu sudah sepatutnya ada. Jadi lanjutkan saja. Terlepas nanti ini digusur atau tidak, atau seperti apa. Yang punya tanah ini juga artinya memiliki tanggungjawab untuk memberikan mereka hak pendidikan. Maka ketika semua berlangsung kenapa tidak pihak swasta yang ada di sini justru lebih mengembangkan potensi anak-anak dengan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi,” tukasnya.

Terakhir, Uniroh, selaku Koordinator SP3T yang menjadi relawan mengajar di Pulau Tegal siap mengawal proses kegiatan belajar mengajar di Pulau Tegal. Untuk itu ia berharap ada regulasi yang pasti kedepannya tentang bagaimana pengembangan pendidikan di Pualu Tegal, masyarakat ikut terbantu secara ekonomi, dan relawan dapat mengajar dengan nyaman dan aman serta honor mengajar yang sesuai.

Diskusi berlangsung di Pulau Tegal juga dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Pesawaran Toto Sulistyo. Pada perinsipnyan pihaknya mendukung, dan akan mensuport kegiatan perpustakaan dan penyelenggaran minat baca di Pulau Tegal. Begitu juga yang disampaikan perwakilan kecamtan, dinas pendidikan, TNI dan Polri. Serta, LAZDAI. (Goy)

Tim Redaksi

Tim Redaksi media online Lampung.co menerbitkan berita-berita khusus, termasuk berita advertorial. Hubungi tim redaksi melalui email redaksi@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer