Polemik Pasar Perumnas Way Halim Terus Membara, Dosa Janji Manis Pun Dibeberkan Pedagang

Tim Redaksi

Lampung.co – Polemik Pasar Perumnas Way Halim belum berakhir. Jika beberapa informasi menyatakan sudah tidak ada masalah terhadap pembagian kios pasar beberapa hari lalu, justru hari ini polemik tersebut memasuki babak baru. Babak baru dimulai setelah para pedagang datangi Kantor Hukum Wahrul Fauzi Silalahi & Rekan untuk minta pendampingan.

Para pedagang yang tidak dapat kios tersebut menyampaikan keluh kesahnya kepada para advokat yang tergabung di Kantor Hukum milik Direktur LBH Bandar Lampung tersebut. Pedagang meluapkan segala keresahannya karena tidak mendapatkan kios sebagai mana janji dari Pemkot Bandar Lampung melalui dinas perdagangan.

Raut kekecewaan itu pun teramat jelas disampaikan. Seperti yang dikatakan perwakilan pedagang Dedi. Menurutnya ia dan pedagang yang hadir di Kantor Hukum Wahrul Fauzi & Rekan merupakan pedagang yang sudah menempati Pasar Perumnas Way Halim sejak 1984 dan juga sudah memiliki kios sejak tahun 1995.

“Kita itu dulu beli. Dan sekarang di renovasi kita kok nggak dapat tempat. Padahal dulu sebelum di renovasi ada 193 dan sekkarang ada 239. Tapi malah kami pedagang lama tidak dapat kios. Malah dijanjikan ini itu yang tidak jelas,” kecewa pemilik nama lengkap Dedi Andisupati tersebut.

Para pedagang yang tak kebagian kios itu pun tak mau mengalah dan menyerah begitu saja. Menurut mereka hak adalah hak. Dan kewajiban pemerintah tetaplah kewajiban.

“Kami buta dengam hukum, kami tahunya kami berjuang untuk dapatkan hak-hak kami. Kami hanya minta hak kami untuk dapatkan kios. Karena sudah dijanjikan walikota dan kepala dinas. Jangan ingkar dan batalkan serta cabut janji begitu saja,” kecewa Dedi lagi.

Pihaknya juga datang mencari pendampingan dan perlindungan hukum dengan membawa bukti yan kuat, yang menyatakan bahwa pihaknya adalah pedagang lama yang seharusnya mendapatkan kios, bukan pedagang baru yang tiba-tiba dapat.

“Kami yakini kami ini terdaftar dan memiliki kios baru itu sebagai hak kami. Kami punya buktinya. Tapi kenapa ketika diiundi kami hanya diminta untuk lihat undian saja dan tidak mendapatkan seperti apa yang seharusnya sebagai pemilik kios lama,” tanyanya yang terus menggambarkan kekecewaan.

Dosa-dosa dinas perdagangan melalui janji-janji manis pun dibeberkan para pedagang. “Kami kecewa, kami tidak dapat. Ada ibu-ibu yang nangis. Bapak-bapak yang marah. Kami sudah pada tua, kami berdagang sudah puluhan tahun, tapi kami tidak dapat hak kami. Dan sekedar janji yang disampaikan. Sampai sekarang tak ada keterangan yang jelas kemana hak kami tersebut,” keluhnya.

Dirinya juga menegaskan, pihak pedagang yang tak dapat kios itupun tidak mempermasalahkan ada apa yang terjadi diluar aturan yang telah disampaikan. Mereka yakini tak ikut campur. Terpenting yang diinginkan pedagang adalah hak nya kembali pada pemegang hak sesuai aturan yang berlaku.

“Kami telah sampaikan langsung ke dinas, tapi tan ditemui kepala dinas, hanya beberpaa kabid yang tak punya kebijakan. Kami diminta datang kembali dan dijanjikan. Tapi lagi-lagi kecewa dan tidak ada kepastian. Begitu juga ketika bertemu sekretaris dinas lagi-lagi dijanjikan untuk ruko baru selanjutnya yang akan dibangun di 2018. Tapi kami menolak. Bayangkan, hak kami yang dijanjikan saja saat ini tidak dipenuhi apagi yang masih tak jelas kapan ada,” kecamnya.

Untuk itu pihaknya harap sudah ada keputusan. “Kami hanya minta hak. Kami bapak bapak tua tiap hari bergerak tapi tidak ada yang bisa dipercaya dari omongan mereka. Kami pun sudah ke DPRD Kota Bandar Lampung. Kami minta kejelasan,kami minta hak kami. Kami tidak ikut campur terjadi sesuatu yang diluar aturan itu kami tidak ikut campur. Kami minta hak. Tapi lagi-lagi kami hanya dijanjikan kembali dapat tempat baru mendatang. Sementara di ouning. Tapi disitu sudah ada yang punya. Dan kami kembali menolak. Kami minta hak kami seperti janji. Tapi mereka menolak pasar telah habis terbagi,” tuturnya yang masih dalam nada kecewa.

Justru kekecewaan semakin tinggi, ketika perwakilan warga lainnya menceritakan apa yang telah terjadi. Mengingat apa yang telah disampaikan kepala dinas perdagangan yang menyatakan mencabut janjinya kepada para pedagang yang tak dapat kios.

“Dan padahal itu aturanya untuk pemilik dagang yang lama. Kecuali penyewa harus bernegosisasi pemilik untuk dapat tempat. Itu jelas. Maka saya tanyakan kembali. Tapi dengan seenaknya dicabut dan dirubah. Aturan dari mana. Padahal setiap aturan harus disosialisasikan. Aturan itu aneh. Kami kehilangan hak,” kecewanya. (Goy)

Tim Redaksi

Tim Redaksi media online Lampung.co menerbitkan berita-berita khusus, termasuk berita advertorial. Hubungi tim redaksi melalui email redaksi@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer