Mengintip Kemiskinan Kawasan Lokalisasi di Bandar Lampung

Tim Redaksi

Lampung.co – Matahari terasa seperti sudah bertengger di atas kepala. Waktu menunjukan pukul 10.30 WIB. Belum pas 12.00, di rasa masih pagi menjelang siang, namun sinar mentari hari Senin (16/07/2018) benar-benar begitu melekat.

Lampung.co mencoba menelusuri perjalanan kawasan Kota Bandar Lampung, menelisik beberapa wilayah kawasan yang masuk ke dalam zona merah, yakni zona kumis (kumuh dan miskin).

Terlebih salah satu kawasan yang dikenal sebagai salah satu kawasan lokalisasi di Bandar Lampung, yakni di Kampung Teluk Harapan, Panjang Selatan, Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung, Lampung.

Lampung.co susuri satu per satu wilayah, dari daerah yang tampak begitu terik mentari hingga amat terasa di daerah pesisir laut Bandar Lampung itu, jalanan berdebu dan beberapa sampah berserak menyeru.

Beberapa kafe-kafe yang masih sepi bahkan belum dibuka, lain hal kalau datang di sore hari terlebih malam hari yang ramai gemerlap, dan suara musik berdentum mesra.

Masih sangat siang, sepi perjalanan hingga ke rongga gang. Mungkin di antara penggiat malam masih tertidur. Belum ada aktifitas selain beristirahat.

Tapi tujuan Lampung.co memang tidak spesifikasi ingin menyaksikan aktifitas gemerlap tubuh mungil yang membalut seksi di tanah ibu kota Provinsi Lampung.

Lampung.co hanya ingin melihat, situasi siang hari di kawasan pesisir Bandar Lampung ini. Sampailah, Lampung.co memasuki gang-gang sempir, di antara rumah-rumah di tepi pesisir.

Di antara rumah permanen dan rumah yang terbuat dari papan. Sampai akhirnya, perjalanan menuju titik buntu, di antara rumah-rumah apung yang berdiri di tepi laut teluk Lampung.

Lampung.co pun mampir ke salah satu rumah warga setempat, sekedar ingin berbincang, ingin mengorek informasi tentang nikmatnya daging qurban saat Idul Adha.

Kenapa daging Qurban? Kenapa di wilayah Teluk Lampung? Kenapa di daerah Pesisir Bandar Lampung? Sebab, Lampung.co pernah mendapatkan informasi betapa sulitnya ekonomi mereka.

Sebab hidup berdampingan dengan kawasan lokalisasi, menjadi salah satu sulitnya orang-orang dermawan ingin masuk menengok dan berbagi kepada mereka.

Sementara, mereka ingin merasakan hal yang sama, indahnya dalam kehidupan saling berbagi. Lampung.co pun berbincang dengan Dewi Marisa. Wanita berusia 40 tahun yang berada di RT 08, LK 01, di kampung Teluk Harapan.

Dewi banyak bercerita. Termasuk tentang kedermawanan sebuah lembaga yang masih memberikan perhatian kepada warga setempat, selain dari pemerintah, baik Pemerintah Indonesia maupun pemerintah kota.

Kepedulian itu ia ceritakan, termasuk menceritakan tentang pengalaman pahitnya yang pernah disesatkan sebagai wanita penghibur, pemilik rumah bordir, menjadi seorang mami, pengedar narkoba, hingga dirinya dipenjara dan tersadar.

Ia menyaksikan betul, sejak dari tahun 2009 saat dirinya dinikahi pria setempat, saat-saat tersadar dari multi masalah yang dihadapi dirinya.

Bahkan, beberapa anak wanita tuna susila lainnya ada yang diasuh dirinya, untuk menghindari apa yang dikerjakan ibunya.

Sampai kini, anak-anak itu betah dan tak ingin tinggal dengan ibunya. Sementara, wanita yang menitipkan anaknya kepada Dewi sekedar datang untuk menengok.

Sosok Dewi hanya satu gambaran dari kondisi lainnya yang ada di kampung tersebut. Ia dalam sulitnya ekonomi, dan kini memiliki pekerjaan sebagai buruh cuci dengan usaha laundry masih tetap mau membantu orang lain.

Lampung.co pun berusaha mengalihkan obrolan lain. Kali ini tentang riwayat hari raya idul adha. Yang sebentar lagi akan dihadapi oleh mayoritas muslim di dunia, dan juga bagi masyarakat Lampung.

Berdasarkan kesaksian Dewi, selama ini memang sangat jarang warganya menikmati daging. Bahkan, di hari Qurban pun, banyak warga yang tak dapat.

“Jadi mas, daging itu ya tergantung aja sama masjid yang banyak motong. Kalau dikit ya nggak dapat. Jadi nggak mesti dapat setiap tahun. Kan di sini warga tidak mampunya banyak. Jadi jarang kan yang berqurban,” kata dia.

Maka dari itu, banyak warga setempat yang belum tentu menikmati daging. Laing hal dengan ikan. Sebab, para suami di lingkungan setempat banyak yang berprofesi sebagai nelayan.

“Jangankan daging, hari-hari tertentu yang penting bisa kebeli beras sama sayur. Sayur aja, bayam itu dah paling kejangkau mas,” ceritanya lagi.

Menurutnya, lebih dari 150 kepala keluarga yang ada di kampung tersebut, bahkan bisa mencapai 250an kepala keluarga.

Dan beberapa waktu memang menurutnya, saat hari raya idul fitri, datang Aksi Cepat Tanggap (ACT) Lampung. ACT Lampung yang membawa anak-anak di kampung setempat membeli pakaian baru untuk lebaran.

“Semoga ada kedermawanan orang lain melalui ACT Lampung juga di Idul Adha ini. Jadi kami bisa menikmati daging,” harapnya.

Disebut-sebutnya ACT Lampung, Lampung.co langsung menghubungi salah seorang pihak ACT Lampung untuk menanyakan hal yang ditemukan Lampung,co.

Kepala Program ACT Lampung Dian Eka Darma Wahyuni pun menjelaskan ke Lampung.co ihwal lembaganya di wilayah tersebut.

Menurutnya, pihaknya tak bisa menjanjikan. Namun akan berusaha untuk bisa mendatangkan dermawan untuk berqurban sehingga qurban tersebut bisa disalurkan ke masyarakat setempat.

“Kami tidak bisa berjanji. Tapi kami akan usahakan. Apalagi kami juga kan ada program qurban progresif,” terangnya, Senin (16/07/2018) di Bandar Lampung.

Saat ditanya bagaimana cara berqurban melalui ACT, dijelaskannya, cara bequrban di ACT cukup dengan tranfer melalui rekening Yayasan Global Qurban BNI Syariah 888 0000 372 kemudian konfirmasi ke 081274330001.

“Insyaallah ACT amanah menyalurkan daging Qurban kepada masyarakat pra sejahtera, baik untuk di Lampung hingga luar negeti akan kami sampaikan. Semoga saja ada kebaikan niat berbagi untuk mereka,” tandasnya. (goy)

Tim Redaksi

Tim Redaksi media online Lampung.co menerbitkan berita-berita khusus, termasuk berita advertorial. Hubungi tim redaksi melalui email redaksi@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer