Dermawan, Pedagang Bubur di Bandar Lampung dan Keluarganya Ini Butuh Bantuan

Tim Redaksi

Lampung.co – Pengorbanan seorang ayah demi menafkahi keluarganya, terkadang hingga mengorbankan dirinya. Sakit pun tak dirasa, hanya untuk sebuah tanggung jawab mencukupi kebutuhan orang-orang yang dicintainya.

Inilah yang dialami Sabiis (45) warga Jalan Dr. Harun II, Gang Swadaya, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung.

Pedagang bubur sum-sum ini kini terbaring lemah tak berdaya dengan kulit membalut tulang karena menderita sakit komplikasi, mulai dari batu ginjal, paru-paru, darah tinggi dan jantung. Badannya yang dahulu berisi mulai ‘habis’ digerogoti penyakit.

Bahkan, Sabiis tak mampu bergerak dari atas kasur yang terhampar di lantai. Saat dia haus, tangannya pun tak kuasa meraih gelas yang ada di dekatnya. Dengan isyarat tangan, Sabiis memanggil istrinya, Asmawati (44).

Di rumah kontrakannya, Sabiis hanya mengandalkan sang istri untuk memenuhi setiap kebutuhannya.

Sudah lebih dari satu tahun Sabiis tak mampu bergerak. Kakinya yang dahulu kuat berjalan puluhan kilometer berjualan bubur sum-sum kini seakan tak bertulang. Bahkan untuk berdiri, Sabiis tak kuasa lagi.

Sabiis sudah didiagnosa sejak lama mengidap beberapa penyakit itu. Namun, kegigihan untuk menghidupi keluarga membuatnya tak memperdulikan peringatan dokter.

“Sakit-sakit mulai parah sekitar tiga bulan lalu, bahkan sampai badannya sampai kurus gitu. Dia sakit komplikasi kaya batu ginjal, paru-paru, jantung dan darah tinggi,” ujar Asmawati, seperti dilansir okezone.com, Minggu (1/4/2018).

Keluarga bukan tak mau mengobati Sabiis. Tak terhitung sudah berapa kali Sabiis menjalani perawatan bahkan hingga pengobatan tradisional. Tetapi, kondisinya tak juga membaik.

“Sudah beberapa kali saya bolak-balik ke puskesmas, pengobatan alternatif juga sudah, dirawat di rumah sakit sudah. Tapi kondisinya masih seperti ini,” lirih Asmawati.

Dia menambahkan, sebelum menjalani perawatan di rumahnya, sang suami pernah dirawat di Ruang Melati, Rumah Sakit Umum Daerah Abduk Moeloek (RSUDAM) selama sepekan.

“Selama dirawat itu dia suka menjerit-jerit, bahkan ngomongnya sering ngawur, katanya ada setan turun semua mendatanginya. Terus dia juga selalu minta pulang. Jadi saya bingung, terpaksa saya bawa pulang,” kata Asmawati lagi.

Selain itu, faktor ekonomi juga membuat dirinya harus merawat suami di kontrakan semi permanen.

“Saya kerja jadi pembantu rumah tangga, penghasilan saya hanya cukup untuk bayar kontrakan dan makan sehari-hari. Anak saya ada tiga, yang dua sudah nikah. Kalau dia (Sabiis) dirawat di rumah sakit, kasihan enggak ada yang nunggu,” ujar Asmawati.

Kendati mengaku pasrah, tapi dia tak putus harapan untuk kesembuhan sang suami  agar kembali bekerja.

“Saya sudah pasrah dengan kondisi suami saya, jika mau diambil silakan ya Allah, dari pada suami saya seperti tersiksa. Tapi, saya berharap dia bisa sembuh agar bisa bantu keluarga lagi,” tutur Asmawati. (*/rus)

Tim Redaksi

Tim Redaksi media online Lampung.co menerbitkan berita-berita khusus, termasuk berita advertorial. Hubungi tim redaksi melalui email redaksi@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer