Komnas PAI: 82% Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak Adalah Orang Terdekat

Rodi Ediyansyah

Lampung.co – Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada hari ini, (23/7/2018) jadi pranala empati sejumlah tokoh akan kekerasan terhadap anak dan masa depan anak Indonesia.

Mereka angkat bicara merespons isu strategis pemuliaan hak anak, ancaman kekerasan, studi efek negatif gawai pada tumbuh kembang anak, hingga belantara harapan masa depan anak Indonesia.

Adanya fakta bahwa anak-anak Indonesia sampai kini belum terbebas dan merdeka dari berbagai bentuk peluang ancaman dan tindak kekerasan, sungguh pantang diabaikan.

Gentayang hantu kekerasan atas anak ini diungkapkan Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (Komnas PAI) Arist Merdeka Sirait.

Dibuktikan dengan parameter masih tingginya angka pengaduan kekerasan terhadap anak yang masuk ke Komnas PAI sepanjang tahun 2017.

“Sepanjang 2017, kami menerima 2.737 kasus pengaduan kekerasan terhadap anak, dengan bentuk kekerasan yang sering dialami korban yakni sodomi, oral seks, perkosaan, perbuatan cabul, dan hubungan seksual sedarah (incest),” ungkap Arist, saat dikonfirmasi redaksi, Senin (23/7/2018) siang.

Menurut Arist, sebanyak 58 persen di antaranya didominasi kekerasan seksual yang tidak saja dilakukan orang per orang tapi juga dilakukan secara bergerombol (geng rape).

“Ini mencengangkan. Dari angka 58 persen itu, 82 persen pelakunya orang terdekat korban, 16 persen pelakunya berusia anak. Rerata korban 14 persen berusia di bawah 14 tahun, sisanya 86 persen berusia 15-17 tahun,” papar Arist.

Sebaran kasus itu, sambung dia, merata di berbagai daerah di Indonesia, desa dan kota. Sementara, latar pendidikan juga tidak jadi faktor penentu tindakan kekerasan atas anak.

“Rumah, lingkungan sekolah, ruang publik atau tempat bermain anak, serta pondok atau panti-panti anak tak lagi memberi rasa nyaman dan aman bagi anak. Justru lingkungan inilah tempat pemangsa hak-hak anak,” tandas dia.

Keadaan ini, lanjut Arist, diperparah dengan pemahaman tradisional masyarakat bahwa anak masih dianggap milik yang wajib tunduk pada otoritas orang dewasa dalam keadaan apapun.

Akibatnya, anak dalam keluarga sering ditempatkan sebagai properti, aset dan sumber alternatif ekonomi keluarga.

“Anak tak lagi mempunyai kesempatan menjadi manusia yang berharkat-bermartabat,” pungkas Arist. (*/doy)

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer