Menu

Kisah Jimmy Tentang Sadisnya Pembunuhan KKB di Nduga

  Dibaca : 217 kali
Kisah Jimmy Tentang Sadisnya Pembunuhan KKB di Nduga
Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka | Ist

Lampung.co – Ada sebuah kesaksian yang menyedihkan dari apa yang disampaikan Jimmy Rajagukguk dilansir dari kompas.com.

Jimmy adalah salah satu korban selamat dari pembantaian yang dilakukan kelompok keriminal bersenjata (KBB) di Nduga, Papua.

Menurutnya, saat itu mereka merasa ketakutan lantaran diancam untuk dibunuh.

Bahkan di antaranya dipaksa dan terpaksa mengaku sebagai anggota TNI dari Kopassus, BIN, atau Bais.

Diterangkannya, dia dan karyawan lainnya disekap satu malam tanpa mengetahui bahwa akan dibunuh oleh KBB.

Saat itu, ada 24 karyawan PT Istaka Karya dan 1 pegawai PUPR tiba di Puncak Kabo yang jaraknya 4 jam berjalan kaki dari kamp tempat tinggal mereka di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.

Di Puncak Kabo, kondisi mereka dalam keadaan diikat dan diminta untuk berjongkok.

Dan ada tiga orang di antaranya harus menjalani syuting video untuk mengaku sebagai anggota TNI.

Tak sampai disitu saja, lanjutnya, ketiganya dipaksa menenteng senjata laras panjang milik kelompok KKB sambil mengaku berasal dari anggota TNI.

“Jadi mereka membawa alat kamera untuk merekam,” terangnya mengisahkan apa yang terjadi pada mereka sebelum pembantaian.

“Ada 3 orang teman kami diminta mengaku sebagai anggota TNI yang berasal dari satuan Kopassus, BIN dan Bais,” lanjutnya.

“Saya secara pribadi tidak tahu maksud mereka. Di Puncak Kabo kami ketakutan, disiksa dan hanya bisa berdoa agar Tuhan melindungi kami,” tambahnya.

Tak berselang lama dari perekaman video tersebut, mereka kembali dijadikan satu.

Dan dimulailah satu per satu ditembak dengan jarak kurang lebih 2 meter dengan menggunakan 6 pucuk senjata laras panjang dan 3 buah pistol.

“Saat itu, saya melihat mereka memiliki 6 pucuk senjata laras panjang dan 3 senjata laras pendek. Itu yang saya lihat,” terangnya.

“Tidak tahu apakah mereka masih memiliki senjata lain yang disembunyikan,” tambahnya.

Senjata itu, menurutnya, digunakan untuk menembak seluruh tawanan yang disekap.

Kejinya lagi, disampaikannya, sebelum penembakan ada tari-tarian yang dilakukan oleh kelompok KKB.

“Lalu mereka menembak sambil mengelilingi dan menari. Saat itu, tembakan mereka jadi tidak terarah dan ada di antara kami yang tidak kena tembak, termasuk saya. Namun kami semua pura-pura mati,” ungkapnya.

Usai membunuh dengan menembak secara brutal dan membabi buta, para kelompok tersebut meninggalkan para tawanan yang tergelat dengan menuju ke atas bukit.

Bahkan, tak jauh dari lokasi mereka, ada sebuah kayu yang ditancapkan dan sebuah tas noken ditinggalkan, yang diduga sebuah surat.

“Jadi, di dekat lokasi eksekusi, mereka menggali tanah dan menancapkan kayu,” terangnya.

Di kayu itu, menurut Jimmy, ada sebuah surat yang mereka letakkan di sebuah tas noken.

“Kemudian mereka pergi meninggalkan kami begitu saja dengan naik ke atas bukit. Mereka berpikir kami semua sudah mati,” katanya.

Tragedi penembakan tersebut berlangsung hanya beberapa menit saja. Total korban ada 11 selamat dari 25 orang yang ditembaki.

Sebab, mereka yang selamat pura pura ikut mati. Hanya saja, saat berusaha kabur menyelamatkan diri tak berjalan mulus.

Sebab Jimmy bersama 10 orang temannya terlihat oleh kelompok KKB masih hidup dan hendak menyelamatkan diri. Akhirnya, mereka kembali dikejar dan beberapa tertangkap.

“Jadi dari 11 orang. Banyak di antara kami yang terluka tembakan di kaki dan di tangan. Lalu kami menyelamatkan diri masing-masing dengan arah yang berbeda,” terangnya.

“Saya awalnya berlari bersama 2 orang teman yaitu alamrhum Efrandi P Hutagaol dan Rikki Kardo Simanjuntak (korban yang belum ditemukan-red),” tambah dia kembali mengulas apa yang terjadi.

Saat itu, akunya, dia bersama Rikki lari paling belakang. Saat itu, teman Hutagaol dalam kondisi terluka tembakan di telapak kakinya. Sehingga tak bisa berlari kencang.

Ia menambahkan, saat itu, lantaran kelompok KKB sudah tak lagi jauh dari lokasi mereka kabur, Rikki Rikardo Simanjuntak meninggalkannya bersama Efrandi Hutagaol.

“Jadi saat itu Rikki ketakutan dan meninggalkan saya bersama almarhum Hutagaol yang tak bisa berlari,” kata dia.

“Kemudian, almarhum meminta saya untuk meninggalkannya karena tak mampu berlari,” turutnya mengenang.

Saat itu dirinya pun dengan terpaksa meninggalkannya di sebuah semak-semak di pinggir jalan berjurang. (*)

Iklan Baris
Wooww... Undangan Pernikahan Murah Hanya Rp. 950. Telp/WA: 0857-8976-8640

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Banner Ads

- Iklan Layanan Masyarakat -
-Marhaban Ya Ramadhan-


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional