Kesaksian Korban Hidup Bencana Maha Dahsyat Likuifaksi di Petobo

Rodi Ediyansyah

Lampung.co – Mungkin kita penah diajarkan atau mendengar arahan, ketika terjadi gempa segera mencari tempat terbuka, menghindari reruntuhan.

Atau saat terjadi tsunami berlari menuju tempat tinggi untuk menghindari terjangan gelimbang besar yang siap membunuh siapapun yang dilaluinya.

Lantas bagaimana jika likuifaksi? Sebuah bencana alam yang merupakan hal baru bagi masyarakat Indonesia.

Bencana maha dahsyat yang terjadi di Petobo, salah satu kelurahan di kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Seperti dalam beberapa video yang beredar, rumah-rumah bahkan sepetak tanah berukuran luas berjalan bersatu-ratus meter jauhnya.

Jika bangunan yang begitu besar tak bersisa, bagaimana kondisi manusia-manusia kecil saat likuifaksi terjadi? Ribuan mayat seketika terkubur jauh dalam perut bumi.

Salah satu gadis desa Petobo, korban selamat, Sri Sahyuni menceritakan ganasnya likuifaksi. Suara gemuruh dari bawah lantai rumahnya sangat menggentarkan jiwa gadis berusia 19 tahun ini.

“Teman-teman saya sedang bersiap menuju festival nomone di pantai talise, tapi saya tidak,” ucapnya kepada Lampung.co, Kamis (25/10/2018) lalu.

Menyadari gempa sedang terjadi, korban yang diketahui merupakan mahasiswi Universitas Tadulako ini berlari berusaha menyelamatkan diri.

Sementara dibelakangnya tanah yang berubah menjadi seperti gelombang ombak mulai mengejar, hingga akhirnya terjebak dan menimbun tubuhnya hingga leher.

“Saya tertimbun sejak habis maghrib pasca likuifaksi hingga jam dua malam diselamatkan oleh beberapa warga,” ujarnya. (kno)

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer