Kata Pengamat Asing Tentang Jokowi; Otoriter, Reaktif hingga Anti Demokrasi

Rodi Ediyansyah

Lampung.co – Sseorang tokoh populer yang dianggap mewakili wajah politisi baru, Joko Widodo —di luar elit politik yang pernah terlibat di era Orde Baru—, telah berubah menjadi seorang otoriter.

Demikian gambaran tentang sosok Jokowi kini dimata pengamat asing, Mereka menyampaikan sebuah kekhawatiran yang hampir seragam.

Dalam rangka mempertahankan kekuasaan, membuat Jokowi berubah menjadi seorang pemimpin yang menggunakan berbagai instrumen pemerintahan, untuk memberangus oposisi.

“Sekarang para kritikus dan para pendukung Jokowi sama-sama bertanya, seberapa aman sebenarnya (demokrasi) Indonesia dari kemunduran menjadi negara otoriter,” tulis Matthew Busch dalam artikelnya berjudul Jokowi’s Panicky Politics yang ditulis di laman Majalah Public Affairs.

Para pengamat asing menunjuk tindakan Jokowi membubarkan HTI melalui peraturan pemerintah pengganti UU (Perppu), pembubaran berbagai aksi gerakan #2019GantiPresiden.

Hingga penggunaan instrumen hukum untuk menekan lawan politik, dan pelibatan kembali militer dalam politik sebagai indikator perubahan arah dan gaya pemerintahan Jokowi.

Dalam artikel berjudul Indonesian democracy: from stagnation to regression? di laman The Strategist yang diterbitkan Australian Startegic Policy Institut, Eve Warburton dan Edward Aspinall menyoroti Jokowi sebagai pemimpin yang terlalu reaktif.

“Jokowi terbukti menjadi pemimpin yang tidak sabar dan reaktif. Dia dengan mudah tersentak oleh ancaman politik, dan seperti banyak politisi Indonesia, tampaknya nyaman menggunakan alat-alat tidak liberal untuk mempertahankan posisi politiknya,” tulis Eve Warburton dan Edward Aspinall.

Bahkan Tim Lindsey dari University of Melbourne malah menyebut Jokowi sebagai neo Orde Baru. Dalam artikelnya berjudul Jokowi in Indonesia’s ‘Neo-New Order’ di laman EastAsiaForum.org, Lindsey menyoroti kegagalan pemerintah untuk menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu.

Hingga meningkatnya penggunaan tuduhan kriminal palsu untuk membungkam kritik terhadap pemerintah dan aktivis antikorupsi dan meningkatnya pembunuhan di luar hukum terhadap tersangka narkoba.

Mengapa para pengamat asing sangat khawatir kecenderungan perubahan pemerintahan Jokowi meninggalkan prinsip-prinsip demokrasi, dan mengambil jalan otoriter.

Sebuah artikel terbaru berjudul Jokowi’s authoritarian turn, yang ditulis oleh Tom Power, seorang kandidat PhD dari Australian National University (ANU) mengungkap politik Jokowi yang sempit.

Berdasarkan hasil diskusinya dengan sejumlah pengamat, termasuk dari Indonesia, Power menyimpulkan dalam artikel yang dimuat Newmandala.org tersebut bahwa Jokowi anti-demokrasi.

”Jokowi bertindak dengan cara yang tidak liberal atau anti-demokrasi. Ini adalah hasil dari kepekaan politik yang sempit, pemikiran jangka pendek dan pengambilan keputusan secara ad hoc,” tulis Tom Power. (*)

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer