Menu

Jihan, Potret Semangat Korban Tsunami Menambal Harapan yang Retak

  Dibaca : 168 kali
Jihan, Potret Semangat Korban Tsunami Menambal Harapan yang Retak
Jihan (kanan) relawan yang juga korban tsunami Palu | Foto: Watoni Arzakqy/Lampung.co

Lampung.co – Gempa bumi berkekuatan 7,4 skala richter yang disusul tsunami selama 6 menit pada hari Jumat (29/9/2018) lalu telah meluluhlantakan sebagian kota Palu dan menimbulkan luka mendalam negeri Indonesia, khususnya masyarakat setempat .

Namun disisi lain, bersamaan dengan bencana besar yang menimpa saudara-saudara kita di Palu dan sekitarnya juga menggugah simpati dan rasa kemanusiaan seluruh kalangan masyarakat. Rasa persaudaraan sentak tumbuh ditengah hiruk pikuknya perbedaan.

Tak memandang Suku, Ras, Agama, golongan serta keberagaman lainnya yang menjadi identitas negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI), seluruh kalangan masyarakat seolah berlomba merangkai kebhinekaan dengan mengulurkan tangan solidaritas kemanusiaan untuk Palu, Sigi dan Donggala.

Begitu juga dengan para korban bencana, bagi mereka berpangku tangan diatas keluh bukan solusi dalam melanjutkan penghidupan. Ratapan yang hanya sekedar itu, tak menjanjikan perubahan apapun kecuali dengan semangat untuk bergerak menambal harapan yang retak.

Demikian yang tergambar dari seorang relawan lokal sekaligus korban tsunami Palu Jihan Pratiwi Wulandari (19) saat ditemui Lampung.co di dapur umum ACT. Rumahnya yang memang tak mewah habis disapu bersih bersama ratusan rumah lainnya di dusun Dupa Indah, kelurahan Layana Indah, kecamatan Manti Kelure.

Sedikit mujur baginya, saat gempa terjadi, ia sedang berkegiatan rutin di kampus STIKes Widya Nusantara Palu, dimana tempatnya mengenyam pendidikan. Sementara keluarganya yang tepat berada dibibir pantai sempat menyelamatkan diri keatas bukit sebelum air laut setinggi 15 meter meratakan desa tersebut.

Harta benda yang sangat berharga baginya ikut habis dilahap tsunami. Kondisi yang demikian memprihatinkan dihari-hari awal pasca bencana, gadis yang juga anggota organisasi Satmagana di kampusnya ini tidak ingin berlama-lama larut dalam keterpurukan, Ia dan keluarganya mulai bangkit.

Wujud rasa syukur atas keselamatan seluruh anggota keluarganya, dia tunjukan rasa itu dengan menjadi relawan. Relawan untuk dirinya sendir, keluarga dan para korban lainnya. Jihan memutuskan bergabung menjadi anggota relawan yang tergabung bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Saat ditanya terkait keputusannya bergabung menjadi relawan, sementara ia sendiri merupakan korban bencana yang sepatutnya dibantu. Jihan mengatakan dengan lugas bahwa dirinya ingin menunjukan kecintaan dan kepedulian terhadap masyarakat kota Palu.

“Saya tergugah untuk membantu masyarakat kota Palu, dan ini cara saya mengalihkan kesedihan dengan menyibukkan diri dengan membantu sesama,” kata dia, Rabu, (24/10/2018).

Sehari-harinya Jihan tergabung bersama rekannya sesama relawan dari berbagai daerah di enam dapur umum sekitaran kecamatan Manti Kelure, ia membantu proses memasak hingga memanajemen bahan olahan.

Jihan juga merasa sangat bahagia dengan hadirnya relawan-relawan muda dari ACT, menurutnya selain mereka membantu dari segi tenaga dan materi tetapi yang lebih penting menurutnya bantuan dari sisi psikologi.

“Mereka (relawan ACT, red) seru, ramah, saya senang sekali dengan kehadiran mereka,” imbuhnya.

Mahasiswi semester 3 ini berharap agar kisahnya dapat menginspirasi pemuda-pemuda agar lebih peduli terhadap sesama.

“Saya seperti merasa ada kepuasan tersendiri saat bisa membantu sesama, jiwa sosial tetap harus ditumbuhkan walaupun keadaan kita sendiri sedang kurang baik,” pungkasnya. (kno)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
- Advertisement -


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional