Jaksa Agung: Revolusi Industri 4.0 Tumbuhkan Materialistis dan Hedonisme

Rodi Ediyansyah

Lampung.co – Jaksa Agung Republik Indonesia Dr. (Hc) H.M. Prasetyo menyambangi Universitas Lampung (Unila), Rabu (19/9/3018).

Kehadirannya dalam rangka mengisi kuliah umum bertema Pancasila Sebagai Landasan Penegakan Hukum Berbasis Paradigma Restoratif, Korektif, dan Rehabilitatif Untuk Percepatan Pembangunan Nasional.

Kedatangan mantan anggota DPR RI ini disambut Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., beserta jajaran, di aula Gedung A Fakultas Hukum (FH) kampus setempat.

Dalam sambutannya, Hasriadi mengucapkan selamat datang kepada Jaksa Agung Republik Indonesia dan Rektor Universitas Tulang Bawang (UTB) yang juga hadir saat itu.

“Unila saat ini merupakan perguruan tinggi yang cukup besar, bukan hanya dari segi prestasi tetapi jumlah mahasiswa yang berjumlah 34 ribu orang,” kata mantan Wakil Rektor Bidang Akademik ini.

Saat ini, lanjut rektor Hasriadi, Unila berada pada urutan terbaik 21 di Indonesia dari 4.500 perguruan tinggi di Indonesia.

“Unila terbaik ketiga di Sumatera setelah Universitas Andalas dan Universitas Sumatera Utara,” ujar Guru Besar Fakultas Pertanian Unila ini.

Pada sesi kuliah umum Dr. (Hc) H.M. Prasetyo menyampaikan, kecepatan bertindak dan mengembangkan berbagai program menjadi sangat penting. Kalau tidak kita akan tertinggal.

“Namun perkembangan teknologi juga mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti berkembangnya paham radikalisme,” terang Jaksa Agung RI.

Menurut Prasetyo dampak dari revolusi industri generasi keempat, menumbuhkan materialistis dan hedonisme. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan penghasilan.

“Hal itu menambah jarak antara yang kaya dan miskin. Di sinilah hukum harus mampu memposisikan diri sebagai penyeimbang dengan menjadi instrumen penjaga dan pengamanan,” jelasnya.

Dia melanjutkan, revitalisasi nilai Pancasila merupakan kebutuhan dalam bangunan piramida sistem hukum di Indonesia dan bersifat prismatik.

“Pancasila sebagai jiwa bangsa merupakan staatsfundamentalnorm (Norma Fundamental Negara -red), sumber dari segala sumber hukum Negara,” imbuhnya.

Sebagai sumber hukum, katanya, nilai Pancasila harus dipertahankan dalam berbangsa dan bernegara. Pancasila sebagai restoratif justice dan way of life.

“Saat ini hukum tidak lagi sebagai complementary element, tapi satu kesatuan yang menyeimbangkan kehidupan berbangsa,” pungkasnya. (*)

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer