Jaga Stabilitas Harga, BI dan TPID Lampung Siapkan Empat Strategi Ini

Rodi Ediyansyah

Lampung.co – Bank Indonesia Perwakilan Lampung berkoordinasi efektif dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Lampung mempersiapkan 4 (empat) strategi pengendalian inflasi.

Persiapan strategi menyusul berhasil ditekannya inflasi Indeks Harga Konsumen Provinsi Lampung pada bulan Desember 2018 sebesar 0,31%.

Secara keseluruhan, inflasi tahun 2018 mencapai 2,73% (yoy) atau berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan Bank Indonesia.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Lampung Budiharto Setyawan mengatakan, pencapaian inflasi bulanan di akhir tahun 2018 terpantau lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi selama 5 (lima) tahun terakhir yang mencapai 0,91 % (per bulan).

“Tekanan inflasi yang lebih tinggi tidak terjadi sejalan masih terkoreksinya harga sejumlah komoditas bahan makanan seperti cabai merah dan beras,” kata dia, Kamis (3/1/2019).

Kemudian, lanjutnya, didukung oleh kebijakan pengendalian harga pemerintah di samping koordinasi efektif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Untuk tetap menjaga stabilitas harga tersebut BI berkoordinasi dengan TPID melakukan 4 strategi. Pertama, memastikan ketersediaan pasokan komoditas holtikultura dalam jumlah yang memadai.

“Dengan adopsi teknologi yang dapat memitigasi dampak penurunan produksi karena curah hujan tinggi dan gangguan cuaca. Mengingat pasokan hortikultura yang rentan terhadap cuaca,” ujarnya.

Kedua, memastikan kerjasama TPID, BULOG dan Satgas Pangan dalam memastikan ketersediaan cadangan beras serta keterjangkauan harga komoditas tersebut di pasar.

“Monitoring informasi harga secara rutin dapat dilaksanakan melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) sehingga menjadi acuan langkah stabilisasi harga ke depan oleh pemerintah maupun TPID kabupaten/kota,” imbuhnya.

Ketiga, pemerintah daerah perlu mengatur dan memonitor besaran serta waktu penyesuaian upah pekerja mengingat hal tersebut menjadi salah satu penyumbang inflasi.

Keempat, memastikan maskapai penerbangan tidak menaikkan tarif melebihi Tarif Batas Atas (TBA) melalui koordinasi dengan otoritas terkait.

“Sebab, kata dia, sejauh ini tarif angkutan udara persisten tinggi sampai dengan awal tahun 2019 mengingat permintaan yang terus terpantau tinggi,” jelasnya.

BI mengimbau maskapai untuk dapat melakukan perbaikan pelayanan di tengah kenaikan tarif batas bawah sejak Agustus 2018. (*)

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer