Instruksi Tembak Mati Begal Tuai Kritikan, Polda Metro Jaya: Sesuai Aturan

Rodi Ediyansyah

Lampung.co – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta meminta kepolisian berhenti menembak mati pelaku penjambretan dan begal.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Advokasi Isu Fair Trial LBH Jakarta Arif Maulana menanggapi instruksi Kapolda Metro Jaya menembak mati pelaku penjambretan dan begal dalam Operasi Cipta Kondusif 2018.

“Kami menilai operasi itu berlebihan, reaktif, dan melanggar hak hidup serta hak keadilan bagi mereka yang dituduh begal, jambret, dan kejahatan jalanan lainnya,” ujar Arif di gedung LBH Jakarta, Rabu (18/7/2018) kemarin.

Sebelumnya, Kepala Polda Metro Jaya Irjen Idham Azis menginstruksikan polisi menembak di tempat pelaku kejahatan yang melawan.

Selama operasi, polisi menembak 52 orang yang diduga pelaku jambret dan begal. Sebanyak 41 orang ditembak di bagian kaki dan 11 lainnya tewas.

Arif berpendapat bahwa instruksi yang diberikan Idham tergolong pembunuhan di luar pengadilan atau extra judicial killing.

Sebab, ia menganggap langkah tembak mati itu merupakan perampasan untuk hidup dan mendapat keadilan.

“Tindakan itu bertentangan dengan Pasal 28D Undang-Undang Dasar 1945 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM (Hak Asasi Manusia), yang memberi jaminan agar setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil,” tuturnya.

Sebelumnya juga, pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar mengatakan menembak terduga atau tersangka pelaku begal dan penjambretan bukan solusi yang tepat untuk mengurangi tindak kejahatan di jalanan.

“Tidak bisa diatasi hanya dengan main tembak alias destruktif. Dengan cara penindakan keras, hilang sebentar, nanti muncul lagi,” kata Bambang dikutip dari tempo, Senin (9/7/2018) lalu.

Menurutnya, kejahatan jalanan berbeda dengan terorisme. Begal disebutnya memiliki motif utama materi.

“Karena tak punya pekerjaan, pelaku akhirnya melakukan kriminalitas demi mendapatkan uang,” ujar Bambang.

Menanggapi hal itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menegaskan, polisi sudah bertindak sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku.

“Dari 1.400-an (yang ditangkap), yang ditembak hanya 27 orang, kemudian 11 mati. Tentu ada parameter polisi mengapa kita melakukan tindakan tegas,” kata Argo di Polda Metro Jaya, dikutip dari kumparanNEWS, Rabu (18/7/2018) kemarin.

Tindakan tegas terukur yang dilakukan polisi, menurut Argo, sudah diatur dan diperbolehkan oleh UNPOL.

”Jadi polisi juga tidak sembarangan menembak mati pelaku,” pungkasnya. (*/doy)

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Tags

Related Post

1 thought on “Instruksi Tembak Mati Begal Tuai Kritikan, Polda Metro Jaya: Sesuai Aturan”

  1. Terus si begal dan jambret nembak ,membunuh atau membahayakan ora yg dibegal itu tidak merampas hak hidup orang…
    Kadang aneh ya…
    Giliran banyak tindak kejahatan bilangnya polri gak mampu menanggulangi…

Leave a Comment

Ads - Before Footer