Ini Cerita Perjalanan ACT dan IBI Darmajaya Jangkau Para Korban Banjir Kelumbayan

Tim Redaksi

Lampung.co – Jum’at pagi (16/11/2018) lalu, relawan ACT Lampung dan IBI Darmajaya berangkat menuju titik terdampak banjir Pekon Umbar Kecamatan Kelumbayan Kabupaten Tanggamus.

Melewati Desa wates Kecamatan Way Ratai Pesawaran tim berhenti sejenak di Masjid Nurul Hidayah untuk melaksanakan sholat Jum’at. Setelah itu mobil yang kami tumpangi berbelok kekiri menuju arah Tanggamus.

Disepanjang jalan tampak beberapa warga menjemur hasil panenya berupa padi dan kakao. Jalan aspal yang mulai mengelupas disambut jalan berbatu membuat perjalanan sedikit lambat.

Langit mulai mendung ketika tim melintasi Pekon Sidoharjo Kelumbayan Barat. Jalan berkelok dengan pemandangan jurang yang sangat dalam menemani perjalanan.

Tepatnya di atas pegunungan dengan pemandangan pepohonan hijau. Mendekati titik tujuan, terlihat bekas longsoran tanah di Pekon Batu Patah Kelumbayan Barat.

Terlihat pula sebuah alat berat berjaga dilokasi. Masyarakat bersemangat menata batu penahan bukit. Sementara itu, di sebagian perjalanan lainnya semangat dari tim relawan tak kunjung padam.

Tim harus menerjang arus Sungai Umbar untuk membawa logistik ke Posko Kemanusiaan dan Dapur Umum di Dusun Lubuk Kejung, Boloran Tupak, Sabar Menanti dan Tanjung Iman.

Menurut Mahmudin, relawan driver, rumah batako miliknya tidak terkena banjir karena berada diatas bukit, namun nahas dua kali longsor merusak bagian kamar dan dapur. Saat kejadian dirinya sudah keluar rumah.

Mahmudin sudah beberapa hari ini membawa mobil pick up untuk distribusi logistik.

“Rumah kena longsor bagian kamar. Masih diperbaiki kena longsor lagi bagian dapur. Masyarakat disini mayoritas muslim, Lubuk Kejung artinya air yang dalam dan panjang,” terangnya.

“Di sini lokasinya tepat ditepi sungai, jadi potensi banjir setahun bisa dua tiga kali, kemarin banjir terparah,” jelasnya menambahkan sembari mengemudi.

Relawan tiba di dusun Lubuk Kejung dimana sudah berdiri Dapur Umum. Di Lubuk Kejung kerusakan bangunan terlihat sangat parah. Tepat ditepi sungai papan berserakan bercampur dengan perabot rumah.

Sebagian perabot sudah terseret banjir kearah hilir sungai. Bahkan menurut penuturan warga, perabotan tak lagi tampak dipantai. Air bah tersebut membawa perabotan dan pepohonan ketengah laut.

Di Posko Kemanusiaan Lubuk Kejung puluhan anak-anak sudah bersiap menyambut relawan ACT – IBI Darmajaya. Keceriaan tampak ketika relawan memindahkan perlengkapan sekolah.

Tampak terlihat, anak-anak korban banjir sangat antusias ikut gelar karpet dan menata meja belajar. Relawan ACT Lampung – IBI Darmajaya Diana Rika mengajak anak-anak menyanyikan lagu di sini senang – di sana senang sambil bertepuk tangan.

“Aku mau jadi pemimpin desa ini, aku mau belajar lebih giat pakai meja belajar ini, aku mau jadi mahasiswa,” ucap Adik Anis.

Adik Anis saat ini menempuh Sekolah PAUD tak jauh dari posko kemanusiaan. Mengawali keceriaan dengan membacakan surat Al-Iklas dengan lancar. Saat ini ibunya sedang berada dirumah neneknya.

Rumahnya terkena banjir namun sekolahanya tidak. Anis memilih buku Juz Amma dan meja belajar untuk dipakai belajar.

Anis saat ditemui mengenakan baju pink sangat bahagia belajar siang itu. Kejadian banjir tak membuatnya begitu murung.

Adik Siti Samsiah sedang sekolah di PAUD Ridho, didampingi Ibunya Rika Mayasari yang sedang mengandung anak kedua.

Melihat rumah-rumah terkena banjir sangat sedih, terlebih rumah neneknya ikut terseret air. Rumah yang terletak tepat diseberang Posko itu nyaris tak tersisa.

Perjalanan berikutnya di dusun paling ujung yakni Tanjung Iman.

Di sini, ceritanya ada lagi. Ibu Sartinah sangat beruntung malam itu. Rumahnya berada didataran tinggi tidak tergenang air, namun kesedihan yang mendalam melihat rumah tetangganya terseret banjir.

Terlebih jembatan yang baru saja dibangun harus runtuh tersapu arus. Naas.

“Pas banjir nggak tahu, paginya baru tau ada puluhan rumah terseret banjir,” kata Sartinaha memulai cerita.

“Alhamdulillah tidak terkena banjir namun tetap khawatir longsor karena posisi di rumah di atas bukit,” lanjutnya sambil mengendong anak berumur tiga bulan.

Sementara, Ketua RT 06 Tanjung Iman Sarnan mengatakan di wilayahnya terdapat 15 rumah yang terkena dampak banjir.

Mayoritas, kata dia, harus kehilangan perabotan rumah. Sedangkan rumah yang habis terseret banjir sebanyak 3 rumah.

Untuk itu dirinya menginisiasi Dapur Umum yang melayani kebutuhan konsumsi warganya. Dapur Umum tersebut memberdayakan warga sekitar untuk bergotong royong memasak hidangan.

“Harapanya segera mendapatkan bantuan untuk renovasi rumah yang terkena banjir, saat ini warga terus bergotong royong merapihkan papan-papan rumah,” ucapnya.

Dilokasi yang sama, disampaikan Kepala Cabang ACT Lampung Dian Eka Darma Wahyuni, bahwa dirinya dan ACT khususnya sangat bangga terhadap relawan yang mau menembus Pekon Umbar Kelumbayan.

“Rute yang dilalui sangat sulit,” helanya.

Menurutnya, pengiriman bantuan logistik berupa perlengkapan masak, perlengkapan kebersihan diri dan sembako diharapkan dapat meringankan beban penderitaan masyarakat terdampak banjir.

“Terimakasih untuk semua pihak yang telah membantu terutama IBI Darmajaya. Kedepan masyarakat Lampung harus bisa membangun minimal satu rumah di Kelumbayan, ayo terus bergandeng tangan untuk penanganan banjir ini,” tandasnya. (*)

Tim Redaksi

Tim Redaksi media online Lampung.co menerbitkan berita-berita khusus, termasuk berita advertorial. Hubungi tim redaksi melalui email redaksi@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer