Mantan Napi di Lampung Ini Dirikan Rumah Singgah Mantan Napi

Tim Redaksi

Lampung.co – Setiap yang pernah bertindak buruk tentunya juga akan berbuat baik. Seperti yang dicontohkan mantan narapidana (Napi) yang pernah di penjara di Lapas Kota Metro, Lampung ini. Andreas Nurmandala Sutiono namanya. Ia merupakan pendiri rumah singgah yang pernah dibui di Metro karena kasus hutang-piutang akibat togel atau perjudian.

Kini, ia menjadi salah satu contoh move on setelah keluar dari penjara. Dan di sebuah gang tepatnya di Jalan Cakalang No 311 H Kota Malang, Jawa Timur, di sebuah rumah sederhana yang kecil ia dirikan Rumah Singgah Mandikpas (Mantan Didik Permasyarakatan) atau para mantan napi.

Andreas menjelaskan, konsep bantuan rumah singgah tersebut sebenarnya telah didirikan sejak 2009 untuk menampung para mantan napi yang ingin menyambung hidupnya lebih baik lagi. Tak hanya memberikan tampungan seperti tempat tinggal, rumah itu juga dijadikan sebagai tempat pembuatan mie. Para mantan napi mendapatkan pelatihan membuat mie dan penguatan mental agar tidak lagi terjerumus ke jalan salah.

“Ada yang tidak punya tempat tinggal dan ada juga yang keluarganya sudah tidak peduli lagi, makanya saya dirikan ini,” kata Andreas saat ditemui wartawan di Rumah Singgah Mandikpas Malang, Jumat (4/5) dikutip dari nasional.republika.co.id.

Menurutnya, keputusan tersebut sebenarnya tidak terlepas dari pengalamannya pribadi yang pernah mendekam di hotel prodeo tersebut. Diceritakannya, tahun 1993 sampai 1994 dirinya harus dipenjara di Lapas Metro Lampung ihwal judi togel yang pada akhirnya membuat dia melakukan hutang-piutang.

Setelah bebas di 1994, dirinya masih belum tahu jalan, mau ke mana ia memupuk asa setelah keluar dari penjara. Ia merasa tidak memiliki tujuan hidup, bahkan tak tahu bagaimana cara membuka lembaran baru dan tidak bertahan pada perjudian kembali yang menyebabkannya sebagai pesakitan.

Dan dari pengalamannya di tahan tersebutlah, 1999, Andreas mulai berkeliling ke 42 lapas di Pulau Jawa, Lampung, dan Bali. Andreas mulai memberikan pembekalan dihadapan para napi. Andreas mencoba menguatkan mental para tahanan yang senasib dengannya.

Dan di sisi lain, Andreas berikan pelatihan yang dimilikinya. Dia memberikan pelatihan mengolah mie dan secara sukarela membuka kesempatan bagi para mantan napi yang ingin mendalaminya kelak saat bebas.

Kata Andreas, tantangan terberat para mantan napi sebenarnya saat sudah bebas dari penjara. “Mereka tak menampik membutuhkan mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan makan pribadi maupun keluarganya. Namun sayangnya, jalan untuk memperbaiki dan membuka lembaran baru itu sulit dihadapi,” terangnya.

Tak jarang, kata Andreas, banyak mantan napi yang kembali ke dunia gelapnya. Hal inilah yang menimbulkan fenomena banyaknya napi yang bolak-balik penjara dengan kasus serupa. Melihat hal ini, pemerintah sudah seharusnya menambah rasa kepeduliannya untuk para mantan napi.

“Saya ada cerita satu alumni yang dulu pernah dapat pembekalan di sini. Saat keluar penjara, dia sempat ditawar untuk masuk ke dunia perampokan lagi karena butuh makan. Tapi sebelum itu terjadi, saya ajak ke sini untuk dapat pembekalan. Sekarang dia sudah bekerja jadi juru masak di Depot 88 Tidar Malang,” tuturnya.

Disampaikannya juga, bahwasannya para mantan napi yang bergabung dirumah singgahnya akan mendapatkan pelatihan cara membuat berbagai mie. Beberapa di antaranya seperti mie buah naga, mie sawi, mie jeruk dan mie cabai. Hasil olahan para napi ini telah dijual di beberapa lokasi di Kota Malang.

Bahkan, terangnya, mie yang ditawarkan pihaknya tidaklah jauh berbeda dengan mie pada umumnya. Namun, kata dia, bahan yang digunakan untuk mengolah mie benar-benar terbuat dari bahan-bahan yang alami. Tidak menggunakan pewarna buatan maupun bahan berbahaya lainnya.

Dilansir dari Republika, bahan mie olahan para mantan napi ini hanya membutuhkan bahan sederhana. Beberapa di antaranya seperti tepung terigu, garam, telur, buah naga, rebusan air panas dan beberapa bahan tambahan lainnya.

Dalam sehari, Andreas mengungkapkan, setidaknya menghabiskan 8 sampai 10 kilogram tepung terigu untuk membuat mie. Mie-mie ini mendapatkan keuntungan sekitar Rp 400 ribu dengan modal sebesar Rp 100 ribu per harinya. Ke depan, dia berencana, untuk membuka depot mie khusus olahan para mantan napi sehingga mereka tak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Ia pun mengaku mendorong para mantan napi di rumah singgahnya untuk membuktikan kesungguhannya berubah lebih baik kepada masyarakat. Mereka didorong untuk terlibat dengan segala kegiatan masyarakat. “Saya selalu katakan ke mereka agar harus membuktikan diri kepada masyarakat. Orang dari penjara itu seperti sampah masyarakat tapi kalau didaur ulang bisa bagus lagi,” tandasnya. (*/goy)

Tim Redaksi

Tim Redaksi media online Lampung.co menerbitkan berita-berita khusus, termasuk berita advertorial. Hubungi tim redaksi melalui email redaksi@lampung.co

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer