Gagal Ginjal Akut Memakan Korban di Lampung, Obat Sirup Makin Disorot

Rodi Ediyansyah

Lampung.co – Pihak RSUD Abdul Moeloek menyebut dua balita dirawat karena mengalami gejala seperti gagal ginjal akut yakni badan bengkak dan tidak bisa kencing. Satu balita berusia 11 bulan meninggal dunia, dan pasien balita usia 1 tahun masih dalam perawatan.

Direktur RSUD Abdul Moeloek, Lukman Pura, mengatakan tim dokter RSUD Abdul Moeloek telah melakukan penyelidikan epidemiologi, pengambilan spesimen darah, tes usap nasofaring, dan pemeriksaan obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien.

“Pasien yang dirawat sekarang ada dua orang. Pertama berusia 11 bulan dan kedua berusia 1 tahun. Balita yang 1 tahun ini laki-laki. Kondisi stabil tapi mengancam karena urinenya belum keluar. Tapi insya Allah baik-baik saja,” kata Lukman, Minggu (23/10/2022) kemarin.

Akan tetapi, salah satu pasien balita berusia 11 bulan tidak tertolong saat dirawat intensif di PICU RSUD Abdul Moeloek. Lukman mengatakan, kondisi pasien memang dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Apalagi bayi tersebut tidak bisa buang air kecil.

“Sejak masuk pasien juga sudah tidak bisa buang air kecil. Jadi itu yang menyebabkan kondisinya menurun,” ujar Lukman.

Obat Sirup Disorot

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap lima obat sirup mengandung senyawa etilen glikol (EG) yang melebihi ambang batas. Temuan itu berdasarkan pemeriksaan dugaan cemaran senyawa dalam 39 bets dari 26 sirup obat sampai 19 Oktober 2022.

Pengujian itu menyusul merebaknya kasus gagal ginjal akut progresif atipikal di sejumlah daerah. Selanjutnya BPOM memerintahkan industri farmasi pemilik izin edar untuk melakukan penarikan obat berbahaya itu dari peredaran di seluruh Indonesia.

Berikut lima obat yang diduga mengandung cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) yang diterbitkan BPOM:

  1. Termorex Sirup (obat demam), produksi PT Konimex dengan nomor izin edar DBL7813003537A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml.
  2. Flurin DMP Sirup (obat batuk dan flu), produksi PT Yarindo Farmatama dengan nomor izin edar DTL0332708637A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml.
  3. Unibebi Cough Sirup (obat batuk dan flu), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DTL7226303037A1, kemasan Dus, Botol Plastik @ 60 ml.
  4. Unibebi Demam Sirup (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL8726301237A1, kemasan Dus, Botol @ 60 ml.
  5. Unibebi Demam Drops (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL1926303336A1, kemasan Dus, Botol @ 15 ml.
Pemerintah Larang Penggunaan Obat Sirup

Meski hanya lima obat sirup yang dinyatakan BPOM mengandung senyawa berbahaya, Namun Kementerian Kesehatan melarang dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk meresepkan obat-obatan dalam bentuk cair atau sirup.

“Tenaga Kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan untuk sementara tidak meresepkan obat-obatan dalam bentuk sediaan cair/sirup sampai dilakukan pengumuman resmi dari Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,”

Demikian bunyi Surat Edaran Kemenkes Nomor SR.01.05/III/3461/2022 tentang Kewajiban Penyelidikan Epidemiologi dan Pelaporan Kasus Gangguan Ginjal Akut Atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury) pada Anak.

Surat edaran yang sama juga melarang seluruh apotek di Indonesia untuk menjual obat dalam bentuk sirup kepada masyarakat. Obat yang dimaksud tidak terbatas pada obat paracetamol sirup saja atau lima obat yang disebut berbahaya oleh BPOM.

Polda Lampung Pantau Peredaran Obat Sirup

Jajaran Direktorat Reserse (Ditres) Narkoba Polda Lampung turut memantau peredaran obat sirup bagi anak. Kegiatan tersebut dilakukan dengan mendatangi langsung sejumlah apotek di Bandar Lampung pada Sabtu (22/10/2022).

Direktur Reserse (Ditres) Narkoba Polda Lampung, Kombes Aris Supriyono mengatakan, anggotanya memantau langsung ke apotek, sejak pemerintah melarang penggunaan obat sirup. Dari pemantauan sementara, para apotek menyatakan sudah tidak lagi menjual obat sirup.

“Kami terus memantau apotek diseluruh Lampung, agar pemiliknya tidak lagi menjual obat sirup. Kami minta ke pemilik apotek, agar segera mengembalikannya ke distributor,” kata Kombes Aris Supriyono.

Menurutnya, pemantauan akan terus dilakukan hingga benar-benar obat sirup yang dilarang pemerintah tidak beredar lagi di Lampung. “Kami juga perintahkan ke seluruh jajaran dimasing-masing Polres di Lampung, untuk melakukan hal yang sama,” ujarnya. (doy)

Rodi Ediyansyah

Rodi Ediyansyah merupakan salah satu editor media online Lampung.co yang bertugas mencari, menyunting dan menerbitkan naskah berita atau artikel dari penulis. Kontak rhodoy@lampung.co

Related Post

Ads - Before Footer