Menu

FKIP Unila Gelar Pelatihan Psikologi untuk Anak Penyintas Bencana

  Dibaca : 127 kali
FKIP Unila Gelar Pelatihan Psikologi untuk Anak Penyintas Bencana
Pelatihan Dukungan Psikologi Anak di Daerah Bencana | Foto: Ist.

Lampung.co – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) mengadakan Pelatihan Dukungan Psikologi Anak di Daerah Bencana, Rabu (9/1/2019).

Acara ini diprakarsai oleh Dekan FKIP Unila yang bekerja sama dengan Hipunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Lampung.

Pelatihan ini menghadirkan pemateri Dra. Yeti Widiati, Psikolog dari lembaga Paradigma sekaligus trainer kebencanaan (Psychosocial First Aid) pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Ketua pelaksana Ratna Widiastuti, M.A., mengatakan, tujuan kegiatan ini memberikan beragam ilmu terapi yang bermanfaat untuk relawan dalam mendukung psikologis anak penyintas bencana.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa setelah bencana, sebulan pertama memang banyak bantuan diberikan kepada penyintas, terutama bantuan logistik.

Namun, kata dia, setelah sebulan berlalu bantuan itu akan ‘pergi’, sedangkan penyintas harus bertahan hidup di lokasi bencana.

Oleh karenanya, lanjut Ratna, mereka harus dibantu untuk mampu survive dan kuat terutama secara psikologis untuk menghadapi masalah hidupnya.

“Disinilah peran relawan dukungan psikologis akan membantu penyintas agar kembali ‘kuat’ secara psikologis dalam menyelesaikan masalah-masalah hidup mereka,” imbuhnya.

Sementara itu, materi yang disampaikan Yeti diantaranya konsep evaluasi dalam bencana, pengenalan korban termasuk karakteristik dan kategori korban.

Kemudian critical incident stress management dalam kebencanaan, sindrom bencana, trauma dan penanganan krisis, P3K psikologis atau dikenal sebagai psychososial first aid (PFA).

Dilatihkan juga beberapa tindakan-tindakan yang harus dilakukan didalam PFA; seperti self protection pada relawan, psikodrama, art therapy, eye movement, debriefing , dissosiasi, narrative exposure therapy.

Serta teknik-teknik lain yang bermanfaat untuk membantu penyintas mengatasi gangguan psikologis serta bangkit kembali dan memegang kendali atas hidupnya.

Salah satu teknik didalam art therapy misalnya, dengan mengajak peserta melakukan stimulasi emosi melalui aktivitas menggambar.

Gambar berupa dua hal yaitu yang tidak menyenangkan dan gambar yang membuat menyenangkan dan terasa nyaman.

“Terapi dalam psychososial first aid (PFA) atau bantuan psikologis pertama inilah yang nantinya akan mendukung usaha ‘survive’ di masa recovery (pemulihan),” kata Yeti.

Menurutnya, tidak menutup kemungkinan relawan memiliki emosi negatif. Apabila trauma pribadi ikut terpicu saat membantu penyintas, maka para relawan dianjurkan untuk melakukan self healing..

“Kondisi lapangan juga akan membuat relawan mudah terpicu emosi sesuai beragam emosi negatif yang dialami penyintas,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Lampung.co.

Salah satu peserta pelatihan, Naqiyyah Syam perwakilan Puspa Lampung mengakui sangat senang mendapat ilmu dalam mendampingi psikologi anak di daerah bencana ini.

Acara ini diikuti oleh 44 peserta terdiri dari civitas akademika Prodi Bimbingan Konseling Universitas Lampung, PG Paud Universitas Lampung, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Lampung.

Selain itu juga Prodi Psikologi Universitas Islam Negeri Raden Intan, Prodi Psikologi Universitas Malahayati, Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Provinsi Lampung dan unsur masyarakat lainnya. (*)

Iklan Baris
Wooww... Undangan Pernikahan Murah Hanya Rp. 950. Telp/WA: 0857-8976-8640

Info Kemanusiaan:
Baca berita kemanusiaan terbaru dan terlengkap, Klik disini

Tingkatkan penjualan bisnis anda dengan beriklan disini. Hubungi 0811 790 1188
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
- Advertisement -


Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional